Minggu, 15 Februari 2009

PERJALANAN MENUJU PUNCAK

Kulalui semua jalan setapak menuju puncak gunung kebahagiaan. Ada kalanya aku memasuki lembah dalam yang gelap dan penuh penderitaan. Ada kalanya aku berhasil mendaki bukit yang agak tinggi, menikmati secercah sinar yang menghangatkan dan membuat hati tersenyum. Sempat kuberpikir, lebih baik jika aku tak pernah memasuki lembah yang gelap dan penuh penderitaan itu. Tapi sang pemandu di dalam diriku membisiki: jalan terang dan jalan gelap harus dilalui semua. Ia berkata, “Kedua jalan itu membuatmu mengenal dirimu sebenarnya: engkau memang memiliki lentera di dalam jiwamu…tapi saat yang sama, ada kabut hitam yang membayangi pikiranmu, dan kadang menutupi cahaya lentera itu.”
Sang pemandu melanjutkan, “Mencapai puncak gunung kebahagiaan, hanya bisa terjadi jika engkau bersedia mendaki lereng gunung sekaligus menuruni lembah di tepiannya. Engkau memandang keduanya sama-sama sebagai jalan setapak untuk mendekati puncak yang kau tuju. Walaupun menuruni lembah seperti menjauhkanmu dari puncak, terus jalani bahkan nikmati. Karena itu jalan satu-satunya engaku bisa menemukan titik awal mendaki lereng ke arah yang lebih tinggi. Bahkan berterima kasihlah…itu membuat perjalananmu menjadi lebih mengasyikkan.”
“Di dalam lembah yang gelap, engkau bisa melihat monster-monster di dalam pikiran dan hatimu keluar dan berkeliaran. Serigalamu, harimaumu, babimu…lihatlah, semuanya bergegas mencari mangsa dan pemuasan. Itulah dirimu……engkau, tanpa lentera yang diambilkan dari langit tertinggi, tak lebih dari binatang buas. Karena itu, berendahhatilah, bahkan memohonlah….agar engkau bisa terbebas dari perangkap semua binatang buas di dalam dirimu. Dan jika engkau melihat saudaramu tengah menjadi binatang buas itu…jangan kau hakimi…ia sama denganmu, ia tengah coba mengenali dirinya. Biarlah Sang Pengatur Hidup ini yang menentukan, kapan semua binatang penghuni rimba kegelapan di dalam diri itu mulai menyingkir dan jalan setapak yang penuh cahaya mulai tersibak. Tugasmu adalah berjalan…benar-benar memperhatikan perjalananmu sendiri. Kalaupun kau peduli pada saudaramu..cukup kau tunjukkan belas kasih dan simpatimu……”
“Jika kemudian engkau mulai berada di kawasan yang mendekati puncak, atau bahkan mulai sampai di puncak gunung yang kau tuju, dan engkau mulai menikmati indahnya tempat penuh cahaya….janganlah jumawa. Itu tak lepas dari belas kasih Sang Pengatur Hidup. Bahwa engkau telah berjuang, benar. Tapi perjuanganmu tak artinya tanpa kesediaan Sang Pengatur Hidup untuk menunjukkan kepadamu pintu jalan terang.”
“Jika limpahan cahaya mulai engkau rasakan, berterima kasihlah. Setulusnya, dari dalam hatimu. Lalu, kau tunjukkan terima kasihmu dengan lebih nyata, bimbinglah, tariklah tangan mereka yang masih berada di dalam lembah kegelapan dan menggapai-gapai mencari pintu jalan menuju puncak.” Aku hanya bisa berkata, “Terima kasih pemanduku!” [shd]

Tidak ada komentar: