Kamis, 20 Mei 2010

AGAMA DI TANAH JAWA

Sejak jaman purba, di Tanah Jawa telah bersemi kebenaran Ilahiyah, yang disampaikan oleh Dang Hyang Semar. Ajaran itu disebut Kapitayan (ajaran berkenaan dengan Sang Hyang Taya). Dalam tradisi lisan seperti yang masih bisa ditemui di Desa Babakan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, dikenal istilah Agama Semar. Hakikat dari ajaran ini, terlestarikan dari generasi ke generasi, oleh para empu, pujangga, dan kyai sejati.
Mengenai Sang Hyang Taya.

Sang Hyang Taya adalah sumber segala kejadian yang tak bisa dilihat dengan mata, tidak bisa didengar dengan telinga, tidak bisa diraba dengan tangan, tidak bisa dibayang-bayangkan, tidak bisa dipikirkan, tidak bisa dibanding-bandingkan dengan sesuatu. Dia adalah Taya (hampa, suwung, awung-uwung). Dia tidak dilahirkan. Tidak berawal. Tidak berakhir. Tidak satupun makhluk yang bisa mengenal keberadaan-Nya yang sejati.

Manusia mengenal-Nya melalui pengejawantahan kekuatan dan kekuasaan-Nya di alam ini sebagai Pribadi Ilahi yang menjadi Sumber segala sumber kehidupan yang tergelar di alam semesta, yakni Pribadi Ilahi yang memiliki Nama dan Sifat sebagai pengenal keberadaan diri-Nya.

Gambaran Penyembah Sejati
Penyembah Sang Hyang Taya sejati, menyembah-Nya secara sempurna melalui sarana tubuh: duduk bersila, dengan tangan swadikep, mengamati keberadaan tubuh, meresapi gerak-gerik tubuh, mengamati kecenderungan jiwa, menata pikiran, mengatur pernafasan, menyatukan kiblat hati dan pikiran guna mencari keakuan di dalam diri dengan meresapi dan menghayati ‘rasa suwung’ di dalam hati yang ada pada diri manusia. Mereka yang telah mengetahui dan mengenal ‘rasa suwung’ di dalam hati adalah sama dengan mengenal Sang Hyang Tunggal, yaitu Sang Suwung: Sang Hyang Taya.
Mereka adalah manusia-manusia yang sudah tidak mengenal pamrih kehidupan duniawi. Hati dan pikiran mereka hanya terarah kepada Sang Hyang Taya, yang citra Ilahiah-Nya tersembunyi secara rahasia sebagai ‘rasa suwung’ di dalam diri manusia. Jika mereka mati, maka jiwa mereka akan menyatu dengan alam Kehampaan Taya yang tak terbandingkan dengan sesuatu. Sebagai pribadi-pribadi suci, mereka memancarkan kekuatan Ilahiah, yang disebut Tuah (kekuatan penghadir kebaikan) dan Tulah (kekuatan penghadir kehancuran) tanpa kehendak pribadi mereka.

Agama yang Akan Lestari
Setiap ajaran di Tanah Jawa, hanya akan lestari jika selaras dengan dasar-dasar ajaran dari Sang Hyang Taya yang disampaikan melalui Dang Hyang Semar (Kapitayan/Agama Semar). Ajaran-ajaran yang tidak sesuai, akan ditolak oleh penghuninya. Bahkan pengikut ajaran-ajaran demikian, terancam oleh penghuni purwakala (alam ghaib) di negeri ini.

Catatan:
1. Kalimat-kalimat di atas adalah dialog antara Dang Hyang Semar dengan Syeikh Siti Jenar, sebagaimana termaktub dalam buku Suluk Sang Pembaharu, karya Agus Sunyoto, Yogyakarta: Penerbit LKIS, 2008 (Cetakan V)

2. Sementara itu, dalam Jangka Jayabaya, terdapat nujuman yang sebagian isinya adalah sebagai berikut:
“....waspadalah dan ingatlah, tegakkan imanmu, jadilah pengikut Ratu Adil penegak kebenaran. Carilah ‘senjatanya’ (trisula wedha; tentang budi pekerti luhur) sampai ketemu, ikuti jalannya kemanapun perginya, jadilah, ibaratnya sebagai pasukannya Ratu Adil, tidak lama akan tampak tanda tanda datangnya ratumu yang mendapat kemuliaan agung, datangnya tiba-tiba secepat kilat, diiringi berjuta-juta “malaikat” (berjuta leluhur bumi nusantara), berdiri dengan payung kuning (kebenaran sejati), maknanya ‘bang-bang’ timur keinginannya (gerakan dari wilayah timur nusantara), maka terbitlah sinar yang terang.
…umbul-umbul ditingkahi ‘bendera pare anom’ itulah pertanda pangeran pati, tunggangannya kuda nafas, cambuknya tunggak rotan, membawa panah berupa tekad suci yang sangat tajam ujungnya, sangat elok kharismanya, sangat berwibawa wajahnya, lengannya rampng tetapi amat kokoh, …
…ada perang yang lebih besar, saking besarnya, makhluk halus genderuwo, hantu, jin, berbagai macam iblis laknat, semua buyar lari tunggang langgang menyingkir, di sembarang tempat makan korban orang-orang yang tidak peduli dan tidak mengerti kepada Ratu Adil petunjuk kebenaran.
…tidak berapa lama segera datang Ratu Adil duduk menjadi pemimpin dan suri tauladan di wilayah tersebut, sehingga menjadi makmur diibaratkan sawah yang sangat luas pajaknya sangat kecil, diibaratkan tidak ada lagi yang harus dilakukan negara, sebab saking adil makmurnya nusantara, ibaratnya kegiatan orang-orang tinggal terfokus untuk sembahyang kepada Tuhan saja, serta memanjatkan puji-pujian tanpa henti.
…itu yang membuka mata hati manusia yang memaknai agama secara tidak karuan, tetapi kalian harus waspada dan selalu ingat, sebab sebelum Ratu Adil datang, di tanah Jawa ada setan berkedok manusia berbulu lebat seolah sebagai penegak agama, bertempat tinggal di ‘glasah wangi’, sehingga mengakibatkan manusia berganti tatanan, berakibat hilangnya petunjuk dan tatakrama kehidupan, sebab banyak orang meninggalkan syariat (sebelumya), sehingga menjadi terlantar hidupnya sejak kecil.
Keterangan; menungsa rewa-rewa anggawa agama maksudnya manusia dengan wajah penuh ditumbuhi bulu-bulu menyeramkan yang (mengaku-aku) sebagai penegak dan pembela agama. Tetapi perilakunya justru sebaliknya tidak simpatik, tidak tampak aura kasih sayang kepada sesama manusia, dapat diumpamakan menyerupai karakter ‘setan’ yang membawa kerusakan di mana-mana, kerusakan baik lahir/fisik maupun kerusakan batin (fanatisme), pikiran (irrasional), egois (negative thinking) dan kerusakan hati, menjadi penuh dengan kedengkian dan nafsu angkara murka.

3. Sesuai dengan nujuman Sabdopalon dan Nayagenggong, saat ini – 500 tahun setelah pertemuan segitiga antara Prabu Brawijaya, Sunan Kalijaga dan Sabdapalon-Nayagenggong - juga adalah masa kembalinya Agama Budha (agama yang berlandaskan atau mengedepankan keindahan budi pekerti)....Spiritualitas Jawa telah waktunya kembali menjadi mercusuar penerang bagi para pencari kebenaran yang tulus......Agama-agama Besar yang sekarang ada, akan mengalami seleksi alami...yang akan lestari hanyalah agama yang substantif, hakiki, yang kental dengan kebenaran batiniah dan mengedepankan budi pekerti luhur...Dalam konteks Islam, “mazhab” yang akan bertahan di Nusa Jawa hanyalah “mazhab” yang benar-benar mencerminkan makna dasar Islam, yaitu “ajaran keselamatan, ajaran kedamaian” yang landasannya adalah kewelasasihan.

Tidak ada komentar: