Kamis, 15 Oktober 2009

BAGIAN 1 PEDOMAN HARTA ISLAMI

7 PEDOMAN MANAJEMEN HARTA ISLAMI

Sebagai ajaran yang manusiawi, Islam menganjurkan kesetimbangan dalam masalah harta. Di satu sisi, harta diapresiasi sebagai salah satu bentuk karunia Allah kepada umat manusia. Pemilikan harta tidaklah dicela, bahkan kaum Muslimin didorong untuk bekerja keras agar memiliki harta yang cukup. Namun, pada saat yang sama, Islam memberikan rambu-rambu ataupun pedoman pengelolaan harta, yang mencegah seorang Muslim dan orang-orang di sekelilingnya mendapatkan kemadharatan akibat harta itu.

7 Pedoman Manajemen Harta Islami, adalah 7 prinsip emas yang disarikan dari Al Qur’an, hadits, maupun perkataan para sahabat dan tabi’in, guna membantu setiap Muslim agar bisa bisa meraih kecukupan bahkan keberlimpahan harta, sekaligus meraih kebahagiaan dunia akhirat berkat harta tersebut.

Pedoman Pertama
Kumpulkan Harta Melalui Kerja


Dikisahkan bahwa suatu hari, Nabi Isa a.s melewati seorang laki-laki yang sedang duduk-duduk. Beliau bertanya, “Apa yang kamu lakukan di sini?” Laki-laki itu menjawab, “Beribadah, wahai Ruh Allah!” Nabi Isa a.s bertanya lagi, “Siapakah yang menghidupi kamu?” Laki-laki itu mengatakan, “Saudaraku.” Nabi Isa a.s menanggapi, “Kalau begitu, saudaramu lebih baik ibadahnya daripada kamu.” Lukman al Hakim, tokoh legendaris yang terkenal karena kebijakannya, memberikan nasihat kepada anaknya sebagai berikut, “Wahai anakku, cukupilah kebutuhanmu dengan bekerja yang halal. Sebab, setiap kali seseorang membutuhkan sesuatu, maka ia senantiasa mengalami tiga hal: yaitu, pertama, memperbudak agama, kedua, lemah akal, dan ketiga, hilangnya harga diri – dan ini adalah yang terbesar di antara ketiganya.”

Sementara itu, dalam sebuah hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Thabrani, dinyatakan bahwa burung pergi terbang pada pagi hari dengan perut kosong, namun kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang. Mengikuti spirit kehidupan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, para sahabat juga menjalankan kehidupannya dengan bekerja mencari nafkah, sebagai pedagang, petani, perajin, dan sebagainya. Sebuah ayat al Qur’an dinisbahkan kepada keadaan para sahabat itu, “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan mereka dan tidak pula oleh jual beli, dari mengingat Allah.” (QS. Al-Nur: 37). Para sahabat disebut sebagai ‘laki-laki’ dalam ayat tersebut karena mereka memang sibuk bekerja mencari nafkah, tapi apa yang mereka kerjakan itu tak membuat mereka lalai dari dzikrullah.

Dalam hadits lain dikabarkan bahwa pada suatu saat para sahabat menyebutkan seoang laki-laki seraya memuji-muji karena ibadahnya, baik ketika bepergian maupun ketika tidak bepergian. Lalu Rasulullah SAW bertanya, “Siapakah yang memberinya makan dan minum, memberi makan dan mengurus binatang kendaraannya, dan mengurusi pekerjaannya?” Mereka menjawab, “Kami, wahai Rasulullah!” Maka beliau bersabda, “Kalau begitu, kalian semua lebih baik daripadanya.”

Menghayati hakikat ajaran Rasulullah SAW, para sahabat mewariskan ujaran yang memuliakan kegiatan bekerja mencari penghidupan. Hudzaifah r.a berkata, “Sebaik-baik kalian adalah yang bekerja untuk akhirat dan untuk kehidupan dunianya.” Abdullah bin Mas’ud r.a juga menyatakan, “Sungguh, aku tidak suka melihat seorang laki-laki yang tidak bekerja untuk kehidupan dunia dan akhiratnya.” Sementara Abu Qilabah menegaskan, “Apabila seseorang berusaha dalam penghidupannya, maka ia lebih baik daripada orang yang hanya duduk-duduk di masjid.”

Para ulama setelah periode kehidupan sahabat, yang dikenal sebagai para tabi’in, juga memiliki pandangan senada. Sufyan al-Tsauri berkata, “Meninggalkan warisan empat puluh ribu dinar yang akan ditanyakan padaku di hari kiamat lebih aku sukai daripada berdiri di depan pintu seseorang untuk meminta kepadanya apa yang aku butuhkan.” Di lain kesempatan ia juga mengingatkan, “Kalian harus bekerja. Sebab kebanyakan orang yang mendatangi pintu para pejabat didorong oleh suatu kebutuhan (akan harta).”

Qais bin Azhim mengungkapkan nasihat yang sama, “Kalian hendaknya mengumpulkan harta yang halal. Sebab sesungguhnya itu menyenangkan kawan, membungkam musuh, serta memenuhi kebutuhan, sehingga engkau tidak perlu meminta kepada orang lain, apalagi kepada orang yang hina. Sebab yang demikian (meminta) adalah pekerjaan orang-orang yang lemah.”

Ya, bekerja demi mencari penghidupan adalah sebuah sunnah Rasulullah. Bahkan ia adalah kewajiban yang Allah tetapkan pada setiap hamba-Nya. Dalam sebuah hadits dikatakan, “Allah SWT mengajari Adam seribu jenis pekerjaan. Lalu Dia memerintahkan agar ia mengajarkan kepada anak-anaknya pekerjaan-pekerjaan ini untuk hidup dengan pekerjaan tersebut, tidak makan dengan agama mereka.”

Mengapa Islam menekankan pentingnya bekerja mencari penghidupan? Jawabannya teramat jelas, sebagai makhluk dunia, manusia membutuhkan sandang, pangan, papan, dan berbagai kebutuhan lainnya, agar bisa terus hidup dan menjalankan pengabdian kepada Allah SWT. Dan satu-satunya jalan agar segenap kebutuhan itu bisa dipenuhi, adalah dengan bekerja. Sahabat Umar bin Khattab memberikan penjelasan yang lugas soal hal ini, “Janganlah seseorang di antara kalian duduk di mesjid tanpa bekerja dan berharap Allah SWT akan memberinya rezeki. Sebab, hal demikian bertentangan dengan sunnah Nabi SAW. Kalian mengetahui bahwa langit tidak menurunkan hujan emas dan perak!”

Konsekuensi dari bekerja, tentu saja adalah terkumpulnya harta, dalam berbagai bentuknya. Pada masa kini, mula-mula yang diterima seseorang yang bekerja, baik dengan bekerja pada orang lain, maupun berbisnis, adalah uang tunai. Dari uang tunai, kemudian terwujudlah hal-hal lain: rumah, tanah, kendaraan, perhiasan emas, dan berbagai bentuk harta benda lainnya.

Keberadaan harta benda yang terhimpun melalui bekerja ini, pada awalnya bersifat netral. Dalam pengertian, ia tidaklah baik ataupun buruk. Baik dan buruknya tergantung pada dua hal. Pertama, bagaiaman dia dikumpulkan, dan kedua, bagaimana ia dipergunakan. Jika harta benda dikumpulkan dengan cara bekerja yang halal, tidak merugikan orang lain, lalu dipergunakan di jalan Allah, maka menjadi baiklah ia. Sebaliknya, jika ia bersumber dari pekerjaan yang merugikan orang lain, atau sebetulnya bersumber dari pekerjaan yang baik namun kemduian dipergunakan hanya dengan mengikuti bisikan hawa nafsu dan egoisme, maka menjadi buruklah ia.

Agar harta benda menjadi kebaikan, menghadirkan berkah serta menciptakan kebahagiaan, maka perlulah ia dikelola dengan sebaik-baiknya. Dan bersyukurlah kita, karena Islam memberikan tuntunan yang jelas soal pengelolaan harta ini. Itulah yang akan kita bahas pada bab berikutnya.

Tidak ada komentar: