Kamis, 15 Januari 2009

MELINTAS BATAS MEREGUK OASE SPIRITUAL


Hidup keseharian yang penuh tekanan dan dirasa makin gersang dari nilai-nilai spiritual, merupakan pendorong utama berbagai kalangan untuk mencari persinggahan, sebuah oase, di mana kesegaran spiritualitas bisa direguk. Salah satu jalan untuk menemukan oase itu adalah ziarah. Ya, melalui ziarah orang coba menemukan sensasi ruhani yang menjadi pelipur lara akibat pertarungan hidup yang keras. Ziarah, juga menjadi momen pencerahan bagi mereka yang berhasrat menemukan kebahagiaan puncak di jalan Tuhan.

Kaum Hindu misalnya, menjadikan Sungai Gangga yang dianggap suci sebagai salah satu tujuan ziarah mereka, di samping berbagai kuil yang menyimpan nilai historis dan mistis istimewa. Kaum Katholik juga punya tradisi ziarah yang kaya. Salah satu tujuan ziarah yang terkenal adalah Lourdess, sebuah kota kecil di Perancis di mana seorang biarawati mendapatkan penampakan Bunda Maria. Kaum Muslimin, juga tak ketinggalan dalam soal ziarah: mereka punya berbagai tujuan penziarahan, mulai dari masjid yang bernilai sejarah tinggi, hingga petilasan dan makam orang-orang suci.

Terkait dengan praktik ziarah, kita patut bersyukur atas kehadiran sebuah buku yang menarik – mengupas hal ihwal ziarah khususnya di Makam Sunan Gunung Jati, di Cirebon – berjudul Ziarah Makam Sunan Gunung Jati di Mata Orang Kristen karya seorang pemuka agama yang justru tidak memiliki tradisi ziarah yang terlembagakan, yaitu Pdt. Supriatno dari Gereja Kristen Pasundan. Lewat buku tersebut, sang penulis dengan gamblang menguraikan mulai dari perdebatan teologis seputar keabsahan ziarah ke makam wali, deskripsi seputar praktik ziarah kaum Muslimin di Makam Sunan Gunung Jati, Cirebon, paparan tentang tasawuf dan kewalian yang menjadi latar mengapa seseorang bisa begitu dihormati makamnya, hingga saran seputar praktik tasawuf yang dipandang punya implikasi positif dalam kehidupan sosial dan keagamaan.

Jika Anda seorang praktisi ziarah, dengan membaca buku tersebut, kiranya akan mendapatkan semacam pencerahan teoritis yang memungkinkan praktek ziarah Anda lebih berbobot, lebih ilmiah. Persis seperti seorang tukang bengkel yang menemukan kuliah teoritis dari seorang insinyur! Jika Anda semata-mata seorang peminat kajian keagamaan, buku tersebut jelas sangat berharga karena berhasil mengupas sebuah fenomena sosial keagamaan dengan pendekatan yang jernih dan tuntas. Bahkan, bagi Anda yang sulit mengapresiasi praktek ziarah ke makam wali baik karena alasan praktis (karena tidak melihat manfaatnya misalnya) maupun teologis (karena berkeyakinan praktek tersebut haram), buku tersebut juga amat layak dibaca. Anda akan menemukan sekian penjelasan yang adil tentang motif, tujuan hingga tata cara ziarah ke makam wali. Siapa tahu Anda tergerak untuk mencicipi sensasi berziarah seperti yang dirasakan oleh sang penulis ketika melakukan penelitian partisipatoris di Makam Sunan Gunung Jati, Cirebon.

Di luar itu semua, sebetulnya yang patut diapresiasi adalah keberanian sang penulis (yang Protestan) untuk melintas batas, mempelajari bahkan melakoni sebuah pengalaman batin dengan menggumuli tradisi keagamaan yang berbeda (Islam). Terlebih, jika kita juga mencermati bagaimana penulis bisa mengupas berbagai tema yang cukup berat seperti kesufian, kewalian hingga ketauhidan, dengan kefasihan yang mengagumkan. Sungguh, keberanian dan kejernihan semacam demikian, layak untuk ditradisikan oleh setiap umat beragama yang ingin mereguk embun penyejuk dari ”rumah spiritual” kaum beragama lain. Dalam kehidupan keagamaan di tanah air yang relatif menegang belakangan ini, cara menyikapi keberagamaan pihak lain secara ilmiah sekaligus apresiatif sebagaimana dilakukan penulis, tentu merupakan sumbangsih tersendiri.

Kapan Anda melakukan sumbangsih serupa?

Tidak ada komentar: