Rabu, 09 Juni 2010

MEMBUAT HATI NURANI KITA BERCAHAYA

Di dalam diri kita, sesungguhnya terdapat instrumen yang membuat kita bisa bertemu dengan kebenaran. Hati nurani merupakan sumber kesadaran dan pemberi keputusan tentang sikap yang diambil dalam situasi dan kondisi tertentu yang kita hadapi. Hati nurani tak mungkin menggelincirkan diri kita kepada kekeliruan dan kenistaan.

Dalam istilah Jawa, hati nurani disebut sebagai ALUSING PANDULU atau kehalusan daya cipta, yakni kekuatan yang atau kemampuan perasaan hati nurani untuk meraba, merasakan, membedakan, dan menentukan. Seperti disampaikan oleh salah satu guru saya, Alusing pandulu merupakan pangkal dari otonomi setiap individu, yakni dasar dari kemandirian pribadi. Pusat otoritas setiap pribadi berada di dalam hati nuraninya sendiri. Dengan kata lain, seseorang yang merdeka, yang otonom, adalah dia yang hanya tunduk kepada hati nuraninya, tidak kepada lainnya.

Orang yang tunduk kepada hati nuraninya, selalu berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai bimbingan hati nuraninya, sesungguhnya adalah sosok yang telah selaras dengan Al-HAQQ. Dialah seorang yang tulus, tunduk, berserah diri, di hadapan Gusti Ingkang Maha Suci.

Sejauh ini, kebanyakan kita hanya mempergunakan nalar atau rasio kita untuk menyeleksi berbagai kemungkinan sikap, pikiran, dan tindakan yang diambil. Sayang sekali, karena nalar ternyata rentan untuk keliru...karena sangat mungkin ia disaput oleh ilusi yang berpangkal pada hawa nafsu. Hanya mereka yang nalarnya terhubung dengan hati nurani yang bisa lebih pasti bersikap, berpikir dan bertindak benar.

Lebih banyak lagi, mereka yang tidak mau mempergunakan nalarnya...Di antara mereka adalah orang-orang yang secara lahiriah sangat tampak shalih...selalu berhiaskan simbol-simbol agama. Mereka merasa selalu dibimbing oleh Allah, oleh Kitab Suci. Pada faktanya, mereka sesungguhnya dibimbing oleh "doktrin" yang kemudian mengendap di alam bawah sadar, lalu menjadi sebuah ilusi yang diyakini sebagai kebenaran mutlak. Pangkal soalnya adalah, mereka sekadar menerima saja apa yang merupakan buah penalaran dari orang terdahulu, yang repotnya, tidak disinari oleh cahaya hati nurani. Walaupun hasil nalar orang dulu itu belum tentu benar, ia dimutlakkan sebagai kebenaran. Maka, kesalahan dan kekeliruanpun turun temurun dari generasi ke generasi, melalui berbagai medium, antara lain rumah tangga, sekolah, tempat ibadah, dan semacamnya.

Salah satu konsep kunci agar kita bisa memahami bahwa sesungguhnya sumber kebenaran itu ada di dalam diri sendiri, adalah konsep manunggalnya kawula kalawan gusti...bahwa sesungguhnya kita dan Dzat yang Menyebabkan Kita ini ada, sungguh tidak terpisah. Ajaran Jawa membabarkan: Ingsun ing sajroning aku, Aku ing sajroning Ingsun.

Di dalam diri kita, ada Sang Aku! Manifestasi Sang Aku ini adalah Sukma Sejati atau Rahsa Sejati atau Guru Sejati. Getaran darinyalah yang disebut dengan hati nurani, yang menjadi pembimbing manusia agar selalu berpikir, bersikap dan bertindak benar.

Sayang sekali, karena pengaruh hawa nafsu, nalar yang tak terlatih, sekaligus penjara dogma, kita sering mengabaikan suara hati nurani kita sendiri, padahal itu adalah Sapaan dan Panggilan dari Zat Yang Menggenggam Kehidupan.

Pertanyaannya, bagaimana caranya agar setiap diri bisa terhubung dengan hati nuraninya?

Guru saya mengatakan, ada beberapa hal yang harus diupayakan:
Pertama, Beninging ati atau kejernihan kalbu. Kita harus terlebih dahulu mengikis segala kerak dosa yang ada di dalam diri kita..jangan menyengaja berbuat dosa yang membuat kerak itu makin tebal, dan berbuatlah kebaikan sebanyak-banyaknya untuk membuat kerak yang sudah ada itu terkikis sedikit demi sedikit.

Kedua, Sirnaning kekarepan atau sirnanya rahsaning karep. Atau lenyapnya semua maksud jahat, keburukan, dan tindakan hina-aniaya. Jangan sekali-kali membiarkan keburukan menghiasi pikiran dan perasaan Anda. Benci, dengki, sombong, adalah hal yang harus dipantang!

Ketiga, Lereming pancadriya atau ketenangan panca indera. Jangan biarkan panca indera kita menjadi sumber masuknya kerak dosa ke dalam hati kita. Pergunakan semua panca indera kita hanya untuk kebaikan, sesuai dengan fungsi mereka semua diciptakan.

Keempat, jatmikaning solah bawa atau perilaku lahir dan batin yang santun. Hati, ucapan, pikiran dan perbuatan atau tindakan nyata harus selaras dengan mengekspresikan kelemahlembutan, cinta, dan ketulusan.

Dengan menjalani itu semua, hati nurani akan bisa kita rasakan cahayanya. Dan hanya dengan demikian, kita juga makin bisa membedakan mana yang merupakan suara hati nurani, dan mana yang merupakan hasrat hawa nafsu.

Tidak ada komentar: