Kamis, 15 Januari 2009

PEMBEBASAN MISI PROFETIK AGAMA-AGAMA


“Jika ada orang yang kelaparan, penyebabnya adalah si perampas hak.”
(Sayidina Ali bin Abi Tholib)

Membicarakan keadaan bangsa kita dewasa ini, kiranya kita akan punya keprihatinan yang sama. Di satu sisi, kita prihatin menyangkut kehidupan yang dirasakan makin sulit oleh kebanyakan masyarakat kita: harga kebutuhan sehari-hari terus melambung, pekerjaan kian sulit diperoleh, biaya pendidikan kian tak terjangkau, hingga bencana alam di mana-mana. Di sisi lain, agama acapkali justru tampil bukan dengan wajah yang solutif. Bukannya menawarkan pemecahan yang cerdas terhadap problem kesulitan hidup yang dihadapi mayoritas anak bangsa, agama-agama justru terkesan sebagai pemicu konflik horisontal. Atas nama agama, kekerasan terus merebak: yang terhangat saat ini adalah peristiwa teror dan intimidasi terhadap pemeluk Ahmadiyah di berbagai daerah setelah mereka difatwa sesat oleh MUI dan Bakor Pakem.

Tentu saja, jika kita memaknai setiap agama sebagai wujud bimbingan Tuhan agar manusia bisa hidup secara bermartabat dan penuh kebahagiaan, kekeliruan pastilah tidak terletak pada agama itu sendiri. Melainkan pada penafsiran dan perilaku pemeluknya. Sebagian kita, tampaknya telah keluar dari jalan-jalan (thariqah) yang disediakan oleh agama: alih-alih hidup dengan cinta kasih dan penuh semangat pembelaan kepada mereka yang tertindas, kita justru gemar menebarkan kebencian, sembari tidak peduli terhadap ketimpangan struktural yang menjadi akar penderitaan sesama.

Kebahagiaan Tujuan Beragama
Mengapa manusia beragama? Pada dasarnya, karena manusia membutuhkan bimbingan untuk mengecap sesuatu yang paling mereka hasratkan: kebahagiaan. Pada faktanya, setiap agama, baik yang muncul di Timur Tengah, Timur Jauh hingga di Tanah Jawa, menjanjikan hal senada: kebahagiaan. Setiap agama menegaskan satu hal: mereka yang taat, mereka yang memegang teguh dan mempraktekkan prinsip-prinsip agama, akan bisa mengecap kebahagiaan hidup yang kekal. Islam, menyimbolkan kebahagiaan bagi para pemeluknya yang taat dengan jannatun naim (kebun surga yang penuh kenikmatan). Kristen, punya simbol yang mirip: Taman Firdaus. Demikian pula Budha dan Hindu: Nirwana.

Sayangnya, sebagian umat beragama kemudian mempersepsi surga, taman firdaus ataupun nirwana itu sebagai sesuatu yang terbatas – mungkin dari segi luas, jumlah dan layanan kenikmatan di dalamnya – sehingga merasa perlu untuk saling memperebutkannya. Bahkan kemudian muncul klaim, yang berhak masuk surga adalah pemeluk agama tertentu, “Kelompok saya, kelompok kami!” Ketika hal seperti ini terjadi, justru agama malah bergeser peran: bukannya menjadi pemberi berkah, malah menjadi sumber petaka. Pemeluk Ahmadiyah, pada saat ini, mungkin yang paling bisa merasakan betapa pahitnya penderitaan yang diakibatkan oleh ketidaklapangan hati sebagian pemeluk Islam yang menganggap pemeluk Ahmadiyah tidak punya hak atas tanah surga karena mereka sesat.


Merenungi Kembali Makna Surga
Sesungguhnya, kita tak akan pernah tahu, surga, taman firdaus maupun nirwana yang sesungguhnya seperti apa. Terlebih jika kita memaknainya sebagai alam kebahagiaan yang kita rasakan dalam kehidupan pasca kematian. Sungguh tidak bijak kita bertengkar untuk sesuatu hal yang kita tak tahu pasti wujudnya – kecuali sekadar melalui pemberitaan via teks Kitab-Kitab Suci yang sangat mungkin bersifat metaforis. Akan lebih baik jika kita “menyederhanakan” makna surga, taman firdaus dan nirwana, sebagai kehidupan di muka bumi yang penuh kebahagiaan, kedamaian. Dengan makna seperti ini, alih-alih saling berebut dan melontarkan klaim, setiap agama justru harus siap berdampingan, bahkan bekerjasama. Hanya dengan demikianlah kehidupan surgawi di muka bumi bisa terwujud.

Prasyarat kebahagiaan adalah kesejahteraan, yang ukurannya adalah taraf sosial, ekonomi dan mutu lingkungan. Dengan kompleksitas tantangan yang kita hadapi saat ini, sungguh naif jika kita beranggapan hanya umat beragama tertentulah yang bisa mewujudkannya. Pada konteks Indonesia yang masyarakatnya heterogen secara ras dan agama, satu-satunya jalan agar kesejahteraan bisa diwujudkan adalah adanya kerjasama antar seluruh komponen bangsa.

Demikian pula, kedamaian dan harmoni sosial, hanya bisa terwujud jika setiap pemeluk agama bersedia melapangkan hati. Tiap pemeluk agama harus siap memberi ruang bagi mereka yang berbeda dalam hidup keseharian, serta secara tulus saling menghormati.

Misi Profetik Agama-agama
Setiap agama, sesungguhnya punya tradisi progresif untuk mendorong perubahan struktural. Kita maklumi bahwa penyebab kemiskinan dan problema kemanusiaan lainnya, adalah ketimpangan sosial atau ketidakadilan sistemik – yang secara filosofis berakar pada keserakahan dan pemberhalaan uang. Dalam tradisi Katholik, terdapat Teologi Pembebasan, sebuah konsep teologi yang mengajak manusia untuk tidak hanya berteori tentang Tuhan dan keluhuran budi, tapi justru mengajak manusia menerjuni kenyataan sosial dan membuat perubahan di sana. Demikian pula, dalam tradisi Islam, kita bisa menemukan spirit jihad dalam maknanya sebagai perjuangan keras umat beragama untuk menaklukkan hawa nafsu, baik pada tataran individu (dengan mengalahkan ego) maupun pada tataran kolektif (dengan menyingkirkan tirani atau penindasan kepada sesama). Sementara dalam tradisi Hindu, kita bisa menemukan perjuangan ala Mahatma Gandhi: dalam wujud gerakan ahimsa, swadesi dan satyagraha. Pada titik kepentingan sosial seperti ini, sesungguhnya setiap pemeluk agama bisa bahu membahu, berjuang bersama, demi kebahagiaan bersama.

Selaras dengan itu, para pemuka agama juga perlu memaknai kembali konsep dakwah, missi dan zending. Bukan lagi sebagai kegiatan untuk mengajak orang lain pada agama kita. Tetapi sebagai upaya pembuktian keimanan: melalui kesediaan berkorban demi kemaslahatan orang lain, serta keberanian menentang tirani dan penindasan. Hanya dengan cara inilah, agama-agama akan punya makna positif: sebagai solusi bagi problem kehidupan yang nyata. Siapkah kita?

Tidak ada komentar: