Rabu, 08 September 2010

KEJAWEN SELAYANG PANDANG (1)

Saya harus mengakui bahwa hingga bulan April 2008, saya ini benar-benar masuk kategori wong kajawan,wong jowo kang ilang jawane (sosok yang tercerabut dari akar budayanya,orang Jawa yang justru kehilangan kejawaannya). Banyak faktor yang membuat ini terjadi.Secara internal, jelas hal ini disebabkan karena ada semacamketerputusan proses pewarisan nilai-nilai budaya dari generasi terdahulu. Ayah saya ditinggalkan oleh ayahnya, yaitukakek saya, ketika masih kanak-kanak. Kakek saya yang seorang masinis, meninggal saat berusia relatifmuda. Seterusnya, ayah saya bersamasaudara-saudaranya diasuh oleh nenek, dalam suasana penuh keprihatinan: hidupmenjadi momen yang demikian sulit, sehingga yang kemudian jadi hal palingpenting adalah bagaimana bisa bertahan hidup.Saya memaklumi, karena kehidupan yang demikian sulit dan tanpa bimbinganseorang ayah itu, proses pewarisan nilai-nilai budaya Jawa kepada ayah sayamenjadi tidak optimal, dan dampaknya, ayah saya juga tidak sukses menjadikandiri saya sebagai pewaris nilai-nilai budaya Jawa. Dari sisi eksternal, sejak kecil saya dididiksebagai Muslim: yang masuk ke memori dan alam bawah sadar saya melaluipengajaran para ustadz dan guru agama adalah konsep bahwa Islam, dalambentuknya sebagai ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad, adalah jalankeselamatan satu-satunya. Dan sayaingat, bahwa Islam yang banyak saya terima adalah Islam yang memilikipendekatan cenderung pada purifikasi (pemurnian): tradisi lokal adalah sesuatuyang tidak mendapatkan tempat. AjaranKejawen, menjadi sesuatu harus dianggap asing dan dijauhi, karena dianggapbukan berasal dari Allah. Ya, saya yangorang Jawa, dididik untuk meyakini berbagai ajaran leluhur saya sendiri sebagaikemusyrikan yang bisa membawa saya pada neraka jahanam!



Belakangan, setelah saya berkenalan dengan duniaintelektual Kejawen, saya tahu bahwa kehidupan beragama telah menjadi salahsatu ajang hegemoni satu kelompok terhadap kelompok lainnya. Dalam hal ini, kelompok Islam yang mendekatiagamanya itu dari sisi eksoterisnya, sekaligus menempatkannya sebagai mediumuntuk meneguhkan kekuasaan politik, telah sedemikian rupa menempatkan ajaranKejawen sebagai sesuatu yang nista.Citra buruk coba disematkan kepada Ajaran Kejawen: berbagai perilakuyang menyimpang dari kaidah ajaran Kejawen justru dinyatakan sebagai buktikesesatan Ajaran Kejawen. Hal ini,melengkapi apa yang terjadi pada masa lalu, khususnya ketika Kesultanan Demakmenggantikan Majapahit: dalam Serat Darmagandul dikisahkan, bagaimanabalatentara Demak dibawah pimpinan Raden Patah, menyerbu ibukota Majapahit,membuat Prabu Brawijaya tersingkir, melumpuhkan pasukan Majapahit yang tersisadi ibukota, membumihanguskan bangunan-bangunan penting di ibu kota, sekaligusmemusnahkan naskah-naskah kuno yang tak hanya berisi ajaran Hindu Budha, tetapijuga memuat kearifan lokal.



Mari kita perhatikan, hingga saat ini, di kalanganmasyarakat luas telah terjadi kesalahpahaman sedemikian rupa terhadap berbagaikonsep dalam Ajaran Kejawen. Dan ini,tentu tak terjadi begitu saja, melainkan disebabkan oleh strategi perusakanbudaya yang sistematis. Istilah-istilahKejawen seperti kejawen itu sendiri, mistik, tahayul, dan semacamnya, dibuatmengalami degradasi makna sehingga terlihat menyeramkan. Padahal, jika kita merujuk pada makna aslidari konsep-konsep tersebut, yang kita temukan adalah konsep yang adiluhung:sesuatu yang luhur! Guru saya, KangSabdalangit, memaparkan berbagai konsep Kejawen yang selama ini seringdisalahpahami. Pertama, klenik. Klenik,makna awalnya adalah pemahaman terhadap suatu kejadian yang dihubungkan denganhukum sebab akibat yang berkaitan dengan kekuatan gaib (metafisik) yang tidaklain bersumber dari Dzat tertinggi yakni Tuhan Yang Maha Suci. Di dalam agamamanapun unsur "klenik" ini selalu ada. Kedua,mistis, Ini semestinya dipahami sebagairuang atau wilayah gaib yang dapat dirambah dan dipahami manusia, sebagaiupayanya untuk memahami Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam agama Islam ruang mistikuntuk memahami sejatinya Tuhan dikenal dengan istilah tasawuf. Ketiga,tahyul, Sejatinya ia adalah kepercayaanakan hal-hal yang gaib yang berhubungan dengan makhluk gaib ciptan Tuhan.Manusia Jawa sangat mempercayai adanyakekuatan gaib yang dipahaminya sebagai wujud dari kebesaran Tuhan Sang MahaPencipta. Kepercayaan kepada yang gaibini juga terdapat di dalam rukun Islam. Keempat, tradisi. Dalam tradisi Jawa, seseorang dapatmewujudkan doa dalam bentuk lambang atau simbol. Lambang dan simbol dilengkapidengan sarana ubo rampe sebagai pelengkap kesempurnaan dalam berdoa. Lambangdan simbol juga mengartikan secara kias bahasa alam yang dipercaya manusia Jawasebagai bentuk isyarat akan kehendak Tuhan. Manusia Jawa akan merasa lebihdekat dengan Tuhan jika doanya tidak sekedar diucapkan di mulut saja (NATO: notaction talk only), melainkan dengan diwujudkan dalam bentuk tumpeng, sesaji dsbsebagi simbol kemanunggalan tekad bulat. Maka manusia Jawa dalam berdoamelibatkan empat unsur tekad bulat yakni hati, fikiran, ucapan, dan tindakan.Upacara-upacara tradisional sebagai bentuk kepedulian pada lingkungannya, baikkepada lingkungan masyarakat manusia maupun masyarakat gaib yang hidupberdampingan, agar selaras dan harmonis dalam manembah kapada Tuhan. Bagimanusia Jawa, setiap rasa syukur dan doa harus diwujudkan dalam bentuk tindakanriil (ihtiyar) sebagai bentuk ketabahan dan kebulatan tekad yang diyakini dapatmembuat doa terkabul. Kelima,Kejawen. Pada dasarnya, ia adalah ajaranyang berisi kaidah moral dan budi pekerti luhur, serta memuat tata cara manusiadalam melakukan penyembahan tertinggi kepada Tuhan Yang Maha Tunggal.



Demikianlah, perlahan namun pasti, setelah Majapahitruntuh pada abad 15 oleh serbuan anaknya sendiri, dengan cara serampangan dansubyektif, jauh dari kearifan dan budi pekerti yg luhur, Ajaran Kejawendicitrakan khususnya oleh para pemuka agama Islam yang berorientasi padapemurnian, sebagai biangnya kemusyrikan, kesesatan, kebobrokan moral, dankekafiran, karena itu layak dimusnahkan. Ironisnya, manusia Jawa yang sudah"kejawan" ilang jawane, justru ikut andil besar dalam upaya cultural assasination ini. Mereka lupabahwa nilai budaya asli nenek moyang mereka itulah yang pernah membawa buminusantara ini menggapai masa kejayaannya, baik di era Majapahit, Pajajaran,Sriwijaya, bahkan Kutai.



Lalu, bagaimana sebetulnya Ajaran Kejawen yang kini sayapahami dan hayati? Saya inginmenjawabnya secara lugas: bagi saya, Ajaran Kejawen itu adalah sebuah jalanmistik, sebuah formula untuk mencapai pencerahan ruhani. Jalan dan formula itu telah dikreasi olehpara leluhur yang sangat cerdas karena telah mengenal jatidiri – telah bertemudengan Guru Sejati di dalam diri - sekaligus tajam dalam membaca bahasaalam. Ajaran Kejawen dalam benak sayaadalah ajaran yang membawa saya pada titik tertinggi kesadaran kemanusiaan,yang salah satu pertandanya adalah lenyapnya persepsi akan perbedaan berbagaiciptaan, semua keberadaan terhayati sebagai sesuatu yang satu, manunggal,sebagai sesama cermin dari Yang Maha Tunggal, Gusti Allah ingkang akaryo jagad.



Ajaran Kejawen, dengan demikian, sesungguhnya mengajakkepada setiap orang menghunjam masuk ke intisari ajaran berbagai agama. Bagi seorang Muslim seperti saya, AjaranKejawen telah mengantar saya untuk menyelami tataran hakikat, sesuatu yangsebetulnya juga ditawarkan oleh para sufi, para mistikus besar dalam tradisiIslam. Ajaran Kejawen, dengan demikian,bagi saya pribadi telah berperan menumbuhsuburkan benih-benih kesadaran akankebenaran Perenialisme yang dirintis oleh para mistikus besar seperti IbnuArabi, Jalaluddin Rumi, Fariduddin Atthar, dan lainnya termasuk Syed HosseinNasr yang menjadi salah satu promotor utama konsep ini pada era modern. Menurut Perenialisme, agama-agama sebetulnyamemiliki ruh yang sama, bersumber pada Dzat yang sama. Di balik bentuk(syariat) agama yang berbeda-beda itu sebetulnya ada hal yang mempersatukannya:itulah spiritualitas, mistisisme, atau sisi esoteris agama-agama. Mereka yang sudah menghayati hal ini,pastilah akan bersikap terbuka, toleran, penuh kasih sayang kepada sesamatermasuk yang berbeda agama.



Lalu mengapa saya tidak mencukupkan diri dengan ajaranpara mistikus besar dalam tradisi Islam dan harus menengok pada Kejawen? Sederhana saja, ini persoalan berbakti padaleluhur: leluhur saya adalah Orang Jawa bukan Orang Persia, India ataupunArab. Saya membutuhkan sebuah tindakankongkrit yang membuat saya masuk kategori anak yang berbakti kepada orang tua,kepada para leluhur, sekaligus membuat saya bisa hidup harmoni dengan alamsemesta, khususnya dengan Ibu Pertiwi!Itu hanya bisa diraih dengan kembali pada ajaran leluhur saya, yaituAjaran Kejawen.

Lebih jauh, bagi saya, Ajaran Kejawen secara teoritismaupun praktis memberikan landasan konseptual yang teramat kaya untuk sikapberagama yang terbuka dan toleran. Paraleluhur di Tanah Jawa khususnya maupun Nusantara pada umumnya, telahmenunjukkan sikap terbuka kepada berbagai ajaran agama baru yang sebetulnyaasing dan berasal dari luar, tapi saat yang sama, mereka bisa mensintesiskannyadengan ajaran lokal. Para leluhur itujuga tidak terpaku pada bentuk, melainkan lebih mementingkan isi!

Bagaimana Ajaran Kejawen bisa mengantarkan seseorang padasikap terbuka dan inklusif sebagaimana dihayati oleh para mistikus besar dariberbagai agama termasuk Islam?Sebagaimana dijelaskan di awal, bahwa muatan utama Ajaran Kejawen adalahmistisisme, dan makna mistisisme dalam Ajaran Kejawen adalah laku spiritualberdasarkan pandangan hidup atau falsafah hidup Jawa. Atau disebut jawaisme(javanism). Lebih jelasnya, yang paling utama dalam laku spiritual Jawa, adalahperilaku yang didasari oleh cinta kasih dan pengalaman nyata. Maka, bagisiapapun yang mengaku menghayati falsafah hidup Jawa namun perangainya masihmudah terbawa api emosi, angkara murka, reaksioner, sektarian, danprimordialisme, kiranya belum memahami secara baik apa itu nilai-nilai dalamfalsafah hidup Kejawen. Mistik kejawen merupakan bagian dari ribuan mistik yangada di bumi ini. Setiap masyarakat, bangsa dan budaya biasanya memilikinilai-nilai tradisi mistik yang dipegang teguh sebagai pedoman hidup.


Sekalilagi perlu ditegaskan, bahwa mistisisme memang lebih fleksibel ketimbangagama-agama eksoteris (dalam konteks Islam, itu artinya Islam yangFiqh-Oriented). Sebab mistisisme tidakmempersoalkan apa latar belakang ajaran, agama, budaya orang yang inginmenghayati. Dalam tradisi mistik yang sesungguhnya, keberagaman "kulit" akandikupas, lalu diambil sisi maknawiahnya yang bersifat hakekat atau esensial.Orang Jawa, Hindu, Kristen dan Budha, bisa saja mempelajari ilmu tasawuf.Demikian pula sebaliknya, umat Islam juga bisa mempelajari falsafah hidupJawa.

2 komentar:

lin mengatakan...

saya bahagia membaca pengakuan anda, bahwa leluhur2 adalah darah yang mengalir dijiwa kita, kita nggak bisa melihat tapi kita bisa rasa itu adalah warisannya, yang Freud bilang " The unsaid heretic's".
SEMAR sabda Eling, aja dumeh lan waspada.
Mudah2an banyak lagi orang jawa yang bangun dan INGAT.

jack mengatakan...

boleh saya minta info guru yg sudah waskito saya ingin belajar hub saya mas bro 082327361221