Selasa, 23 Maret 2010

RENUNGAN TENTANG TUJUAN BERAGAMA

Jika kita renungkan, agama tampaknya merupakan fenomena paling membingungkan dalam kehidupan umat manusia. Dengan spirit agama, umat manusia bisa melambung ke puncak kemanusiaannya dengan mengkekspresikan segenap kemuliaan, cinta kasih, pengorbanan, dan berbagai sikap lain yang sangat mengesankan. Namun, pada saat yang sama, agama acapkali menjadi sumber keributan paling spektakuler di muka bumi: atas nama agama orang bisa berperang bahkan saling menghancurkan.

Mengapa bisa demikian? Kita bisa menjawabnya dengan merenungkan makna agama bagi kehidupan kita sendiri. Jika kita menjadikan agama sebagai identitas kelompok, atau sebagai dasar afiliasi politik, atau sebagai topeng kekuasaan, maka perilaku kita akan cenderung agresif, ofensif. Kita menjadikan agama sebagai wasilah untuk memenuhi hasrat-hasrat jiwa rendah atau hawa nafsu kita. Maka, banyak orang kemudian justru menjadi tak nyaman oleh agama kita. Alih-alih menjadi rahmat bagi semesta alam, kita sebagai manusia beragama justru menjadi laknat bagi semesta alam.

Namun, ketika kita menjadikan agama sebagai sumber inspirasi untuk selalu berpegang teguh terhadap hati nurani ataupun rahsa sejati (sebuah istilah Kejawen yang menyimbolkan Kuasa Ilahi di dalam diri kita), maka sikap kita akan menjadi reflektif. Hati menjadi lembut, karena agama kita tempatkan ibarat setetes embun yang membasahi jiwa. Agama yang demikian, menjadi cahaya yang menerangi jiwa, sehingga pikiran, sikap, hati kita, menjadi lapang. Maka, orang-orang di sekeliling kitapun menjadi nyaman...kita bertransformasi menjadi rahmat bagi semesta alam.

Sejatinya...menengok ajaran-ajaran dasar agama..semestinya agama memang menjadi pemandu kita menaiki ketinggian ruhani..menyelami hakikat kebenaran yang bersembunyi di kedalaman samudera hati kita...dan mengantarkan kita untuk merapat dengan Sangkan Paraning Dumadi..yaitu Hyang Tunggal, Gusti Allah Ingkang Murbeng Dumadi. Ingatlah kembali sabda Nabi Muhammad..Inna buitstu liutammimu makarimal akhlak..Tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak! Ketinggian akhlak manusia terwujud ketika manusia mencapai taraf takholuk bi akhlaqilah..Berakhlak dengan akhlak Tuhan. Agama adalah medium agar kita perlahan-lahan bisa menyerap sifat-sifat Ilahi, sehingga kita menjadi Insan Mulia..yang pikirannya, perasaannya, sikapnya, hasratnya, dan tindakannya, mencerminkan Dia Yang Maha Sempurna.

Dalam konsep pengajaran Tauhid Syeikh Siti Jenar, dinyatakan bahwa sesungguhnya Sifat 20 bagi Allah, juga merupakan sifat bagi kaum mukmin sejati. Mempelajari Tauhid artinya mengupayakan agar kita sadar akan Keberadaan Dzat Yang Tunggal dengan 20 sifatnya itu, mulai wujud, qidam, baqo, dan seterusnya..lalu menyerap sifat-sifat itu ke dalam diri kita. Sehingga kita menjadi sosok yang wujud..karena memang di dalam diri kita Ruh Ilahi yang abadilah bertahta setelah hawa nafsu tertaklukkan....Keberadaan kita menjadi sejati, tak lagi palsu...karena kita bisa keluar dari kungkungan raga yang sesungguhnya tak lebih dari bayang-bayang...Kita menjadi baqa..karena esensi diri kita yang abadi itulah yang menjadi gambaran diri sejati....Kita pun menjadi mandiri..karena sudah bisa memberdayakan qudrat dan iradat-Nya yang dititipkan ke dalam diri kita...dan seterusnya.

Segenap aturan dalam agama, yang kita sebut dengan syariat, sebetulnya adalah jalan agar Cahaya Tuhan memasuki diri kita sehingga kitapun sanggup berakhlak dengan akhlak-Nya, menjadi cermin kemuliaan-Nya. Segenap ritual, shalat, puasa, zakat, dan lainnya, tak lebih dari sekadar sebagai latihan agar sifat-sifat mulia melekat kepada diri kita. Ukuran kemuliaan diri pribadi kita, kita sadari justru terletak pada bagaimana kualitas keseharian kita menyangkut hubungan kita dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Jika kita selalu dalam keadaan eling lan waspada (senantiasa berdzikir kepada-Nya, dan selalu waspada kepada segenap keburukan hawa nafsu), lalu kitapun konsisten menebar welas asih kepada sesama, itu artinya kita adalah makhluk yang mulia.

Kita, dengan demikian, tak lagi memperebutkan kebenaran agama, apalagi berperang atas nama agama. Karena yang penting adalah apakah agama sudah menerangi hati kita..dan itu tak ada hubungannya dengan orang lain. Semuanya, sebetulnya tak lebih merupakan soal "peperangan" di dalam diri kita sendiri...apakah kita tunduk kepada hawa nafsu atau nurani.

Kalaupun mungkin suatu saat kita "berperang" dalam segala bentuknya di muka bumi..maka itu semata-mata untuk menegakkan keadilan, dan membela mereka yang tertindas..siapapun mereka...apapun agama mereka..apapun kebangsaan mereka.

Selamat merenungkan makna agama lebih dalam dan dalam lagi..semoga pula pencerahan terlimpah kepada kita semua.

0 komentar: