Senin, 27 Desember 2010

OLEH-OLEH NAPAK TILAS: MENYONGSONG JAMAN BARU NUSANTARA (II)

MENEROPONG DAN MEMBANGUN KEGEMILANGAN NUSANTARA



Belakangan ini, sebagai hasil dari proses ngangsu kawruh dari beberapa sesepuh, membaca berbagai teks, sekaligus menjalani tirakat untuk mendapatkan pengetahuan dari kedalaman diri, kian muncul kesadaran bahwa memang kita tengah menyongsong momen-momen krusial, yang sangat menentukan nasib Nusantara di masa depan. Dalam kesadaran ini, peristiwa Merapi menjadi salah satu pertanda yang paling jelas tentang mulai berjalannya proses pembentukan tatanan baru di Nusantara. Meletusnya Merapi bukan semata-mata gejala alam. Alih-alih demikian, Merapi telah menjadi simpul pertemuan beberapa pihak – yang tengah sama-sama bekerja untuk mewujudkan kodrat alam: lahirnya Nusantara baru yang menjadi kiblat spiritualitas dunia, sekaligus negeri yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja. Meletusnya Merapi dan berbagai bencana lainnya, adalah momen pembayaran karma masa lalu, sekaligus sebagai instrumen seleksi alam terhadap manusia Nusantara: mana yang masih akan bertahan dan bahkan menjadi pilar perubahan Nusantara ke arah kejayaan, dan mana yang disisihkan karena tak bisa lagi diterima oleh Bumi Pertiwi. Letusan Merapi yang meluluhlantakkan berbagai tatanan lama, juga menandai hadirnya tatanan baru. Dua keraton di Jawa, yaitu Keraton Solo dan Yogya, akan dipaksa oleh alam untuk berubah atau tergilas. Kraton Jogja yang selama ini menjadi pancer yang menjaga kesetimbangan Merapi dan Laut Selatan, kini memang berada pada situasi dilematis, disebabkan oleh mulai ditinggalkannya banyak pakem/anggah-ungguh, yang disimbolkan dengan kian kentalnya nuansa rib iriban di Kraton Jogja. Konflik terbuka dengan Merapi dan Laut Selatan, kian menempatkannya pada posisi sulit bahkan terancam. Semuanya kembali pada kebijaksanaan penguasa Kraton Jogja yaitu Sultan Hamengkubuwono X dan para kerabatnya: pilihan apapun yang diambil, itulah yang menjadi penentu bagaimana peran Kraton di masa depan.



Dalam selubung kedahsyatan Merapi, bekerjalah Eyang Sabdopalon yang dalam perwujudan lain dikenal juga dengan nama Kaki Semar atau Dang Hyang Ismoyo. Bekerjalah juga Kanjeng Ratu Kidul dengan para manggalanya termasuk Nagabumi, para sesepuh ingkang mbahurekso di Merapi dan sekelilingnya termasuk pasukan banaspati, diiringi oleh kiprah para leluhur gung binatoro. Dalam proses ini, alam memang menjadi nggegirisi, abot dilakoni (mencekam, berat untuk dijalani). Tapi, selalu ada celah penyelamatan diri bagi mereka yang waspada, yang tanggap ing sasmita (tanggap terhadap tanda-tanda alam). Bahkan, berbagai kesulitan yang muncul seiring dengan peristiwa alam yang dahsyat di Nusantara, justru menjadi pintu masuk bagi generasi muda yang hatinya terbuka dan mendapat panggilan darah untuk berkiprah menjadi satria-satria pembela Ibu Pertiwi.



Sebuah kerja besar tengah mencapai momentumnya. Limaratus tahun, Ibu Pertiwi, para leluhur, juga para pengayom dan pengasuh manusia Jawa/Nusantara, telah bersabar. Mereka semua membiarkan diri, dengan kelapangan dada yang tiada tara, menjadi tamu di negeri sendiri, bahkan mendapatkan kecaman dan nistaan. Semua itu memang sesuatu yang harus dijalani – menjadi semacam laku prihatin – yang harus dilakukan agar kegemilangan Nusantara memang bisa diraih. Hal demikian tentunya tak aneh bagi mereka yang menggeluti falsafah Jawa. Bagi orang Jawa, satu-satunya jalan untuk menikmati surga adalah dengan nyemplung ke neraka. Jika mau meraih kemuliaan dan kenikmatan yang besar, maka jalan satu-satunya adalah melakukan pengorbanan, menjalankan hidup yang penuh keprihatinan, membuat ego atau keakuan benar-benar ditekan habis hingga rata dengan tanah.



Dalam hidup ini berlaku hukum cakra manggilingan, semua berubah semua berputar. Memang, keterjerembaban manusia Jawa/Nusantara adalah buah dari kekeliruan internal, yang kemudian mengundang hadirnya pihak luar yang berlaku aniaya – yang secara hakiki dapat dipahami sebagai instrumen bagi tegaknya keadilan alam. Dulu manusia Jawa/Nusantara pernah mencapai kejayaan secara budaya, ekonomi dan politik, disimbolkan dengan keberadaan Keraton Kediri, Singosari, Sriwijaya, maupun Majapahit dan Pajajaran. Karena ketidakwaspadaan dan konflik internal, kejayaan itu sirna. Lalu masuklah pihak-pihak luar yang pandai memanfaatkan keadaan untuk menancapkan hegemoninya. Hingga akhirnya Nusantara mengalami penjajahan berkepanjangan, mulai dari sekadar penjajahan ekonomi, politik, hingga yang paling tersamar dan berjangka panjang, penjajahan budaya. Proses membalik situasi itu, mungkin saja memakan proses lebih singkat. Tetapi, hasilnya akan berbeda dengan proses yang membutuhkan waktu yang lebih lama. Limaratus tahun, adalah waktu yang telah ditetapkan untuk membalik keadaan dan menyudahi masa prihatin yang teramat panjang. Cukuplah rentang waktu itu untuk mencapai buah yang benar-benar matang dan terasa manis alami!



Kini saatnya telah tiba: pembalikan tatanan untuk mengembalikan kejayaan Nusantara mulai berjalan. Dimulai dengan revolusi budaya, wong jowo bali menyang jawane. Orang-orang Jawa kembali kepada Jawanya. Demikian pula berbagai suku di Nusantara lainnya, mereka semua kembali kepada jatidirinya. Hegemoni kebudayaan asing perlahan-lahan akan sirna. Agama-agama import tak akan lagi dominan, berganti dengan agama jawi (ajaran spiritualitas yang berlandaskan pada kepekaan terhadap tanda-tanda alam atau sastra jendra hayuningrat). Dimotori oleh generasi muda yang terpilih dan mendapat asuhan dari para leluhur di bawah komando Eyang Sabdapalon, revolusi kebudayaan ini akan berlangsung dahsyat: seolah sunyi, diam, namun benar-benar membalikkan keadaan! Sebagai buah dari revolusi kebudayaan ini, tercipta pulalah revolusi politik dan revolusi ekonomi. Nusantara akan kembali dipimpin oleh mereka yang berjiwa satria, sekaligus punya watak pandhita. Konsep yang mewadahi gagasan ini adalah kepemimpinan oleh Satria Piningit dan Ratu Adil. Ya, pada waktunya Nusantara kembali dipimpin oleh sosok yang memanifestasikan kebijaksanaan Gusti Ingkang Akaryo Jagad – yang mendapat wahyu kedaton serta didukung oleh Ibu Pertiwi dan berbagai kekuatan yang ada di Nusantara. Pemimpin demikian yang mampu mengayomi dan menegakkan keadilan, dan benar-benar sanggup menetapkan kebijakan yang memihak kepentingan bangsa. Asset-asset Nusantara kembali bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat banyak, tatanan ekonomi yang semula timpang berubah menjadi berkeadilan, dan akhirnya terciptalah kesejahteraan yang merata. Nah, meletusnnya Merapi adalah simbol atau pertanda hadirnya Satria Pambukaning Gapura: munculnya pemimpin keturunan dan titisan raja-raja Kutai yang secara de facto akan memimpin Nusantara. Dan ia menjadi pintu gerbang bagi lahirnya Satria Piningit yang berdarah Majapahit/Pajajaran/Mataram (mampu melahirkan persatuan antara trah Majapahit dan Pajajaran yang sesungguhnya satu asal tapi sempat terkoyak akibat Perang Bubat).



1 komentar:

Bpk radi mengatakan...

Buat saudara punya permasalahan ekonomi: hub aki santoro,karna saya sudah membuktikan bantuan aki santoro yang berminat,hub aki santoro di nomor 0823 1294 9955, atau KLIK DI SINI