Minggu, 15 Februari 2009

CINTA VS HAWA NAFSU

Apakah bedanya cinta dan hawa nafsu? Cinta adalah cahaya langit…hawa nafsu adalah hasrat sang bumi. Cinta bersumber dari yang Ilahi di dalam diri…hawa nafsu adalah gelora unsur-unsur material di dalam diri: tanah, air, api, udara. Cinta, berwujud kerinduan, penghargaan, ketakjuban, menghantar diri memasuki dunia batin yang tak terbatas. Hawa nafsu menuntut pemuasan, berwujud obyektifikasi, membatasi penjelajahan diri pada sensasi panca indra. Cinta membawa surga, hawa nafsu berpotensi menarik neraka.
Kapan cinta hadir? Ketika engkau takjub pada sekuntum bunga. Ketika hatimu tergetar oleh deretan gunung yang berdiri kokoh. Ketika engkau tersentuh oleh rintihan sesama yang membutuhkan pertolonganmu. Ketika engkau menjadi lembut oleh senyum dan tawa anak manusia. Juga ketika kehadiran dewa/dewi surga ke dalam hidupmu, tak hanya membuat dadamu bergelora, tapi juga membuatmu menembus tirai Yang Maha Kasih: menyaksikan keindahan dan kelembutan-Nya.
Kapan hawa nafsu hadir? Ketika engkau menghasratkan kepemilikan. Ketika engkau ingin menguasai. Ketika engkau menuntut pemuasan. Ketika engkau ingin menaklukkan. Ketika engkau menjadi kian dahaga. Ketika hatimu justru terasa kosong.
Kepada siapa dan apa kita mencinta? Kepada segala sesuatu yang berasal dari Tuhan. Kepada sesuatu yang di dalamnya engkau bisa menemukan Yang Ilahi. Engkau bisa mencintai sekuntum bunga, air yang mengalir jernih, sepasang burung dara, ataupun sesosok pria atau wanita. Mengapa kita mencintai sesuatu dan tidak lainnya? Mengapa kita mencintai setangkai mawar dan bukannya setangkai anggrek? Mengapa cinta hati kita bergelora kepada yang tertentu dan tidak kepada lainnya? Urusan Tuhanlah menyangkut soal itu. Tapi itu juga menunjukkan bahwa ada beda antara engkau dan Tuhan….Tuhan mencintai segalanya, dengan cinta yang tak terbatas. Sementara keterbatasanmu, bahkan ketidakmampuanmu menguasai hatimu sendiri, membuatmu hanya bisa mencintai sesuatu yang terbatas.
Salahkah kita ketika mencintai setangkai mawar sekaligus setangkai anggrek? Selama engkau benar-benar mencintai, tak ada dosa bagimu. Dosa bisa muncul ketika engkau sudah bermain di wilayah hawa nafsu: engkau mulai ingin memiliki, menguasai, lantas kau tak siap dengan tanggung jawab yang mengiringinya, atau engkau melakukan kezaliman.
Tebarkanlah cintamu seluas-luasnya..namun waspadalah pada hawa nafsu yang membayanginya. Yang pertama pasti membawamu pada puncak kebahagiaan…yang terakhir, bisa menjerembabkanmu pada derita. [shd]

Tidak ada komentar: