Kamis, 15 Januari 2009

RAHASIA PERUBAHAN NASIB



Nasib Anda, disebabkan oleh apa yang Anda pilih dan Anda putuskan untuk Anda lakukan di masa lalu. Nasib dan keadaan Anda, adalah hasil dari cara berpikir, sikap, tindakan dan kebiasaan Anda sebelum ini. Tentu saja, hasilnya pasti berbeda, jika cara berpikir, sikap, tindakan dan kebiasaan Anda sebelum ini juga berbeda.

Ada rangkaian sebab akibat dalam kehidupan Anda, yang ujungnya bermuara pada causa prima, penyebab utama, yang biasanya kita nisbatkan pada Sang Pencipta. Dan sesungguhnya, manusia punya kebebasan besar untuk memilih. Hanya beberapa hal saja dalam hidup ini yang tak bisa kita pilih. Misalnya soal siapa ibu kita, di mana kita lahir, apa warisan genetik kita yang menentukan bakat dan kecenderungan kita. Hal-hal semacam itulah yang tidak bisa kita rubah, pilih, sesuatu yang telah given, dari sono-nya, sudah built in. Tapi di luar hal-hal itu, Anda bisa bebas memilih. Andaipun Anda lahir dari sebuah keluarga miskin, Anda toh bisa memilih untuk hidup prihatin dan bekerja keras untuk mengubah nasib, dan kemudian Anda menjadi orang kaya. Atau Anda pasrah, menyalahkan nasib, bekerja asal-asalan, frustasi bahkan bunuh diri, hingga Anda tercatat dalam sejarah sebagai orang bernasib sial.

Nasib kita saat ini, adalah hasil dari pilihan kita di masa lalu. Keadaan kita saat ini, adalah konsekuensi dari pilihan kita tentang bagaimana kita mengisi hidup. Allah telah memberi kita kebebasan untuk melakukan pilihan itu. Bahkan sebenarnya Dia telah memberikan bekal dan bimbingan terbaik. Pikirkan dengan cermat, bahwa sesungguhnya setiap detik kehidupan adalah momen untuk memilih. Kalau Anda merasa nasib Anda kini malang, sama sekali itu bukan kesalahan Tuhan. Itu bukan ”Kehendak Tuhan” – dalam artian itu bukan hasil yang dipaksakan Tuhan pada Anda. Kehendak Tuhan justru adalah Anda memilih nasib terbaik

Mentalitas Miskin
Dalam banyak hal, fenomena kemiskinan dan nasib buruk, seringkali berakar pada cara pandang negatif terhadap kehidupan. Kemiskinan berawal dan bermula dari apa yang disebut dengan mentalitas kelangkaan. Mentalitas kelangkaan ada corak mental seseorang yang diwarnai dengan persepsi serba negatif terhadap hidup dan Pemilik Hidup. Orang dengan mentalitas kelangkaan, di kesadarannya yang paling dalam bersemayam keyakinan bahwa hidup itu sulit, rezeki itu terbatas, kesempatan untuk hidup makmur telah punah – jikapun ada itu untuk orang lain, dan berbagai keyakinan yang melemahkan lainnya.

Kalau Anda kini memilih memenjara diri Anda dengan mentalitas kelangkaan ini, jika Anda tetap memikirkan kemiskinan, percayalah bahwa yang Anda dapatkan adalah kemiskinan dan nasib buruk.

Berikutnya yang tak kalah berpengaruh adalah mentalitas ketakberdayaan. Mereka yang terjangkiti virus seperti ini, sering berpikir bahwa mereka memang ditakdirkan untuk hidup sengsara, bahwa mereka tak punya modal apapun untuk meraih kemakmuran, dan seterusnya. Akhirnya, apa yang mereka dapatkan tak jauh dari apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri. Pikiran tak berdaya, mendatangkan kenestapaan.

Potensi Tak Terpakai
Sebenarnya setiap orang telah dibekali dengan perangkat canggih untuk meraih kemakmuran. Setiap orang sebenarnya punya kecerdasan yang bisa diandalkan untuk meraih nasib terbaik. Tetapi mengapa ada orang yang terlihat bodoh dan akhirnya bernasib buruk? Orang yang terlihat bodoh sebetulnya sama dengan orang yang telah diberi seperangkat komputer terbaru, dengan mikroprosesor di atas Pentium IV, dilengkapi dengan perangkat-perangkat lunak canggih, tapi ia hanya menggunakan komputer itu untuk mengetik secarik surat. Sesuatu yang bisa dikerjakan oleh mesin tik tua.

Jika Anda selama ini merasa tak bisa sehebat Einstein dan orang cerdas lainnya, itu bukan karena Anda tak memiliki bakat cerdas. Tapi pertama, karena kecerdasan Anda tertutupi dan terhalangi oleh berbagai kerak kehidupan: pandangan negatif, emosi tak terkendali, kemalasan memberdayakan diri, ketidakpercayaan diri dan seterusnya. Anda menghalangi diri Anda sendiri dari mendapatkan berkah Tuhan berupa sebuah otak. Kedua, karena Anda sendiri belum menemukan jenis kecerdasan yang menjadi keunggulan Anda. Anda belum mengenal diri Anda dan di mana letak keunggulan Anda. Jika Anda telah menyingkirkan penghalang tersebut, jika Anda mengenali letak keunggulan Anda, maka Anda akan tampil sebagai pribadi luar biasa dengan karya hebat, yang mencerminkan kinerja istimewa dari super komputer yang ditempatkan Tuhan di dalam kepala Anda.



Tertipu
Sebagian orang mendapat karunia dalam bentuk kekayaan materi berlimpah. Tapi ternyata hidup mereka jauh dari ketenangan dan keberkahan. Hal demikian terjadi karena mereka lalai dan nyaris melupakan hati nurani dan bisikan jiwa. Mereka sibuk dengan gemerlap dunia dalam bentuk tahta, harta dan kesenangan badani lainnya. Mereka menutupi cahaya terang di dalam diri dengan lapisan hitam kedengkian, kemarahan, ambisi kekuasaan, dan semacamnya. Wajarlah jika mereka terjauhkan dari kemakmuran, kebahagiaan, ketenteraman, kedamaian, keberhasilan yang utuh.

Jikapun ada yang mengira berhasil, karena bisa mereguk kekayaan berlimpah, kekuasaan ala maharaja, maupun kenikmatan badani lainnya, sejatinya itu semua malah menjadi beban berat yang memusingkan, melahirkan kehampaan dan derita. Itulah yang digambarkan oleh fenomena tokoh politik yang selalu hidup ketakutan karena menganggap semua orang adalah musuh, oleh selebritis yang terlempar ke titik nadir penderitaan dan kemiskinan, karena coba mencari kebahagiaan di dunia gemerlap dengan segenap benda-benda penipu.

Takdir Yang Maha Adil
Apa yang kita dapatkan dalam hidup adalah sebuah pilihan. Hasil yang baik adalah akibat dari pilihan yang baik. Demikian pula sebaliknya.

Kita pilih salah satu hal saja untuk kita analisis secara runtut: penghasilan Anda. Penghasilan Anda ditentukan oleh jenis dan kualitas pekerjaan. Anda punya penghasilan seperti sekarang, karena itulah yang layak untuk jenis dan kualitas kerja Anda sekarang. Mengapa Anda ada pada pekerjaan tersebut, dan mengapa kualitasnya seperti itu? Karena itulah yang bisa Anda lakukan, sesuai dengan kompetensi dan peluang yang Anda miliki. Bagaimana kompetensi Anda bisa terbentuk? Itu ditentukan oleh pilihan Anda terhadap pendidikan serta pola belajar di masa lalu.

Coba pikirkan, apa yang akan terjadi jika dulu Anda belajar lebih keras dan cerdas, hidup dengan lebih disiplin, lebih terbuka pada ilmu dan pengetahuan baru, lebih pandai bergaul? Apakah nasib Anda akan seperti sekarang? Saya jamin tidak sama. Keadaan Anda, disebabkan oleh apa yang Anda pilih, apa yang putuskan untuk Anda lakukan di masa lalu. Nasib dan keadaan Anda, adalah hasil dari cara berpikir, sikap, tindakan dan kebiasaan Anda sebelum ini. Tentu saja, hasilnya pasti berbeda, jika cara berpikir, sikap, tindakan dan kebiasaan Anda sebelum ini juga berbeda.

Runtutan serupa bisa kita terapkan pada aspek kehiduapn yang lain. Intinya, ada rangkaian sebab akibat dalam kehidupan Anda, yang ujungnya bermuara pada causa prima, penyebab utama, yang biasanya kita nisbatkan pada Sang Pencipta. Dan sesungguhnya, manusia punya kebebasan besar untuk memilih. Hanya beberapa hal saja dalam hidup ini yang tak bisa kita pilih. Misalnya soal siapa ibu kita, di mana kita lahir, apa warisan genetik kita yang menentukan bakat dan kecenderungan kita. Hal-hal semacam itulah yang tidak bisa kita rubah, pilih, sesuatu yang telah given, dari sono-nya, sudah built in. Tapi di luar hal-hal itu, Anda bisa bebas memilih. Andaipun Anda lahir dari sebuah keluarga miskin, Anda toh bisa memilih untuk hidup prihatin dan bekerja keras untuk mengubah nasib, dan kemudian Anda menjadi orang kaya. Atau Anda pasrah, menyalahkan nasib, bekerja asal-asalan, frustasi bahkan bunuh diri, hingga Anda tercatat dalam sejarah sebagai orang bernasib sial.

Nasib kita saat ini, adalah hasil dari pilihan kita di masa lalu. Keadaan kita saat ini, adalah konsekuensi dari pilihan kita tentang bagaimana kita mengisi hidup. Allah telah memberi kita kebebasan untuk melakukan pilihan itu. Bahkan sebenarnya Dia telah memberikan bekal dan bimbingan terbaik. Pikirkan dengan cermat, bahwa sesungguhnya setiap detik kehidupan adalah momen untuk memilih. Kalau Anda merasa nasib Anda kini malang, sama sekali itu bukan kesalahan Tuhan. Itu bukan ”Kehendak Tuhan” - hasil yang dipaksakan Tuhan pada Anda. Kehendak Tuhan justru adalah Anda memilih nasib terbaik. Wong Tuhan mengasihi Anda tanpa pamrih.

Anda harus memahami takdir secara tepat. Takdir, merujuk pada khazanah ajaran Islam misalnya, terdiri dari dua komponen: qadha dan qadar. Qadha adalah ketetapan Allah, apa yang kita kenal dengan sebutan sunnatullah. Sunnatullah ini, esensinya adalah hukum sebab akibat. Secara fisik,itu berupa hukum alam yang ditemukan kalangan. Tapi sebetulnya itu juga meliputi hukum-hukum spiritual, menyangkut hal-hal yang immaterial atau metafisik, dan itu diungkapkan oleh para spiritualis sepanjang jaman. Kalangan fisikawan kontemporer yang sudah memasuki era fisika quantum, juga telah menjadi bagian dari kalangan yang mengungkapkan kebenaran hukum-hukum spiritual ini, yang menjelaskan apa yang ada di balik yang bisa dipersepsi oleh panca indera.

Beberapa hukum spiritual yang sebenarnya sangat mudah kita pahami itu antara lain:
• ”Barang siapa menabur kebaikan akan menuai kebaikan, barangsiapa menabur kejahatan akan menuai kejahatan.”
• ”Apa yang Anda pikirkan tentang kehidupan, itulah yang Anda dapatkan.”
• ”Allah bertindak kepada kita, sesuai persangkaan kita kepada-Nya”

Dalam hal ini, qadha justru adalah semacam garansi Allah bahwa jika Anda bertindak dan bersikap terbaik, Anda memperoleh yang terbaik pula. Tanpa ada garansi seperti itu, tentu tak ada gunanya manusia melakukan hal-hal terbaik yang bisa dia lakukan. Takdir, sekali lagi, justru merupakan wujud Kasih Sayang Allah yang menganuegrahkan kemampuan pada kita untuk menciptakan masa depan kita sendiri, dengan memberi sebuah bingkai kepastian.

Sementara itu, qadar adalah ketetapan Allah mengenai kapasitas makhluk tertentu. Berkenaan dengan diri manusia, qadar berarti kapasitas yang dimiliki manusia, sesuatu yang given; dalam cara pandang sains itu terwakili oleh rumusan DNA yang menentukan watak genetis, bakat, temperamen, dan sebagainya. Itu, sesungguhnya adalah modal awal yang diberikan Allah kepada kita. Bukan pembatas kebebasan apalagi sebentuk hukuman. Terlebih, dalam praktek kehidupan kita punya kebebasan untuk menyikapi modal awal itu. Menyia-nyiakannya, atau memanfaatkannya sebaik mungkin.

Melalui takdir ilahi yang komponennya adalah qadha dan qadar, dunia dan semesta berjalan dengan segenap dinamikanya. Terkait dengan takdir manusia, di satu satu sisi ada hal-hal yang tak bisa dirubah, di sisi lain ada ruang terbuka untuk menciptakan berbagai kemungkinan. Manusia adalah makhluk istimewa yang diberi hak untuk bermain dengan berbagai kemungkinan masa depan, sesuai yang dirasakan dalam hati dan terbetik dalam pikiran masing-masing. Sebagai khalifatullah, manusia sejatinya telah mendapatkan mandat untuk menjadi mitra Tuhan dalam memberi warna-warni kehidupan dan mencipta masa depan.

Berfokus pada kehidupan Anda, maka bisa dikatakan bahwa Anda sesungguhnya telah mendapatkan mandat untuk menciptakan masa depan Anda sendiri. Keadaan Anda adalah hasil dari penggunaan mandat tersebut. Dan selanjutnya, Anda punya kebebasan untuk memilih masa depan seperti apa yang akan Anda genggam. Dalam proses pembangunan masa depan setiap pribadi inilah, takdir selayaknya kita pandang sebagai garansi Allah bahwa kebajikan yang kita kerjakan tidak sia-sia. Takdir adalah wujud keadilan Ilahi, dengan dengannya semesta dan kehidupan ditegakkan.

1 komentar:

HitmanSystem.com mengatakan...

Tulisan yang menarik. Terima kasih sudah berbagi informasi. Jika ingin tahu lebih banyak lagi tentang cara mengatasi hidup yang sulit atau kompleks, silakan baca artikel When Life Sucks di blog saya. Salam kenal, sobat.

Lex dePraxis
Romantic Renaissance