Senin, 13 Juli 2009

FAKTOR-FAKTOR HADIRNYA KEBAHAGIAAN


Kalau renungkan kehidupan kita, kita akan sampai pada kesadaran berikut: ada kalanya kita tak bisa mengendalikan hidup. Saat kita berharap mendapatkan suka, yang hadir duka. Suka dan duka, memang ditakdirkan selalu datang silih berganti dalam kehidupan kita. Nah, jika kita menggantungkan kebahagiaan pada kondisi eksternal yang tak bisa kita kendalikan itu, alangkah rentannya hidup kita. Sungguh lebih bijak, kita punya seni berbahagia dalam setiap keadaan. Sehingga hidup menjadi lebih bisa kita kendalikan.

Namun demikian, menjadi hak kita juga untuk mengikhtiarkan kehidupan kita berisi sebanyak mungkin hal yang positif. Dalam hal ini, tak ada salahnya ketika punya hasrat manusiawi: kebutuhan kita sebagai manusia terpenuhi secara layak. Sebab, betapapun, hal ini lebih memudahkan kita untuk bahagia.

Sekali lagi, Anda tentunya akan lebih mudah untuk berbahagia, ketika Anda dalam keadaan positif: Anda dalam keadaan sehat, keadaan finansial Anda mantap, relasi sosial Anda hangat, dan seterusnya. Hal-hal semacam inilah yang saya kategorikan sebagai faktor pendukung kebahagiaan. Dan sesungguhnya, kehidupan ini berjalan dengan satu sistem yang teramat adil. Jika kita menabur benih yang baik, maka kita akan menuai hasil yang terbaik. Berbagai faktor pendukung kebahagiaan itu, tentunya sangat mungkin kita capai, jika kita bisa menjalani kehidupan secara baik.

Keadaan-keadaan yang membawa kita pada duka, seperti penyakit tubuh dan kekurangan uang, sejatinya tak lebih dari penanda bahwa ada yang keliru dalam manajemen diri dan kehidupan kita. Lewat hal yang kita pandang negatif itu, Allah memberi umpan balik yang membuat kita bisa segera berbenah.

Pada dasarnya, kita memang berharap hanya hal-hal yang positif sajalah yang hadir dalam kehidupan kita. Namun karena kita sebagai manusia acapkali tak luput dari salah dan khilaf, kita harus ihklas jika pada satu waktu Allah memberikan umpan balik yang pahit. Itu bukan pertanda kebencian dan hukuman. Itu adalah lecutan agar kita segera kembali ke track yang benar. Pemahaman seperti itu, merupakan titik tolak bagi kita agar tidak karam sekalipun ada duka yang menyelinap ke dalam hidup kita.
Kembali pada beberapa faktor kebahagiaan yang selayaknya kita ikhtiarkan, saya coba meringkaskannya bagi Anda. Agar Anda lebih mudah menggapai bahagia, Anda harus bisa memenuhi kebutuhan dasar berupa sandang, pangan maupun papan. Dalam bahasa sekarang, Anda mesti punya uang yang cukup agar Anda bisa membeli apa yang Anda butuhkan. Lebih tegas, Anda harus bisa hidup berkecukupan. Tentu saja, kecukupan sulit ditetapkan. Itu sesuatu yang sangat subyektif. Tapi setidaknya, ada standar yang harus dipenuhi agar kita layak disebut orang berkecukupan. Kalau kita mengacu pada kearifan orang-orang tua kita, kriteria kecukupan itu adalah jika kita punya kraton, turangga, garwa, kukila, dan warangka. Maknanya: kita punya rumah yang lapang (tempat kita berlindung dan membangun keluarga surgawi); punya pasangan hidup (yang menjadi sahabat sejati dalam mengarungi samudera hidup); punya kendaraan (yang membantu kita lebih mudah dan cepat bergerak); punya sarana hiburan (yang bisa membasahi hati dan jiwa kita ketika penat dan gersang); dan punya senjata (yaitu ilmu pengetahuan, untuk bisa mengatasi berbagai tantangan jaman ini). Dan satu lagi, kita perlu kesehatan, kebugaran, tubuh yang fit.

Ada seorang sahabat yang berkata, salah satu pertanda seseorang itu spiritualis, adalah dia hidup berkecukupan dan sehat. Jika seseorang dekat dengan Allah, tentunya dia akan didukung Allah secara penuh, termasuk dalam hal segenap hajat hidup. Sulit dipahami jika ada spiritualis atau orang yang dekat dengan Allah, hidupnya merana, penuh konflik, serba kekurangan dan bertubuh ringkih karena memendam banyak penyakit. Jikapun ada spiritualis yang di mata masyarakat umum tampak merana, itu karena dia memang memilih keadaan demikian, bukan karena terpaksa akibat ketakberdayaan. Dia memilih hidup sederhana, karena merasakan kenikmatan hidup dalam kesederhaan itu. Pandangan orang yang tak jernih saja yang menyimpulkan orang seperti ini merana; sejatinya dia berbahagia dan hidup berkelimpahan, karena merasakan Allah Yang Maha Pengasih bersamanya.

Untuk memenuhi hajat kita akan faktor-faktor pendukung kebahagiaan – atau kita sebut saja kebutuhan dasar manusia, di jaman sekarang ini, kita membutuhkan uang. Karena itu uang seringkali menjadi penjebak tersendiri. Mengkaitkan uang dengan kebahagiaan sangatlah menggoda. Kita bisa sama-sama melihat, di jaman ini, acapkali uang justru dipertuhankan. Bnyak orang yang menduga bisa membeli kebahagiaan dengan uang. Mereka berpikir bisa menukarkan uang mereka dengan kedamaian, ketenangan, kejernihan. Tentu saja ini jauh dari kebenaran. Uang memang penting, sejauh dia kita posisikan sebagai alat tukar terhadap berbagai kebutuhan mendasar kita. Tetapi jika uang diposisikan lebih dari itu, kita justru akan terjebak: uang akan menistakan kita. Benarlah orang bijak yang berkata: money can buy house, but not home; money can buy sex, but not love; money can buy everything, but not happines for our soul ……..

Terlalu banyak fakta tentang manusia-manusia yang kelebihan uang, yang justru hidup merana tanpa makna. Sama banyaknya dengan fakta orang-orang yang terhempas karena tak punya uang. Karena itu, saya percaya bahwa Anda punya kearifan: menempatkan uang hanya sebagai pendukung kebahagiaan, dan karena itu harus Anda cari secukupnya, tanpa menjadikannya sebagai tuan apalagi tuhan.

Tidak ada komentar: