Senin, 25 Mei 2009

PERJALANAN SEORANG MANUSIA (2)


Sebelum Kita Dilahirkan Ke Muka Bumi

"Bukankah telah datang kepada manusia, suatu waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?"
(QS. Al Insan, 76:1)

Kita, tentu saja tak bisa spontan menyebutkan apa yang terjadi sebelum kita terlahir ke dunia ini, karena tak ada informasi tentang hal itu di dalam memori kita. Namun, ada berbagai petunjuk yang membuat kita bisa meraba-raba, bagaimana sejatinya peristiwa sebelum kelahiran kita di muka bumi. Kita bisa menemukan jawaban, siapakah atau apakah diri kita sebelum terlahir sebagai sesosok manusia yang memiliki nama dan kepribadian, yang bisa dibedakan dari manusia lainnya.

Sosok manusia yang bernama dan berkepribadian tertentu, yaitu diri kita, pada awalnya memang seperti yang diisyaratkan Al Qur'an, bukan sesuatu yang dapat disebut. Kita pada awalnya bukan sesuatu yang maujud atau ada. Asal muasal diri kita adalah ketiadaan.

Lalu mengapa dan bagaimana kita lalu menjadi ada dan menjadi sesuatu yang bisa disebut?

Mari kita resapi pandangan para mistikus Islam. Dipaparkan, bahwa pada awalnya, yang ada hanyalah Dzat Maha Tunggal yang kita sebut dengan nama Allah. Dialah, Allah, yang menjadi awal segala sesuatu: itu yang sepatutnya kita yakini seiring ucapan yang sering terlontar dari lidah kita, "Inna lillahi".

Dzat Yang Maha Tunggal kemudian mewujudkan segenap makhluk, untuk sebuah alasan yang sangat sulit dipahami. Namun sebuah hadits Qudsi memberikan gambaran: "Aku adalah Khazanah Tersembunyi. Karena itu Aku ingin diketahui." Jalaludin Rumi memberikan penjelasan, bahwa makna ucapan Tuhan itu adalah, "Aku menciptakan seluruh alam semesta, dan tujuannya adalah menampakkan Diri-Ku, kadang-kadang melalui kelembutan, dan kadang-kadang melalui kekerasan." Dalam penjelasan lain, "Aku adalah khazanah, yang tersembunyi di balik tirai Kegaiban, yang tersembunyi di dalam Bukan-Tempat. Aku ingin Keindahan dan Keagungan-Ku diketahui melalui hijab-hijab keberadaan. Aku ingin agar setiap orang melihat macam Air Kehidupan dan Kimia Kebahagiaan apa Aku ini."

Lalu, bagaimana segenap makhluk menjadi ada? Achmad Chojim dalam bukunya, Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga memaparkan. Allah, Dzat Yang Maha Tunggal, yang tak bisa disebutkan seperti apa dan bagaimananya, dalam ujaran Jawa disebutkan sebagai "Tan kena kinaya ngapa", memancarkan Cahaya-Nya dan terwujudlah Syajarat al Yakin. Ialah yang menjadi asal muasal segenap kehidupan. Sebagian orang menyebut pancaran pertama Dzat Allah ini sebagai Atma, Sang Pribadi atau Sukma Sejati. Ialah energi awal dan paling dasar, sesuatu yang lathif, Maha Lembut, yang menyebabkan keberadaan selanjutnya.

Dari Syajarat al Yaqin, terpancarlah Cahaya-Nya yang disebut Nur Muhammad, Cahaya Yang Terpuji. Ia disebut juga sebagai Pranawa, karena pancarannya membuat segala sesuatu menjadi ada. Ia menjadi semacam cermin wujud bagi Sang Atma yang semula berada dalam kegaiban. Segala wujud sebelumnya tak tampak, mereka menjadi ada karena diterangi oleh Nur Muhammad, ibarat biji yang semula dalam kegelapan tanah, terangsang untuk tumbuh dan terlihat karena pancaran matahari yang menerpa tanah.

Berikutnya, Nur Muhammad mewujudkan hakikat keberadaan manusia yang bersifat ruhaniah dan jasmaniah. Hakikat manusia yang bersifat ruhaniah itu disebut sebagai Roh Ilafi, roh yang sangat halus yang disebut juga sebagai Sukma. Ialah yang memancarkan cahaya terang benderang yang disebut dengan Premana. Dan Premana inilah yang kemudian menyebabkan hakikat yang bersifat jasmaniah, yaitu raga manusia, menjadi hidup.

Hasil bersatunya Sukma dan jasad manusia inilah yang kemudian membuat sosok diri kita menjadi ada, menjadi bisa disebutkan, karena memiliki bentuk, nama dan kepribadian.

Kita juga bisa coba memahami bagaimana proses menjadi manusia seperti saat ini, dengan menyimak penjelasan Achmad Chojim tentang terminal-terminal yang dilalui manusia, hinga ia menjadi sosok yang hidup dan berjalan di muka bumi.

Pada awalnya, Sang Diri, berada di alam penuh kedamaian dan ketenteraman di sisi Allah, sebuah alam yang disebut dengan nama Daarussalam, atau Baitul Muharram (Rumah Yang Disucikan). Lalu, Sang Diri dipindahkan ke Baitul Makmur, alam di mana malaikat setiap hari berdatangan untuk menebarkan bau harum dan puja-puji kepada Allah, sekaligus alam di mana Sang Diri mendapatkan amanat untuk menjadi khalifah di muka bumi, sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah SWt, "Bukankah Aku ini Tuhanmu? Benar! Dan kami bersaksi." QS Al Anfaal, 7: 172. Di Baitul Makmur inilah Sang Diri menyukma, berkendaraan sukma, bertubuh astral. Di sinipulah Sang Diri ditetapkan takdirnya di muka bumi: jasad seperti apa yang akan dikendarai, dan garis hidup seperti apa pula yang akan dijalani. Berikutnya, dari Baitul Makmur, Sang Diri dipindahkan lagi ke Baitul Muqaddas, Rumah bagi Jiwa yang Telah Disucikan. Di sini, Sang Diri disandingkan dengan tubuh jasmani, yang dalam khazanah Jawa disebut dengan Hartati (yang artinya adalah sesuatu yang pada mulanya hanya berwujud cairan).

Maka, bersiaplah manusia untuk terlahir di muka bumi dalam wujud sesosok bayi nan polos.

Tidak ada komentar: