Minggu, 11 Juli 2010

MENCIPTA NUSANTARA JAYA

Di dalam Serat Jangka Jayabaya, tergores sebuah visi Nusantara yang jaya. Secara jelas, demikianlah visi Prabu Jayabaya:
“Gemah ripah harja kreta, tata tentrem ing salami-lami, ilang kang samya laku dur, murah sandang lan boga, kang hamangkuasih mring kawulanipun, lumintu salining dana, sahasta pajeg saripis”
(Kemakmuran melimpah ruah, langgeng, tertib tenteram selamanya, hilang lah kedurjanaan, murah sandang pangan, pemimpin yang penuh tanggungjawab dan kasih sayang kepada rakyatnya, selalu tidak kekurangan uang, ibaratnya tanah satu hektar pajaknya satu rupiah)
“Siti sajung mung sareal, tanpa ubarampe sanese malih, antinen bae meh rawuh, mulyaning tanah Jawa, awit saking tan karegon liyanipun, nakoda wus tan kuwasa, pulih asal mung gagrami.”
(Kelak, tanah yang sangat luas pajaknya hanya satu real, tidak ada tambahan pajak lainnya, tunggulah saja hampir tiba saatnya kemuliaan untuk nusantara)

Pada situasi masa kini, ketika Indonesia - yang tak lain merupakan wujud Nusantara pada jaman modern – tengah mengalami masa-masa sulit, jagate gonjang-ganjing, seolah Ibu Pertiwi tak lagi mau ramah kepada anak-anaknya, visi kejayaan Nusantara jelas memiliki makna yang teramat positif. Visi itu memotivasi, memberi semangat, meyakinkan, sekaligus merupakan kekuatan penuntun kita pada sebuah kondisi yang berbeda sekaligus kita idam-idamkan.

Namun, Prabu Jayabaya tak hanya memberi kabar gembira. Ia juga membabarkan sikap yang harus diambil oleh putera-puteri Nusantara. Katanya:
“Tetapi pesanku, waspadalah dan ingatlah, tegakkan iman mu, jadilah pengikut Ratu Adil penegak kebenaran. Carilah ‘SENJATANYA’ sampai ketemu, ikuti jalannya kemanapun perginya, jadilah, ibaratnya sebagai pasukannya Ratu Adil, tidak lama akan tampak tanda tanda datangnya ratumu yang mendapat kemuliaan agung, datangnya tiba-tiba secepat kilat, diiringi berjuta-juta “malaikat” (berjuta leluhur bumi nusantara), berdiri dengan payung kuning (kebenaran sejati), maknanya ‘bang-bang’ timur keinginannya (gerakan dari wilayah timur nusantara), maka terbitlah sinar yang terang.
…… tidak berapa lama segera datang Ratu Adil duduk menjadi pemimpin dan suri tauladan di wilayah tersebut, sehingga menjadi makmur diibaratkan sawah yang sangat luas pajaknya sangat kecil, diibaratkan tidak ada lagi yang harus dilakukan negara, sebab saking adil makmurnya nusantara, ibaratnya kegiatan orang-orang tinggal terfokus untuk sembahyang kepada Tuhan saja, serta memanjatkan puji-pujian tanpa henti.”

Siapakah Prabu Jayabaya? Benarkah ia seorang yang waskito sehingga nujumannya layak dipercayai? Di dalam Serat Darmagandul, dituliskan sebuah penjelasan tentang sifat Prabu Brawijaya, sang raja Kediri:
“Dene ingkang yasa rêca punika Prabu Jayabaya, inggih kêkasihipun Ingkang Kuwaos, pinaringan wahyu mulya, inggih pintêr sugih engêtan sidik paningalipun têrus, sumêrêp saderengipun kalampahan.”
Dan patung itu adalah patung Prabu Jayabaya. Ia adalah kekasih-Nya Yang Maha Kuasa. Diberi wahyu yang mulia (telah disentuh Kebenaran Sejati), ia pandai, memiliki ingatan kuat, cermat penglihatannya, mengetahui sesuatu sebelum ia terjadi.

Tentu saja, sebuah visi tak mungkin bisa terwujud begitu saja. Ia membutuhkan proses dan prasyarat. Dalam hal ini, karena ia menyangkut nasib kita secara kolektif, pada akhirnya semuanya juga tergantung kita, putera-puteri Nusantara. Jika kita memilih mengikuti garis takdir yang memberdayakan sebagaimana nujuman Prabu Jayabaya, maka terjadilah nujuman itu, karena memang alam semesta telah mendukung. Namun...sebaliknya kita juga bisa melawan takdir itu..dengan tidak mengikuti jalan lurus yang telah digariskan.

Yang pasti...kini adalah saatnya para satria, pandhita, maupun para semua kalangan yang mencintai Nusantara, untuk bergegas memberikan karya terbaik bagi bangsa ini. Sembari, berupaya untuk menemukan jati diri dan membangun karakter bangsa yang kukuh..yang bersambung dengan karakter bangsa ini di masa lalu: Karakter sebagai bangsa yang agung dan kreatif, yang terbuka pada kebajikan universal yang dibawa bangsa-bangsa dari luar, namun pada saat yang sama, dengan cerdik mampu membumikannya sehingga kebajikan universal itu selaras dengan tradisi luhur yang sudah ada.

Tidak ada komentar: