Senin, 02 Februari 2009

PERNIKAHAN

"Karena Hawa adalah adalah batu pengasah, sebagaimana asalnya;
alat yang diciptakan untuk membuka kekuatan di dalam diri pasangannya."
(The Book of Mirdad, Mikhail Naimy)

Seringkali orang membayangkan, pernikahan akan menjadi kehidupan yang penuh ketentraman, kedamaian, ketenangan.
Seseorang yang semula hidup sendirian, berjuang untuk mewujudkan pernikahan dengan harapan momen itu akan menjadi jalan pintas menuju hidup penuh kehangatan dan kebahagiaan.
Ya, sebagian orang menetapkan, tujuan pernikahan adalah merengkuh kebahagiaan.


Sayang sekali, apa yang diangankan, dibayangkan, dan diharapkan, tak selamanya menjadi kenyataan. Alih-alih menjadi sumber kehidupan penuh kebahagiaan dan kedamaian, bagi sebagian (besar) orang, pernikahan menjadi identik dengan penderitaan. Hidup dengan pasangan, ternyata tak semudah yang dibayangkan. Mungkin memang ada momen-momen manis, tapi seringkali itu sesaat. Kemudian yang kita hadapi adalah momen yang penuh kepahitan, menjengkelkan, membuat kita lelah, bahkan nyaris frustasi.

Tak heran....cukup banyak pasangan yang kemudian memilih mengakhiri janji sehidup semati yang pernah diucapkan. Sebagian lagi menahan diri; mereka tetap dalam ikatan formal sebagai suami istri..tapi jiwa mereka tak lagi menyatu (yang ekspresi fisiknya adalah berselingkuh....)

Merenungkan pengalaman pribadi..juga mengamati pendapat dan pengalaman para sahabat...sungguh penting bagi kita untuk memberi makna yang tepat pada pernikahan.
Itu akan membantu melanggengkan pernikahan...bahkan bisa menjadi kunci bagi pernikahan yang "berbahagia".

Saya pribadi, akhirnya sadar, bahwa sebenarnya tujuan utama pernikahan adalah untuk menyempurnakan diri, membuat kita mencapai pertumbuhan jiwa yang berkelanjutan.
Dalam hal menyempurnakan diri dan membuat jiwa kita bertumbuh, acapkali kita memang harus dihadapkan pada konflik, pada prahara, pada penderitaan, yang perantaranya adalah pasangan kita.

Setelah menikah 13 tahun, dengan segenap lika-liku, mengalami pahit dan manisnya pernikahan, melewati momen penuh harapan maupun momen penuh keputusasaan, dari kedalaman hati saya berucap: Terima kasih Tuhan, kau beri aku kesempatan mengarungi pernikahan luar biasa....kau beri aku pasangan hidup yang istimewa!

Sejujurnya, pernikahan saya dengan istri terkasih, penuh dengan prahara...sama sekali jauh dari jalan mulus.
Tapi, memang itulah yang harus saya lalui..tanpa itu, saya sama sekali tak akan terasah...bathin saya tak akan menjadi lebih halus......keakuan saya tak akan mungkin menjadi lebih tertundukkan.

Pernikahan..adalah sekolah yang luar biasa, jika kita memang ingin menjadi manusia sejati.
Hanya mereka yang telah lulus dari sekolah pernikahan, yang layak menjadi pemimpin bagi orang banyak.

Sekali lagi, terima kasih Tuhan...kau anugerahi aku dengan pernikahan yang luar biasa..yang membuatku jadi lebih matang...dan sering menjerit kepada-Mu.

2 komentar:

www.katobengke.com mengatakan...

olehnya itu pada saat menikah jangan hanya menuruti hawa nafsu saja tapi juga melihat dari sisi lain apakah kita sudah mampu lahir dan batin......

Anonim mengatakan...

nggih .. pak. terimakasih ilmunya