Rabu, 20 Oktober 2010

KEBIJAKSANAAN DARI SOSOK BERSAHAJA

Sekali lagi, saya berkunjung ke rumah bersahaja ini. Sofanya bukan sofa mahal. Lantainya semen bolong di sana-sini. Sudah kurang lebih 2 tahun ini, saya menjadikan rumah bersahaja ini sebagai tempat kulakan ilmu dan kebijaksanaan. Rumah ini memang bersahaja, sama bersahajanya dengan sang pemilik rumah, yang saat itu hanya memakai sarung..tidak menggunakan baju...Soal ini, sang pemilik rumah punya alasan: "Saya ini bukan pegawai, bukan pejabat, saya ingin tampil jujur, apa adanya...." Dia menambahkan, "Tapi jika ada tamu yang keberatan, dan ingin bertemu baju saya, ya saya ambilkan baju saya yang paling bagus, lalu saya persilakan dia bercakap2 dengan baju itu..saya mau tidur aja.." He, he, he.....siap guruku yang bijak..saya ingin bertemu dan berdialog denganmu, bukan dengan bajumu.....



Dari guru yang satu ini, saya mendapatkan tafsir yang sangat inklusif mengenai ayat Inna diena indallahil Islam. Menurut beliau, ayat ini artinya: Agama yang diridhoi di sisi Allah adalah agama yang selamat dan membawa keselamatan. Apapun nama agama, atau ajaran, yang hingga detik ini masih selamat dan membawa keselamatan, itu agama yang diridhoi di sisi Allah. Faktanya, hingga detik ini, agama Hindu, Budha, Kristen, dan bermacam2 agama lainnya, masih ada, masih eksis, dihayati dan diimani oleh pengikut masing2..berarti semua agama itu selamat. Saat yang sama, faktanya banyak pemeluk agama terselamatkan hidupnya, batinnya, oleh agama2 tersebut. Maka, bisa disimpulkan bahwa agama2 itu diridhoi Allah, sama halnya dengan agama yang diajarkan Muhammad Rasulullah. Kalau tidak diridhoi Allah, pastilah agama2 itu telah punah, ditinggalkan pemeluknya...



Di waktu lain, beliau sangat menekankan pentingnya orang belajar tarikat, makrifat dan hakikat, tak hanya belajar syariat. Kalau orang hanya belajar syariat, hasilnya pasti keblinger. Contoh, orang yang belajar shalat dari sisi syariat saja...tanpa belajar hakikatnya, setidaknya orang itu malah jadi rewel...terutama rewel sama yang tidak shalat. Lebih parah lagi, orang itu malah jadi sombong, merasa lebih hebat dan suci dari orang yang tidak shalat seperti dirinya...



Saat bulan puasa, guru saya ini mengkritik spanduk yang menyuruh orang2 agar menghormati yang berpuasa. Kata beliau, "Kalau orang yang tidak puasa itu ya rata2 pasti menghormati yang puasa. Mestinya orang yang puasa yang disuruh menghormati yang tidak puasa..karena faknya memang banyak orang berpuasa yang tidak menghormati orang yang tidak puasa..."



Dalam perjumpaan terakhir, minggu kemarin, beliau mengatakan, menyangkut rukun islam, "Idealnya memang kita praktekkan semuanya. Tapi, sebetulnya, bisa mempraktekkan salah satu rukun Islam saja sudah bagus..asal bener.." Jika seseorang bisa mempraktekkan shalat saja, atau puasa saja, sebagai salah satu rukun islam, itu sudah lebih dari cukup...Tapi, apa maksudnya? Apakah itu gampang dilakukan?

Ternyata, yang dimaksud guru saya itu, kalaupun mempraktekkan shalat, itu bukan sekadar jungkal2 sambil baca doa..tapi betul2 membuktikan shalat sebagai miftahul jannah...Shalat berarti mempraktekkan sebuah sikap hidup yang menghadirkan surga, khususnya di muka bumi terlebih dahulu..dan tanda orang yang memang telah mempraktekkan shalat adalah hidupnya selalu memancarkan kedamaian, ketenangan, dan keselamatan. Mempraktekkan shalat, artinya juga membuat diri terhindar dari sikap keji dan mungkar...tidak berlaku keji dan mungkar dalam kehidupan nyata, adalah shalat yang sesungguhnya. Jika orang shalat di masjid, bahkan jadi imamnya, tapi dia dengki pada tetangganya, maka dia itu belum shalat. Jika seorang pemimpin tampak rajin shalat di masjid, tapi dia lalai dan tidak menjalankan tugasnya dengan baik dalam melayani rakyatnya, maka dia belum shalat...


He, he, he, ternyata....mempraktekkan satu saja rukun Islam, susahnya bukan main.

Tidak ada komentar: