Rabu, 21 Januari 2009

MEMPERBAHARUI HIDUP


“Pekerjaan dapat menyediakankesempatan untuk pertumbuhan spiritual
dan diri pribadi,
serta pertumbuhan keuangan. Apabila semua itu tidak tercapai, berarti kita semua sudah membuang banyak waktu dalam menjalani kehidupan kita.”
- James Autry -

Waktu, adakalanya menghantarkan kita pada sebuah titik lelah. Pada sebuah momen ketika apa yang kita capai terasa tak bermakna. Bahkan, segala sesuatunya seolah menjadi tak terkendali, cenderung kacau.

Di satu sisi, barangkali memang ada prestasi baru yang telah berhasil kita capai. Ada hal-hal yang dulu sekadar mimpi, kini telah berubah menjadi kenyataan. Kita misalnya, telah mencapai posisi karier yang telah sejak dulu kita idam-idamkan. Kondisi finansial kitapun membaik.

Tapi pada saat bersamaan, sepertinya ada yang salah. Hubungan kita dengan pasangan memburuk. Kebersamaan penuh kehangatan, yang dulu menyemangati kita untuk berjuang keras mengubah keadaan, kini sepertinya meredup. Kita seperti menjadi mahluk yang saling asing satu sama lain. Kehangatan telah berganti menjadi suasana panas akibat ketidaksalingmengertian.

Masalahpun muncul pada anak-anak kita. Mereka sedikit demi sedikit bergeser dari citra yang kita dambakan. Mereka seolah bergerak kian liar, tak lagi dalam jangkauan pengaruh kita sebagai orang tua. Mereka cenderung hidup dalam dunia mereka sendiri, seolah tak peduli tentang apa yang kita harapkan dari mereka.

Ya, sang waktu kadang menghantarkan diri kita pada sebuah persimpangan yang penuh ironi. Kemajuan kita dalam karier dan bisnis, justru membawa kita pada dilema hidup yang pelik. Kebahagiaan yang dulu kita kejar hingga kita rela mengorbankan banyak hal berharga dalam hidup kita, kini malah menjauh.

Adakah yang salah? Apakah kita telah keliru ketika kita memilih untuk bekerja keras demi keluarga dengan mengorbankan apa yang kita nilai sebagai kepentingan pribadi kita?

Tidak. Kita tidak keliru ketika kita memilih bekerja keras demi perbaikan karier dan bisnis yang pada akhirnya akan merubah keadaan keluarga kita menjadi lebih baik. Tapi kita punya persoalan dengan keseimbangan.

Seperti yang diungkapkan Gay Hendrik dan Kate Ludeman dalam The Corporate Mystic, “Banyak orang gagal karena memenuhi kebutuhan keluarganya saat bekerja, dan begitu juga sebaliknya. Seseorang yang terluka karena tidak tahu cara berkomunikasi dengan anaknya menjadi penghambat komunikasi yang galak di kantornya. Seorang karyawan pulang sambil pulang ke rumah membawa masalah pekerjaan yang belum terpecahkan sehingga tidak ada seorangpun di rumah yang mampu berkomunikasi dengannya. Permasalahan ini, jika tidak diperbaiki, bisa menjadi awal proses kemunduran prestasi. Orang menghabiskan waktu di kantor untuk menghindari permasalahan di rumah, yang justru memperparah permasalahan di rumah, yang menyebabkan mereka semakin menenggelamkan diri dalam pekerjaan.”

Ya, akar persoalan mengapa kesuksesan kita dalam karier dan bisnis tidak diiringi oleh kebahagiaan adalah karena kita gagal menjaga keseimbangan dalam hidup. Kita gagal menempatkan setiap dimensi kehidupan kita dalam porsi yang tepat. Acapkali kita hidup hanya dengan satu dimensi, sebagai makhluk industri, sebagai pengusaha, sebagai politisi, ataupun bahkan sebagai pekerja sosial semata. Sementara dimensi kehidupan kita sebagai diri pribadi, sebagai seorang ayah dan suami, dan sebagai bagian dari komunitas, kita abaikan.

Cara fundamental untuk mendekatkan diri kita dengan kebahagiaan dalam hidup, adalah dengan mentransformasi cara pandang kita. Kita perlu mengubah kecenderungan kita sebagai makhluk satu dimensi, yang hanya mementingkan satu peran kehidupan sembari mengabaikan peran lain.

Kita perlu memperbaharui hidup, dengan mengakui bahwa pada saat ini kita telah melakukan ketidakadilan terhadap mereka yang sesungguhnya merupakan bagian penting dalam kehidupan kita. Jika selama ini kita teramat sibuk dengan berbagai pekerjaan penting di kantor hingga tak sempat menjadi pendengar yang baik untuk pasangan, kinilah saatnya berubah. Jika selama ini kita terlampau mementingkan pencapaian karier dan tugas-tugas kantor hingga tak sempat lagi menjadi teladan yang baik bagi anak-anak kita, kinilah saatnya berubah. Jika selama ini kita terlalu terpaku pada ambisi menumpuk asset bisnis kita hingga tak punya waktu dan energi untuk peduli pada persoalan-persoalan komunitas, kini pulalah saatnya untuk berubah.

Percayalah, kebahagiaan, dalam bentuknya yang hakiki, hanya bisa kita raih jika kita berada di jalan yang benar.

2 komentar:

Zee mengatakan...

Ya. Yang penting kalo niat kita bener & ikhlas melakukan segalanya, dijamin kita pasti jd lebih bahagia...

Jokky Whylantoro mengatakan...

Waduh mas terlalu berat aku menelaahnya....tapi bener juga kok!
Salam kenal...