Kamis, 15 Oktober 2009

Pedoman Keenam Bersedekahlah dengan Harta Halal dan Terbaik

Sedekah adalah bukti kemuliaan hati seorang Mu’min. Karena itu, tak patutlah ia bercampur dengan keburukan! Tak layak jika kita gemar bersedekah, tapi di saat yang sama kita memperoleh harta dengan cara yang merugikan orang lain. Sedekah haruslah bersumber dari harta yang halal! Sebuah hadits menguraikan sebagai berikut, “Barangsiapa memperoleh harta dari perbuatan dosa, kemudian dengannya ia menyambung persaudaraan, atau bersedekah, atau menginfakkannya di jalan Allah, maka amalan itu semua disisihkan, kemudian pelakunya dilempar bersamanya ke neraka jahannam.” Para tabiin juga menegaskan soal ini dalam ajarannya. Hasan al Bashri berkata, “Seseorang di antara kalian tidak sah bersedekah kecuali dari harta yang diperoleh dengan sah (halal). Barang siapa bersedekah kepada orang fakir dengan harta yang diperoleh secara tidak halal, maka ia adalah orang terpedaya oleh dirinya sendiri. Dan orang yang mengalami kezaliman lebih berhak mendapatkan apa yang pernah dirampas darinya.” Fudhoil bin Iyadh juga mengatakan hal senada, “Carilah nafkah yang halal dan bersedekahlah dengannya. Sesungguhnya Rasulullah bersabda bahwa barangsiapa tidak peduli darimana ia mendapatkan harta, maka Allahpun tidak peduli darimana Dia memasukkan orang itu ke dalam neraka.” Urwah bin Zubair, memberikan penjelasan yang lugas, “Pilihlah yang baik untuk bersedekah. Sebab, Allah itu Maha Baik, dan tidak menerima selain yang baik-baik.”

Pada masa kini, sebagian orang mungkin berpandangan, “Bagaimana mungkin kita bisa memperoleh harta yang halal, sementara keburukan telah bersifat sistemik? Walaupun kita ingin, kita sulit mengelak dari keburukan yang berakar pada sistem; ketidakhalalan harta kita, sungguh, bukan bersumber dari keserakahan diri kita, tapi karena sistem yang telah demikian koruptif!” Menanggapi hal ini, mari kita renungkan apa yang Allah firmankan dalam Surat Al Baqarah: 286, “Allah tidak memberi beban pada seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya,” Ketika Allah meminta kita untuk mengumpulkan hanya harta yang halal, itu artinya, kita sebetulnya punya kesanggupan untuk melakukan itu.

Pada prakteknya, seburuk apapun sistem di sekeliling kita, kita selalu punya pilihan untuk terjebak pada sistem itu, atau menyiasatinya, atau menghindarinya. Persoalannya, setiap pilihan selalu punya resiko. Nah, kita tinggal memilih, menerima resiko buruk pada jangka pendek untuk bisa menikmati kebaikan pada jangka panjang. Atau justru memilih kebaikan pada jangka pendek dengan resiko menderita pada jangka panjang! Pada kenyataannya juga, ketika seseorang mengikuti suara hatinya yang membisikkan kebenaran, tak lama kemudian Allah pasti memberikan pertolongan yang dibutuhkan! Apalagi jika itu menyangkut soal rezeki. Tak ada sulitnya bagi Dia untuk memberikan rezeki halal pada hamba-Nya yang memang benar-benar menginginkannya. Bukankah Dia telah menegaskan, “Sesungguhnya Yaminullah (gudang kenikmatan dari Allah) sangat penuh berlimpah ruah, tidak akan susut sedikitpun siang maupun malam”. Sungguh, ada banyak jalan mencari rezeki yang halal! Pikiran kitalah yang seringkali menyempitkannya!

Kemudian, Islam juga mengajarkan bahwa yang kita sedekahkan adalah sesuatu yang memang baik; sesuatu yang kita sendiri menyukainya. Jika kita hendak memberikan makanan pada fakir miskin, maka makanan itu mestilah yang memang sehari-hari kita makan. Tak patut kita memberikan makanan sisa atau makanan yang kita sendiri tak menyukainya. Tentu saja boleh bagi kita menyedekahkan sisa makanan di rumah, ataupun barang yang tak lagi kita sukai. Tapi, itu nilainya tak berarti dibandingkan ketika kita menyedekahkan makanan terbaik yang kita miliki, dan barang yang memang kita cintai. Allah SWT berfirman dalam Surat Ali Imran: 92, “Kalian tidak akan mencapai kebaktian yang sempurna sampai kalian menafkahkan sebagian harta benda yang kalian cintai.”

Tidak ada komentar: