Rabu, 09 Juni 2010

TENTANG SEMBAHYANG

Sembahyang yang dilakukan oleh kaum Muslimin itu benar-benar merupakan sembahyang yang tata caranya merupakan petunjuk Tuhan, sementara cara sembahyang yang lainnya bukan merupakan petunjuk Tuhan?

Jawaban saya adalah: Saya setuju dengan pendapat bahwa tatacara sembahyang kaum Muslimin (yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, dan di dalamnya ada rukuk dan sujud) memang didasarkan pada petunjuk Tuhan. Mengapa saya bisa berkata demikian? Karena saya sudah membuktikan langsung…bahwa jika kita sungguh2 menjalankan sembahyang yang demikian, kita akan betul2 merasakan kehadiran Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, sekaligus Maha Lembut. Ya, saya bersaksi, bahwa dengan sembahyang dengan tatacara yang diajarkan guru ngaji saya sejak kecil, plus dengan penghayatan yang maksimal, saya betul2 bisa merasakan kenikmatan ruhaniah, saya betul-betul bisa merasakan suasana asyik masyuk bercengkerama dengan Sang Kekasih, Allah Yang Maha Agung itu….dengan kata lain, saya sudah buktikan bahwa sembahyang ala kaum Muslimin, atau shalat, memang merupakan wasilah untuk mengalami mi’raj (kenaikan ruhani).

Namun, saat yang sama, saya juga menyaksikan dengan jelas…bahwa sebagian besar kaum Muslimin melaksanakan shalat atau sembahyang itu semata-mata karena merasa bahwa itu adalah kewajiban….mereka terpaksa saat melakukannya, karena takut masuk neraka…dan kasihan sekali…shalat berkali-kali, mereka tak bisa menikmatinya. Lebih dari itu, apa yang dibaca ketika shalat, juga tak terwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mereka membaca takbir..tapi dalam kenyataan sehari-hari yang mereka besarkan adalah ego mereka, kepentingan mereka. Mereka berkata Kuhadapkan wajahku hanya kepada wajah Allah..tapi mereka tak sadar bahwa Allah selalu hadir lewat berbagai ciptaan-Nya, dan mereka juga tak bisa menjaga agar Allah tetap menjadi kiblat hati mereka. Sebaliknya, kiblat hati mereka adalah tahta, harta dan wanita.

Maka, shalat tidak banyak memberi maslahat kepada sebagian kaum Muslimin: ya..kita shalat dan tetap korupsi..kita shalat dan tetap saling bertikai untuk alasan2 yang sepele..kita shalat dan tetap merusak hutan…kita shalat dan tetap tak bisa hidup bahagia, tak bisa hidup tenteram.

Jadi…..yang penting bagi kita semua untuk direnungkan adalah, apakah selama ini shalat kita sudah betul2 membuat kita “bertemu” dengan Gusti Allah…lalu membuat kita bisa “takhaluq bi akhlaqillah”?
Atau, jangan-jangan, kita masih tergolong ke dalam kaum yang disebut Allah, ….”fawailul lil musholin”..maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat…..
(Saya sungguh berdoa…semoga kita semua yang melaksanakan shalat…betul-betul bisa menjadi kekasih Allah…).

Berikutnya, saya menjawab dengan tegas…bahwa berdustalah mereka yang mengatakan bahwa hanya sembahyang ala kaum Musliminlah yang sesuai dengan petunjuk Allah!
Apakah panjenengan tahu apa yang disebut dengan petunjuk Allah? Apakah panjenengan tahu apa yang dimaksud dengan Allah? Apakah panjenengan membayangkan Gusti Allah itu adalah sosok yang hanya bisa berbahasa Arab, yang hanya memilih berkomunikasi dengan salah seorang makhluk-Nya yang ada di Arab, dan tidak berkenan memberi petunjuk kepada makhluk-Nya yang ada di tempat lain?

Allah itu sendiri tak lebih dari konsep manusiawi tentang Tuhan yang tak bisa didefinisikan….Sungguh, kata itu bukanlah Tuhan yang sesungguhnya…karena Dia yang sesungguhnya…laisa kamitslihi syaiun…Dia tak seperti apapun, termasuk apa yang kita bayangkan, bahkan sesungguhnya Dia tak bisa disebut dengan kata Dia…..

Bagaimana pula kita bisa membatasi wujud yang tanpa batas? Bagaimana kita mengklaim sebagai pemilik tunggal wujud yang kita sendiri tak ketahui keberadaan-Nya?

Yang bisa kita lakukan adalah sekadar mengagapai-gapai, menjemput secercah cahaya untuk bisa mengenal dan merasakan kehadiran-Nya. Dan kalau kita percaya bahwa Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang sekaligus Maha Adil…salah satu konsekuensinya adalah Dia tak pilih kasih dalam memberi petunjuk! Dia memberi petunjuk kepada orang Jawa, kepada orang Papua, kepada orang Indian, kepada orang Eskimo, sebagaimana juga kepada orang Arab.

Jalan, atau pintu Dia yang Maha Misteri itu memberi petunjuk adalah melalui hati nurani manusia…yang menjadi perantara antara manusia dengan ruh-Nya yang ada di dalam diri manusia…dan ingatlah bahwa semua manusia…baik orang Arab, maupun orang Eskimo, Jawa, Papua, dan lainnya…diberi keistimewaan yang sama: Memiliki Ruh yang Dia tiupkan …

Maka, sesungguhnya….jika ada orang India, dalam hal ini sang Budha..menemukan petunjuk bagaimana cara sembahyang kepada-Nya…benarlah cara sembahyang itu…
Jika para empu di Jawa menemukan cara sembahyang kepada-Nya..maka juga benarlah cara sembahyang itu…
Sebagaimana jika seorang Muhammad, merasa mendapatkan petunjuk tentang tata cara sembahyang, maka benarlah juga ia…..

Dan cobalah, sebelum mata hati panjenengan benar-benar hidup, cukuplah dengan panca indera…lihatlah…apakah kebahagiaan, ketenteraman, dan perilaku mulia, itu hanya bisa ditampilkan oleh mereka yang bersembahyang ala Muhammad? Lihatlah, perhatikanlah, tetapi dengan kejujuran, maka panjenengan akan temukan bahwa itu semua juga adalah milik mereka yang bisa jadi baju agamanya Budha, Kejawen, Hindu, Katholik dan lainnya….(dan merekalah yang benar-benar telah bersembahyang..bukan saja pada tataran raga, tapi juga pada tataran jiwa dan sukma…!)

Jika ada di antara panjenengan yang belum juga bisa memahami penjelasan ini, ya mboten napa2…tapi, sebagai orang yang (kemungkinan besar) pernah mengalami fase atau telah menyinggahi stasiun perjalanan ruhani seperti yang panjenengan saat ini alami dan singgahi…saya katakan dengan penuh cinta: perjalanan panjenengan masih jauh dari kata sampai….

Ilmu panjenengan masih jauh dari sempurna…! Karena itu..tak perlu merasa telah berada di jalan kebenaran….lha wong panjenengan itu, sungguh, belum tahu kok, apa itu Kebenaran!

Tidak ada komentar: