Senin, 27 Desember 2010

MAKNA MENJADI SEORANG KEJAWEN, SEBUAH CATATAN PRIBADI

Saya menuliskan catatan ini, berdasarkan pengalaman nyata: pengalaman menjalani hidup yang menawarkan banyak pelajaran. Beberapa hari yang lalu, saya menjalani terapi pemulihan sakit fisik. Sakit fisik itu sebetulnya tidak terlalu nyata, dari luar saya tampak sehat2 saja. Indikator yang paling tampak hanyalah meningkatnya hobby saya untuk tidur; karena hal ini, anak2 saya mengatakan saya tukang tidur! (He, he, he...anak2 memang selalu jujur...). Penyakit itu baru tampak ketika terapi dijalankan. Melalui pijat refleksi terhadap beberapa titik syaraf, diketahui dengan jelas bahwa memang ada yang salah dengan tubuh ini. Indikatornya, saya betul-betul merasa kesakitan saat beberapa titik syaraf dipijat, walau hanya perlahan. Maka, guru saya yang melakukan terapi itu membimbing saya untuk merenung: apa yang menyebabkan semua rasa sakit itu?



Saya akhirnya disadarkan, bahwa memang ada yang salah dengan diri saya. Tubuh ini adalah pembawa pesannya. Dan apa akar rasa sakit itu? Ternyata ia berakar pada dunia bathin saya, pada kondisi emosi saya. Melalui perenungan, saya tahu bahwa di dalam diri ini, ternyata ada konflik bathin yang belum tuntas. Konflik itu berakar pada dendam, pada amarah. Di dunia bathin itu, juga masih berkobar api kekhawatiran dan ketakutan. Emosi negatif seperti demikianlah yang menyebabkan gangguan pada sistem energi, dan akhirnya termanifestasikan dalam penyakit fisik!



Dari mana dendam dan amarah itu berasal? Rupanya ini terkait dengan perjalanan bathin dan transformasi diri. Ini ada kaitannya dengan tumbuhnya spirit saya sebagai orang Jawa: saya mendapat kesadaran untuk kembali pada Kejawen, kearifan lokal dari Tanah Jawa! Perjalan bathin dan transformasi diri ini ternyata bukan tanpa resiko dan kendala. Tentu saja, resiko dan kendala ini sebetulnya sekadar cermin dari kebelummatangan saya pribadi.



Dinamika Perjalanan

Proses saya menjadi seorang Kejawen, dibarengi dengan peningkatan intensitas hubungan dengan para leluhur, baik melalui pendekatan reinkarnasi, nitis, maupun nyengkuyungi dan njangkungi. Semakin dekatnya saya dengan para leluhur, ternyata tidak hanya membuat saya sering menerima anugerah berupa kesadaran dan ilmu yang hadir tanpa proses belajar formal (di mana harus ada guru). Tapi, saya juga harus “menanggung” beban sejarah dari masa lalu. Rentang 500 tahun, ternyata belum menghilangkan kenangan pahit di masa lalu: saat terjadi transformasi budaya dan politik di Tanah Jawa dan Nusantara. Salah satu tokoh masa lalu yang jiwanya hadir kembali melalui raga ini, dahulu memang berada dalam posisi benar-benar dianiaya oleh kekuatan politik otoriter yang bertopengkan agama! Rasa sakit akibat penganiayaan itu benar-benar terasa, dan itu mengobarkan amarah, bahkan dendam. Maka, walau mengalami penghalusan, amarah dan dendam itu bisa benar-benar dilihat oleh mereka yang titis (berpandangan tajam) pada sikap, ekspresi, dan kata-kata saya.



Amarah dan dendam inilah yang menjadi sumber konflik bathin: karena sesungguhnya ia bertentangan dengan nilai-nilai yang sedang saya geluti untuk mencapai puncak perjalanan ruhani. Untuk menggapai puncak perjalanan ruhani, seseorang haruslah memiliki sikap welas asih yang utuh. Pada kenyataannya, pada kasus saya, itu belum bisa terjadi karena saya masih memendam dendam dan amarah. Maka, terjadilah konflik bathin yang menguras energi vital di dalam tubuh, bahkan merusak kesetimbangan sistem energi di dalam tubuh yang akhirnya menyebabkan penyakit fisik.

Guru saya membimbing saya untuk menyadari, bahwa dendam dan amarah ini harus diselesaikan. Cakra manggilingan memang hukum alam. Tapi kita sebagai manusia selayaknya menerapkan model perjalanan spiral di mana walau kita berputar kita tidak kembali ke titik yang sama, namun justru bergerak maju mendekati kesempurnaan. Mata rantai dendam dan amarah itu harus diputus: kewelasasihan harus dimunculkan bahkan kepada mereka yang telah berlaku aniaya kepada diri kita. Sebuah cahaya terang menyelimuti kesadaran saya. Saya tergerak untuk segera memutus mata rantai amarah dan dendam itu, lalu menancapkan kewelasasihan yang utuh, bahkan kepada mereka yang pada tataran fenomena merupakan “lawan” atau “musuh”.



Demikianlah, saat ini, saya sedang memulai proses penyembuhan diri, yang dimulai dari menyelesaikan konflik bathin, memadamkan gejolak amarah dan dendam, lalu menumbuhkan kewelasasihan, sikap memaafkan, dan kepasrahan diri yang total. Indikator keberhasilan proses ini adalah ketika tubuh ini kembali pulih.



Maka,kepada saudara-saudaraku yang telah dipanggil oleh Ibu Pertiwi untuk kembali pada ajaran leluhur, patut kiranya pengalaman saya ini menjadi sebuah bahan renungan. Kita memang tak bisa mengingkari fakta, bahwa 500 tahun yang lalu, Trowulan dihancurkan oleh pasukan Demak. Kita juga tak bisa menutupi kenyataan bahwa Ki Ageng Kebo Kenongo yang bahkan sudah melepaskan tahta adipati dan tidak menuntut tahta sebagai raja Jawa, dibunuh oleh Sunan Kudus. Kita juga tak bisa menyembunyikan sejarah dimana para praktisi kebathinan Jawa, walau mereka telah mengikrarkan diri sebagai Muslim- seperti Sunan Panggung, Sunan Geseng, coba dieksekusi dan para pengikutnya dibantai. Namun, demi pertumbuhan spiritual kita dan nasib Nusantara di masa depan, mari kita kedepankan sikap welas asih dan memaafkan. Kita buat diri kita menjadi lapang dada. Kita tutup semua masa lalu itu, kita petik pelajaran darinya tanpa memperpanjang kisah pahitnya. Kita memulai kehidupan baru, dengan sikap ngemong, sikap memaafkan dan memaklumi, baik kepada pelaku aniaya di masa lalu maupun kepada penerusnya di masa kini. Tentu saja, sikap welasasih dan memaafkan ini jangan mengaburkan pentingnya sikap tegas dan waspada.



Prinisipnya, kita lebih berfokus pada upaya-upaya yang berkontribusi langsung pada terciptanya kondisi masa depan yang terang. Kita ciptakan dunia yang terang dengan menyalakan lilin kebajikan, bukan dengan memaki kegelapan dan penyebab kegelapan itu. Setiap penyebab kegelapan sudah mendapatkan balasan tersendiri dari alam semesta; tugas kita adalah memastikan agar yang terjadi di masa depan adalah tidak banyak lagi anak Nusantara yang terjebak untuk menjadi penyebab kegelapan itu.





Menjadi Kejawen = Menjadi Pejalan Ruhani

Menjadi Kejawen, sebaiknya tidak kita pahami sebagai proses berganti agama. Di mana kita hanya memindah keyakinan (tanpa diiringi oleh pertumbuhan bathin), atau berganti dari satu prasangka kepada prasangka lainnya. Tapi, menjadi Kejawen sebaiknya kita pahami sebagai proses untuk menukik pada hakikat kebenaran, memahami hakikat terdalam sebuah jalan ruhani, serta meningkatkan kesadaran dan pengenalan terhadap diri sejati kita.



Ya, menjadi Kejawen lebih baik tidak dipahami seperti kita berpindah rumah. Tapi ia adalah proses penuh kesadaran untuk memahami hakikat dari rumahyang kita huni saat ini, serta mengenali unsur-unsurnya yang paling halus. Lalu, setelah kita memahami itu semua, kita lanjutkan prosesnya dengan menciptakan sendiri rumah yang memang lebih sesuai dengan kebutuhan kita, yang sesuai dengan diri dan alam sekitar.



Rumah, bisa kita pahami sebagai sistem keyakinan dan jalan ruhani yang telah disistematisasi. Pada konteks kehidupan kita di Indonesia, rata-rata kita memang telah dimasukkan ke sebuah rumah, entah kita setuju atau tidak. Nah, persentuhan kita dengan Kejawen, semestinya dimaknai sebagai pemicu kita untuk menemukan hakikat dari rumah yang telah kita masuki itu, atau agama resmi kita itu. Demi menjaga stabilitas (saran ini terbatas bagi yang membutuhkan hal demikian), sebaiknya tak perlu kita memproklamasikan diri berpindah rumah atau berganti agama. Karena memang Kejawen bukanlah agama, jika agama kita pahami sebagai sistem keyakinan yang isinya adalah dogma dan peraturan yang bersifat eksternal. Kejawen itu adalah sikap hidup, way of life, filsafat kehidupan. Walau rumah kita lama, tapi dengan sentuhan Kejawen, kita akan menemukan nuansa yang berbeda. Rumah kita akan menjadi lebih serasi dengan alam sekitar. Hingga, pada titik tertentu, jika sudah tiba waktunya, kita mendewasakan diri dengan mengkreasi rumah versi kita sendiri, sebagai simbol kemerdekaan puncak sebagai manusia.



Nah, dalam hal menjadi Kejawen, yang terpenting kita lakukan adalah memulai proses serius untuk mentransformasi bathin kita, menciptakan hidup yang penuh kesadaran! Tujuan menjadi Kejawen adalah mencapai apa yang juga menjadi tujuan dari setiap agama: kehidupan yang bahagia, tenteram, damai secara berkekalan, tanpa dicampuri sifat lawannya. Yang membedakan Kejawen dengan agama resmi adalah soal bentuk: Kejawen adalah kreasi lokal, dan tidak mengarahkan penghayatnya pada sebuah bentuk dan ajaran yang kaku. Pada tataran substansi, Kejawen setara dengan agama apapun: ia adalah manifestasi dari Kebenaran Universal. Nah, tapi Kejawen itu fleksibel dan terbuka, sehingga membuatnya bisa menerima bentuk-bentuk dari luar, selama ia tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran universal dan kearifan lokal.



Bagaimana cara menjalani transformasi bathin ala Kejawen ini? Apapun agama – atau seperti apapun rumah Anda - pada saat ini, sebagai penghayat Kejawen, yang harus Anda lakukan adalah mengintensifkan kegiatan pasamaden (olah bathin untuk mencapai keheningan), dibarengi laku prihatin dengan lokus berbakti kepada leluhur, dan berbuat baik kepada sesama ciptaan.



Nah, indikator keberhasilan semua proses itu, salah satunya adalah mulai tumbuhnya budi pekerti luhur, dan Anda semakin mudah untuk mempraktekkan lakutama (perbuatan utama).



Keluar dari Rumah Ego

Tanda tingginya spiritualitas seseorang adalah ketika ia mampu keluar dari rumah ego, ketika ia tidak lagi mementingkan diri sendiri dan mulai berfokus pada kebahagiaan pihak lain. Menyangkut soal ini, saya baru saja mendapatkan pelajaran penting, yang menyadarkan bahwa ternyata saya belum jauh melangkah. Beberapa hari yang lalu, saya yang berkendara memakai sepeda motor dengan istri dan anak, nyaris tertabrak oleh kendaraan umum jenis elf. Saya merasa sudah berlaku benar karena telah memberi sinyal berbelok atau menyeberang, tapi mobil elf itu seperti malah mengikuti arah sepeda motor saya dengan laju yang sangat kencang. Saya selamat di detik terakhir ketika pada akhirnya mobil elf itu bisa berhenti dan agak berbelok.



Saya beserta istri dan anak saya memang selamat. Dan bagi saya ini sebetulnya bukan hal yang aneh; sudah sering saya terselamatkan ketika nyaris celaka, dan saya yakin (atau tahu) bahwa memang ada yang selalu melindungi saya (dan keluarga) selama ini. Hanya saja, yang membuat saya terhentak adalah rasa yang muncul setelah peristiwa itu. Saya disadarkan bahwa saya ternyata hanya berpikir tentang diri saya, tentang keselamatan saya, tentang perasaan saya. Saya melupakan bagaimana perasaan supir mobil elf itu dan penumpang di dalamnya. Bahkan saya sempat terpancing untuk “ngerjain” sang sopir mobil elf itu lewat kekuatan tak terlihat, sebagai ekspresi kekesalan sekaligus agar dia mendapat “pelajaran”. Untunglah, ada kekuatan tak terlihat yang menyadarkan saya bahwa sikap itu salah! Saya egoistis! Dan itu menunjukkan secara spiritual saya masih sangat bodoh! Saya belum keluar dari rumah ego!

Segala puji bagi Sang Maha Pengasih. Terima kasih bagi para leluhur yang telah membimbing saya selama ini. Sebagaimana saya mendapatkan kesadaran untuk menyelesaikan persoalan dendam dan amarah, saya ternyata juga mendapatkan anugerah kesadaran tentang pentingnya mencapai tahap “penghancuran keakuan atau egoisme”. Ya, seorang spiritualis sejati adalah dia yang tak lagi berpikir tentang dirinya, tentang kebahagiaan dirinya, tetapi sudah harus menggeser perhatian bagaimana bisa memenuhi kepentingan dan membahagiakan orang lain.



Maka, kepada saudara-saudaraku, khususnya yang baru mulai menghayati Kejawen, saya sarankan agar sejak sekarang mulai “berjuang” untuk menjadi pelayan kemanusiaan. Mulailah berpikir sebagai manusia yang hidupnya difokuskan untuk melayani sesama. Ya, praktekkanlah hamemayu hayuning bawono! Termasuk yang harus kita lakukan, adalah bagaimana kita mulai berpikir bagaimana kita bisa menciptakan kebahagiaan bagi mereka yang pernah melukai kita, menistakan kita, membuat kita menjadi tamu di rumah sendiri.



Semoga dengan demikian, hidup kita mengalami transformasi ke arah hidup yang berkualitas dan berkelimpahan. Alam ini memiliki sebuah hukum yang pasti: mereka yang berhak menerima adalah mereka yang telah memberi. Yang berhak mendapatkan kebahagiaan adalah mereka yang telah memberi kebahagiaan kepada pihak lain. Sebagai penghayat Kejawen, Anda semua bisa mencapai puncak perjalan ruhani dan bisa mengecap surga kehidupan, jika telah menjadi sosok yang konsisten berbuat baik, melayani, memberi dan membahagiakan sesama!

MEMINTA TOLONG KEPADA LELUHUR, MENGAPA TIDAK?

Sahabatku…sesungguhnya tak mungkin kita menjangkau Yang Mahamisteri itu tanpa melalui jembatan bakti kepada orang tua atau leluhur kita. Orang tua atau leluhur kita adalah jalur yang memungkinkan kita hadir di muka bumi. Tanpa mereka kita bukanlah apa-apa. Bahkan pada prakteknya, para orang tua dan leluhur itulah wujud ghaib tetapi nyata yang punya daya dan kuasa untuk mempengaruhi hidup kita.



Dalam konsep agama2 Semitik dikenal istilah malaikat/angel, yang punya daya kuasa dan menangani urusan2 tertentu yang terkait dengan kehidupan umat manusia. Siapakah malaikat/angel ini? Secara hakiki, mereka adalah entitas berbadan cahaya (nur). Lalu siapakah sesungguhnya entitas berbadan cahaya dalam konteks tradisi Nusantara itu? Merekalah para leluhur. Para leluhur karena kemuliaan dan perilaku luhur selama hidup, bisa menjadi mahkluk2 berbadan cahaya di alam keabadian, dengan kilau yang setara dengan kualitas spiritual mereka.



Nah, terkait dengan kehidupan kita di muka bumi…saat kita membutuhkan sebuah pertolongan..kepada siapakah seharusnya kita meminta pertolongan? Agama2 mewajibkan kita meminta kepada Tuhan. Mari kita renungkan..mengapa kita selalu meminta kepada Tuhan, sementara Dia sudah memberikan segalanya. Bukankah Tuhan Sang Pemberi Hidup sudah member kita segala bekal yang dibutuhkan untuk menjalani hidup kita? Termasuk yang telah diberikan kepada kita itu adalah wujud2 yang bisa menolong kita…..Wujud yang kasat mata dan bisa menolong kita itu, diantaranya adalah para sahabat, orang tua yang masih jumeneng di muka bumi, para tetangga….dan yang lainnya. Nah, wujud yang tak kasat mata dan secara actual maupun potensial bisa menolong kita adalah para leluhur, entitas berbadan cahaya yang ada di dimensi kehidupan yang lain. Selain titah alus di 4 kiblat yang sesungguhnya merupakan saudara kita juga….

Menurut saya, lebih pantas kita meminta pertolongan kepada mereka..sebagai bentuk interdependensi kita..bahwa sebagai sesama makhluk Tuhan kita saling tergantung dan saling membutuhkan. Saat rumah kita rusak..kepada siapa kita minta tolong? Dan siapa yang menolong kita? Faktanya yang menolong kita adalah tukang bangunan atau tetangga yang punya keahlian di bidang itu. Saat kerabat kita sakit, siapa yang kita mintai tolong dan secara factual menolong kita? Dokter atau ahli pengobatan lainnya!



Nah..apa bedanya meminta tolong kepada tetangga, kepada seorang ahli di bidang khusus, dan minta tolong kepada para leluhur? Faktanya….para leluhur itu sejatinya masih hidup. Hanya wilayah kehidupan mereka yang berbeda. Dan mereka punya daya kuasa untuk menolong kita jika kita memintanya, mirip dengan orang tua yang masih jumeneng di muka bumi. Hanya orang bodoh yang mengingkari dan tidak memanfaatkan peluang ini!



Untuk kebaikan hidup Anda semua…mulailah sambungkan diri Anda dengan leluhur! Ada banyak hal yang tidak bisa Anda kerjakan sendiri, dan hanya bisa dituntaskan melalui pertolongan para leluhur.



Pesan saya cuma satu, dalam hal meminta pertolongan kepada leluhur..Anda harus terlebih dahulu menunjukkan rasa bakti, rasa terima kasih atas peran mereka dalam kehidupan Anda, dan jangan mendikte! Leluhur lebih tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah Anda dan apa yang Anda butuhkan…..

OLEH-OLEH NAPAK TILAS: MENYONGSONG JAMAN BARU NUSANTARA (V)

TANGGUNG JAWAB GENERASI MUDA



Saat ini, para leluhur gung binatoro tengah bekerja, demikian juga para penghuni alam ghaib di Nusantara. Melengkapi kerja mereka, kita, generasi muda di Jawa/Nusantara juga harus bekerja. Seiring sejalan dengan ritme yang tengah diatur oleh Eyang Sabdapalon. Orientasi awal dari kerja kita adalah membuat diri kita menyerap esensi dari konsep Satria Piningit dan Ratu Adil. Pintu gerbang dari hal itu adalah berbakti pada leluhur, berikutnya adalah mengurai rahasia Alas Ketonggo.



Selama proses napak tilas sejarah Panembahan Senopati, saya mendapatkan kesadaran terkait bagaimana semestinya pola relasi kita dengan para leluhur. Jika kita telaah sejarah para leluhur kita, sungguh, kita patut berbangga menjadi manusia Jawa/Nusantara. Leluhur kita adalah manusia-manusia hebat, manusia pilih tanding, yang pernah membuat Nusantara ini mencorong namanya dalam pergaulan antar bangsa.



Ketika Negeri-negeri Timur Tengah dan Eropa luluh lantak oleh ekspansi pasukan Tartar; pasukan itu tak berkutik ketika mencoba menaklukkan Nusantara. Baik ketika pada masa kekuasaan Prabu Kertanegara dari Singosari yang berhasil menyuruh pulang Meng Khi, utusan Kaisar Kubilai Khan, dalam keadaan terhina. Maupun ketika pasukan itu kembali lagi saat Raden Sanggramawijaya – menantu Prabu Kertanegara - sedang berjuang mewujudkan sebuah kerajaan yang di kelak kemudian hari menjadi demikian terkenal: Majapahit. Fenomena ini jelaslah bukan hal sepele: leluhur kita dulu mampu bertahan dari serbuah pasukan Tartar itu – bahkan bisa memukul balik mereka - karena memang memiliki kedigdayaan, kekuatan bathin, sekaligus kegemilangan taktik dan strategi.



Mengapa hal demikian terjadi? Karena leluhur kita sejak jaman dahulu kala memiliki ajaran kehidupan, filosofi, sistem kebudayaan, yang membuat mereka benar-benar berdaya atau powerfull sebagai manusia. Mereka unggul dalam hal kedigdayaan, kualitas spiritual, sekaligus juga mumpuni dalam hal mengelola negara. Jangan keliru dengan menganggap itu semua semata-mata sebagai buah dari adopsi terhadap peradaban Hindu dan Budha yang berasal dari India. Tidak demikian! Leluhur kita cukup cerdik untuk mengambil nilai-nilai peradaban luar yang dianggap mendorong kemajuan, dan saat yang sama berpegang teguh pada jatidiri, dan berani mengembangkan inovasi yang demikian kreatif. Di bidang agama, inovasi kreatif itu adalah munculnya ajaran khas Indonesia: Syiwa-Budha! Ajaran ini memadukan antara kearifan lokal, dengan ajaran Budha dan Hindu. Bahkan Hindu dan Budha yang ditempat asalnya selalu bertentangan dan terlibat konflik, di Indonesia bisa dipersatukan! Di bidang teknologi, inovasi itu antara lain dengan keberhasilan Majapahit untuk mentranfer keahlian membuat perahu besar dari Sriwijaya dan Tumasek (Singapura) sehingga akhirnya Majapahit memiliki pasukan Maritim yang kuat dan sanggup mempersatukan Nusantara yang demikian luas.



Pada titik inilah, saya ingin menggugah kesadaran para generasi muda, untuk bergegas menapaktilasi kiprah dan sejarah leluhur gung binatoro, para leluhur agung di Nusantara, untuk mendapatkan pelajaran tentang bagaimana mesti menjalani kehidupan, dan mengelola Nusantara. Pelajaran dari para leluhur inilah yang disebut dengan kearifan lokal. Dengan menghayati kearifan lokal, sesungguhnya kita sedang mem-benchmark keunggulan dari masa silam!



Tentu saja, dalam hal menapaktilasi sejarah dan kiprah para leluhur, kita juga harus jujur dengan segala dinamika yang terjadi di masa lalu, termasuk dinamika yang dalam kacamata sekarang bisa kita kategorikan sebagai aib atau kegelapan. Sejarah Nusantara memang bukan hanya terdiri dari sejarah manis, yang menggambarkan keluhuran budi pekerti. Tetapi ia juga mengungkapkan nafsu manusia, yang mewujud dalam konflik, bahkan yang terekam pada saat ini demikian pahitnya.



Di masa awal Majapahit, dalam proses menuju negara yang besar, ada banyak kisah suram: terbunuhnya Adipati Ranggalawe oleh Senopati Mahisa Anabrang, yang dilanjutkan dengan pembunuhan Mahisa Anabrang oleh paman Adipati Ranggalawe, Senopati Lembu Sora. Kita juga membaca kisah pemberontakan Senopati Ra Kuti, Senopati Semi, hingga Ra Tanca yang berhasil membunuh Prabu Jayanegara. Padahal, nama-nama itu adalah para pendekar di jamannya, yang ikut serta menaklukkan tentara Tartar! Mereka semua para pejuang yang harus menjadi korban sebuah konspirasi politik akibat nafsu gelap segelintir orang di masa lalu yang juga ingin berkuasa, tapi tak berani mengambil jalan terang.



Di masa Kesultanan Mataram, juga tak sedikit kisah suram. Panembahan Senopati berkonflik dengan Ki Ageng Mangir, padahal Ki Ageng Mangir sendiri adalah seorang tokoh besar. Konflik itu berakhir lewat sebuah siasat, Ki Ageng Mangir dijebak untuk menjadi menantu Panembahan Senopati, lalu harus sowan ke Kraton Mataram, dan melucuti senjata andalannya yang bernama Tombak Kyai Plered atau Baru Klinting, lalu di situ dieksekusi. Simbol konflik ini terpapar jelas di Pesarean Kota Gedhe: makam Ki Ageng Mangir sebagian berada satu ruangan dengan makam Panembahan Senopati dan para pembesar Maram lainnya, sementara sebagian lainnya berada di luar. Itu simbol keserbasalahan pihak Mataram: di satu sisi Ki Ageng Mangir adalah menantu yang harus diayomi dan merupakan bagian tak terpisahkan dari keluarga, tapi di sisi lain, Ki Ageng Mangir terbukti memberontak kepada negara dan karenanya merupakan musuh. yangJelas, hati nurani kita juga akan bertanya-tanya, mengapa leluhur kita melakukan hal demikian? (Tentu saja, jika kita coba berempati, menempatkan diri pada situasi dan kondisi masa lalu, mungkin kita akan berkata bahwa kitapun akan sulit menghindar dari tragedi itu!)



Menurut saya, kita tak usah menutup diri dari fakta gelap tersebut. Kita harus mengakuinya dengan jujur. Namun, saat yang sama, kita praktekkan ajaran luhur yang sudah lama mengakar di masyarakat Jawa: Mikul dhuwur, mendhem jero. Kita angkat setinggi-tingginya semua prestasi yang telah dibuat para leluhur agung yang bagaimanapun telah pernah membuat kita benjadi bangsa yang hebat. Saat yang sama, kita tutupi semjua kesalahan yang pernah dilakukan para leluhur. Kita tutupi bukanlah dengan menganggapnya tidak ada, tetapi tidak perlu kita jadikan noda yang menghalangi bakti kita pada para leluhur. Sebab faktanya, kekeliruan itu telah terimbangi oleh laku mulia yang sangat banyak jumlahnya. Bahkan, lebih dari itu, lewat konsep nitis yang menjadi salah satu jembatan bagi para leluhur untuk berkiprah masa kini, kita bisa membayarkan karma dari para leluhur itu, sekaligus meneruskan darma yang belum tuntas!



Dan yang lebih penting, adalah kita sadar bahwa tak ada satupun teks atau ajaran luhur Jawa yang membenarkan tindakan-tindakan keliru para leluhur di masa lalu. Para leluhur agung itu, bukanlah manusia yang tidak bernoda. Keagungan mereka disebabkan oleh prestasi besar mereka, juga oleh watak kesatria mereka, bukan oleh tiadanya setitikpun dosa. Kesadaran ini yang membuat kita juga harus cerdik dalam meneladani leluhur: yang kita teladani adalah laku utamanya, kita bukan mengulang seluruh sejarahnya, apalagi mengulang sejarah yang kelam!



Demikianlah, sebagai bagian dari kontribusi kita untuk menciptakan kejayaan Nusantara, maka kita harus berupaya untuk menyambung rasa melalui ritual penghormatan baik dengan sowan ke pesarean maupun melalui ritual di rumah kita masing-masing, sekaligus meneladani lakutama (tindakan utama, sikap mulia), dari para leluhur kita. Lambat laun, kita akan mendapatkan energi dari masa lalu yang membuat diri kita menjadi sosok yang berdaya, powerfull, yang ujungnya adalah kehidupan yang berkelimpahan, yang disimbolkan oleh kalimat suket godong dadi rewang: hidup kita benar-benar menjadi ringan karena mendapatkan bantuan dari seluruh unsur alam semesta, juga kehidupan yang penuh makna karena mengekspresikan kesadaran ruhani yang tinggi. Melalui berbakti pada leluhur, maka terbukalah peluang leluhur untuk menitis, njampangi, ataupun njangkungi kita sebagai anak keturunannya. Itulah yang akan mempersingkat proses belajar dan pertumbuhan spiritual kita: itu pula yang membuat kita cepat bisa berkiprah di tengah laju perubahan Nusantara!



Terkait dengan proses berhubungan dengan leluhur, dan membangun kapasitas diri hingga kita bisa menyerap esensi Satrio Piningit dan Ratu Adil, dalam tulisan ini saya merasa perlu membabarkan rahasia Alas Ketonggo. Alas Ketonggo sering dijadikan sebagai jembatan bagi para spiritualis Jawa untuk melejitkan tingkatan dan kualitas mereka. Apa sebetulnya makna sesungguhnya dari Alas Ketonggo? Saya harus menghaturkan terima kasih sebesar-besarnya kepada sahabat saya, Ki Alang-alang Kumitir, yang menjadi pintu gerbang saya untuk memahami makna Alas Ketonggo, lewat uraianny, “Alas ketonggo dalam pengertian jagat cilik adalah fenomena kehidupan kita, yang pada dasarnya sulit dikendalikan tetapi harus mampu kita kendalikan. Sedangkan alas ketonggo dalam arti makro atau dalam pengertian nyata, seperti Kraton beserta Raja-nya sebagai sentral budaya, tempat-tempat yang dimitoskan atau disakralkan dalam kegiatan peziarahan. Arti pesan yang mendalam bahwa kita tidak boleh meninggalkan budaya dan sejarah masa lalu.”

Alas Ketonggo dalam maknanya sebagai jagad ageng, adalah tempat arwah-arwah para leluhur yang telah meninggalkan dunia puluhan hingga ratusan tahun, namun belum berpulang dihadirat Tuhan, dan masih menyimpan rapi segenap kekuatan di dalam tubuh halus maniknya. Banyak pengetahuan masa silam yang sebagai simbol jati diri dan identitas bangsa yang tersembunyi di Alas Ketonggo. Untuk itulah, makna membuka rahasia Alas Ketonggo adalah mengakses energi masa silam, men-download kekuatan dari para peluhur, menemukan jatidiri dan akar yang tersandikan dalam sejarah dan kiprah para leluhur. Hanya dengan melakukan itu, kita bisa melampaui setengah tangga yang dibutuhkan untuk mencapai puncak perjalanan di mana esensi dari Satria Piningit dan Ratu Adil bisa kita serap.



Setengah tangga lainnya adalah memahami Alas Ketonggo dalam dimensinya sebagai jagad cilik: diri kita sesungguhnya sebuah alas atau hutan yang menyimpan banyak misteri. Di dalam diri kita bersemayam berbagai jiwa binatang, yang harus ditaklukkan dan dikendalikan agar misteri itu terungkap. Misteri itulah Sang Sukma Sejati, Kesadaran Murni, yang hanya bisa terungkap ketika kita sudah menjadi manusia yang sanggup mengendalikan berbagai jiwa binatang di dalam diri, menemukan kemanusiaan kita, lalu menyatu dengan manifestasi dari Gusti Ingkang Murbeng Dumadi yang gilang gemilang. Untuk mencapai keadaan inilah, kita harus terus melakukan laku prihatin dan ngangsu kawruh sejati.

Saat generasi muda yang terpilih di Jawa/Nusantara telah tuntas menjalani proses menyelami rahasia Alas Ketonggo ini, melalui proses mengembangkan kegiatan berbakti kepada para leluhur sehingga manunggal rasa dan karsa dengan para leluhur, sekaligus terus menerus melakukan laku prihatin hingga manunggal rasa dan karsa dengan Sukma Sejati, maka mereka bisa menjadi Satrio Piningit. Dan para Satrio Piningit inilah yang bisa menjalankan peran sebagai Ratu Adil di Nusantara!



Tugas kita bukanlah berongkang-ongkang kaki menunggu kedatangan Satrio Piningit dan Ratu Adil. Tetapi justru kita harus berjuang untuk menyerap hakikat Satrio Piningit dan Ratu Adil itu ke dalam diri dan kehidupan kita. Lebih lugasnya, kita semua harus berproses menjadi Satria Piningit dan Ratu Adil sesuai kodrat kita masing-masing, sehingga kita bisa betul-betul menjadi pribadi dengan laku utama yang sanggup menjalankan titahing Gusti, hamemayu hayuning bawono! Tentu saja, pada akhirnya, ada salah seorang Satria Piningit dan Ratu Adil yang menjadi pemimpin utama. Tapi, sosok tersebut hanya bisa hadir di persemaian yang subur: di tengah komunitas yang berjiwa satria pinandhito: mereka yang tanpa pamrih menegakkan kebenaran dan keadilan!

Selamat menyongsong jaman baru.

OLEH-OLEH NAPAK TILAS: MENYONGSONG JAMAN BARU NUSANTARA (IV)

NASIB AGAMA-AGAMA IMPORT



Revolusi kebudayaan yang terjadi di Jawa/Nusantara, jelas akan bersinggungan dengan agama-agama yang saat ini terlihat demikian dominan bahkan menjadi agama resmi negara. Revolusi kebudayaan yang hakikatnya adalah gerakan kembali ke asal, kembali ke jatidiri, jelas akan mengubah konstelasi umat beragama di Indonesia. Pada titik tertentu, manusia Jawa/Nusantara akan kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, dan hidup di atas landasan spiritualitas khas Jawa/Nusantara. Orang Jawa/Nusantara akan berganti ageman!



Mengapa hal demikian terjadi? Karena selama ini agama import tersebut telah dimanipulasi oleh sebagian pemuka/pemeluknya untuk menghegemoni Jawa/Nusantara demi mendapatkan kuasa politik dan manfaat ekonomi. Lebih dari itu, agama import itu telah membuat manusia Jawa/Nusantara tidak lagi berpegang pada kearifan lokal, bahkan banyak di antara manusia Jawa/Nusantara yang menistakan kearifan lokal karena dianggap melanggar ajaran Tuhan!



Limaratus tahun manusia Jawa/Nusantara dimabukkan oleh agama import, membuat mereka kehilangan hubungan yang harmonis dengan alam, dengan para sesepuh ingkang Mbahurekso, dengan Kanjeng Ratu Kidul pengayom Nusantara, juga dengan para leluhur gung binatoro. Itu yang menjadi penyebab munculnya berbagai bencana: manusia Jawa/Nusantara tertolak oleh tanah dan airnya sendiri!



Pertanyaannya, jika gerakan kembali ke asal dan jatidiri ini mulai mewujud sempurna, bagaimana dengan nasib agama-agama import? Semuanya tergantung dari apa yang dilakukan oleh para pemuka dan pemeluk agama-agama tersebut. Pada kasus agama Islam misalnya, semuanya tergantung pada pilihan yang diambil: bersediakah untuk memperbaiki segenap pelanggaran terhadap rambu-rambu yang dulu pernah diberikan oleh Dang Hyang Ismoyo kepada Syaih Subakir (Muhammad al Baqir), pendakwah Islam pertama asal Persia?



Gunung Tidar, di mana terdapat petilasan Syeikh Subakir dan Dang Hyang Ismoyo, semestinya menjadi pembangkit memori kaum Muslimin akan legenda masa lalu itu. Rambu-rambu yang diberikan kepada Syeikh Subakir adalah bahwa Islam boleh disebarkan di Tanah Jawa/Nusantara, dengan catatan tetap mempertahankan akar keyakinan dan budaya khas Jawa/Nusantara, serta mengayomi sistem keyakinan yang sudah ada. Faktanya, saat ini gerakan Islam fundamentalis menguat, pemurnian agama kian menjadi-jadi, sehingga Islamisasi (penegakan tatatan yang menyelamatkan) telah bergeser menjadi Arabisasi yang membuat manusia Jawa/Nusantara kehilangan jatidiri mereka. Itu yang membuat kekuatan yang bersemayam di Gunung Tidar menggugat, yang saat ini terwakili oleh Merapi, sebelum kelak Gunung Tidar akan beraksi sendiri.



Semestinya, manusia Muslim bisa tetap berdampingan secara harmonis dengan para penghuni alam ghaib: bangsa kajiman, kadawatan, dan lainnya, lebih khusus dengan para pengayom dan leluhur Nusantara yang berada pada dimensi lain tapi tetap berperan besar dalam kehidupan manusia Jawa/Nusantara. Tetapi, gerakan pemurnian Islam telah membuat sistem kebudayaan yang menjaga keselarasan manusia Jawa/Nusantara dengan para penghuni alam ghaib itu menjadi sesuatu yang nista karena diberi label musyrik, tahayul, bid’ah dan khurafat! Karena itulah, sudah sepatutnya berbagai elemen alam di Nusantara ini berontak, termasuk para penghuni alam ghaibnya. Saksikanlah apa yang terjadi dengan rumah-rumah/bangunan yang dilewati wedus gembel di sekitar Merapi, bukan hanya gosong tapi juga hancur seperti terinjak-injak. Siapakah yang berbuat demikian? Itu bukan hanya kerja si wedus gembel yang hanya memiliki daya panas, tapi juga adalah aksi dari penghuni alam ghaib Nusantara yang selama ini merasa tidak diperdulikan bahkan dilecehkan!



Jika agama Islam dan agama-agama import lainnya khususnya agama-agama dari rumpun Semitik ingin bisa bertahan di Nusantara, maka satu-satunya jalan adalah dengan kembali pada rambu-rambu yang sudah dibuat oleh Dang Hyang Ismoyo! Lebih dari itu, mereka harus mengikuti kebijaksanaan Nabi Sulaiman (King Solomon) yang bersifat mengayomi dan mampu membangun komunikasi harmonis tidak hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada tumbuhan, binatang, dan para penghuni alam ghaib. Jika tidak, jangan salahkan siapapun jika agama-agama tersebut mengalami kiamat atau kehancuran akibat kehilangan pengikut dan tertolak oleh alam.



Jembatan penyelamat untuk agama-agama import adalah ajaran mistik dari agama-agama tersebut. Kedepankanlah aspek kebathinan, tasawuf atau gnostikisme, yang mengutaman kesatuan agama-agama, yang menyerukan persaudaraan universal, memberi ruang bagi eksperimen-eksperimen spritual, serta menghargai tradisi-tradisi lokal. Hanya dengan mempergunakan jembatan ini agama-agama import akan bertahan di Jawa/Nusantara. Ya, lampauilah syariat, lalu menukiklah pada hakikat, sehingga para pemeluk agama-agama import itu mengalami transformasi menjadi manusia-manusia yang berbudi luhur dan berkesadaran tinggi! Karena itulah yang akan menjadi peneguh keberadaan agama-agama import di Nusantara!

OLEH-OLEH NAPAK TILAS: MENYONGSONG JAMAN BARU NUSANTARA (III)

PETUNJUK DARI MASA SILAM



Kegemilangan Nusantara, dan tanda-tanda yang mengawali terwujudnya hal tersebut, setidaknya bisa kita lihat pada dua teks. Teks pertama berkenaan dengan kata-kata bertuah dari Eyang Sabdapalon, dan teks kedua adalah nujuman Prabu Jayabaya, Raja Kediri. Teks yang memuat kata-kata bertuah dari Eyang Sabdapalon adalah sebagai berikut:



Pupuh Sinom:



1). Pada sira ngelingana Carita ing nguni-nguni Kang kocap ing serat babad Babad nagri Mojopahit Naika duking nguni Sang-a Brawijaya Prabu Pan Samya pepanggihan Kaliyan Njeng Sunan Kali Sabda Palon Naya Genggong rencangira



Artinya : Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang Negara Mojopahit, Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong.



2). Sang – a Prabu Brawijaya Sabdanira arum manis Nuntun dhateng punakwan “Sabda palon paran karsi” Jenengsun sapuniki Wus ngrasuk agama Rosul Heh ta kakang manira Meluwa agama suci Luwih becik iki agama kang mulya



Artinya: Prabu Brawijaya berkata lemah-lembut kepada punakawannya: “Sabda palon sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu. Lebih baik ikut Islam sekali, sebuah agama suci dan baik.



3). Sabda Palon matur sugal, “Yen kawula boten arsi, Ngrrasuka agama Islam Wit kula puniki yekti Ratuning Dang Hyang Jawi Momong marang anak putu, Sagung kang para Nata, Kang jemeneng Tanah Jawi, Wus pinasthi sayekti kula pisahan”.



Artinya: Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tidak masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dah Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah Jawa. Sudah digariskan kita harus berpisah.



4). Klawan Paduka sang Nata, Wangsul maring sunya ruri, Nung kula matur petungna, Ing benjang sakpungkur mami, Yen wus prapta kang wanci, Jangkep gangsal atus tahun, Wit ing dinten punika, Kula gantos kang agami, Gama Budha kula sebar tanah Jawa.



Artinya: Berpisah dengan Sang Prabu kembali keasal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Buda lagi (maksudnya kawruh budhi/pengetahuan budhi), saya sebar seluruh tanah Jawa.



5). Sinten tan purun nganggeya, Yekti kula rusak sami, Sun sajeken putu kula, Berkasakan rupi-rupi, Dereng lega kang ati, Yen during lebur atempur, Kula damel pratandha, Pratandha tembayan mami, Hardi Merapi yen wus rijeblug mili lahar.



Artinya: Bila tidak ada yang mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya..



6). Ngidul ngilen purugina, Ngganda banger ingkang warih, Nggih punika medal kula, Wus nyebar Agama Budi, Merapi janji mami, Anggereng jagad satuhu, Karsanireng Jawata, Sadaya gilir gumanti, Boten kenging kalamunta kaowahan.



Artinya: Lahar tesebut mengalir ke barat daya. Baunya tidak sedap. Itulah pratanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Budha (maksudnya kawruh budhi/pengetahuan budhi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widhi bahwa segalanya harus berganti. Tidak dapat bila dirubah lagi.





Demikianlah, saat ini Merapi telah mulai meletup dan menunjukkan tanda-tanda akan menggelegar. Kedahsyatan Merapi bahkan menjangkau tempat-tempat yang dulu seolah tak mungkin terusik. Ketika para pengayom Nusantara mulai lepas tangan, hal demikian memang menjadi sebuah keniscayaan. Inilah yang menjadi pertanda ada yang keliru dengan Kraton Jogjakarta. Tapi, memang sudah demikian hukum alam berjalan. Semuanya akan berubah, yang semula di atas akan ada di bawah, yang semula di bawah akan ada di atas.



Sementara itu, Serat Jangka Jayabaya yang memuat nujuman Prabu Jayabaya, raja Kediri yang agung, mengungkapkan sebagai berikut:



Gemah ripah harja kreta, tata tentrem ing salami-lami, ilang kang samya laku dur, murah sandang lan boga, kang hamangkuasih mring kawulanipun, lumintu salining dana, sahasta pajeg saripis

(Kemakmuran melimpah ruah, langgeng, tertib tenteram selamanya, hilang lah kedurjanaan, murah sandang pangan, pemimpin yang penuh tanggungjawab dan kasih sayang kepada rakyatnya, selalu tidak kekurangan uang, ibaratnya tanah satu hektar pajaknya satu rupiah).



Siti sajung mung sareal, tanpa ubarampe sanese malih, antinen bae meh rawuh, mulyaning tanah Jawa, awit saking tan karegon liyanipun, nakoda wus tan kuwasa, pulih asal mung gagrami.

(Kelak, tanah yang sangat luas pajaknya hanya satu real, tidak ada tambahan pajak lainnya, tunggulah saja hampir tiba saatnya kemuliaan untuk nusantara)



Namun, terwujudnya negeri gemah ripah loh jinawi itu tidak terjadi demikian saja, melainkan melalui sebuah proses dimana kita harus ikut terlibat di dalamnya. Oleh karena itulah Prabu Jayabaya juga mengingatkan:



“Tetapi pesanku, waspadalah dan ingatlah, tegakkan iman mu, jadilah pengikut Ratu Adil penegak kebenaran. Carilah ‘SENJATANYA’ sampai ketemu, ikuti jalannya kemanapun perginya, jadilah, ibaratnya sebagai pasukannya Ratu Adil, tidak lama akan tampak tanda tanda datangnya ratumu yang mendapat kemuliaan agung, datangnya tiba-tiba secepat kilat, diiringi berjuta-juta “malaikat” (berjuta leluhur bumi nusantara), berdiri dengan payung kuning (kebenaran sejati), maknanya ‘bang-bang’ timur keinginannya (gerakan dari wilayah timur nusantara), maka terbitlah sinar yang terang.

…… tidak berapa lama segera datang Ratu Adil duduk menjadi pemimpin dan suri tauladan di wilayah tersebut, sehingga menjadi makmur diibaratkan sawah yang sangat luas pajaknya sangat kecil, diibaratkan tidak ada lagi yang harus dilakukan negara, sebab saking adil makmurnya nusantara, ibaratnya kegiatan orang-orang tinggal terfokus untuk sembahyang kepada Tuhan saja, serta memanjatkan puji-pujian tanpa henti.”



Keberadaan Ratu Adil ini, berjalan seiring dengan mulai terbongkarnya hegemoni agama-agama import di Jawa/Nusantara. Manusia Jawa/Nusantara akan tersadarkan pada hakikat sebenarnya sebagaimana digambarkan dalam teks berikut:



“……….iku kang ambuka agama kang samar-samar nanging sira do awas den eling, awit sadurunge ratu adil rawuh, ing tanah Jawa ana setan mindha menungsa rewa-rewa anggawa agama, dudukuh ana ing glasah wangi, dadine manungsa banjur padha salin tatane, satemah ana ilang papadhange, awit padha ninggal sarengate, dadi kapiran wiwit cilik mula.

(…itu yang membuka mata hati manusia yang memaknai agama secara tidak karuan, tetapi kalian harus waspada dan selalu ingat, sebab sebelum Ratu Adil datang, di tanah Jawa ada setan berkedok manusia berbulu lebat seolah sebagai penegak agama, bertempat tinggal di ‘glasah wangi’, sehingga mengakibatkan manusia berganti tatanan, berakibat hilangnya petunjuk dan tatakrama kehidupan, sebab banyak orang meninggalkan syariat (sebelumya), sehingga menjadi terlantar hidupnya sejak kecil.)”

OLEH-OLEH NAPAK TILAS: MENYONGSONG JAMAN BARU NUSANTARA (II)

MENEROPONG DAN MEMBANGUN KEGEMILANGAN NUSANTARA



Belakangan ini, sebagai hasil dari proses ngangsu kawruh dari beberapa sesepuh, membaca berbagai teks, sekaligus menjalani tirakat untuk mendapatkan pengetahuan dari kedalaman diri, kian muncul kesadaran bahwa memang kita tengah menyongsong momen-momen krusial, yang sangat menentukan nasib Nusantara di masa depan. Dalam kesadaran ini, peristiwa Merapi menjadi salah satu pertanda yang paling jelas tentang mulai berjalannya proses pembentukan tatanan baru di Nusantara. Meletusnya Merapi bukan semata-mata gejala alam. Alih-alih demikian, Merapi telah menjadi simpul pertemuan beberapa pihak – yang tengah sama-sama bekerja untuk mewujudkan kodrat alam: lahirnya Nusantara baru yang menjadi kiblat spiritualitas dunia, sekaligus negeri yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja. Meletusnya Merapi dan berbagai bencana lainnya, adalah momen pembayaran karma masa lalu, sekaligus sebagai instrumen seleksi alam terhadap manusia Nusantara: mana yang masih akan bertahan dan bahkan menjadi pilar perubahan Nusantara ke arah kejayaan, dan mana yang disisihkan karena tak bisa lagi diterima oleh Bumi Pertiwi. Letusan Merapi yang meluluhlantakkan berbagai tatanan lama, juga menandai hadirnya tatanan baru. Dua keraton di Jawa, yaitu Keraton Solo dan Yogya, akan dipaksa oleh alam untuk berubah atau tergilas. Kraton Jogja yang selama ini menjadi pancer yang menjaga kesetimbangan Merapi dan Laut Selatan, kini memang berada pada situasi dilematis, disebabkan oleh mulai ditinggalkannya banyak pakem/anggah-ungguh, yang disimbolkan dengan kian kentalnya nuansa rib iriban di Kraton Jogja. Konflik terbuka dengan Merapi dan Laut Selatan, kian menempatkannya pada posisi sulit bahkan terancam. Semuanya kembali pada kebijaksanaan penguasa Kraton Jogja yaitu Sultan Hamengkubuwono X dan para kerabatnya: pilihan apapun yang diambil, itulah yang menjadi penentu bagaimana peran Kraton di masa depan.



Dalam selubung kedahsyatan Merapi, bekerjalah Eyang Sabdopalon yang dalam perwujudan lain dikenal juga dengan nama Kaki Semar atau Dang Hyang Ismoyo. Bekerjalah juga Kanjeng Ratu Kidul dengan para manggalanya termasuk Nagabumi, para sesepuh ingkang mbahurekso di Merapi dan sekelilingnya termasuk pasukan banaspati, diiringi oleh kiprah para leluhur gung binatoro. Dalam proses ini, alam memang menjadi nggegirisi, abot dilakoni (mencekam, berat untuk dijalani). Tapi, selalu ada celah penyelamatan diri bagi mereka yang waspada, yang tanggap ing sasmita (tanggap terhadap tanda-tanda alam). Bahkan, berbagai kesulitan yang muncul seiring dengan peristiwa alam yang dahsyat di Nusantara, justru menjadi pintu masuk bagi generasi muda yang hatinya terbuka dan mendapat panggilan darah untuk berkiprah menjadi satria-satria pembela Ibu Pertiwi.



Sebuah kerja besar tengah mencapai momentumnya. Limaratus tahun, Ibu Pertiwi, para leluhur, juga para pengayom dan pengasuh manusia Jawa/Nusantara, telah bersabar. Mereka semua membiarkan diri, dengan kelapangan dada yang tiada tara, menjadi tamu di negeri sendiri, bahkan mendapatkan kecaman dan nistaan. Semua itu memang sesuatu yang harus dijalani – menjadi semacam laku prihatin – yang harus dilakukan agar kegemilangan Nusantara memang bisa diraih. Hal demikian tentunya tak aneh bagi mereka yang menggeluti falsafah Jawa. Bagi orang Jawa, satu-satunya jalan untuk menikmati surga adalah dengan nyemplung ke neraka. Jika mau meraih kemuliaan dan kenikmatan yang besar, maka jalan satu-satunya adalah melakukan pengorbanan, menjalankan hidup yang penuh keprihatinan, membuat ego atau keakuan benar-benar ditekan habis hingga rata dengan tanah.



Dalam hidup ini berlaku hukum cakra manggilingan, semua berubah semua berputar. Memang, keterjerembaban manusia Jawa/Nusantara adalah buah dari kekeliruan internal, yang kemudian mengundang hadirnya pihak luar yang berlaku aniaya – yang secara hakiki dapat dipahami sebagai instrumen bagi tegaknya keadilan alam. Dulu manusia Jawa/Nusantara pernah mencapai kejayaan secara budaya, ekonomi dan politik, disimbolkan dengan keberadaan Keraton Kediri, Singosari, Sriwijaya, maupun Majapahit dan Pajajaran. Karena ketidakwaspadaan dan konflik internal, kejayaan itu sirna. Lalu masuklah pihak-pihak luar yang pandai memanfaatkan keadaan untuk menancapkan hegemoninya. Hingga akhirnya Nusantara mengalami penjajahan berkepanjangan, mulai dari sekadar penjajahan ekonomi, politik, hingga yang paling tersamar dan berjangka panjang, penjajahan budaya. Proses membalik situasi itu, mungkin saja memakan proses lebih singkat. Tetapi, hasilnya akan berbeda dengan proses yang membutuhkan waktu yang lebih lama. Limaratus tahun, adalah waktu yang telah ditetapkan untuk membalik keadaan dan menyudahi masa prihatin yang teramat panjang. Cukuplah rentang waktu itu untuk mencapai buah yang benar-benar matang dan terasa manis alami!



Kini saatnya telah tiba: pembalikan tatanan untuk mengembalikan kejayaan Nusantara mulai berjalan. Dimulai dengan revolusi budaya, wong jowo bali menyang jawane. Orang-orang Jawa kembali kepada Jawanya. Demikian pula berbagai suku di Nusantara lainnya, mereka semua kembali kepada jatidirinya. Hegemoni kebudayaan asing perlahan-lahan akan sirna. Agama-agama import tak akan lagi dominan, berganti dengan agama jawi (ajaran spiritualitas yang berlandaskan pada kepekaan terhadap tanda-tanda alam atau sastra jendra hayuningrat). Dimotori oleh generasi muda yang terpilih dan mendapat asuhan dari para leluhur di bawah komando Eyang Sabdapalon, revolusi kebudayaan ini akan berlangsung dahsyat: seolah sunyi, diam, namun benar-benar membalikkan keadaan! Sebagai buah dari revolusi kebudayaan ini, tercipta pulalah revolusi politik dan revolusi ekonomi. Nusantara akan kembali dipimpin oleh mereka yang berjiwa satria, sekaligus punya watak pandhita. Konsep yang mewadahi gagasan ini adalah kepemimpinan oleh Satria Piningit dan Ratu Adil. Ya, pada waktunya Nusantara kembali dipimpin oleh sosok yang memanifestasikan kebijaksanaan Gusti Ingkang Akaryo Jagad – yang mendapat wahyu kedaton serta didukung oleh Ibu Pertiwi dan berbagai kekuatan yang ada di Nusantara. Pemimpin demikian yang mampu mengayomi dan menegakkan keadilan, dan benar-benar sanggup menetapkan kebijakan yang memihak kepentingan bangsa. Asset-asset Nusantara kembali bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat banyak, tatanan ekonomi yang semula timpang berubah menjadi berkeadilan, dan akhirnya terciptalah kesejahteraan yang merata. Nah, meletusnnya Merapi adalah simbol atau pertanda hadirnya Satria Pambukaning Gapura: munculnya pemimpin keturunan dan titisan raja-raja Kutai yang secara de facto akan memimpin Nusantara. Dan ia menjadi pintu gerbang bagi lahirnya Satria Piningit yang berdarah Majapahit/Pajajaran/Mataram (mampu melahirkan persatuan antara trah Majapahit dan Pajajaran yang sesungguhnya satu asal tapi sempat terkoyak akibat Perang Bubat).



OLEH-OLEH NAPAK TILAS: MENYONGSONG JAMAN BARU NUSANTARA (I)

KISAH NAPAK TILAS

Di penghujung minggu pertama November 2010, terasa kuat sekali perintah dari dalam diri, untuk menapaktilasi jejak sejarah Panembahan Senopati, pendiri Kesultanan Mataram. Ada beberapa pertanyaan menggelitik yang membutuhkan jawaban, dan rasanya jawaban itu baru muncul setelah proses napak tilas itu dilakukan. Ngelmu itu kelakoni kanthi laku, demikian KGPAA Mangkunegoro IV mengingatkan dalam Serat Wedhatama. Salah satu tafsir dari ujaran itu adalah bahwa untuk mendapatkan pengetahuan yang kita butuhkan, kita memang harus memancing kemunculannya lewat sebuah laku, lewat sebuah perbuatan nyata yang menunjukkan kesediaan berkorban dan berjuang. Tak cukup ilmu itu diraih hanya dengan membaca buku, atau sekadar merenung di rumah yang nyaman.



Sesuatu yang berharga, memang harus diraih melalui perjuangan keras, yang melibatkan sikap sabar, tekun dan pantang menyerah. Itulah pelajaran berharga yang lagi-lagi saya peroleh dalam pengembaraan kali ini. Perjuangan itu sudah dimulai di kereta api. Perjalanan menggunakan Senja Utama dari Jakarta ke Yogyakarta yang biasanya hanya memakan waktu 8 jam, ternyata menjadi tak kurang dari 26 jam. Karena ada kereta terguling di Telagasari Indramayu, kereta yang saya tumpangi dan berangkat dari Stasiun Senen pukul 20.00 baru bisa sampai Cirebon pukul 17.00 keesokan harinya. Baru setelah melewati Stasiun Kejaksan Cirebon, perjalanan mulai lancar lancar.



Terpenjara di kereta api selama berjam-jam, jelas memberikan pelajaran tersendiri tentang makna sabar. Untunglah, sebelumnya saya sempat membeli satu set novel lawas berjudul Senopati Pamungkas karya Arswendo Atmowiloto, yang total terdiri dari 25 seri. Di dalam kereta, sampai kemudian tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta, saya bisa melahap 12 seri. Lumayan, karena dari novel itu saya banyak mendapatkan pelajaran penting, yang nanti akan saya urai dalam tulisan ini.



Ternyata, dari molornya waktu perjalanan kereta api itu, ada hikmah lain selain kesempatan untuk belajar makna sabar dan membaca sebuah novel lawas tanpa gangguan. Kedatangan saya ke rumah Kang Sabdalangit di Plengkung Wijilan, ternyata bersamaan dengan berkumpulnya teman-teman dari Kampus Wong Alus yang sedang mempersiapkan distribusi bantuan kepada para pengungsi Merapi. Jadi, tanpa direncanakan, saya jadi terlibat dalam aksi sosial yang dimulai malam itu dan dilanjutkan keesokan harinya. Ini yang namanya blessing in disguess, berkah tersembunyi. Benarlah kata para sesepuh, bahwa kalaupun kita sedang mendapatkan kesulitan, jangan nggresula (mengeluh), karena siapa tahu ada ada anugerah yang menanti.



Dan selama terlibat dalam aksi sosial bersama teman-teman dari Kampus Wong Alus itu, saya lagi-lagi banyak mendapatkan wawasan baru. Pada sessi pertama pembagian bantuan, saya ada satu mobil bersama Kang Sabdalangit, istrinya Nyi Utari dan sobat asal Jombang, Mas Azizi. Salah satu pengalaman berharga itu adalah ketika mendekati Jogja Expo Centre yang menjadi salah satu tempat penampungan pengungsi, tiba-tiba di dalam mobil yang tertutup dan ber-AC, tercium bau udang goreng. Sementara jelas bau dari luar semestinya tak bisa tercium, terlebih tak ada pabrik udang goreng di sekitar itu. Ternyata, bau udang goreng ini adalah sebuah pertanda – sebagaimana disampaikan Kang Sabdalangit dan Nyi Utari, itu adalah pertanda Merapi sedang punya hajatan besar. Ini yang menjadi salah satu dasar pentingnya masyarakat di sekitar Merapi tetap waspada. Meredanya aksi Merapi saat ini, bukan berarti Merapi sudah akan berhenti total. Tapi itu sekadar sebuah jeda, yang dipakai Merapi untuk mengumpulkan kekuatan. Pada waktunya, dalam jangka waktu dekat ini, hajatan Merapi berupa erupsi yang dahsyat sangat mungkin terjadi. Terlebih, fenomena Merapi ini memang bukan sekadar fenomena alam, tapi ini memang sebuah momen di mana berbagai pihak baik yang kasat mata maupun tak kasat mata sedang beraksi. Sungguh akan terkecoh mereka yang melihat Merapi hanya sebagai sebuah gunung, dan menyangka letusan merapi itu hanya semata-mata gejala vulkanik.



Pada sessi kedua distribusi bantuan, saya berada dalam satu kendaraan hanya dengan Kang Sabdalangit. Karena Nyi Utari punya agenda lain dan tak bisa ikut, sementara Mas Azizi mengendarai kendaraan pengangkut barang bantuan yang lain. Selama perjalanan inilah, diskusi yang hangat dan meluaskan pengetahuan saya terjadi. Saya harus akui, bahwa saya sungguh bersyukur bisa mendapatkan banyak ilmu dari Kang Sabdalangit yang jauh lebih waskitho. Beberapa topik yang kami sempat kami diskusikan antara lain menyangkut rahasia Gunung Tidar, skenario leluhur untuk Nusantara di masa depan, dan sikap-sikap yang sepatutnya menempel di kalangan generasi muda. Hasil diskusi ini, termasuk yang akan saya uraikan dalam tulisan ini.



Rombongan distribusi bantuan ini selesai melaksanakan tugas sore hari, dan berkumpul kembali di rumah Ki Sabdalangit sekitar pukul 18.30. Setelah sempat berbincang-bincang dengan dengan para sahabat dari Kampus Wong Alus, antara lain Mas Bengawan Candhu, Mas Agus, Mas Wawan, Mas Andra, Mas Akik dan Mas Prabowo, pukul 20.00 saya dan Mas Azizi, pamitan untuk memulai prosesi napak tilas, diawali di Pesarean Kota Gedhe. Malam itu, saya lagi-lagi merasa mendapatkan keberuntungan, karena Mas Wawan dan Mas Andra ternyata menawarkan diri untuk mengantarkan saya dan Mas Azizi ke Kota Gedhe. Siapa nolak? He, he.......



Proses napaktilas Panembahan Senopati di Pesarean Kota Gedhe, dilaksanakan dengan prosesi menghaturkan sesaji kembang setaman dan ucapan pertanda bakti dari saya sebagai salah satu keturunannya. Setelah itu, dilanjutkan dengan semedhi untuk menyatukan rasa, dengan Panembahan Senopati dan para leluhur lainnya yang ada di pesarean tersebut, seperti Sultan Hadiwijaya, Sultan Sepuh Hamengkubuwono II, Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Mangir, dan lainnya. Menjelang tengah malam, semedi sesi bertama harus saya akhiri karena Mas Azizi harus segera ke Surabaya. Setelah sejenak ngobrol sambil ngewedang di salah satu warung, saya dan Mas Azizi akhirnya berpisah. Mas Azizi ke Surabaya, sementara saya melanjutkan semedi di Pesarean Kota Gedhe.



Saya membuka mata, menghentikan proses semedi, dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 01.30. Saya merasa benar-benar sangat mengantuk dan lelah. Karena itu, saya putuskan untuk beristirahat sejenak. Yah, lumayan, ngglosor di salah satu petak ubin yang masih kosong dengan kepala berbantalkan gulungan jaket – saat itu, malam Jum’at Pon, cukup banyak juga orang yang berziarah, dari berbagai lapisan masyarakat, dengan berbagai niat. Sekitar pukul 03.00 saya terbangun, dengan badan yang cukup segar, rasa kantuk telah hilang. Saya putuskan untuk melanjutkan semedi, hingga pagi.

Pukul 05.00, saya mulai beranjak meninggalkan Kota Gede, mampir di warung angkringan sebentar, lalu menuju Parangtritis. Pilihan ke Parangtritis ini juga muncul dari rasa di hati, saya merasa ingin sekali ke situ, untuk sowan kepada Kanjeng Ratu Kidul. Saya tiba di Parangtritis sekitar pukul 07.00. Matahari sudah mulai memanasi tepian Samudera Hindia itu, yang dalam khazanah orang Jawa lebih dikenal sebagai Laut Selatan. Saya lalu melaksanakan prosesi melarung kembang setaman, sebagai simbol bakti dan hormat kepada Kanjeng Ratu Kidul sebagai pengayom Nusantara. Setelah itu, saya memilih salah satu tempat yang cukup nyaman, di sisi sebuah batu karang, untuk bersemedi. Semula saya semedi dengan posisi duduk, lama-lama mengantuk di sentuh angin pantai, sehingga saya ganti posisi menjadi berbaring. Sungguh nikmat tiduran di tepi pantai, beralaskan pasir yang halus, sambil sebisa mungkin memfokuskan pikiran pada aliran nafas.



Sekitar pukul 10.00, saya merasa tiba waktunya untuk menghentikan semedi, lalu mencari warung yang banyak bertebaran di Parangtritis, menikmati sarapan. Mohon maklum...saya memang agak beda dengan para ahli tirakat yang suka tidak makan dan tidak minum ketika lelakon. He, he.....saya memilih untuk lelakon sambil wisata kuliner. Saat itu, saya tiba-tiba tergerak untuk mengirim SMS ke salah satu sahabat di Jakarta, Pak IBM Jayamartha, bahwa saya sedang berada di Parangtritis. Sahabat itu balik bertanya lewat SMS, “Sudahkah ke Gua Langse?”. Sejujurnya, saya semula tidak berniat ke tempat itu, karena memang saya tidak tahu (perlu saya jelaskan, saya ini memang benar-benar pemula lho dalam dunia spiritual Jawa..he, he..jadi banyak tempat-tempat spesial yang saya belum tahu).



Saya lalu bertanya kepada penjaga warung, di mana letak Gua Langse itu. Dia menjawab, “Dekat, ke arah perbukitan, terus saja nanti juga ketemu.” Dengan berbekal kata dekat itu, saya jadi bersemangat untuk segera mencapai Gua Langse. Ternyata, definisi dekat menurut sang penjaga warung itu agak berbeda dengan definisi dekat yang saya pahami selama ini..he, he...saya berjalan kaki menuju ke tempat itu kok tidak sampai-sampai. Setiap saya bertemu orang di jalan, saya bertanya, dan jawabannya adalah, “Oh, terus aja, ikuti jalan naik ini, nanti belok.....” Dan saya tetap merasa tidak sampai-sampai ke tempat yang saya tuju. Tapi, tiada perjalanan yang tiada berujung. Menjelang tengah hari, ketika badan ini sudah merasa sangat letih, akhirnya saya tiba juga di gerbang Gua Langse. Di situ saya bertemu Pak Aris, Juru Kunci Gua Langse, yang kemudian menawarkan diri untuk menemani saya. Maka, saya berjalan lagi untuk menuju ke tempat tujuan, yang saya kira sudah tinggal beberapa langkah. He, he, ternyata saya lagi2 keliru..saya masih berjalan beberapa saat menelusuri jalan setapak dengan beraneka pepohonan di kanan dan kiri. Lalu, tibalah saya dan Pak Aris di ujung jalan setapak itu..dan itu adalah sebuah tebing yang curam. Dari situ, saya memandang ke bawah....hambaran samudera yang sungguh menggetarkan!



D i situlah Pak Aris bercerita tentang sejarah Gua Langse. Gua ini adalah tempat pertapaan Panembahan Senopati. Gua ini dipilih karena benar-benar tersembunyi, sehingga Panembahan Senopati benar-benar bisa menyepi dari keramaian dan hiruk pikuk manusia. Saat bertapa di sini, Kanjeng Ratu Kidul yang tertarik karena Panembahan Senopati menebarkan aura wahyu (pulung) yang kuat, hadir dan menyapa. Dan ini menjadi awal legenda hubungan khusus antara Kanjeng Ratu Kidul dan raja-raja Mataram.



Tapi, untuk mencapai Gua Langse, masih butuh perjalanan lanjutan. Gua Langse ada di bagian bawah tebing itu. Jika ditarik garis lurus vertikal, jaraknya 180 meter. Jika melalui tangga darurat, jaraknya 300 meter. Pak Aris bertanya kepada saya, “Benar sudah niat mau ke Gua Langse?” Pertanyaan itu bukan tanpa sebab. Turun ke bawah melalui tangga darurat menuju Gua Langse - yang terdiri dari kombinasi tangga bambu, tangga besi, undak-undakan tebing, dan akar-akar yang menjol keluar- bukan tanpa resiko. Jika terpeselet, ya terhempas ke bawah, dengan hasil berupa cidera parah atau kematian. Saya jawab, saya sudah niat, maju terus pak! Setelah perjuangan mendebarkan meniti tangga darurat, tibalah saya di dasar tebing. Di situ, di dekat gua, ada tempat pemandian, dan Pak Aris menyarankan saya untuk mandi dulu. Dengan senang hati saya turuti saran itu: sungguh menyegarkan dibanjur air alami! Dalam keadaan segar, saya lalu bersemedi di dalam gua. Beberapa saat, saya coba menyambung rasa dengan Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul.



Sekitar pukul 13.30, saya selesai bersemedi. Lalu, seorang ibu-ibu yang membuka warung minimalis di sisi gua itu menawarkan teh tubruk panas dan makan siang. “Di sini tempat prihatin mas, yang ada cuma tahu dan tempe.” Dalam kondisi lelah dan lapar, tahu dan tempe pun pasti nikmat. Jelas saya terima tawaran menarik itu. Saya menikmati hidangan sambil berpikir, bagaimana ibu2 yang berusia sekitar 60 tahun ini berhubungan dengan dunia luar? Apakah dia naik turun tangga darurat? Hebat sekali jika begitu..atau bagaimana? He, he....biarkanlah itu tetap jadi misteri.



Setelah menikmati hidangan di muka gua, saya memutuskan melanjutkan perjalanan. Tujuan saya adalah Sendang Beji, yang petunjuk keberadaannya tadi saya lihat ketika menuju Gua Langse. Pak Aris mengatakan sendang itu dekat dari Gua Langse, hanya sekitar 2 km. Itu membuat saya bersemangat. Saat pulang dari Gua Langse, ada hal yang membuat saya tertawa dalam hati. Saya dua kali dicegat gerombolan anjing penjaga ternak. Gerombolan anjing itu menyalak keras saat saya lewat. Mungkin karena mereka merasa saya ini orang asing. Tapi bisa jadi mereka melihat saya ini sebangsa tulang berjalan yang membuat mereka jadi bergairah..he, he...Tapi untunglah mereka hanya menyalak dan sedikit mendekat, tak sampai menyerang (padahal saya sudah siap-siap...siap-siap lari..he, he).



Perjalanan menuju Sendang Beji, saya pikir tak terlampau susah karena jaraknya sudah bisa diprediksi. Tak lebih dari 30 menit pastilah sampai. Ternyata, saya lagi-lagi keliru. Saya memang mengikuti papan petunjuk, saya berbelok dari jalan utama ke arah kanan. Saya berjalan lurus, tapi kok tak kunjung berjumpa dengan sendang itu. Sampai saya merasa sangat letih, tetap saja tidak sampai-sampai. Repotnya, di kanan kiri jalan yang saya lalu hanya ada kebun dan pesawahan, tak ada orang tempat bertanya. Tapi saya yakin, bahwa justru di titik kritis, pertolongan itu akan datang, asal usaha terus dilakukan, dan jangan ada kata menyerah. Seperti itulah yang terjadi, akhirnya saya bertemu dengan penduduk yang menunjukkan bahwa saya salah arah..kebablasan! He, he....untung saja! Akhirnya saya berbalik arah, dan lagi-lagi bertemu dengan salah satu penduduk, seorang nenek sepuh. Saya ngobrol sejenak lalu mengikuti petunjuknya untuk mencapai Sendang Beji. Akhirnya, pukul 15.00 saya sampai juga di sendang itu, lega rasanya!



Setelah ngobrol sejenak dengan Juru Kunci Sendang Beji, saya memutuskan untuk mandi di situ, di ruangan tertutup yang memang dikhususkan bagi peziarah yang ingin menikmati kesegaran air Sendang Beji. Sayapun mandi dengan niat membersihkan aura. Luar biasa segarnya! Gerojogan dari pancurannya besar sekali...jadi bisa berfungsi juga sebagai “alat pijat”...memulihkan tubuh dari segenap keletihan. Usai mandi, saya bersemedi di sebuah altar, yang dihiasi prasasti bertuliskan “Tri Soka: Ngudi Sejatining Becik, Nggayuh Urip Kepeneran, Berbudhi Bawa Laksana”. Oh ya, perlu saya jelaskan, bahwa di Sendang Beji inilah dulu Jaka Tarub bertemu dengan Dewi Nawangwulan, widodari yang turun dari kahyangan, hingga kemudian mereka menikah dan melahirkan Dewi Nawangsih.



Semedi di Sendang Beji, menyatukan rasa dengan para leluhur yang terkait dengan tempat itu, sungguh memberikan rasa hening dan damai yang luar biasa! Digabung dengan semua rasa yang saya dapatkan dari proses penziarahan sejak awal, saya merasa mendapatkan tambahan energi yang luar biasa. Bukan hanya itu, saya juga mendapatkan berbagai kesadaran yang akan saya bagi kepada Anda semua. Pukul 16.00, saya beranjak meninggalkan Sendang Beji, kembali ke rumah Kang Sabdalangit, untuk meneruskan perjalanan, pulang ke rumah di Lembah Ciremai pada malam harinya. Beruntung, saya masih bisa bertemu Kang Sabdalangit, bahkan bisa berjumpa juga dengan Mas Dalbo, wong Jowo yang jauh-jauh datang dari Australia untuk menyampaikan sumbangan kepada pengungsi Merapi. Di penghujung senja, saya berpamitan kepada Kang Sabdalangit dan menghaturkan terima kasih atas segala jamuan yang telah diberikan. Di antar oleh Mas Dalbo sampai stasiun, sayapun meninggalkan Yogyakarta menggunakan Senja Utama. Diiringi sebuah pertanyaan yang menggelisahkan bahkan membuat nelongso, “Masihkan bisa saya jumpai Yogyakarta, dengan keriuhan Malioboronya?” Mudah-mudahan saya masih bisa berjumpa dengan Jogja....kalaupun ada perubahan, semoga Jogja yang saya temui kelak adalah Jogja yang lebih baik!

MERAPI, ISLAM, DAN MASA DEPAN BANGSA

26 Oktober 2010, Merapi beraksi. Awan panas, lava yang berpijar, menghanguskan dan memporakporandakan kawasan sekitarnya. Telah muncul puluhan korban, termasuk Mbah Marijan – yang dikenal sebagai juru kunci Merapi. 3 Oktober, Merapi beraksi lagi, lebih dahsyat. Lewat mata bathin mereka yang waskito, bisa diperkirakan bahwa aksi Merapi belum akan berakhir. Bahkan bisa saja menjadi jauh lebih dahsyat. Dan korban yang muncul bisa lebih banyak lagi. Daya rusak Merapi bahkan bisa memasuki Kota Jogja, sesuatu yang di luar kelaziman, karena selama ini Kota Jogja seolah terlindung dari bencana yang diakibatkan amarah Merapi.


Apa makna semua ini? Perlu kita sadari bahwa apa yang tengah terjadi, sudah dinujumkan. Ditarik 500 tahun ke belakang, pada momen yang menandai kehancuran Majapahit, Eyang Sabdapalon memyampaikan kata-kata yang menggetarkan – di hadapan Prabu Brawijaya V dan Sunan Kalijaga:


“Yen kawula boten arsi, Ngrasuka agama Islam Wit kula puniki yekti Ratuning Dang Hyang Jawi Momong marang anak putu, Sagung kang para Nata, Kang jemeneng Tanah Jawi, Wus pinasthi sayekti kula pisahan”.

Artinya: Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tidak masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dah Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah Jawa. Sudah digariskan kita harus berpisah.

Klawan Paduka sang Nata, Wangsul maring sunya ruri, Nung kula matur petungna, Ing benjang sakpungkur mami, Yen wus prapta kang wanci, Jangkep gangsal atus tahun, Wit ing dinten punika, Kula gantos kang agami, Gama Budha kula sebar tanah Jawa.

Artinya: Berpisah dengan Sang Prabu kembali keasal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Buda lagi (maksudnya kawruh budhi/pengetahuan budhi), saya sebar seluruh tanah Jawa.

Sinten tan purun nganggeya, Yekti kula rusak sami, Sun sajeken putu kula, Berkasakan rupi-rupi, Dereng lega kang ati, Yen during lebur atempur, Kula damel pratandha, Pratandha tembayan mami, Hardi Merapi yen wus rijeblug mili lahar.

Artinya: Bila tidak ada yang mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya...

Ngidul ngilen purugina, Ngganda banger ingkang warih, Nggih punika medal kula, Wus nyebar Agama Budi, Merapi janji mami, Anggereng jagad satuhu, Karsanireng Jawata, Sadaya gilir gumanti, Boten kenging kalamunta kaowahan.

Artinya: Lahar tesebut mengalir ke barat daya. Baunya tidak sedap. Itulah pratanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Budha (maksudnya kawruh budhi/pengetahuan budhi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widhi bahwa segalanya harus berganti. Tidak dapat bila dirubah lagi.

Kata-kata Eyang Sabdapalon, sesungguhnya menggambarkan kegetiran yang mendalam. Sebuah tatanan yang telah dirajut nama, hancur oleh kekuatan baru yang mengatasnamakan Agama yang Sempurna dan Menyempurnakan. Kebaikan hati yang tidak diiringi kewaspadaan dan ketegasan, ternyata menjadi pintu masuk tragedi berkepanjangan. Jawa – dan Nusantara secara keselurulah, perlahan namun pasti, luluh lantak, secara politik, ekonomi, dan budaya. 500 tahun setelah drama keruntuhan Majapahit itu, kita sama-sama bisa menyaksikan bagaimana degradasi secara politik, ekonomi, dan budaya itu, mencapai titik terendahnya. Kita memasuki titik nadir.

Kolonialisasi oleh Belanda dan Jepang memang berakhir pada 1945, tapi secara politik dan ekonomi, Nusantara yang kini mewujud menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, masih jauh dari kata berdaulat. Simpul-simpul kekuatan politik terbajak oleh segelintir orang yang lebih mengedepankan kepentingan pribadi, bersimbiosis dengan kekuatan asing yang berhasrat menjarah dan mengeruk sumber daya ekonomi negeri ini dengan sepuas-puasnya. Hutan terjarah, tambang terjarah, pasarpun tak lagi merupakan ruang kemandirian ekonomi. Hingga pelosok-pelosok desa, uang disedot oleh mesin-mesin ekonomi milik konglomerasi. Rakyat kebanyakan betul-betul hanya bisa menikmati remah pembangunan. Maka kemiskinan bahkan kemelaratan adalah sebuah gambaran nyata, walau digembar-gemborkan pertumbuhan ekonomi Indonesia terus membaik.

Dan yang lebih mengerikan adalah hancur leburnya budaya bangsa. Di satu sisi, modernisasi yang datang seiring dengan masuknya imperialisme politik dan ekonomi gaya baru, membuat banyak warga bangsa menjadi modern dalam pengertian yang peyoratif: mereka lupa bagaimana sebetulnya jatidiri sebagai bangsa Indonesia. Saat yang sama, Agama yang diklaim sebagian besar pemeluknya sebagai Sempurna dan Menyempurnakan itu – dan secara politik pada 500 tahun lalu mewujud dalam Kerajaan Demak yang meluluhlantakkan Majapahit - walau terkesan bertentangan dengan modernisasi, hakikatnya sesungguhnya sewarna: membuat sebagian besar warga bangsa ini melupakan jatidirinya hingga pada titik menistakan kearifan lokal dari para leluhurnya sendiri.

Wong Jowo ilang jawane, malah dadi rib iriban. Orang Jawa lupa akan kejawaannya, malah berbangga-bangga dengan budaya padang pasir yang disangka sebagai Ajaran Tuhan yang paling sempurna. Kerarifan lokal dianggap sebagai tahayul, bahkan kemusyrikan, yang pelakunya hanya layak diganjar dengan neraka jahanam. Keberadaan para pengasuh dan pengayom Tanah Jawa, tak lagi mendapatkan tempat dalam sistem berpikir dan sistem keyakinan Wong Jowo sing wis ilang jawane. Demikian pula, leluhur tak lagi digubris ajaran luhurnya – bahkan di tempat dimana raga para leluhur itu dikebumikan – beliau-beliau disapa dan didekati dengan bahasa padang pasir – bukan dengan bahasa Jawa – karena menganggap bahasa padang pasir itulah “bahasa Tuhan”. Sempurna sudah sebuah pembalikan tatanan: kita bahkan tak bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Melihat itu semua, bukankah sepantasnya jika Ibu Pertiwi menjerit, dan para penjaga ghaib di Tanah Jawa ini meradang, termasuk Ki Jurutaman di Merapi? Juga Kanjeng Ratu Kidul dengan para manggalanya yang bertahta di Laut Selatan?

Masa Depan Islam

Rangkaian bencana di Tanah Jawa dan berbagai tempat lain di Nusantara, adalah pertanda bangkitnya Agama Budhi, spiritualitas ala Jawa atau Nusantara yang mengedepankan budi pekerti luhur sekaligus penuh dengan sikap toleran. Salah satu bentuk dari spiritualitas yang mengalami kebangkitan itu adalah Kejawen, seperangkat falsafah dan nilai luhur yang lahir dan tumbuh di bumi pertiwi ini, dikreasi oleh para leluhur mulya, berlandaskan Kitab Sastra Jendra yang tidak berwujud lembaran kertas, melainkan berbentuk hati yang selalu basah karena sikap eling lan waspodo, dan alam yang menggelarkan tanda-tanda kebenaran dari Gusti Ingkang Mohogung. Banyak anak-anak muda, tanpa disangka tanpa diduga, terpanggil dan terpilih untuk mengusung kearifan lokal Nusantara ini. Berangkat dari baju agama yang bermacam-macam, anak-anak muda ini tiba-tiba menjangkau kesadaran spiritual yang tinggi, dan dengan berani lalu hidup berlandaskan kesadaran baru itu: menjadi pembela kearifan lokal!

Lihatlah, di seluruh tempat di Nusantara, anak-anak muda ini tampil menyuarakan kebenaran yang lama tertindas dan tak mendapatkan tempat. Suara-suara leluhur Nusantara, juga gagasan-gagasan besar mereka, seperti mendapatkan penyaluran lewat pikiran dan kiprah anak-anak muda ini. Maka, demikianlah, Eyang Sabdapalon membuktikan kata-katanya: Agama Budhi akan menyebar kembali di Jawa bahkan Nusantara.

Pertanyaan besarnya, bagaimana kemudian dengan nasib agama-agama yang selama ini mewarnai Nusantara? Khususnya 5 agama resmi yang diakui negara? Agama-agama yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan baru ini, akan mengalami kiamat, akan hancur luluh lantak, ditinggalkan pemeluknya yang memiliki kesadaran baru.

Termasuk Islam, walau diklaim sebagai agama yang sempurna dan menyempurnakan, jika tidak bisa menyesuaikan diri, dan tidak mereformasi atau bahkan merevolusi diri, maka takdirnya adalah kehancuran ditelan oleh gelombang perubahan.

Dalam hal ini, sudah semestinya umat Islam mengenang kembali, bagaimana Islam yang diajarkan oleh Syeikh Subakir, seorang pendakwah paling awal di Nusantara. Pelajarilah simbol yang tertera nyata di Gunung Tidar: petilasan Syeikh Subakir bersanding dengan petilasan Dang Hyang Ismaya. Islam bisa diterima oleh bumi nusantara pada kala itu, termasuk oleh makhluk ghaibnya, hanya ketika pemeluknya – terutama ulamanya - bersedia berkomitmen untuk tetap menyesuaikan diri dengan - bahkan melestarikan - kearifan lokal. Orang Jawa yang menjadi Muslim – dan mengikuti garis dakwah Syeikh Subakir – tidak mesti mengikuti sepenuhnya Islam ala padang pasir. Yang seharusnya ditangkap adalah esensi Islam: sikap berserah diri total kepada Kebenaran, juga sikap penuh damai, dan sikap menebar keselamatan terhadap diri sendiri, sesama, dan seluruh semesta alam. Umat Islam harus cerdas memilah, mana Kebenaran Universal yang muncul dari Ruhul Qudus di dalam raga seorang Muhammad, mana yang merupakan tradisi lokal padang pasir.

Lebih dari itu, umat Islam yang mengikuti mazhab Syeikh Subakir, tak bisa lagi berlaku sombong dengan menyatakan diri sebagai pemilik kebenaran satu-satunya. Sadarilah bahwa ajaran agama yang dipeluk, pada dasarnya adalah setara dengan ajaran-ajaran lainnya: bahwa itu semua adalah ekspresi kemanusiaan dalam rangka mendekati Yang Mahasuci. Buanglah klaim sebagai pemilik surga satu-satunya. Tinggalkanlah kebiasaan melabeli orang di luar agama Islam dengan kata kafir dan musyrik. Berendah hatilah, titilah jalan setapak spiritualitas yang diajarkan Islam dengan sikap santun, tanpa semangat menyerang apalagi menghancurkan agama dan keyakinan yang berbeda.

Sebagai umat Islam, galilah hakikat Islam. Tampillah sebagai kelompok manusia yang memang menawarkan kedamaian dan keselamatan, bukan menjadi kaum yang suka memaksa-maksa orang lain agar ikut dengan iming-iming surga dan ancaman neraka. Hentikan makar terhadap Pancasila dengan usaha terang-terangan ataupun diam-diam untuk mendirikan Negara Islam, juga Pemerintah-pemerintah Daerah Islam! Bumi Pertiwi ini sungguh tak akan membiarkan kebodohan dan kelaliman demikian terus meruyak. Tanah dan air Nusantara diperuntukkan bagi semua anak bangsa, apapun baju agamanya. Negeri ini hanya bisa menerima mereka yang berkesadaran Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrua. Mereka yang mau memusnahkan keanekaragaman budaya dan bentuk spiritualitas di negeri ini, apalagi mau menggantinya dengan budaya padang pasir, sadarlah, hanya akan bertemu dengan kerugian bagi diri sendiri. Alih-alih berhasil, yang akan ditemui adalah bencana alam, amukan dari penjaga ghaib Nusantara!


Penutup

Aksi Merapi kali ini, semestinya menjadi pemicu kesadaran pada diri kita semua. Bangkitlah dari ketidaksadaran, dari ketenggelaman dalam ilusi yang mengatasnamakan Tuhan! Kembalilah kepada jatidiri, tengoklah kearifan lokal yang selama ini dinistakan. Hanya dengan demikian, Anda bisa selamat dari “jin setan” yang dimaksud Eyang Sabdapalon. Bencana kali ini, adalah momen untuk menyeleksi mana warga bangsa yang pantas ada di Nusantara, dan mana yang harus berpindah ke alam lain. Nusantara akan kembali jaya, dan itu hanya bisa terjadi jika Nusantara dihuni mereka yang berkesadaran ruhani tinggi, juga mereka yang bisa menghayati agama pada tataran hakikat. Karena proyek mewujudkan kejayaan Nusantara adalah sebuah proyek leluhur gung binatoro yang tak bisa dihentikan – sampun tekan titi wancine, kitalah yang mesti menyesuaikan diri.


Selamat merevolusi diri, selamat kembali pada jatidiri. Rahayu.