Senin, 26 Juli 2010

PUNCAK PERJALANAN RUHANI

Perjalanan ruhani seseorang, bisa dikatakan mencapai tingkatan puncak ketika ia mulai menyelami hakikat sembah rasa. Di dalam Serat Wedhatama ditembangkan: “..sembah rasa karasa rosing dumadi, dadine wus tanpa tuduh, mung kalawan kasing batos”. Sembah rasa adalah keadaan ketika seseorang mulai mereguk pengetahuan atau makrifat tentang Rahasia Kehidupan. Pengetahuan atau makrifat ini tidak lagi berasal dari informasi atau petunjuk yang berasal dari luar diri, melainkan telah menjadi sesuatu yang memancar dari kedalaman batin.


Pertanda keadaan ini adalah ketika seseorang mulai hilang keragu-raguan, kesamaran, ketidakjelasan mengenai Hakikat Kehidupan dan Rahasia Yang Maha Menghidupkan. “Meloke ujar iku, yen wus ilang sumelanging kalbu, amung kandel kumandel ngandel mring takdir, iku den awas den emut, den memet yen arsa momot”. Seseorang yang telah memasuki tahapan sembah rasa ini, hatinya telah dipenuhi kemantapan karena telah tersibak baginya rahasia ketetapan dan hukum-hukum alam semesta, juga segenap makna di balik peristiwa di alam semesta. Ia selalu waspada, ingat, dan cermat akan kenyataan bahwa di balik semesta itu ada Gusti Ingkang Akaryo Jagad, Gusti Ingkang Murbeng Dumadi, yang tiada putus berkarya.

Dijelaskan lebih lanjut, “Dadya weruh: iya dudu, yeku minongka pandaming kalbu, ingkang mbuka Kijabullah agaib, sesengkeren kang sinerung, dumunung telenging batos.” Seseorang yang telah mencapai tingkatan sembah rasa, keputusan yang ia buat dan pilihannya akan kebenaran, didasarkan pada petunjuk dari kedalaman kalbu. Sukma Sejatinya telah dijadikan sebagai pembimbing, dan Sukma Sejati itu yang membukakan tirai kegaiban baginya. Maka, apa-apa yang semula merupakan rahasia tak terjangkau, kini telah menjadi pengetahuan yang bersemayam di dalam batin.

Lebih lanjut, ia bisa merasakan hakikat terdalam kehidupan, bahwa apa yang terbabar di alam raya ini, tak lain merupakan manifestasi dari Yang Maha Ada. Wujud-Nya tertampakkan pada segenap yang ada, mulai dari bebatuan, bebungaan, samudera, awan, kawanan semut, hingga manusia. Kehidupan dan Yang Menciptakan Hidup, terpahami laksana rasa manis dan madu: rasa manis itu adalah manifestasi dari keberadaan sang madu; sang madu dianggap ada hanya ketika ada rasa manis. Secara indah, makna ini bisa kita tangkap dari bait: “Rasaning urip iku, krana momor pamoring sawujud, Wujudullah sumrambah ngalam sakalir, lir manis kalawan madu, endi arane ing kono”.

“Endi manis ndi madu, yen wis bisa muksmeng pasang semu, pasawuwaning Heb Ingkang Maha Suci, kasikep tyas kacakup kasat mata lair batos.” Insan yang telah mencapai sembah rasa, telah memahami gambaran madu dan rasa manis yang dihasilkannya, sebagai simbol keberadaan Tuhan dan apa yang Ia ciptakan. Maka, baginya juga telah tersingkapkan makna sabda Tuhan; lapis demi lapis makna sabda Tuhan itu telah terkuasai di dalam hati, lahir batinnya telah diketahui. “Ing batin tan kaliru, kedhap kilap liniling ing kalbu, kang minongka colok celaking Hyang Widhi, widadaning budi sadu, pandak-panduking liri nggon.” Batinnya sudah selalu menjadi penuntun terhadap kebenaran, karena Sang Sukma Sejati telah hadir dengan cahayanya yang terang benderang. Sang Sukma Sejati itu sendiri merupakan manifestasi dari Dzat Yang Maha Suci, yang bersemayam di dalam diri manusia, berada di ceruk bathin yang paling dalam, yang hanya bisa didekati oleh mereka yang telah berbudi mulia. Sebaliknya, pertanda seseorang telah diterangi oleh Sukma Sejatinya itu, adalah kemuliaan dalam budi pekertinya, yang tak lain merupakan buah dari transformasi jiwa: jiwa hewan menyingkir tergantikan oleh jiwa manusia yang sempurna.

Sosok yang telah menggapai pengetahuan mistis demikian, ia yang telah makrifat, pada dasarnya adalah sosok yang telah memasuki alam kehidupan sejati. Laksana telur yang akan menetas, terjadi pembalikan: kuning telur yang semula di dalam menjadi di luar. Demikian pula, pada sosok yang telah makrifat ini, Sukma Sejati yang semula ada di ke ceruk jiwa yang paling dalam sehingga nyaris tak terlihat bahkan menjadi rahasia, kini justru telah menjadi sesuatu yang nyata. Sementara apa yang semula nyata, yaitu keakuan, ego, kini justru telah disirnakan, dibuat menjadi tak terlihat. Ego, keakuan itu, telah lebur menjadi seperti tiada karena demikian benderangnya cahaya dari Sang Sukma Sejati.

Perbandingan dengan Ajaran Ibnu Arabi
Kesadaran bahwa alam semesta ini adalah tajalli, manifestasi, atau penampakan dari Dzat Yang Maha Suci yang, adalah milik mereka yang telah mencapai tingkatan sembah rasa atau kaum makrifat. Sekuntum bunga yang merekah, tentu saja memicu kesadaran yang berbeda kepada berbagai individu, tergantung pada aktif tidaknya instrumen di dalam diri individu itu yang terkait dengan pencerapan terhadap tajalli, manifestasi, atau penampakan dari Dzat Yang Maha Suci. Jika instrumen itu aktif, maka terceraplah tajalli, manifestasi, atau penampakan dari Dzat Yang Maha Suci itu. Jika tidak, maka apapun yang tampak, yang tercerap tak lebih dari sisi luar dari wujud itu.

Dalam khazanah Jawa sebagaimana dipaparkan di atas, instrumen untuk menangkap penampakan Dzat Yang Maha Suci, kita kenal sebagai Sang Sukma Sejati. Dalam khazanah pengetahuan spiritual yang diwariskan oleh Ibnu Arabi, mistikus besar dari Andalusia yang hidup pada abad 12-13 Masehi, Sang Sukma Sejati itulah yang disebut dengan Ruhul Quds, yang dalam istilah lebih teknis terkait dengan fungsinya untuk menyibak alam gaib, disebut sebagai Imajinasi Kreatif.

Imajinasi Kreatif adalah organ yang dipergunakan oleh para pejalan ruhani, para mistikus, untuk menguak makna dan rahasia di balik segenap realitas yang tercerap oleh panca indera, sekaligus untuk mencerap bentuk-bentuk batiniah yang tak sanggup dicerap oleh panca indera. Keberadaan Sukma Sejati, atau Ruhul Qudus ini, dengan fungsi Imajinasi Kreatifnya, dalam ajaran Ibnu Arabi tak bisa dipisahkan dari doktrin mistik tentang kerinduan Dzat Yang Maha Suci untuk dikenali sebagaimana tertera dalam hadits: “Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi dan Aku rindu untuk dikenal. Maka Kuciptakan makhluk-makhluk agar Aku dikenal oleh mereka.” Kita diciptakan oleh Tuhan karena Dia ingin ada yang mengenal. Dia dikenal juga melalui ciptaan-Nya. Bahkan agar kita bisa mengenal Dia lewat ciptaan-Nya, kita harus terlebih dahulu menghidupkan wujud yang merupakan tajalli, penampakan atau manifestasi-Nya di dalam diri kita, yaitu Sang Sukma Sejati atau Ruhul Qudus itu.

Sesama Jalan Cinta
Maka, bisa dipahami bahwa hubungan yang terjalin antara Tuhan dan manusia, antara pencipta dan yang tercipta, pada sosok seperti Ibnu Arabi dan mistikus yang segaris dengannya, justru terlihat sebagai hubungan antara yang merindu dan yang dirindu, yang mengasihi dan yang dikasihi. Tuhan rindu untuk dikenali maka terciptalah manusia, dan sebaliknya, manusia rindu mengenali Tuhan karena Tuhanlah asal muasal keberadaan-Nya.

Pada titik ini, penting untuk membedakan konsep Tuhan sebagai wujud yang pada dirinya sendiri tak bisa kita ketahui apa dan bagaimananya – tan kena kinira, tan kena kinaya ngapa, dan konsep Tuhan sebagai sesuatu yang bisa kita kenali sejauh keyakinan kita tentangnya. Para mistikus seperti Ibnu Arabi mengenal dan memahami Tuhan dalam wujudnya sebagai sosok sang kekasih, maka merekapun memposisikan diri mereka sebagai para kekasih Tuhan, sosok yang mengejar Tuhan dengan gairah cinta membara. Sampai pada titik tertentu, Ibnu Arabi menyaksikan manifestasi atau penampakanTuhan pada sosok gadis jelita, baik yang secara fisik ada dan bisa ia jumpai (dan kemudian menjadi sumber inspirasi baginya dalam menggubah bait-bait Tarjuman Al-Asywaq), maupun yang ia jumpai di alam al-mitsal, alam antara di mana raga merohani dan rohani meraga, yang ia masuki ketika berada dalam keadaan meditatif.

Ketika Cinta menjadi energi utama yang mendorong manusia mengejar Tuhannya, dan lebih dari itu, ia yang menjadi aura utama ketika sesosok manusia bisa bertemu dengan Tuhannya, kita melihat satu dampak positif: energi itu pulalah yang mewarnai hubungan antara seorang mistikus seperti Ibnu Arabi dengan sosok manusia lainnya. Jiwa yang lembut, cinta yang hangat, tak hanya diperuntukkan kepada Tuhan, tetapi juga kepada manusia lainnya. Maka, agama para mistikus itupun menjadi agama cinta: agama yang spirit utamanya adalah kewelasasihan kepada sesama, sebagai bukti limpahan cinta kepada dan dari Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang!

Selaras dengan itu adalah apa yang bisa kita jumpai pada tradisi spiritual Jawa. Karena disadari bahwa Tuhan pada dirinya sendiri memang tak bisa kita pahami, yang menjadi lebih penting adalah bagaimana persangkaan kita terhadap Tuhan itu sendiri. Tuhan akan hadir seperti persangkaan kita. Dalam rangka hamemayu hayuning bawono, dalam rangka menciptakan kehidupan yang penuh kesentausaan, kehidupan yang rahayu – penuh keselamatan, maka para empu, para orang bijak di tanah Jawa, cenderung membuat prasangka bahwa Tuhan itu serba welas asih. Maka, dengan bercermin pada Tuhan yang welas asih itu pulalah, mereka memilih untuk menebarkan kewelasasihan kepada sesama. Maka, spiritualitas di Tanah Jawapun pada akhirnya, adalah spiritualitas penuh cinta!

Cinta tertinggi dan tertulus, ternyata, hanya bisa ditunjukkan oleh mereka yang telah menggapai puncak perjalanan ruhani. Yaitu mereka yang telah mencapai tingkatan sembah rasa, mereka yang di hatinya telah bersinar pengetahuan akan kesejatian hidup, mereka yang bisa menyaksikan Tuhan dalam segenap wujud di alam semesta!

Terakhir, perlu disampaikan peringatan yang tertera di dalam Serat Wedhatama: “Rasakana kang tuwajuh. Aja kongsi kabesthoran. Karana yen kabanjur, kajantaka tumekang saumur, tanpa tuwas yen tiwasa ing dumadi, dadi wong ina tan weruh, dheweke den anggep dayoh”. Pikirkanlah berbagai hal di atas dengan sungguh2, jangan sampai terlanjur! Jatah kehidupan habis, tanpa sempat memahami apa makna hidup itu sendiri. Jika demikian yang terjadi, sungguh rugi saat kematian menjelang: kita tetap menjadi tamu dan malah terasing di tempat yang sesungguhnya merupakan rumah abadi kita.

0 komentar: