Rabu, 08 September 2010

SELAYANG PANDANG KEJAWEN (2)

Muara dari perjalanan spiritual para penghayat AjaranKejawen, tidak lain untuk kebahagiaan hakiki - sebuah kehidupan yang mulia,melalui proses manunggaling kawulakalawan Gusti, atau tumbuhnya kesadaran akan sifat roroning atunggil (dwi tunggal) di dalam diri, yang ditunukkan olehkonsep Aku ing sajroning Ingsun, Ingsuning sajroning Aku. Ajaran Kejawenmembimbing para penghayatnya untuk memasuki kondisi hening, sehingga bisabertemu dengan alam sunya ruri. Mereka yang telah mencapai titik ini, akanmendapatkan ketenangan batin sekalipun menghadapai situasi dan kondisi yangsangat gawat. Karena antara manusia sebagai mahluk dengan Tuhan sebagai SangPencipta terjadi titik temu yang harmonis. Batin manusia selalu tersambungdengan getaran energi Tuhan: kehendak Tuhan menjadi dasar atas segala tindakanyang dilakukannya. Atau disitilahkan sebagai sesotya manjing embanan, ing batin amengku lair. Sesotya adalahungkapan yang mengandaikan Tuhan bagaikan permata yang indah tiada taranya."Permata" yang menyatu ke dalam embanan. Embanan sebagai ungkapan dari jasadmanusia. Penghayat Kejawen yang sejati,adalah sosok ideal sebagaimana dilukiskan dalam The Book of Mirdad karya Mikhail Naimy, pujangga keturunan Lebanon sahabat Kahlil Gibran: Ia yang berpikir, berbicara, bertindak, bersikap, danberkehendak selaras dengan Kebenaran (karena Kebenaran, Tuhan, telah bersemayamdi dalam dirinya!).



Untuk mencapai kondisi di atas, penghayat Ajaran Kejawenperlu menumbuhkan kesadaran hakiki lapis demi lapis, melalui kegiatan semedidan rangkaian laku prihatin. Semediadalah meditasi ala Jawa: seseorang menarik diri dari kesibukan raga danpikiran, berkonsentrasi pada helaan nafas, dan perlahan-lahan memasuki alamhening. Pada titik tertentu, pelakusemedi diharapkan bisa bertemu dengan Sukma Sejati atau Guru Sejati, cerminkeberadaan Gusti Allah di dalam diri.Lebih jauh lagi, pelaku semedi juga diharapkan bisa mengalamipersentuhan dengan Kekosongan Sejati (alam sunyaruri). Melalui semedi, mata batin kita menjaditerasah. Cakrawala pandang kita, duniayang kita sentuh, akan melampaui apa yang selama ini begitu terbatas karenasekadar mengandalkan pencerapan oleh panca indera. Sementara itu, laku prihatin adalah pelengkapdari kegiatan semedi: di sini, berbagai kegiatan pengendalian hawa nafsusekaligus ekspresi kewelasasihan kepada sesama dalam rangka hamemayu hayuningbawono dikondisikan menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup seorang penghayatAjaran Kejawen. Melalui peningkatanintensitas dan kualitas semedi maupun laku prihatin, diasumsikan seorang pelakuAjaran Kejawen bisa makin dekat dengan jatidirinya, makin tak berjarak denganGusti Allah (Allah ingkang papanipun ing bagusing ati), yang pada titikidealnya disebut dengan keadaan manunggaling kawulo kalawan gusti.



Seorang penghayat Ajaran Kejawen yang konsisten, akanmengalami peningkatan kesadaran secara terus menerus, dari kesadaran ragawi,kesadaran rasional, hingga kesadaran sukma dan rasa sejati. Makin lama, doktrin yang beku, rumusankebenaran yang bersifat eksternal yang dikondisikan atau dijejalkan dari luar,makin ditinggalkan, seiring dengan meningkatnya kesadaran bahwa sumberkebenaran itu sebenarnya ada di dalam diri.Saat yang sama, keselarasan dengan alam semesta makin meningkat: diriini makin terasah untuk membaca tanda-tanda alam, alam telah menjadi buku suciyang menginformasikan keagungan Sang Pencipta sekaligus hukum-hukum-Nya yang kekal.



1 komentar:

Toko Aquatic mengatakan...

Terimakasih infonya. Jangan lupa kunjungi kami juga ya !! https://bit.ly/2MnNWVl