Kamis, 15 Oktober 2009

Pedoman Ketiga Jadilah Dermawan

Apakah dengan melaksanakan ibadah ritual seperti shalat, puasa, dan semacamnya, telah menunjukkan bahwa kita berislam dengan sebenar-benarnya? Ternyata tidak! Kita baru layak disebut sebagai Muslim/Muslimat hakiki, jika memiliki watak dermawan dan menunjukkan akhlakul karimah dalam keseharian. Di dalam Surat Ali Imran: 92, Allah SWT menjelaskan, “Kalian tidak akan mencapai kebaktian yang sempurna sampai kalian menafkahkan sebagian harta benda yang kalian cintai.”
Sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan Samawaih, Ibnu Adi, Uqaili, Kharaiti, Khatib, Ibnu Asakir, Rafi’i, dari Anas r.a juga menyatakan dengan tegas dan jelas hal itu: “Ini adalah agama yang telah Kuridhoi untuk diri-Ku sendiri, dan tidaklah dapat dimanifestasikan kecuali melalui perbuatan murah hati (kedermawanan) dan akhlak yang baik. Karena itu jadikanlah diri kalian mulia dengan kedua sifat itu selama menganutnya.”

Mengapa demikian? Sebab memang Islam adalah agama kemanusiaan; ajarannya berorientasi pada kemaslahatan umat manusia! Seseorang baru bisa dikatakan telah menegakkan ajaran Islam, jika sudah memberi manfaat pada kemanusiaan – atau secara lebih luas, menjadi rahmatan lil ‘alamiin. Di mata Allah SWT, kemuliaan seseorang terletak pada rasa peduli, kewelasasihan, dan manfaat kepada sesama. Ajaran Islam memang berupaya mendorong umat manusia agar membentuk tatanan kehidupan yang baik tidak hanya untuk individu tertentu, melainkan untuk semua orang.

Dalam sebuah hadits dijelaskan, bahwa tatanan kehidupan yang baik di muka bumi ini, bisa terwujud manakala kedermawanan dipraktekkan khususnya oleh kalangan hartawan: “Apabila hartawan kalian adalah orang-orang dermawan, para pemimpin kalian adalah orang-orang pilihan, dan urusan kalian diselesaikan dengan musyawarah, maka permukaan bumi kalian lebih baik daripada isi kandungan di dalamnya. Akan tetapi, jika pemimpin kalian adalah orang-orang jahat, hartawan kalian adalah orang-orang kikir, dan urusan kalian ada di tangan wanita, maka isi bumi lebih baik daripada permukaannya.”

Dan ketika berbicara tentang akhirat, lagi-lagi, kedermawanan menjadi prasyarat keselamatan. Sebuah hadits menjelaskan, “Hindarkanlah api neraka dengan bersedekah walau hanya sebiji kurma. Jika itupun tidak ada, maka bersedekahlah dengan tutur kata yang baik.” Firman Allah SWT Surat Al Lail: 5-7 menegaskan hal itu, ““Adapun orang yang memberikan hartanya (untuk kebajikan) dan memelihara dirinya (dari kejahatan) serta membenarkan hal-hal yang benar, Kami akan memudahkannya dengan memberi jalan yang mudah.”
(QS.)

Saat yang sama, dalam berbagai ayatnya Allah SWT juga mengecam watak mereka yang kikir. Di dalam Surat Ali Imron: 180 Dia menegaskan, “Janganlah orang-orang yang kikir dengan harta yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka mengira, bahwa kekikiran itu membawa kebaikan pada mereka. Tidak! Malahan menjadi keburukan bagi mereka. Kelak harta yang mereka kikirkan itu akan dibebankan pada leher mereka di hari kiamat.”

Kemudian, dalam Surat At Taubah: 34, dinyatakan, “Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak dan tidak dinafkahkan di jalan Allah, kabarkanlah kepada mereka, bahwa mereka akan mendapatkan siksa yang pedih.” Dan pada Surat Al Lail: 8-11 Allah SWT menjelaskan, “Adapun orang yang kikir dan merasa dirinya serba cukup, serta menganggap dusta sebagai hal yang baik, Kami akan siapkan baginya jalan yang sulit. Harta kekayaannya tidak membawa manfaat ketika ia telah terperosok.”

Selaras dengan itu, Ummul Mu’minin Aisyah r.a berkata, “Surga adalah tempat tinggal orang-orang dermawan, sementara neraka adalah tempat tinggal orang-orang kikir”.

Dalam kehidupan Nabi SAW, para sahabat dan tabi’in, perilaku dermawan memang sangat menonjol, dan itu menjadi salah satu gambaran indah kehidupan masyarakat Islam di masa lalu. Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki mendatangi Nabi SAW. Ia meminta sesuatu kepada beliau. Lalu beliau memberi 40 ekor domba. Laki-laki itupun kembali kepada kaumnya dan berkata, “Wahai kaumku, masuklah ke dalam Islam. Sesungguhnya Muhammad memberi dengan pemberian yang dengannya orang tak takut miskin.”

Terkenal pula kisah kedermawanan Hammad bin Salamah. Setiap hari selama Bulan Ramadhan ia mengundang orang miskin untuk berbuka puasa bersamanya, sebanyak 50 orang. Bilamana hari raya tiba, ia memberi mereka masing-masing satu setel pakaian dan uang seratus dirham. Ia juga memberi guru mengaji anaknya setiap bulan 30 puluh dinar. Suatu saat kancing bajunya lepas. Seorang penjahit kemudian memperbaikinya, dan kepadanya diberikan 30 dirham. Hammad pernah berkata, “Seandainya bukan karena adanya orang-orang yang membutuhkan kepadaku sehingga aku dapat memberi mereka, maka aku tidak ingin berdagang apapun.”

Sementara itu, Abdullah bin Abu Bakrah memberi infak kepada para tetangganya sebanyak 40 keluarga di sekelilingnya dan memberi makan berbuka puasa kepada orang-orang miskin. Ia mengirim kepada mereka daging pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Ia membebaskan setiap tahunnya 100 budak pada hari raya Idul Fitri.

Demikianlah, para orang shalih di masa lalu, menjadikan kedermawanan sebagai gaya hidup mereka. Ujaran Bakar bin Abdullah al Mazni, kiranya bisa menjelaskan apa yang ada di benak orang-orang shalih itu, “Harta yang paling aku sukai adalah yang telah aku sampaikan kepada saudara-saudaraku. Dan harta yang paling tidak aku sukai adalah harta yang tinggal di belakangku.” Bagi mereka, kekayaan sesungguhnya bukanlah harta yang masih mereka genggam, tapi justru harta yang telah mereka sedekahkan!

Tidak ada komentar: