Kamis, 15 Januari 2009

MERAIH KESEJAHTERAAN



Sebagian orang salah paham tentang makna hidup sejahtera. Di satu titik ekstrim, ada orang yang menyangka bahwa sejahtera identik dengan kaya harta. Oleh karena itu, mereka menghabiskan waktu mereka dalam perjuangan untuk menjadi kaya dan mapan secara finansial. Apapun kadang dilakukan untuk mencapai tujuan ini. Dan seringkali, tak ada waktu untuk memikirkan hal-hal lain. Di dalam benak mereka, tak ada yang berharga kecuali uang dan harta benda.

Orang semacam demikian, mirip dengan orang yang salah alamat. Mereka menduga telah sampai ke tujuan tapi ternyata yang di tempat itu tak ada yang selama ini mereka cari. Coba perhatikan, betapa banyak orang kaya bahkan berlimpahan harta yang hidupnya tak sejahtera. Ya, mereka kaya tapi tak bahagia. Sebagian mereka hidup merana karena kekurangan kasih sayang akibat keluarga yang kehilangan kehangatan. Sebagian lagi terjebak dalam lingkaran kesenangan sesaat akibat harta yang digenggam tak memuaskan dahaga jiwa.

Sementara di titik ekstrim yang lain, ada orang yang menyangka bahwa untuk bisa merasakan kehidupan yang benar-benar sejahtera, harus anti kekayaan dan menjauhi keberlimpahan materi. Mereka beranggapan bahwa kebahagiaan yang sejati adalah kebahagiaan spiritual, dan itu hanya bisa diraih melalui kemiskinan alias ketiadaan harta benda.

Pandangan semacam ini sering bertaut dengan keyakinan pesimistis seputar hidup; bahwa takdir setiap orang telah ditentukan. Bahwa jika seseorang telah ditakdirkan untuk miskin misalnya, tak ada satupun yang bisa dilakukan agar dia bisa menjadi kaya. Demikian sebaliknya, karena segala sesuatunya telah diatur oleh Sang Pencipta. Paduan dari anggapan dan keyakinan demikian, melahirkan sebuah sikap hidup yang lemah dan tak berdaya. Jelas, hal demikian menjauhkan orang dari kesejahteraan karena pada akhirnya mereka akan hidup serba kekurangan. Mulai dari kekurangan pangan, sandang, papan hingga harga diri.

Manusia yang terjebak pada dua titik ekstrem di atas, sesungguhnya terjebak pada situasi abnormal; perangkat kemanusiaannya tidak berfungsi dengan baik. Pada sosok demikian, pikiran cenderung tidak berdaya, fisik tidak bugar, dan itu berimbas pada kinerja hidup dan nasib yang buruk.

Jalan Menuju Sejahtera

Untuk menggapai kesejahteraan, pertama-tama, kita harus memahami dulu apa itu sejahtera. Sebagaimana telah diungkapkan, sejahtera merujuk pada keadaan di mana kebutuhan hidup kita terpenuhi secara layak.

Apa saja yang merupakan kebutuhan hidup manusia? Mulai dari hal yang bersifat fisik: udara, air, makanan, pakaian, rumah, kendaraan, lingkungan yang nyaman dan lainnya, hingga hal yang bersifat non-fisik: kasih sayang, penghormatan dan pengakuan dari orang lain, kedekatan dengan Tuhan, dan lainnya.

Maka, kita bisa mengerti mengapa kaya tak identik dengan sejahtera. Karena bisa jadi, seseorang yang kaya dengan mudah bisa memenuhi kebutuhannya akan makanan, sandang, rumah, kendaraan dan semacamnya. Tapi belum tentu dia mendapatkan kasih sayang, penghormatan yang tulus dari orang lain, persahabatan, maupun kedekatan dengan Tuhan.

Demikian pula, kita bisa mengerti bahwa orang yang miskin, agak repot untuk bisa hidup sejahtera. Bisa jadi dia memang dilimpahi anugerah anggota keluarga yang penuh kasih sayang. Tapi, seberapa jauh itu bisa langgeng jika dia tak bisa memenuhi kewajibannya untuk menafkahi keluarga secara cukup, sehingga keluarganya bisa mendapatkan makanan bergizi, rumah yang nyaman, pendidikan yang bermutu dan bebas dari penyakit?

Berarti, setiap manusia yang ingin hidup sejahtera, harus bisa mengenali kebutuhan hidup. Lalu, prasyarat kedua, mereka juga memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Bagaimana cara kita bisa memenuhi kebutuhan hidup? Caranya adalah dengan bekerja dan berkarya. Nah, penting untuk ditegaskan bahwa bekerja dan berkarya di sini, bukan sekadar “mencari uang”. Tapi, itu adalah serangkaian langkah yang utuh:
1 Memenuhi Kebutuhan Secara Swadaya.
Ada beberapa kebutuhan hidup yang bisa kita penuhi tanpa harus “membeli”. Semakin banyak kebutuhan yang bisa kita penuhi tanpa membeli, pengeluaran kita menjadi lebih sedikit, keseharian kita menjadi lebih hemat, dan pada akhirnya kita akan lebih mungkin untuk hidup sejahtera.
2 Mendapatkan Uang.
Ada beberapa kebutuhan hidup yang memang harus dibeli dengan uang. Karena itu kita harus bekerja untuk mendapatkan cukup uang. Dengan uang yang cukup untuk membeli berbagai kebutuhan hidup, kita akan lebih mungkin untuk hidup sejahtera.
3 Membantu Komunitas.
Kesejahteraan kita sangat tergantung pada kualitas lingkungan. Lingkungan yang buruk membuat hidup jadi tak sejahtera. Misalnya, kita punya rumah yang nyaman, tapi di sekeliling kita sampah tak tertangani, juga banyak kriminalitas yang berakar pada kemiskinan, maka tak mungkin kita hidup sejahtera. Untuk bisa sejahtera, kita memang harus punya kontribusi sosial, yaitu membantu masyarakat menyelesaikan berbagai persoalan bersama. Terlebih, kita acapkali memiliki “kebutuhan tak terduga” yang hanya bisa dipenuhi oleh “rizki tak terduga”. Rizki tak terduga ini, bisa datang kalau kita punya investasi sosial: sering menolong sesama.

Nah, dalam hal bekerja dan berkarya inilah, kita kemudian berhadapan dengan tuntutan kinerja. Mereka yang bisa meraih kesejahteraan adalah mereka yang bisa bekerja dan berkarya optimal bahkan maksimal sesuai potensi yang mereka miliki. Dalam bahasa lain, mereka mampu menampilkan kinerja puncak, secara konsisten.

Bagaimana caranya seseorang bisa menghasilkan kinerja puncak? Jadilah sosok manusia terampil memanfaatkan seluruh potensi yang dimiliki: pikiran, jiwa, tubuh. Jadilah manusia yang seluruh perangkat kemanusiaannya bekerja sebagaimana mestinya.

Tidak ada komentar: