Senin, 25 Mei 2009

PERJALANAN SEORANG MANUSIA (1)



"Fa ayna tadzhabuun?"
"Maka, kemanakah engkau hendak pergi?"


Pengantar: Mari Kita Selami Rahasia Asal Muasal dan Tujuan Kehidupan

Bekasi, 25 Mei 2009. Menjelang tengah malam, kantuk belum juga datang. Ingin sebenarnya diri ini segera masuk ke alam mimpi. Tapi, dalam hal sesederhana tidurpun, kadang manusia memang tak punya kendali. Jika Dia Yang Maha Berkehendak tak mendatangkan kantuk, tidurpun menjadi sesuatu yang sulit dilakukan. Maka, kuikuti dorongan hati untuk menjentikkan jari jemari di atas keyboard, merangkai kata demi kata. Terpercik sebuah ilham, untuk menuliskan hal ihwal perjalanan seorang manusia. Semoga tulisan ini menjadi penguat kesadaran diriku atas kehidupan di muka bumi yang sementara, dan seringkali diselaputi ilusi. Semoga pula, ia menjadi pemicu menetapnya kesadaran akan pentingnya menemukan rahasia kehidupan yang sejati.

Apa yang kutuliskan, adalah hasil pembelajaranku yang jelas jauh dari tuntas. Aku menuliskan apa yang sempat kuraba-raba, sebuah hasil penjelajahan yang kebenarannya hanya layak kuyakini untuk diriku sendiri. Ya, tulisan ini lahir sebagai hasil kombinasi antara perenungan pribadi, hasil bertanya kepada guru yang kuanggap lebih bijak, juga hasil bacaan buku-buku yang menjabarkan rahasia kehidupan.

Aku sendiri diajarkan untuk meyakini sebuah teori tentang Tuhan dan kehidupan, hanya setelah ia didahului pengalaman nyata. Sehingga keyakinan yang kupegang, adalah sesuatu yang bersifat 'ainul yakin dan haqqul yaqin....yang mantap tertanam merasuk ke dalam relung jiwa. Sayangnya, diriku yang bodoh ini, belum bisa menjangkau semua misteri yang ingin kuketahui melalui pengalaman nyata. Masih ada jarak antara diriku dengan dunia itu. Maka, dengan sangat terpaksa, kutuliskan apa yang kuyakini sementara ini, sebagai hasil penjelajahan intelektual, yang dalam tingkat keyakinan, bisa disebut sebagai ilmul yaqin: keyakinan yang didasarkan pada ilmu pengetahuan yang diwariskan atau disampaikan oleh orang lain, khususnya para guru dan cerdik pandai di masa lalu dan masa kini. Tentu saja, apa yang disampaikan oleh para guru dan cerdik pandai itu, harus dipahami sebagai kombinasi antara pengalaman pribadi mereka (hasil sebuah kasyf atau penyingkapan terhadap hakikat kebenaran) dan penafsiran mereka terhadap teks-teks menyangkut kebenaran (yaitu Al Qur'an, Hadits Nabi, dan ujaran kaum bijak).

Aku memutuskan untuk memilah dan memilih mana yang paling cocok bagi diriku dari semua pandangan yang ada. Itulah yang kusajikan dalam tulisan ini: sebuah kesimpulan pendapat mengenai hal ihwal kehidupan yang paling cocok untuk jadi panduan bagi diriku pribadi, untuk menjalani kehidupan itu.

Jika Anda berkenan membaca tulisan ini, kuperingatkan untuk tidak menerimanya begitu saja. Jadikanlah tulisan ini sekadar bahan awal untuk kajian lebih jauh. Agar Anda benar-benar menemukan kebenaran yang bisa diyakini secara kukuh, tanpa keraguan sedikitpun, dan bisa menjadi lentera bagi Anda: sebuah lentera yang cahayanya menyelamatkan Anda dari ketersesatan.

Tidak ada komentar: