Rabu, 09 Juni 2010

SAPAAN SANG KEKASIH

Saat mendung menggelayuti hatiku, Sang Kekasih berkata: "Duhai, kenapa Engkau biarkan hidup menjadi demikian muram? Bukankah sudah Kuhamparkan Wajah-Ku yang demikian indah? Bukankah di hadapanmu bisa engkau saksikan segenap keagungan yang semestinya membuat hatimu terpesona?

Maka, terbakarlah hatiku. Berkilauan cahaya menerpa diri ini. Birunya langit, keanggunan Gunung Ciremai dengan warna hijau yang mempesona...juga hamparan padi yang mulai menguning di sekelilingku..membuat Keindahan Sang Kekasih menjadi demikian nyata.

Saat diriku gundah gulana memikirkan kesulitan hidup, Sang Kekasihpun dengan segera menyapa: "Apa yang engkau khawatirkan? Bukankah Keagungan-Ku meliputimu? Bukankah Aku yang maha kaya ada bersamamu? Bukankah Aku ini welas asih dan tak akan pernah membiarkanmu dalam kenistaan? Bangunlah! Lakukan saja apa yang menjadi tugasmu, dan biarkanlah Aku yang menjamin hidupmu! Kuberikan semua yang engkau butuhkan, Kucukupkan semua yang engkau perlukan. Apa yang kau lakukan hanya satu: Jalankan semua tugasmu dengan sepenuh hati, dengan cinta!

Maka akupun bangkit dengan energi yang berlipat. Kubalas segenap kebaikan Sang Kekasih, dengan mengukir karya terbaik dalam kehidupan ini.

Saat di hadapanku hadir sosok yang tanpa alasan jelas membenciku dan menampakkan kebengisannya, Sang Kekasihpun berbisik: " Duhai, buatlah hatimu lapang bagai samudera. Jangan biarkan apapun merusak kedamaian hatimu. Kasihanilah dia yang terjebak dalam amarah dan benci! Sayangilah dia yang tak kuasa menaklukkan hawa nafsunya sendiri! Ya, sayangilah bahkan mereka yang membenci dan ingin mencelakakanmu!"

Maka, dihatikupun terbit cinta kepada mereka yang menebar benci. Hatiku menerima amarah dengan percikan air bening yang mendinginkan. Damai. Tentram. Abadi. Karena Cinta Sang Kekasih.

Tidak ada komentar: