Rabu, 29 April 2009

MENGATASI KEMARAHAN


Amarah dan kebencian merupakan emosi negatif yang paling merusak. Bukan saja merusak diri kita, tetapi juga orang lain. Karena itu haruslah segera diatasi. Bagaimana cara yang paling efektif? Sebagaiman emosi negatif lainnya, emosi ini juga bisa ditanggulangi melalui pengelolaan pikiran. Pertama, adalah dengan merenungkan betapa mengerikannya keadaan dan akibat dari orang yang marah dan menghamburkan kebencian. Sekali orang merenungkan betapa amarah dan kebencian hanya melemparkan seseorang ke jurang kehinaan, ia akan tergerak untuk segera menanggulangi jika memang amarah dan kebencian itu melekat padanya. Anda ingin mencoba langkah ini? Silakan lakukan.

Bayangkanlah seseorang yang amarahnya tengah memuncak. Menurut Anda bagaimana wajah orang itu? Bagaimana dengan sorot mata dan bentuk mulutnya? Bagaimana dengan urat-urat lehernya? Adakah keindahan di sana? Tentu saja tak ada keindahan di sana. Ketika orang melepaskan amarah dan kebencian, ia menampilkan wajah terburuk yang ia miliki; sebuah sisi gelap yang pasti membuatnya merasa malu ketika kesadaran telah kembali pulih.

Sekarang, bagaimana jika yang wajah yang teramat buruk dan mengerikan itu adalah wajah Anda sendiri? Maukah keburukan dan hal yang mengerikan itu melekat pada diri Anda tanpa bisa lepas karena telah menjadi karakter dan mendarah daging?

Selanjutnya, renungkanlah apa akibat amarah dan kebencian itu bagi orang lain? Apa yang dirasakan oleh mereka yang menjadi obyek kemarahan dan kebencian? Perasaan terluka! Dan biasanya, sekali amarah dan kebencian terlontar, akan memancing amarah dan kebencian yang bisa jadi lebih dahsyat dari pihak seberang.

Jika fisik terluka, mudah diobati dan jikapun ada bekas luka tersisa, tak akan membuat situasi menjadi demikian genting. Tapi jika perasaan yang terluka, perselisihan besar hingga perang antar negara bisa terjadi.

Selanjutnya, renungkanlah, bagaimana jika Anda sendiri yang menjadi obyek kemarahan dan kebencian? Apakah Anda bersedia? Apakah Anda dengan rela hati menerimanya?

Merenungkan dampak amarah dan kebencian, serta menanamkan ke dalam pikiran bahwa emosi tersebut sangatlah buruk, akan membantu kita untuk berhati-hati. Setidaknya kita akan punya komitmen dan waspada untuk tidak lagi mudah terjebak dalam amarah dan kebencian karena alih-alih menguntungkan, malah membawa kerugian besar!

Langkah kedua untuk mengatasi amarah dan kebencian, adalah dengan mengubah tafsir kita terhadap keadaan yang menjadi pemicunya. Kebanyakan orang memiliki pembenaran atas sikap marah dan benci yang ia tunjukkan; bahwa itu hanyalah reaksi atas sikap orang lain atau keadaan yang menekan. Itu bisa dipahami. Tapi cobalah renungkan, apakah kita memiliki pilihan sikap terhadap segala hal yang datang kepada kita? Jelas punya! Jika ada orang yang menyakiti kita – terutama dengan kata-kata – apakah reaksi satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah marah dan benci? Tidak harus begitu! Anda bisa menanggapinya dengan ketenangan. Kunci kita sanggup bersikap seperti ini adalah pengendalian diri di atas landasan keyakinan yang kukuh, bahwa apapun yang terjadi, sesungguhnya tak ada yang bisa mengganggu ketenangan jiwa kita dan kita bisa memilih untuk tetap damai. Sungguh, Anda bisa menanggapi amarah orang lain dengan senyum, sejauh Anda percaya penuh bahwa di kedalaman diri Anda, Anda tetap-tetap baik, dan kemuliaan Anda tak akan berkurang oleh caci maki dan hinaan dari siapapun.

Dan langkah ketiga, untuk bisa mengatasi sikap amarah dan penuh benci, Anda harus mengembangkan sikap yang berkebalikan: welas asih, atas dasar kesadaran bahwa setiap manusia pada dasarnya mulia karena mencitrakan keilahian. Kita sudah bahas, bahwa dua emosi atau sikap yang berlawanan tak akan bisa berada bersamaan di dalam diri dan pikiran kita. Maka, ketika pikiran dan diri Anda dipenuhi oleh kewelasasihan, oleh penghargaan dan penghormatan kepada setiap orang, maka otomatis, amarah dan kebencian tak punya lagi tempat untuk tumbuh dan membiak. Cintailah orang lain secara tulus, apa adanya, maka tak ada satupun yang ia perbuat membuat hati luka.

Minimalnya, jikapun Anda tak bisa mencintai orang yang marah dan membenci Anda, setidaknya Anda lebih layak berdiam diri. Netral saja! Pikirkanlah diri Anda sendiri! Pikirkan kerugian apa yang Anda derita kalau Anda terprovokasi dan menjadi tidak lagi berada dalam kedamaian! Pikirkanlah hubungan Anda dengan Tuhan Yang Maha Pengasih. Jangan biarkan itu terganggu oleh sesuatu yang sebetulnya sangat bisa dihindari, termasuk provokasi dan rangsangan untuk meledakkan amarah dan kebencian.

Ada sebuah cara pandang yang membantu kita untuk mencegah diri dari jebakan amarah dan benci. Yaitu kesadaran bahwa pada dasarnya manusia itu cenderung untuk berbuat salah dan tak sempurna. Alangkah manusiawinya jika kita banyak memaklumi kekurangan orang lain. Inilah yang disebut dengan sikap toleran.

Pikirkanlah hal berikut. Apa yang Anda harapkan dilakukan orang lain ketika Anda bersalah? Dimaklumi dan dimaafkan. Apa yang Anda harapkan dilakukan orang lain ketika Anda kesulitan melakukan sesuatu sehingga hasilnya buruk? Didukung dan dibantu. Nah, sebagaimana Anda ingin hal-hal seperti, demikianlah orang lain. Ketimbang amarah dan sikap benci dari kita, mereka lebih mendambakan pemaafan, pemakluman, dukungan bahkan bantuan.

Tapi, mohon agar Anda cermat, sebetulnya tidak semua amarah dan kebencian itu buruk! Bahkan bisa jadi baik! Yaitu ketika amarah dan kebencian itu tidak berangkat dari ego yang terluka, melainkan dari tanggung jawab dan kepedulian agar orang lain dan dunia ini menjadi baik. Jika Anda marah kepada orang yang berbuat tiranik dan membenci ketiranian itu, Anda tak salah! Jika Anda marah kepada orang yang gemar menipu dan menghancurkan hidup orang lain, Anda benar!

Anda boleh marah, selagi kepala Anda tetap dingin dan Anda tetap sadar tentang manfaat atau tujuan utama dari amarah itu! Marah yang demikian, adalah marah yang baik karena bukan untuk kepentingan dan kepuasan pribadi Anda melainkan untuk kemaslahatan sosial. Demikian pula, Anda boleh membenci sebuah keadaan yang rusak dan perilaku yang menyimpang. Itu pertanda Anda masih punya hati nurani. Tapi, janganlah Anda membenci orang atau bahkan mengutuknya untuk selamanya. Anda harus memisahkan antara orang yang pada dasarnya mulia, dengan perilaku negatif yang Anda benci, yang sifatnya sementara. Arahkan kebencian – dan amarah Anda – untuk membuat orang itu terbebas dari kegelapan yang menjebaknya. Adakalanya, orang lain bisa terselamatkan dari jebakan sifat buruk, ketika dia diberi peringatan keras bahkan dihukum. Peringatan keras dan hukuman itu adalah semacam “pelajaran” agar perbuatannya di masa depan menjadi lebih baik.

Terakhir soal menanggulangi amarah maupun kebencian, bahwa ketika ketika dua emosi ini telah merasuki sisi dalam kepribadian kita, tak mungkin keduanya dienyahkan dengan mudah. Kita harus berjuang mengatasinya secara konsisten, perlahan-lahan, sedikit demi sedikit. Teknik yang paling efektif, adalah dengan mencanangkan tekad mulai hari ini, untuk menghapuskan karakter pemarah dan pembenci yang melekat pada diri kita, dan menggantinya dengan karakter pengasih dan pemaaf. Setidaknya hingga 21 hari ke depan, berjuanglah untuk tidak marah dan benci, betapapun keadaan di sekitar Anda menjengkelkan dan orang di sekeliling Anda sangat menjengkelkan. Berfokuslah pada pikiran, bahwa pada 21 hari ke depan, setiap harinya harus Anda isi dengan ketenangan, kedamaian dan sikap welas asih. Jika Anda berhasil ”tidak marah dan benci” dalam satu hari, rayakanlah, syukurilah, beri diri Anda sendiri sebuah penghargaan. Sebaliknya, jika Anda lepas kendali hingga ”marah dan benci”, sesalilah, beri hukuman pada diri Anda sendiri agar ke depan hal demikian tak Anda lakukan lagi.

Jika Anda benar-benar melakukannya, Anda akan menemukan sebuah kehidupan yang berbeda.

Tidak ada komentar: