Senin, 18 Mei 2009

MENGATASI TANTANGAN BANGSA KITA


Berbagai problematika kebangsaan sebagaimana terpapar di atas, adalah buah dari pergulatan internal negara Indonesia sekaligus sebagai hasil interaksi dengan negara-negara lain dalam ranah budaya, ekonomi maupun politik. Di satu sisi, proses pembelajaran menjadi sebuah negara merdeka dan demokratis membuat kita belum sepenuhnya cakap menyelenggarakan pembangunan nasional. Ya, hingga saat ini kita masih terus belajar tentang bagaimana semestinya membangun negeri dalam format negara kebangsaan yang demokratis dan merupakan keniscayaan jika terjadi fenomena trial and error, di sana sini masih terjadi fenomena kegagalan pembangunan, yang menyebabkan tujuan pembangunan pada aspek ekonomi, sosial dan lingkungan belum sepenuhnya tercapai. Dan di sisi lain, sesungguhnya hasrat kolonialisasi dari negara-negara besar tak pernah padam, yang ada hanyalah perubahan wujud.

Kolonialisasi secara politik boleh jadi tak terjadi lagi, tapi penaklukan secara ekonomi dan budaya terus terjadi. Sayangnya, kita belum cukup tangguh untuk menangkal kolonialisasi dalam bentuk baru ini, sehingga secara budaya kita menjadi demikian terpengaruh oleh budaya asing hingga pada taraf terkikisnya jatidiri bangsa. Dan secara ekonomi kita menjadi sangat tergantung pada negara-negara lain, atau setidaknya, kita berada pada pola relasi yang tidak menguntungkan.
Kita lihat pada kasus problem pangan, lebih khususnya pada kasus ketergantungan negara ini terhadap kedelai import sebagai bahan baku tahu dan tempe. Di satu sisi ini adalah buah kekeliruan kebijakan pembangunan yang tidak memprioritaskan produksi dalam negeri dan mengabaikan penguatan sektor pertanian. Di sisi lain, kasus ini juga menjelaskan akibat buruk dari pergeseran budaya pada masyarakat kita, dari budaya produsen ke budaya konsumen. Dan terakhir, ia menjelaskan betapa kita kalah dalam percaturan politik ekonomi: kita tak kuasa melawan desakan negara adidaya yang kebetulan merupakan eksportir kedelai.

Meneropong Masa Depan, Mempersiapkan Langkah Antisipasi

Lalu, apakah yang akan terjadi di masa depan? Bisakah kita melampaui berbagai problematika yang memerangkap kita saat ini dan kemudian mewujudkan cita-cita berupa kejayaan bangsa? Jawaban positif bisa kita dapatkan jika kita melakukan langkah-langkah perbaikan terhadap kondisi masa kini sekaligus mengantisipasi tantangan masa depan.

Tulisan ini memaparkan ide-ide strategis bagi kaum pemuda, tentang bagaimana mewujudkan masa depan bangsa melalui prinsip creating future from future, menciptakan masa depan berangkat dari masa depan. Masa depan coba diteropong, dilihat trendnya, dan disiapkan langkah-langkah strategis untuk mengantisipasinya.
Merujuk pada tembang yang digubah Mangkunegoro IV sebagaimana tersaji pada pembuka bagian ini, untuk menciptakan masa depan yang gemilang (mring kilaping alam kono), kita memang harus melakukan persiapan (ruktine), menetapkan visi yang jelas (ngangkah), dan menyusun peta jalan, berupa langkah-langkah antisipatif yang selaras dengan trend masa depan yang bisa kita prediksikan untuk mencapai visi (ngukut).
Berikutnya, merujuk pada frase ngiket ngruket triloka kakukut, yang harus kita lakukan adalah, pertama, ngiket - mengikat orang-orang – dalam konteks bangsa adalah mempersatukan seluruh anak bangsa untuk bergerak mencapai tujuan bersama. Agar hal demikian terjadi, sebuah gerakan budaya harus dilakukan: kita harus mengupayakan agar segenap anak bangsa berpijak pada nilai-nilai luhur yang sama, dan bekerja berdasarkan etika kebangsaan yang kita sepakati bersama. Berikutnya, kita lantas bekerja keras (ngruket) berdasarkan tiga modal dasar (triloka kakukut): yang meliputi jenana – pengetahuan teknis, wiryo – kekuatan, dan arta – sumber daya (manusia, barang, orang, dll).

Terakhir, merujuk pada frase jagad agung ginulung lan jagad alit, den kendel kumandel kulup, yang harus kita lakukan adalah, pertama, memulai pekerjaan kebangsaan kita dengan penciptaan mental: kita visualisasikan negeri seperti apa yang ingin kita wujudkan di masa depan. Untuk mewujudkan cita-cita bangsa berupa negeri gemah ripah loh jinawi, kita harus selalu memodelkan cita-cita bersama tersebut, memvisualisasikannya, baik dalam pikiran maupun desain tertulis. Dan berikutnya, kita baru melakukan penciptaan pada tataran fisik: melalui realisasi serangkaian program dan kegiatan pembangunan, tahap demi tahap, sesuai peta jalan dan rencana yang telah kita siapkan.

Yang akan dibahas adalah langkah antisipatif pada ranah budaya: bagaimana kita merumuskan sebuah strategi kebudayaan (atau lebih praktisnya, program pembangunan budaya bangsa) untuk menghadapi masa depan yang salah satu trend utamanya adalah globalisasi.

Pembahasan mendasar mengenai pembangunan kebudayaan bangsa merupakan hal krusial, karena berbagai problematika pada aspek sosial, ekonomi dan lingkungan, bersangkut paut dengan problem yang terjadi pada ranah budaya. Berbagai kearifan lokal tergerus oleh budaya asing akibat pergaulan antar bangsa, dan penggerusan ini akan semakin kuat seiring dengan makin kencangnya arus globalisasi, dan ini menjadi faktor penting penyebab berbagai problematika sosial, ekonomi dan lingkungan. Sebagai misal, ketergantungan masyarakat dalam hal pangan terhadap pasar, selain buah ketimpangan struktural di bidang ekonomi, juga merupakan akibat pergeseran budaya: budaya produktif yang disimbolkan dengan kemauan untuk bercocok tanam di sekitar rumah sehingga berbagai kebutuhan sehari-hari (seperti sayur mayur, buah-buahan, dan lainnya) bisa dipenuhi tanpa mesti membeli, berganti menjadi budaya konsumtif – yang terekspresikan dalam kecenderungan untuk mendapatkan berbagai kebutuhan sehari-hari melalui kegiatan membeli. Contoh lain, budaya pemanfaatan hasil hutan yang semula sangat berorientasi pada penghormatan dan pelestarian hutan, berganti menjadi budaya eksploitasi yang menyebabkan kehancuran hutan secara sangat serius. Demikian pula, bergesernya budaya gotong royong menjadi budaya individualis, sangat berpengaruh pada pada ketimpangan struktural: yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Mempertimbangkan itu, sebuah upaya penelusuran terhadap kebudayaan luhur bangsa, yang salah satu wujudnya adalah kearifan lokal dalam menjalani kehidupan pribadi maupun sosial, dan kemudian mengembangkan upaya transmisi kebudayaan seperti itu pada generasi masa depan, merupakan langkah yang sangat strategis. Terwujud tidaknya kejayaan bangsa di masa depan, sangat tergantung dari keberhasilan upaya ini.

Dalam hal ini, pemuda sebagai pemimpin bangsa di masa depan, memegang tanggung jawab untuk mengambil inisiatif, untuk memimpin proses pelestarian budaya luhur bangsa, sehingga bangsa ini tetap berpegang teguh pada jatidirinya, dan bisa memiliki fondasi kukuh secara budaya untuk meraih kejayaan bangsa, sebagaimana pernah dicapai oleh embrio Indonesia, yaitu Nusantara, khususnya pada masa Sriwijaya dan Majapahit

Tidak ada komentar: