Senin, 13 Juli 2009

SUMBER KEBAHAGIAAN


Sebenarnya, bisakah kita berbahagia? Dan menurut Anda apa yang menyebabkan Anda bisa berbahagia?
Perbincangan tentang kebahagiaan akan punya makna jika kita sampai pada titik keyakinan, kebahagiaan itu bisa kita raih dalam kehidupan ini. Saya pribadi meyakini, kebahagiaan adalah sesuatu yang bisa dicapai. Di sini, di kehidupan yang fana ini. Dan dalam beberapa segi, saya telah bisa merasakan kebahagiaan itu. Lebih jauh, saya juga mempercayai adalah hak setiap orang untuk mengecap bahagia. Adalah sebuah kebahagiaan yang teramat dalam jika saya berkesempatan melihat kebahagiaan terpancar dari wajah orang lain, khususnya wajah Anda yang berkenan membaca buku ini.

Sayangnya, dalam praktek kehidupan, ada banyak belantara yang membuat kita agak tersesat ketika coba menemukan kebahagiaan. Tatkala kita membayangkan kebahagiaan sebagai semacam harta karun, saat itulah kita mulai terjebak dalam pencarian tak berkesudahan. Kita justru akan terperangkap dalam labirin kehampaan begitu meyakini sumber kebahagiaan adalah apa yang bisa kita tangkap melalui segunung ambisi dan obsesi: harta berlimpah, penghormatan, ketenaran, kekuasaan, kenikmatan seksual.
Harus jujur diakui, bahwa tak jarang saya sendiri – mungkin juga Anda - memaknai kebahagiaan seperti banyak orang: untuk bahagia saya harus punya uang sekian, kekuasaan tertentu, dan semacamnya. Demikianlah, ketika saya tinggal di rumah gubug, saya berjuang habis-habisan untuk bisa tinggal di rumah yang lebih layak. Ketika saya hanya jadi sekadar karyawan, saya mendambakan dan bekerja sekeras mungkin untuk bisa menjadi direktur. Saya berpikir ketika semua itu bisa saya capai, saya akan bahagia.

Ternyata, setelah apa yang saya impikan tercapai, tak berarti kebahagiaan muncul apalagi menjadi langgeng. Kalau kesenangan sesaat, jelas saya bisa rasakan. Setelah masa eforia diri selesai, segala sesuatunya kemudian kembeli seperti biasa. Saya akhirnya coba menghayati, bahwa pada kenyataannya dulu maupun sekarang, dalam keadaan sempit maupun lapang, bahagia tetap bisa dirasakan. Di rumah gubugpun, dulu saya tak jarang mengecap bahagia tak terkira. Sebaliknya, kini, ketika keadaan finansial saya lebih baik, bukan berarti derita telah menyingkir. Bahkan kadang, karena naiknya status sosial dan karier selalu diiringi oleh makin besarnya tantangan dan ujian, keruwetan yang berimbas pada penderitaan, tak jarang muncul. Kadang bahkan, hidup saya di masa lalu lebih terasa nyaman dan membahagiakan.
Begitulah, yang menentukan bahagia dan tidaknya kita sejatinya adalah sikap kita terhadap keadaan, bukan keadaan itu sendiri. Bahagia atau derita, ditentukan oleh pikiran kita terhadap segenap anugerah-Nya. Saat kita bisa berpikir jernih dan memandang setiap anugerah sesederhana apapun sebagai wujud Kasih-Nya, di situ kebahagiaan bersemi. Sebaliknya, ketika kita memandang dengan syahwat tak berujung: anugerah berupa harta berlimpah, kekuasaan tak terbatas, dan semacamnya, tak sanggup membuat kita merasa puas.

Dan tak kalah penting, cara pandang yang saya pikir harus kita resapi, kebahagiaan itu justru terletak pada setiap proses kehidupan yang kita jalani. Ketika kita bisa menyadari bahwa setiap momen kehidupan, baik suka maupun duka adalah anugerah dari-Nya untuk mendewasakan dan mematangkan jiwa kita, kita bisa merasakan kebahagiaan itu pada setiap langkah. Benarlah jika ada yang berkata, we can happy in every step. Kapanpun, apapun posisi Anda, berapapun kekayaan Anda saat ini, Anda tetap berhak untuk bahagia, sejauh Anda tahu seninya….

Sesungguhnya, rahasia bahagia terletak pada kemampuan kita dalam menerima apapun yang diberikan kehidupan. Istilah agamanya, kita mensyukuri nikmat. Diberi rizki 1000 rupiah, kita bersyukur, sehingga 1000 rupiah tersebut membawa berkah dan kedamaian. Di beri rizki 1.000.000, kita juga bersyukur. Berapapun yang diraih, kita bersyukur. Lewat rasa syukur inilah kebahagiaan, kedamaian, ketenangan dan kepuasan bathin itu hadir.

Ya, orang yang bahagia adalah orang yang bisa nrimo. Orang yang bisa bahagia dalam setiap keadaan, adalah orang yang tak lagi melihat ke luar, pada asesoris kehidupan yang gemerlap sekaligus sebetulnya mudah lenyap itu. Yang dia lihat adalah kedalaman hatinya dan Zat yang ada dibalik segenap pemberian, yang justru akan senantiasa ada sekalipun pemberian itu sirna. Dan ketika seseorang bisa berhubungan dan berdialog akrab dengan-Nya, kebahagiaan itu akan memancar ibarat air sejuk yang keluar dari mata air yang mengalir jernih dan abadi.

Tidak ada komentar: