Senin, 13 Juli 2009

MAKNA KEBAHAGIAAN


Dalam keseharian, kita bisa menemukan banyak hal yang menggelitik pikiran. Di sebuah rumah yang karena kesederhanaannya lebih pantas disebut gubug, kita bisa mendengarkan keluarga yang penuh kehangatan saling bercengkerama. Tawa yang renyah menyebar, senyum penuh syukur membias dari wajah-wajah penghuni rumah. Damai. Tenteram.

Di tempat lain, ada rumah nan megah justru menyimpan bara. Setiap waktu meledak amarah dan benci dari tempat itu. Tak ada yang dinamakan kehangatan keluarga. Semua anggota rumah berpacu dengan ambisi masing-masing. Ketika persinggungan di antara mereka terasa tak menyenangkan, darah naik ke kepala dan sumpah serapah keluar tanpa terkendali. Panas. Gersang.

Begitulah. Kebahagiaan punya logika sendiri untuk hadir. Sementara banyak orang membayangkan kebahagiaan ada di balik pemilikan segala kemewahan, ataupun muncul bersama pencapaian prestasi dan reputasi, justru ia menyelinap ke tempat yang tak tersangka. Ia bisa hadir di rumah keluarga-keluarga sederhana yang penghuninya pandai mengucapkan terima kasih pada kehidupan, di kolong jembatan dimana hidup orang yang pandai menikmati segala keterbatasan, di emperan toko saat pedagang kecil yang kelelahan tertidur dengan pulas dihiasi mimpi surgawi. Tentu, ia juga hadir di gedung-gedung perkantoran yang tinggi menjulang, mengisi hati orang-orang yang pandai memaknai hidup dan kehidupan. Iapun hadir di ruang kerja CEO yang telah mendidik diri untuk menyikapi hidup dengan penuh keikhlasan.

Ijinkan saya bertanya, sudahkah Anda berbahagia? Anda sendiri yang tahu jawabannya. Saya hanya bisa meyakini, siapapun Anda, pastilah Anda menghasrati kebahagiaan yang langgeng.

Ya, kebahagiaan adalah hal yang paling didambakan setiap orang. Serangkaian cerita anak Adam sepanjang zaman, menunjukkan pergulatan yang tak kunjung usai untuk mendekap erat makhluk bernama kebahagiaan itu, sekaligus menyingkirkan penderitaan. Doa yang dilantunkan banyak orang juga berisi permohonan akan kebahagiaan, “Robbana atiina fiddunya hasanah, wa fiil akhirooti hasanah....” Tuhan kami, limpahkanlah kepada kami di dunia ini kebahagiaan, dan di akhirat nanti kebahagiaan.
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kebahagiaan?

Orang biasanya mengaitkan kebahagiaan dengan perasaan senang yang membuncah di dalam hati. Kebahagiaan juga bisa dimaknai dengan ketenangan, kedamaian, kesejahteraan, kesenangan. Tanpa perlu kita bersulit-sulit apalagi berdebat filosofis, yang bisa kita pegang dengan pasti adalah bahwa kebahagiaan yang demikian kita hasrati itu berwujud perasaan puas, nyaman, enak, yang bersumber dari kedalaman hati. Itu bisa kita rasakan ketika kita mendapatkan sebuah anugerah istimewa: pasangan hidup yang diimpikan, rumah asri yang didambakan, bayi lucu yang ditunggu-tunggu. Saat kebahagiaan itu muncul, dunia terasa begitu indah. Semua sepertinya menjadi milik dan pendukung kita. Ada sensasi yang menggembirakan di dalam benak dan pikiran kita, yang kita harapkan tak akan sirna.

Lebih jauh, kebahagiaan kemudian kita resapi sebagai sebuah pengalaman yang luar biasa dan istimewa. Ia demikian menggoda diri; diri ditarik untuk berpacu menggapainya. Maka, seiring dengan tarikan dan godaan itu, segenap daya dan upaya kita keluarkan sepanjang waktu. Kita habiskan energi dan waktu yang kita miliki untuk mengejar kebahagiaan. Kita tempatkan kebahagiaan sebagai tujuan hidup yang bagaimanapun caranya harus kita capai.

Tidak ada komentar: