Selasa, 24 Maret 2009

RAHASIA DOA


Tuhan, sejauh saya renungkan dan rasakan, bukanlah sejenis tukang jam yang berdiam diri setelah mencipta. Ia terus menerus mencipta hal-hal baru dan mendampingi kita – makhluk yang telah Dia ciptakan dengan sebaik-baiknya, dengan salah satu sifat-Nya: mencipta. Dalam hal Tuhan selalu mendampingi kita ketika kita menjalani hidup dan meretas masa depan, Dia ternnyata lebih dekat dari urat leher; Ia dekat tanpa jarak. Dan itu semua bukan tanpa maksud: Tuhan maha tahu bahwa kita selalu butuh dukungan dan bantuan-Nya setiap saat. Kita tak bisa sendiri. Ada hal yang tak bisa kita selesaikan karena kita bukan segalanya. Bahkan bisa dikatakan, kita bukanlah apa-apa tanpa-Nya.

Manusia memang bisa saja tak memperdulikan kehadiran Tuhan. Sangat mungkin pula manusia menganggap Tuhan itu tak ada. Itulah konsekuensi dari kebebasan memilih yang dianugerahkan Tuhan kepada kita sebagai hamba sekaligus khalifah-Nya. Betapa luar biasa, Anda bahkan bisa memilih untuk menentang-Nya, membenci-Nya, dan Anda masih tetap dapat ”menikmati jatah waktu kehidupan yang Dia berikan”. Anda tetap mendapat pasokan oksigen, sinar matahari hingga makanan, sekalipun saat ini Anda menyatakan diri Anda sebagai musuh-Nya, sebelum ajal yang Dia tetapkan tiba. Dengan kasih-Nya, Dia tak begitu saja merenggut kehidupan kita sekalipun kita berbuat nista. Bahkan tanpa pernah bosan Dia selalu memberikan bimbingan dan pelajaran tentang bagaimana kita bisa hidup secara lebih baik, tanpa Dia sendiri memaksakan itu.

Tapi, tentu saja setiap pilihan punya konsekuensi. Ketika Anda memilih untuk memutuskan hubungan dengan Tuhan, bahkan Anda sendiri memilih untuk tidak mempercayai-Nya, hidup akan punya tindakan tertentu kepada Anda. Resapi dengan sedalam-dalamnya: Anda bebas untuk terus menebangi hutan dan pepohononan hijau, dengan berbagai alasan. Anda punya kebebasan untuk tak pedulikan suara nurani yang membisikkan bahwa itu tak sesuai dengan kehendak Tuhan. Tapi akan ada akibatnya: alam semesta memberikan pelajaran pahit berupa banjir, longsor dan sejenisnya.
Anda punya kebebasan untuk memilih bagaimana cara Anda mengeksploitasi alam. Menangkap ikan di laut misalnya. Agar cepat Anda bisa menggunakan bom atau setidaknya jaring pukat harimau. Akibatnya adalah, alam berubah tanpa kepastian iklim, kandungan ikan di laut pun menipis akibat kerusakan terumbu karang dan biota laut lainnya yang hancur oleh bom. Ikan menjadi sulit ditangkap. Maka, akibat berikutnya adalah kelaparan dan kemiskinan di kalangan nelayan penangkap ikan.
Manakah yang Anda pilih, menganggap Tuhan tak lagi Anda perlukan, atau meyakini bahwa Tuhan Sumber Kuasa Tak Terbatas, yang selalu mendukung Anda setiap Anda memanggil-Nya?

Adalah benar bahwa Tuhan telah memberikan seluruh perangkat keras maupun perangkat lunak kepada setiap umat manusia agar bisa hidup secara layak di muka bumi. Tapi, justru perangkat keras dan lunak terpenting yang dimiliki oleh manusia, adalah semacam chip tak kasat mata yang memungkinkan manusia berkomunikasi dengan-Nya dan mendapatkan dukungan kekuatan tanpa batas. Adalah sebuah bentuk rasa syukur, jika kita memberdayakan chip tak kasat mata itu: kita menggunakannya untuk menyapa-Nya, melantunkan permohonan berkah dan bala bantuan. Chip tak kasat mata itu adalah Jiwa kita.

Kita memanggil Tuhan dan menyibakkan kegaiban untuk mendapatkan hal-hal terbaik dari alam semesta untuk kehidupan kita, melalui doa. Doa, sebuah lantunan puja-puji dan kata-kata dari kedalaman Jiwa, yang menjangkau langsung Arasy tempat-Nya bersemayam. Doa, sebuah tembakan energi dari pusat diri seorang manusia, yang menembus langit tertinggi, untuk mengetuk kemurahhatian Pemilik Jagad Raya.
Melalui doa, banyak mimpi besar maupun kecil yang tercipta. Doa membuat tak ada yang mustahil sejauh itu bisa dibayangkan oleh pikiran manusia. Doa melipatgandakan dampak yang bisa dihasilkan oleh kerja tubuh dan pikiran sadar manusia. Doa, adalah senjatanya orang-orang yang yakin. Melaluinya, aneka ragam kesulitan yang seolah musykil dipecahkan oleh pikiran sadar, bisa teratasi dengan amat memuaskan.
Doalah yang membuat api pembakar nabi Ibrahim menjadi dingin menyejukkan. Doa pula yang membuat samudera terbelah dan kaum Nabi Musa selamat. Dan juga doa yang menyebabkan lahirnya peradaban baru nan gemilang di Jazirah Arab hanya dalam waktu 23tahun; mengubah keadaan Muhammad Rasulullah dari pemuda gembala, pedagang terpercaya, pertapa di Gua Hira, hingga menjadi pemimpin terbesar dalam sejarah umat manusia.

Jika yang Anda dambakan dalam kehidupan ini adalah segenap hal terbaik: kesehatan, pengetahuan, kemakmuran, kasih sayang, maka satu hal yang harus Anda lakukan adalah berdo’a. Anda harus mengetuk pintu langit untuk mendapatkan anugerah tak terbatas, agar apa yang Anda pandang mustahil bisa menjadi kenyataan. Anda hanya perlu bermimpi besar, menyelaraskan mimpi dan hidup Anda dengan Rencana-Nya bagi hidup Anda, lalu melantunkan permohonan agar semua itu menjadi kenyataan.
Tapi, mari kita cermati bahwa doa bukanlah kumpulan kata-kata yang keluar dari bibir tanpa kehangatan dan makna dari kedalaman Jiwa. Doa yang sebenar-benarnya doa adalah suara hati, ketika hati berbisik dalam keadaan hening dan hanya terarah kepada Sang Pemilik Hidup. Doa semacam itu yang terjamin untuk menjadi kenyataan. Sementara doa yang hanya lantunan kata-kata tanpa jiwa, akan terbang musnah bersama angin, tak kuasa menembus pintu langit.

Demikianlah, doa pada dasarnya adalah pengukuhan dari apa yang kita pikirkan dengan dalam, kita imajinasikan dengan kuat, dan kita yakini bahwa itu akan terwujud. Doa adalah afirmasi, kata-kata yang menguatkan, peneguhan yang menarik alam semesta mendukung kehendak kita. Doa adalah pengukuhan keyakinan bahwa Tuhan senantiasa memberikan yang terbaik.

Cara Kerja Doa

Alam semesta ini, sejatinya adalah himpunan energi. Benda-benda yang tampak padat dan terpisah satu sama lain sejauh kita mencerapnya dengan panca indera, sebenarnya adalah sebuah kesatuan energi. Masing-masing benda itu, mengandung atom dan partikel. Partikel yang terus kita uraikan, membawa kita pada energi murni. Setiap benda pada dasarnya mengandung energi murni itu. Termasuk diri kita.

Energi-energi dari setiap benda, memancar dengan tingkat kecepatan dan kualitas yang berbeda. Pikiran, keyakinan, adalah sebentuk energi cahaya yang halus. Energi sejenis memiliki kecenderungan menarik energi dengan kualitas dan getaran yang sama. Secara praktis, setiap yang diimajinasikan oleh pikiran dan disertai emosi yang kuat, punya peluang untuk terwujud padanan fisiknya. Ketika kita mulai memikirkan tentang diri kita yang makmur dan sejahtera, selalu ada kesempatan hal itu mewujud nyata, hingga bisa dicerap keberadaannya oleh panca indera.

Begitu kita punya sebuah impian, keinginan dan imajinasi, hal itu akan tertorehkan di alam semesta sebagai sebuah citra. Pemikiran yang terus menerus akan hal tersebut, imajinasi yang kian detail tentang hal tersebut, harapan dan emosi yang kuat dari kedalaman jiwa agar hal itu terwujud, akan menarik energi dari alam semesta untuk mengisi citra yang telah tertoreh. Semakin citra itu penuh dengan energi yang tertarik, semakin sempurna wujud fisik dari impian dan keinginan tersebut. Hingga pada titik kesempurnaan: kita bisa melihat, merasakan, memegang, apa yang semula hanya ada dalam pikiran.

Doa, mengikuti konsep ini, adalah bagian dari energi jiwa yang bergetar untuk menarik energi alam semesta. Semakin kuat doa kita, semakin kuat getaran dan daya tariknya. Tak heran, jika doa yang keluar dari Jiwa yang bersih, menjadi sebuah doa yang makbul: harapan, impian dan keinginan yang terkandung dalam doa itu terwujud dengan pasti dan cepat. Mengapa? Karena dalam proses penarikan energi alam semesta untuk mewujudkan padanan fisik dari harapan, impian dan keinginan tersebut, tak ada lagi penghalang.

Mempertimbangkan hal tersebut, acapkali pula doa tak membutuhkan kata-kata dari bibir. Ketika Jiwa sudah membisikkan apa yang dibutuhkan dan dihasratkan, kemudian pikiran secara terus menerus mengembangkan imajinasi hingga kian jelas citra tertoreh di alam semesta, maka perwujudannya secara fisik tinggal menunggu waktu.
Namun harus diingat, bahwa selalu ada misteri jika kita berbicara tentang Tuhan dan alam semesta. Padanan fisik dari apa yang kita dambakan dan impikan, kadang tak mirip betul. Kita tak sepenuhnya bisa menebak apa yang akan Dia berikan kepada kita. Lebih seringnya, Tuhan memberikan hal yang jauh lebih baik dari apa yang bisa kita bayangkan. Sejauh kita tulus dan terbuka, Dia selalu melipatgandakan nilai karunia-Nya kepada kita, tak sebanding dengan karya dan persembahan yang kita berikan. Yang pasti, Dia selalu memberikan apapun yang paling sesuai dengan Rencana-Nya bagi kita. Sejauh kita percaya bahwa kita sejatinya dalam perjalanan menuju kesempurnaan pribadi, dan salah satu ukurannya adalah kualitas karya dan manfaat yang bisa kita berikan kepada sesama, maka yakini pula bahwa Dia hanya akan memberikan anugerah yang selaras dengan kebutuhan proses tersebut. Tidak lebih tidak kurang.

Tidak ada komentar: