Rabu, 11 Agustus 2010

MOMEN TITIK BALIK (3)

Pelajaran Penting tentang Menaklukkan Kesulitan Hidup
Uang di kantong tersisa Rp 3.500 rupiah. Jarak Selo ke rumah Paklikku di Kota Magelang sekitar 45 kilo. Jika naik kendaraan uang yang tersisa itu jelas tak cukup. Apa yang harus kulakukan supaya sampai ke sana? Tak kutemukan jawaban, tapi ada dorongan dari dalam hati agar aku terus berjalan. Setelah berjalan beberapa lama, kulihat ada mobil pickup yang melintas. Di baknya ada beberapa ibu yang membawa bakul, mungkin mau ke pasar, atau ke sawah. Kuacungkan tanda ingin menumpang. Syukurlah pickup itu berhenti. Lumayan, aku bisa melanjutkan perjalanan tanpa perlu bersusah payah, sembari melihat keindahan yang terhampar di kanan kiri. Hatiku sumringah, menikmati momen kehidupan yang demikian menakjubkan.

Tapi, tak lama kemudian aku kembali harus berjuang keras menaklukkan tantangan. Mobil itu tak terus ke Kota Magelang, aku harus turun di satu tempat yang jaraknya masih sekitar 25 km dari Kota Magelang. Aku turun, mengucapkan terima kasih sembari memberikan semua uang yang ada di kantong kepada pemilik mobil pickup itu, seorang lelaki berusia sekitar 50-an tahun dan berpeci putih. Lalu akupun berpikir keras, bagaimana aku bisa sampai ke Kota Magelang.

Kucoba untuk mencari tumpangan, seperti tumpangan yang kudapatkan di Selo. Namun kali ini tak ada yang mau berhenti. Setelah berkali-kali usaha mencari tumpangan tak kunjung berhasil, aku bertanya kepada kedalaman jiwaku, apa maksud semua ini? Apakah Tuhan memang ingin aku berjalan kaki saja karena Dia akan memberiku pelajaran lewat itu? Aku dapatkan ilham untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Jadi kuhentikan usaha mencari tumpangan, dan kuniatkan berjalan kaki sampai Kota Magelang. Toh 25 km bukan jarak yang terlalu jauh.

Maka perjalananpun kumulai. Langkah demi langkah kuayunkan. Desa demi desa kulintasi. Lama-lama, badan ini letih juga. Ternyata, untuk orang yang tak terbiasa, berjalan sejauh 25 km itu bukan hal yang mudah. Sungguh berat. Badanku tak hanya letih, tapi juga mulai merasakan nyeri. Tapi, justru pada situasi inilah pelajaran-pelajaran berharga itu kudapatkan. Aku mendapatkan pelatihan yang sangat nyata tentang bagaimana bisa menaklukkan kesulitan dan penderitaan, bahkan menikmati hidup di kala sulit dan penuh derita. Kunci untuk melampaui kesulitan dan penderitaan yang menghadang di tengah perjalanan hidup kita adalah tumbuhnya spirit pantang menyerah, dan berseminya keyakinan bahwa kita pasti sampai ke tujuan. Ya, bahkan aku belajar untuk bisa menikmati rasa sakit, penderitaan, yang niscaya kita jumpai dalam perjalanan kehidupan. Muncul kesadaran bahwa sebetulnya peristiwa-peristiwa di mana kita menderita, adalah momen-momen penting untuk memoles jiwa agar menjadi kian bening.

Aku memang sempat hampir menyerah, karena rasanya badan ini sudah sulit sekali untuk digerakkan. Tapi, kulakukan semua cara untuk membuat badanku terus bisa bergerak dan kakiku bisa terus melangkah. Berzikir, menyemangati diri, dan sesekali mengaso. Kuyakinkan pada diri sendiri bahwa aku pasti bisa sampai ke rumah, aku pasti kuat! Dan aku memang kuat. Apalagi, memasuki Kota Magelang, hujan turun mengguyur. Itu jelas menambah kekuatan karena dengan berhujan-hujanan tubuhku menjadi segar kembali. Dan akhirnya, aku memang sampai ke rumah Paklikku di Kampung Pongangan, Kelurahan Gelangan, Kota Magelang.

Rupanya, setelah kurenungkan pada saat ini, peristiwa berjalan kaki sejauh 25 km itu, adalah sebuah pelatihan penting untuk menanamkan pola pantang menyerah pada diriku, menyempurnakan pelatihan yang telah kujalani sepanjang hidupku sebelumnya. Kini, jika kesulitan datang menghadang, aku selalu bisa mengatakan pada diriku sendiri, bahwa aku pasti bisa mengatasinya. Lebih dari itu, rupanya pola pantang menyerah itu memang telah mendarah daging. Sehingga tanpa banyak dipikirpun, aku selalu siap menghadapi kesulitan seperti apapun. Alam bawah sadarku seolah menegaskan, sebagaimana kesulitan bisa ditaklukkan pada masa lalu, demikian pula pada masa kini.

Tidak ada komentar: