Rabu, 29 April 2009

KEMARAHAN


Kapan terakhir kali Anda marah? Mengapa Anda marah? Apa yang terjadi dengan wajah, urat leher dan jantung Anda? Dan apapula yang terjadi dengan korban kemarahan Anda? Anda pasti tahu, kemarahan selalu bersanding dengan keadaan yang buruk. Kemarahan, mempengaruhi tindakan hingga menjadi tak terkendali. Kemarahan juga melumpuhkan akal sehat. Bahkan kemarahan adalah sumber penyakit dan kematian. Terlebih jika kemarahan itu terpendam di dalam bathin. Kemarahan bisa berubah menjadi racun yang merusak sel-sel di dalam tubuh.

Ada banyak pemicu kemarahan. Bisa hal yang sederhana. Bisa juga hal yang sangat serius. Kita bisa marah, ketika seseorang berlalu di depan kita tanpa mengucapkan permisi. Kita bisa marah, ketika orang yang sangat kita percayai berdusta. Kita bisa marah, ketika anak buah kita melakukan kesalahan yang menyebabkan kerusakan fatal dalam bisnis. Kita bisa marah karena pasangan hidup berkhianat ataupun sekadar kurang memberikan perhatian. Banyak sekali pemicu. Tapi, sesungguhnya akarnya ada di dalam diri. Kita memiliki nafs al amarah – bagian yang penuh gelora dan bisa membakar, di dalam jiwa kita. Kemarahan terjadi ketika kita membiarkan nafs amarah kita mengeluarkan energi secara berlebihan tanpa kendali.

Dalam skala peradaban, kita bisa menyaksikan kehancuran akibat kemarahan tak terkendali dari mereka yang mengaku sebagai pemimpin dan orang-orang besar. Perang Bubat yang tragis, terjadi ketika baik petinggi Kerajaan Pajajaran dan Kerajaan Majapahit saling tersinggung dan memutuskan berperang. Dalam skala pribadi, kemarahan bisa mengundang perkelahian hebat dan bahkan kerusakan benda-benda yang terbanting atau terlempar.

Demikianlah dampak dari emosi yang bernama kemarahan ini. Seseorang yang pemarah, akan mendapatkan kesulitan di semua wilayah kehidupan. Dalam pergaulan sosial, kebanyakan orang akan menjauh, karena tak satupun orang yang suka menjadi obyek kemarahan. Dalam kehidupan rumah tangga, bara dan perpecahan rumah tangga akan terjadi, karena amarah dari salah satu pihak akan memancing amarah dari pihak lainnya. Dan perang antar suami istri di dalam rumah tangga tak akan kalah dahsyat dari perang dunia manapun. Dalam dunia bisnis, kemarahan juga merusak. Orang-orang terbaik akan pergi karena mereka tak akan mau bersama sosok pemarah yang membuat suasana kerja menjadi tak nyaman. Loyalitas tak akan terbentuk; siapa yang mau loyak pada sosok yang sering menyakit, kekurangan rasa cinta dan lebih peduli pada perasaannya sendiri? Sebuah perusahaan tak akan berkembang menjadi perusahaan yang solid dan berkelas di tangan orang yang pemarah dan senang menjadikan berbagai hal sepele sebagai alasan untuk meledak.

Kemarahan memang sesuatu yang serba buruk. Jika ia kita pendam, melukai diri kita sendiri karena mirip dengan menabur racun di dalam tubuh. Tapi jika kita lampiaskan kepada orang tertentu, mirip dengan menancapkan paku ke dalam jantungnya. Sekali kita mengarahkan kemarahan kita pada seseorang, terlebih tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan, orang itu akan terluka. Hubungan kita dengannya tak lagi akan sama. Tak ada luka di hati yang tergores oleh perlakuan penuh amarah yang mudah untuk disembuhkan.

Tak hanya itu, marah membuat energi kita terbuang sia-sia. Saat amarah mendominasi, kita akan jatuh pada titik kinerja terendah. Permasalahan apapun menjadi sulit dipecahkan. Sebab amarah membuat kita tak sanggup berpikir jernih dan sehat. Bahkan, belum lagi permasalahan utama terselesaikan, bisa muncul masalah baru akibat dari lontaran amarah kita.

Singkatnya, sekali orang tak bisa mengendalikan amarah dan membiarkan amarah itu menguasai dirinya, maka segala keruwetan dan kekacauan akan tertarik ke dapam kehidupannya. Mulai dari keruwetan dan kekacauan di rumah tangga, dalam kehidupan sosial, hingga ke dalam dunia bisnis dan profesional.

Relakah karier, rumah tangga dan kehidupan Anda dihancurkan oleh amarah?

Kemarahan, dalam kenyataannya, berkait kelindan dengan emosi negatif lainnya: kebencian dan dendam.

Pernahkah Anda bertemu atau menyaksikan seseorang yang dilanda kebencian dan dendam? Orang semacam itu adalah orang yang paling patut dikasihani. Mengapa? Sebab, ia sesungguhnya tengah merusak diri dengan memasukkan salah satu racun kehidupan yang terbesar.

Orang yang sudah dirasuki kebencian dan dendam, kehilangan rasa lapang dan ketenangan hati. Hidupnya akan terus diwarnai oleh kegelisahan; ia menanti-nanti kapan orang yang dia benci dan dendami itu mendapatkan musibah. Kebencian dan dendam, mirip dengan noda hitam yang menggelapkan hati dan akal sehat.

Kebencian dan dendam merupakan penghalang untuk mendapatkan berbagai hal terbaik dari kehidupan. Adakalanya kita membenci seseorang, padahal orang tersebut prospektif membantu kita, bahkan sebenarnya sangat menguntungkan jika dijadikan mitra. Tapi rasa benci menghalangi kita untuk melihat sisi baik orang tersebut. Dan juga menghalangi kita mendapatkan manfaat dari kebaikan orang tersebut. Semakin banyak kita membenci dan menaruh dendam, semakin banyak kebaikan dari sesama yang terhalang mendatangi diri kita.

Lebih dari itu, kebencian dan dendam juga mengundang kebencian dan dendam berikutnya. Jika kita membenci seseorang, orang tersebut akan menyadarinya dan terpicu untuk balik membenci kita. Jika kita memutuskan membalas dendam terhadap kejahatan orang lain, maka akan ada balasan berikutnya yang kita terima. Sebab apa yang kita tabur, akan kita tuai. Apa yang kita terima, persis seperti yang kita berikan.

Jika dua orang atau lebih dalam sebuah perusahaan saling membenci bahkan menaruh dendam, perusahaan tersebut tinggal menunggu waktu untuk karam dan tenggelam. Berbagai ide cemerlang dan pekerjaan besar yang semestinya dikerjakan bersama, akan gagal terealisasi karena orang-orang yang semestinya bersatu malah saling bertikai. Kebencian dan dendam seperti inilah yang ada di balik segala macam pertikaian politik, termasuk politik kantor. Jika hal demikian terus berlangsung, muaranya adalah kehancuran.

Dalam ranah pribadi, kebencian dan dendam menumpulkan hati nurani dan membekukan akal pikiran. Tak ada maslahat yang kita dapat dengan mempertahankan kebencian dan dendam. Hidup akan menjadi sulit, rumit, sempit bahkan kacau, jika kita terperangkap oleh emosi-emosi yang mengerikan ini. Bahkan ia akan mengundang munculnya berbagai penyakit fisik yang berakar pada pikiran buruk. Intinya, kebencian dan dendam hanya mengundang hadirnya kesengsaraan dalam hidup kita.

Anda tidak rela bukan, membiarkan diri Anda digerogoti dan dihancurkan perlahan-lahan oleh kebencian dan dendam yang bersemayam di dalam diri?

Tidak ada komentar: