Selasa, 15 Juni 2010

BENIH KEBAJIKAN BERBUAH KEBAHAGIAAN

Belum lama ini saya mendapatkan anugerah yang sangat istimewa: saya berkesempatan belajar abc-nya kehidupan bersama para warga binaan (narapidana) di Lapas Kesambi Cirebon. Status formal saya adalah pembimbing ruhani bagi mereka. Tapi, sungguh, saya dan mereka pada hakikatnya sama-sama murid, "orang yang berhasrat mendapatkan kebenaran". Lebih dari itu, ada banyak hal di mana saya memang harus banyak belajar dari mereka.

Saudara-saudara yang ada pada grup pembinaan saya itu, sekitar 20 orang, rata-rata divonis sangat berat. Sebagian hukuman mati, sebagian seumur hidup, sisanya 20. Mereka jelas lebih punya pengalaman dalam merasakan pahit getirnya kehidupan. Faktanya, saya memang belajar dari ketangguhan mereka dalam menjalani hidup yang sulit....sehari-hari teman hidup mereka adalah dinding dan jeruji penjara. Terpisah dari keluarga tercinta. Entah kapan mereka akan bisa berganti nuansa hidup dan bisa melepas rindu dengan kerabat mereka. Namun, setiap bertemu saya, mereka bisa memberikan sapaan hangat dan senyum yang terasa aura ketulusannya. Saya bayangkan, itu bukan hal mudah. Hanya bisa dilakukan oleh mereka yang tangguh mentalnya! Selain itu, di antara mereka memang ada yang "ilmu"-nya jauh lebih tinggi ketimbang saya...mata bathinnya lebih tajam...hanya karena status formal saja akhirnya seolah-olah dia belajar pada saya ...(he, he...padahal semestinya terbalik....)

Saya berpikir keras, bagaimana caranya kehadiran saya memang memberi manfaat bagi saudara-saudara di Lapas itu. Jelas...saya sadar..dalam banyak hal..saya tidak bisa membagi rumus kehidupan yang telah saya buktikan kebenarannya pada mereka, sementara kondisi mereka jelas berbeda dengan saya. Misalkan, berbicara tentang kebahagiaan, relatif mudah bagi saya untuk mereguknya. Di sekeliling saya banyak 'bahan' untuk berbahagia: istri yang rajin, anak2 yang lucu, pekerjaan yang menyenangkan, pemandangan yang indah dan mempesona hati.....Sementara bagi mereka, apa bahannya? Bagaimana caranya bahagia sementara di sekeling kita cuma ada dinding dan jeruji besi? Bagaimana bisa bahagia jika keluarga yang dirindu ada nun jauh di sana dan kita tak bisa bersama mereka?

Akhirnya....muncul kesadaran...betapapun..saya telah ditakdirkan untuk menjadi perantara sampainya seberkas Cahaya Ilahi kepada mereka. Saya tinggal bersikap pasrah kepada bentuk cahaya apapun yang akan disampaikan Sang Sumber Cahaya kepada hamba-hamba-Nya yang ada di Lapas Kesambi itu.
Dan akhirnya...lidah saya ini bisa mengungkapkan rumus pasti tentang kebahagiaan, yang bisa dijalankan oleh siapa saja...oleh mereka yang ada di tanah yang bebas, ataupun di penjara.

Untuk sampai pada rumus ini...saya mengajak teman-teman yang kini sedang terpenjara itu untuk merenungkan, apa yang mereka rasakan di penjara. He, he...pertanyaan naif..tapi memang itu kunci jawabannya. Yang mereka rasakan adalah penderitaan! Mereka menderita..Selama ini mereka kuat karena telah berjuang beradaptasi dengan derita yang mereka rasakan. Lalu, mengapa mereka menderita? Siapa yang bertanggung jawab atas penderitaan mereka?

Pada titik ini, saya menanamkan sugesti...dan mereka juga sebenarnya bisa mengakui...bahwa sumber penderitaan itu adalah diri mereka sendiri. Siapapun yang menderita, yang bertanggung jawab adalah dirinya sendiri. Derita adalah buah dari perilaku diri sendiri. Tuhan tak bisa disalahkan, karena Dia yang Welas Asih tak pernah memaksa kita untuk berbuat salah...kitalah yang memilih berbuat salah! Dan buah dari kesalahan adalah derita. Semakin besar benih kesalahan yang kita tanamkan, semakin besar buah penderitaan yang dipetik.

Lalu, bagaimana caranya agar penderitaan itu bisa menyingkir? Itu semua tergantung dari kita sendiri. Penderitaan itu adalah cermin bahwa jiwa kita masih gelap...tertutup oleh noda demi noda kesalahan kita sendiri. Derita itu baru bisa menyingkir jika jiwa kita telah menjadi terang.

Jiwa ini menjadi terang..jika noda itu kita hapus dengan titik demi titik cahaya..yang dihasilkan dari segenap perbuatan baik..dan saat yang sama, tidak diganggu dengan menambah lagi noda hitam.

Maka...saya mengajak pada saudara-saudara di Lapas itu, untuk memanfaatkan waktu yang tersisa untuk sama-sama membuat jiwa kita bersama menjadi terang. Saya memberikan sebuah rumus sederhana: kebahagiaan kita itu kita raih setara dengan perbuatan baik yang telah kita lakukan. Jika kita masih menderita, berarti perbuatan baik kita masih belum cukup..kita masih punya hutang akibat perbuatan buruk kita di masa lalu. Salah satu cara terbaik membayar hutang itu adalah dengan menerima penderitaan saat ini dengan hati yang lapang, karena itulah bentuk keadilan yang hidup. Jaksa, polisi, hakim, mungkin bisa salah tangkap dan salah vonis...tapi Kehidupan tak mungkin keliru. Seseorang masuk penjara, menderita, susah...pasti karena sebuah kesalahan, entah disadari ataupun tidak.

Maka...saya benar-benar berusaha agar menjadi mitra bagi mereka untuk bersama-sama membuat jiwa ini bisa menjadi terang.....Nah, riyadhoh dan ritual menjadi penting untuk dijadikan sebagai bagian dari hidup sehari-hari, karena ia sesungguhnyanya itu menjadi salah satu cara efektif untuk membuat kita mudah berbuat kebaikan, dan gampang menyadari makna ilmu kehidupan. Pada titik inilah, saya mengajak mereka untuk sama-sama belajar tentang wirid, dzikir, shalat, dan semacamnya....

Satu hal yang juga saya sampaikan adalah, bahwa bagaimanapun keadaan kita saat ini, kita masih bisa menciptakan hidup yang lebih baik. Kita bisa menanam benih kebaikan pada masa kini agar bisa memetik buah kebahagiaan di masa depan. Maka, ada tiga hal yang saya tekankan untuk menjadi amalan bersama: pertama, nrimo ing pandum...qonaah...menerima apa yang ada sebagai bentuk karunia terbaik dari Gusti Allah. Penjara...adalah karunia terbaik untuk mereka yang telah pernah berbuat kekeliruan yang fatal. Penderitaan, adalah karunia terbaik yang bisa memicu seseorang untuk mengalami transformasi ruhani. Kedua, adalah mencoba berbuat baik dan memberi manfaat kepada siapapun yang masih bisa kita jumpai...karena itulah jalan satu-satunya untuk bisa merasakan kebahagiaan. Ketiga, terus memburu ilmu..karena ilmu adalah cahaya..yang bisa menerangi jiwa..hanya dengan ilmu, jiwa bisa dibuat terang dan kebahagiaan bisa diraih. Ilmu yang seperti apa? Tentu saja Ilmu Sejati!

Tidak ada komentar: