Senin, 27 Desember 2010

OLEH-OLEH NAPAK TILAS: MENYONGSONG JAMAN BARU NUSANTARA (I)

KISAH NAPAK TILAS

Di penghujung minggu pertama November 2010, terasa kuat sekali perintah dari dalam diri, untuk menapaktilasi jejak sejarah Panembahan Senopati, pendiri Kesultanan Mataram. Ada beberapa pertanyaan menggelitik yang membutuhkan jawaban, dan rasanya jawaban itu baru muncul setelah proses napak tilas itu dilakukan. Ngelmu itu kelakoni kanthi laku, demikian KGPAA Mangkunegoro IV mengingatkan dalam Serat Wedhatama. Salah satu tafsir dari ujaran itu adalah bahwa untuk mendapatkan pengetahuan yang kita butuhkan, kita memang harus memancing kemunculannya lewat sebuah laku, lewat sebuah perbuatan nyata yang menunjukkan kesediaan berkorban dan berjuang. Tak cukup ilmu itu diraih hanya dengan membaca buku, atau sekadar merenung di rumah yang nyaman.



Sesuatu yang berharga, memang harus diraih melalui perjuangan keras, yang melibatkan sikap sabar, tekun dan pantang menyerah. Itulah pelajaran berharga yang lagi-lagi saya peroleh dalam pengembaraan kali ini. Perjuangan itu sudah dimulai di kereta api. Perjalanan menggunakan Senja Utama dari Jakarta ke Yogyakarta yang biasanya hanya memakan waktu 8 jam, ternyata menjadi tak kurang dari 26 jam. Karena ada kereta terguling di Telagasari Indramayu, kereta yang saya tumpangi dan berangkat dari Stasiun Senen pukul 20.00 baru bisa sampai Cirebon pukul 17.00 keesokan harinya. Baru setelah melewati Stasiun Kejaksan Cirebon, perjalanan mulai lancar lancar.



Terpenjara di kereta api selama berjam-jam, jelas memberikan pelajaran tersendiri tentang makna sabar. Untunglah, sebelumnya saya sempat membeli satu set novel lawas berjudul Senopati Pamungkas karya Arswendo Atmowiloto, yang total terdiri dari 25 seri. Di dalam kereta, sampai kemudian tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta, saya bisa melahap 12 seri. Lumayan, karena dari novel itu saya banyak mendapatkan pelajaran penting, yang nanti akan saya urai dalam tulisan ini.



Ternyata, dari molornya waktu perjalanan kereta api itu, ada hikmah lain selain kesempatan untuk belajar makna sabar dan membaca sebuah novel lawas tanpa gangguan. Kedatangan saya ke rumah Kang Sabdalangit di Plengkung Wijilan, ternyata bersamaan dengan berkumpulnya teman-teman dari Kampus Wong Alus yang sedang mempersiapkan distribusi bantuan kepada para pengungsi Merapi. Jadi, tanpa direncanakan, saya jadi terlibat dalam aksi sosial yang dimulai malam itu dan dilanjutkan keesokan harinya. Ini yang namanya blessing in disguess, berkah tersembunyi. Benarlah kata para sesepuh, bahwa kalaupun kita sedang mendapatkan kesulitan, jangan nggresula (mengeluh), karena siapa tahu ada ada anugerah yang menanti.



Dan selama terlibat dalam aksi sosial bersama teman-teman dari Kampus Wong Alus itu, saya lagi-lagi banyak mendapatkan wawasan baru. Pada sessi pertama pembagian bantuan, saya ada satu mobil bersama Kang Sabdalangit, istrinya Nyi Utari dan sobat asal Jombang, Mas Azizi. Salah satu pengalaman berharga itu adalah ketika mendekati Jogja Expo Centre yang menjadi salah satu tempat penampungan pengungsi, tiba-tiba di dalam mobil yang tertutup dan ber-AC, tercium bau udang goreng. Sementara jelas bau dari luar semestinya tak bisa tercium, terlebih tak ada pabrik udang goreng di sekitar itu. Ternyata, bau udang goreng ini adalah sebuah pertanda – sebagaimana disampaikan Kang Sabdalangit dan Nyi Utari, itu adalah pertanda Merapi sedang punya hajatan besar. Ini yang menjadi salah satu dasar pentingnya masyarakat di sekitar Merapi tetap waspada. Meredanya aksi Merapi saat ini, bukan berarti Merapi sudah akan berhenti total. Tapi itu sekadar sebuah jeda, yang dipakai Merapi untuk mengumpulkan kekuatan. Pada waktunya, dalam jangka waktu dekat ini, hajatan Merapi berupa erupsi yang dahsyat sangat mungkin terjadi. Terlebih, fenomena Merapi ini memang bukan sekadar fenomena alam, tapi ini memang sebuah momen di mana berbagai pihak baik yang kasat mata maupun tak kasat mata sedang beraksi. Sungguh akan terkecoh mereka yang melihat Merapi hanya sebagai sebuah gunung, dan menyangka letusan merapi itu hanya semata-mata gejala vulkanik.



Pada sessi kedua distribusi bantuan, saya berada dalam satu kendaraan hanya dengan Kang Sabdalangit. Karena Nyi Utari punya agenda lain dan tak bisa ikut, sementara Mas Azizi mengendarai kendaraan pengangkut barang bantuan yang lain. Selama perjalanan inilah, diskusi yang hangat dan meluaskan pengetahuan saya terjadi. Saya harus akui, bahwa saya sungguh bersyukur bisa mendapatkan banyak ilmu dari Kang Sabdalangit yang jauh lebih waskitho. Beberapa topik yang kami sempat kami diskusikan antara lain menyangkut rahasia Gunung Tidar, skenario leluhur untuk Nusantara di masa depan, dan sikap-sikap yang sepatutnya menempel di kalangan generasi muda. Hasil diskusi ini, termasuk yang akan saya uraikan dalam tulisan ini.



Rombongan distribusi bantuan ini selesai melaksanakan tugas sore hari, dan berkumpul kembali di rumah Ki Sabdalangit sekitar pukul 18.30. Setelah sempat berbincang-bincang dengan dengan para sahabat dari Kampus Wong Alus, antara lain Mas Bengawan Candhu, Mas Agus, Mas Wawan, Mas Andra, Mas Akik dan Mas Prabowo, pukul 20.00 saya dan Mas Azizi, pamitan untuk memulai prosesi napak tilas, diawali di Pesarean Kota Gedhe. Malam itu, saya lagi-lagi merasa mendapatkan keberuntungan, karena Mas Wawan dan Mas Andra ternyata menawarkan diri untuk mengantarkan saya dan Mas Azizi ke Kota Gedhe. Siapa nolak? He, he.......



Proses napaktilas Panembahan Senopati di Pesarean Kota Gedhe, dilaksanakan dengan prosesi menghaturkan sesaji kembang setaman dan ucapan pertanda bakti dari saya sebagai salah satu keturunannya. Setelah itu, dilanjutkan dengan semedhi untuk menyatukan rasa, dengan Panembahan Senopati dan para leluhur lainnya yang ada di pesarean tersebut, seperti Sultan Hadiwijaya, Sultan Sepuh Hamengkubuwono II, Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Mangir, dan lainnya. Menjelang tengah malam, semedi sesi bertama harus saya akhiri karena Mas Azizi harus segera ke Surabaya. Setelah sejenak ngobrol sambil ngewedang di salah satu warung, saya dan Mas Azizi akhirnya berpisah. Mas Azizi ke Surabaya, sementara saya melanjutkan semedi di Pesarean Kota Gedhe.



Saya membuka mata, menghentikan proses semedi, dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 01.30. Saya merasa benar-benar sangat mengantuk dan lelah. Karena itu, saya putuskan untuk beristirahat sejenak. Yah, lumayan, ngglosor di salah satu petak ubin yang masih kosong dengan kepala berbantalkan gulungan jaket – saat itu, malam Jum’at Pon, cukup banyak juga orang yang berziarah, dari berbagai lapisan masyarakat, dengan berbagai niat. Sekitar pukul 03.00 saya terbangun, dengan badan yang cukup segar, rasa kantuk telah hilang. Saya putuskan untuk melanjutkan semedi, hingga pagi.

Pukul 05.00, saya mulai beranjak meninggalkan Kota Gede, mampir di warung angkringan sebentar, lalu menuju Parangtritis. Pilihan ke Parangtritis ini juga muncul dari rasa di hati, saya merasa ingin sekali ke situ, untuk sowan kepada Kanjeng Ratu Kidul. Saya tiba di Parangtritis sekitar pukul 07.00. Matahari sudah mulai memanasi tepian Samudera Hindia itu, yang dalam khazanah orang Jawa lebih dikenal sebagai Laut Selatan. Saya lalu melaksanakan prosesi melarung kembang setaman, sebagai simbol bakti dan hormat kepada Kanjeng Ratu Kidul sebagai pengayom Nusantara. Setelah itu, saya memilih salah satu tempat yang cukup nyaman, di sisi sebuah batu karang, untuk bersemedi. Semula saya semedi dengan posisi duduk, lama-lama mengantuk di sentuh angin pantai, sehingga saya ganti posisi menjadi berbaring. Sungguh nikmat tiduran di tepi pantai, beralaskan pasir yang halus, sambil sebisa mungkin memfokuskan pikiran pada aliran nafas.



Sekitar pukul 10.00, saya merasa tiba waktunya untuk menghentikan semedi, lalu mencari warung yang banyak bertebaran di Parangtritis, menikmati sarapan. Mohon maklum...saya memang agak beda dengan para ahli tirakat yang suka tidak makan dan tidak minum ketika lelakon. He, he.....saya memilih untuk lelakon sambil wisata kuliner. Saat itu, saya tiba-tiba tergerak untuk mengirim SMS ke salah satu sahabat di Jakarta, Pak IBM Jayamartha, bahwa saya sedang berada di Parangtritis. Sahabat itu balik bertanya lewat SMS, “Sudahkah ke Gua Langse?”. Sejujurnya, saya semula tidak berniat ke tempat itu, karena memang saya tidak tahu (perlu saya jelaskan, saya ini memang benar-benar pemula lho dalam dunia spiritual Jawa..he, he..jadi banyak tempat-tempat spesial yang saya belum tahu).



Saya lalu bertanya kepada penjaga warung, di mana letak Gua Langse itu. Dia menjawab, “Dekat, ke arah perbukitan, terus saja nanti juga ketemu.” Dengan berbekal kata dekat itu, saya jadi bersemangat untuk segera mencapai Gua Langse. Ternyata, definisi dekat menurut sang penjaga warung itu agak berbeda dengan definisi dekat yang saya pahami selama ini..he, he...saya berjalan kaki menuju ke tempat itu kok tidak sampai-sampai. Setiap saya bertemu orang di jalan, saya bertanya, dan jawabannya adalah, “Oh, terus aja, ikuti jalan naik ini, nanti belok.....” Dan saya tetap merasa tidak sampai-sampai ke tempat yang saya tuju. Tapi, tiada perjalanan yang tiada berujung. Menjelang tengah hari, ketika badan ini sudah merasa sangat letih, akhirnya saya tiba juga di gerbang Gua Langse. Di situ saya bertemu Pak Aris, Juru Kunci Gua Langse, yang kemudian menawarkan diri untuk menemani saya. Maka, saya berjalan lagi untuk menuju ke tempat tujuan, yang saya kira sudah tinggal beberapa langkah. He, he, ternyata saya lagi2 keliru..saya masih berjalan beberapa saat menelusuri jalan setapak dengan beraneka pepohonan di kanan dan kiri. Lalu, tibalah saya dan Pak Aris di ujung jalan setapak itu..dan itu adalah sebuah tebing yang curam. Dari situ, saya memandang ke bawah....hambaran samudera yang sungguh menggetarkan!



D i situlah Pak Aris bercerita tentang sejarah Gua Langse. Gua ini adalah tempat pertapaan Panembahan Senopati. Gua ini dipilih karena benar-benar tersembunyi, sehingga Panembahan Senopati benar-benar bisa menyepi dari keramaian dan hiruk pikuk manusia. Saat bertapa di sini, Kanjeng Ratu Kidul yang tertarik karena Panembahan Senopati menebarkan aura wahyu (pulung) yang kuat, hadir dan menyapa. Dan ini menjadi awal legenda hubungan khusus antara Kanjeng Ratu Kidul dan raja-raja Mataram.



Tapi, untuk mencapai Gua Langse, masih butuh perjalanan lanjutan. Gua Langse ada di bagian bawah tebing itu. Jika ditarik garis lurus vertikal, jaraknya 180 meter. Jika melalui tangga darurat, jaraknya 300 meter. Pak Aris bertanya kepada saya, “Benar sudah niat mau ke Gua Langse?” Pertanyaan itu bukan tanpa sebab. Turun ke bawah melalui tangga darurat menuju Gua Langse - yang terdiri dari kombinasi tangga bambu, tangga besi, undak-undakan tebing, dan akar-akar yang menjol keluar- bukan tanpa resiko. Jika terpeselet, ya terhempas ke bawah, dengan hasil berupa cidera parah atau kematian. Saya jawab, saya sudah niat, maju terus pak! Setelah perjuangan mendebarkan meniti tangga darurat, tibalah saya di dasar tebing. Di situ, di dekat gua, ada tempat pemandian, dan Pak Aris menyarankan saya untuk mandi dulu. Dengan senang hati saya turuti saran itu: sungguh menyegarkan dibanjur air alami! Dalam keadaan segar, saya lalu bersemedi di dalam gua. Beberapa saat, saya coba menyambung rasa dengan Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul.



Sekitar pukul 13.30, saya selesai bersemedi. Lalu, seorang ibu-ibu yang membuka warung minimalis di sisi gua itu menawarkan teh tubruk panas dan makan siang. “Di sini tempat prihatin mas, yang ada cuma tahu dan tempe.” Dalam kondisi lelah dan lapar, tahu dan tempe pun pasti nikmat. Jelas saya terima tawaran menarik itu. Saya menikmati hidangan sambil berpikir, bagaimana ibu2 yang berusia sekitar 60 tahun ini berhubungan dengan dunia luar? Apakah dia naik turun tangga darurat? Hebat sekali jika begitu..atau bagaimana? He, he....biarkanlah itu tetap jadi misteri.



Setelah menikmati hidangan di muka gua, saya memutuskan melanjutkan perjalanan. Tujuan saya adalah Sendang Beji, yang petunjuk keberadaannya tadi saya lihat ketika menuju Gua Langse. Pak Aris mengatakan sendang itu dekat dari Gua Langse, hanya sekitar 2 km. Itu membuat saya bersemangat. Saat pulang dari Gua Langse, ada hal yang membuat saya tertawa dalam hati. Saya dua kali dicegat gerombolan anjing penjaga ternak. Gerombolan anjing itu menyalak keras saat saya lewat. Mungkin karena mereka merasa saya ini orang asing. Tapi bisa jadi mereka melihat saya ini sebangsa tulang berjalan yang membuat mereka jadi bergairah..he, he...Tapi untunglah mereka hanya menyalak dan sedikit mendekat, tak sampai menyerang (padahal saya sudah siap-siap...siap-siap lari..he, he).



Perjalanan menuju Sendang Beji, saya pikir tak terlampau susah karena jaraknya sudah bisa diprediksi. Tak lebih dari 30 menit pastilah sampai. Ternyata, saya lagi-lagi keliru. Saya memang mengikuti papan petunjuk, saya berbelok dari jalan utama ke arah kanan. Saya berjalan lurus, tapi kok tak kunjung berjumpa dengan sendang itu. Sampai saya merasa sangat letih, tetap saja tidak sampai-sampai. Repotnya, di kanan kiri jalan yang saya lalu hanya ada kebun dan pesawahan, tak ada orang tempat bertanya. Tapi saya yakin, bahwa justru di titik kritis, pertolongan itu akan datang, asal usaha terus dilakukan, dan jangan ada kata menyerah. Seperti itulah yang terjadi, akhirnya saya bertemu dengan penduduk yang menunjukkan bahwa saya salah arah..kebablasan! He, he....untung saja! Akhirnya saya berbalik arah, dan lagi-lagi bertemu dengan salah satu penduduk, seorang nenek sepuh. Saya ngobrol sejenak lalu mengikuti petunjuknya untuk mencapai Sendang Beji. Akhirnya, pukul 15.00 saya sampai juga di sendang itu, lega rasanya!



Setelah ngobrol sejenak dengan Juru Kunci Sendang Beji, saya memutuskan untuk mandi di situ, di ruangan tertutup yang memang dikhususkan bagi peziarah yang ingin menikmati kesegaran air Sendang Beji. Sayapun mandi dengan niat membersihkan aura. Luar biasa segarnya! Gerojogan dari pancurannya besar sekali...jadi bisa berfungsi juga sebagai “alat pijat”...memulihkan tubuh dari segenap keletihan. Usai mandi, saya bersemedi di sebuah altar, yang dihiasi prasasti bertuliskan “Tri Soka: Ngudi Sejatining Becik, Nggayuh Urip Kepeneran, Berbudhi Bawa Laksana”. Oh ya, perlu saya jelaskan, bahwa di Sendang Beji inilah dulu Jaka Tarub bertemu dengan Dewi Nawangwulan, widodari yang turun dari kahyangan, hingga kemudian mereka menikah dan melahirkan Dewi Nawangsih.



Semedi di Sendang Beji, menyatukan rasa dengan para leluhur yang terkait dengan tempat itu, sungguh memberikan rasa hening dan damai yang luar biasa! Digabung dengan semua rasa yang saya dapatkan dari proses penziarahan sejak awal, saya merasa mendapatkan tambahan energi yang luar biasa. Bukan hanya itu, saya juga mendapatkan berbagai kesadaran yang akan saya bagi kepada Anda semua. Pukul 16.00, saya beranjak meninggalkan Sendang Beji, kembali ke rumah Kang Sabdalangit, untuk meneruskan perjalanan, pulang ke rumah di Lembah Ciremai pada malam harinya. Beruntung, saya masih bisa bertemu Kang Sabdalangit, bahkan bisa berjumpa juga dengan Mas Dalbo, wong Jowo yang jauh-jauh datang dari Australia untuk menyampaikan sumbangan kepada pengungsi Merapi. Di penghujung senja, saya berpamitan kepada Kang Sabdalangit dan menghaturkan terima kasih atas segala jamuan yang telah diberikan. Di antar oleh Mas Dalbo sampai stasiun, sayapun meninggalkan Yogyakarta menggunakan Senja Utama. Diiringi sebuah pertanyaan yang menggelisahkan bahkan membuat nelongso, “Masihkan bisa saya jumpai Yogyakarta, dengan keriuhan Malioboronya?” Mudah-mudahan saya masih bisa berjumpa dengan Jogja....kalaupun ada perubahan, semoga Jogja yang saya temui kelak adalah Jogja yang lebih baik!

1 komentar:

Bpk radi mengatakan...

Buat saudara punya permasalahan ekonomi: hub aki santoro,karna saya sudah membuktikan bantuan aki santoro yang berminat,hub aki santoro di nomor 0823 1294 9955, atau KLIK DI SINI