Kamis, 25 Agustus 2011

Tempat Menjalankan Laku Prihatin (Sowan ke Leluhur) di Jawa dan Luar Jawa - Bagian 3

Petilasan Kyai Jogja
Saya mengetahui keberadaan petilasan ini dari Ki Sabdalangit, dan beliaulah yang menyarankan saya berkunjung ke situ. Kyai Jogja, adalah perintis keberadaan tlatah Jogja, jadi lebih tua usianya ketimbang para pendiri Kesultanan Jogja. Makam beliau menyatu dengan pemakaman umum. Secara tepat, saya tidak ingat apa nama wilayahnya, tapi yang pasti, posisinya tidak jauh dari Kraton Jogja – termasuk tidak jauh dari rumah Ki Sabdalangit di Plengkung Wijilan yang banyak warung gudegnya. Seingat saya, ada jalan di sebelah K24 – satu barisan dengan Jogja Electronic Centre – masuk ke jalan itu, lalu belok kanan, lalu ada gang di sebelah kanan, masuk, dan makam ada di ujung. Yang mau sowan ke Kyai Jogja, dengan demikian, lebih baik mampir saja dulu ke rumah Ki Sabdalangit, biar dapat petunjuk yang lebih rinci.

Makam Raja-raja Mangkunegaran
Komplek pemakaman raja-raja Mangkunegaran berada di kaki Gunung Lawu, tidak terlalu jauh dari Candi Sukuh, di sebelah timur pusat Kecamatan Matesih. Menuju ke sini, kita melewati hutan lebat di kanan kiri. Dan komplek pemakamannya sendiri, sungguh rimbun, hijau, karena penuh dengan pohon besar, memberi aura kedamaian tersendiri.

Salah satu komplek pemakaman itu disebut Astana Mangadeg (ngadeg: berdiri), tepatnya berada di Bukit Mangadeg. Yang sumare di sini adalah penguasa awal ("Mangkunagara") dan kerabat dekat (dhalem) Praja Mangkunegaran. Di kompleks ini dimakamkan Mangkunagara I (MN I), MN II, dan MN III; masing-masing dengan mausoleum tersendiri. Selain itu di dalam kompleks ini juga dimakamkan sejumlah kerabat dekat dan para pembantu perjuangan dalam peperangan melawanKesultanan Mataram dan VOC hingga berakhir dengan disepakatinya Perjanjian Salatiga (1758).

Tempat ini sendiri sebelumnya adalah tempat Mangkunagara I bersemedi pada masa perjuangannya (sebelum menjadi raja ia bernama R.M. Said dan dikenal dengan gelar Pangeran Sambernyawa).

Komplek lain yang berdekatan, disebut Astana Girilayu (giri: gunung/bukit, layu=mati. Di kompleks ini dimakamkan Mangkunagara IV, Mangkunagara V, Mangkunagara VII, dan Mangkunagara VIII (penguasa terakhir yang mangkat); masing-masing dengan mausoleum tersendiri. Melihat makam Gusti Mangkunegara IV yang terbuat dari marmer, sehingga tak hanya indah tapi juga megah, terbayangkan betapa makmurnya Kraton Mangkunegaran saat itu.

Melengkapi informasi tentang Astana Girililayu, saya ingin menampilkan cerita singkat soal Gusti Mangkunegara IV. Beliau, yang nama lengkap ketika bertahta adalah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV (KGPAA Mangkunegara IV) lahir pada tanggal 3 Maret 1811 (Senin Pahing, 8 Sapar 1738 tahun Jawa Jumakir, Windu Sancaya) dengan nama kecil Raden Mas Sudira. Ayahnya bernama KPH Adiwijaya I sementara ibunya adalah putri KGPAA Mangkunagara II bernama Raden Ajeng Sekeli. Oleh karena KPH Adiwijaya I adalah putera Raden Mas Tumenggung Kusumadiningrat yang menjadi menantu Sri Susuhunan Pakubuwono III, sedangkan R.A Sekeli adalah puteri dari KGPAAMangkunagara II, maka secara garis keturunan R.M. Sudira silsilahnya adalah sebagai cucu dari KGPAA Mangkunagara II dan cicit dari Sri Susuhunan Pakubuwono III. Selain itu beliau merupakan cicit dari K.P.A. Adiwijaya Kartasura yang terkenal dengan sebutan Pangeran seda ing lepen abu yang gugur ketika melawan kompeni Belanda. Masa pemerintahannya adalah sejak 1853 hingga wafatnya 1881.
Selama bertahta, MN IV mendirikan pabrik gula di Colomadu (sebelah barat laut kota Surakarta) dan Tasikmadu, memprakarsai berdirinyaStasiun Solo Balapan sebagai bagian pembangunan rel kereta api Solo – Semarang, kanalisasi kota, serta penataan ruang kota. Ia menulis kurang lebih 42 buku, di antaranya Serat Wedhatama. MN IV wafat tahun 1881 dan dikebumikan di Astana Girilayu. Dapat dikatakan bahwa pada masa pemerintahannya, Mangkunagaran berada pada puncak kebesarannya.
Berdekatan dengan Astana Mangadeg dan Astana Girilayu, berdiri Astana Giribangun, tempat dimakamkannya Presiden RI Kedua, Soeharto, beserta Ibu Tien, dan kerabatnya.

Kemudian, ada satu raja Mangkunegaran yang posisi makamnya terpisah, malah berada di dalam Kota Solo, dan komplek makam itu disebut Astana Nayu. Beliau adalah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VI (1896-1916). Nama aslinya adalah RM. Suyitno atau KPA. Dayaningrat adik dari Mangkunegara V dan memerintah di Mangkunegaran sebelum kemudian digantikan oleh keponakannya Mangkunegara VII. Lahir 1 Maret 1857, ayahnya adalah Mangkunegara IV dan ibundanya adalah R.Ay. Dunuk putri dari Mangkunegara III.

Sebagai raja yang dihadapkan pada keterpurukan kerajaan yang terancam bangkrut, Mangkunegara VI telah menorehkan beberapa prestasi bagi keberlangsungan Praja Mangkunegaran yang antara lain sangat tidak berlebihan disebutkan sebagai berikut;
1. Mangkunegara VI berhasil dalam melaksanakan reformasi Praja dari situasi bangkrut karena tenggelam dalam hutang kepada kerajaan Belanda menjadi terlunasinya hutang kerajaan bahkan mencapai nilai surplus (Suryo Danisworo,Hendri Tanjung,2004). Stabilitas perekonomian kerajaan menjadi meningkat sehingga standar hidup masyarakat mulai membaik kembali.Imbasnya pasar pasar baru bermunculan disekitar perkebunan.
2. Membangun kembali kekuatan Legiun Mangkunegaran dengan pendanaan yang lebih dari cukup sehingga kekuatan korps yang sempat berkurang menjadi kuat kembali seperti sedia kala.
3. Menciptakan iklim pluralisme di Praja Mangkunegaran dengan mengijinkan para kerabat memeluk Kristen yang kemudian akan dilanjutkan dalam masa pemerintahan Mangkunegara VII.
4. keberhasilannya memulihkan keuangan dan perekonomian Mangkunegaran tidak lepas dari prinsip prinsip manajemen Jawa yang diajarkan oleh ayahnya Mangkunegara IV yaitu adanya keteraturan dalam hidup, keteraturan berusaha dan keterauran dalam bekerja.Dengan demikian Mangkunegara VI berjasa dalam memperkenalkan kembali prinsip prinsip manajemen Jawa buah karya ayahnya dan diterapkan dalam mengatasi kebangkrutan Praja.
5. Mangkunegara VI adalah penegak keuangan dinasti Mangkunegaran (Tempo, 16 Mei 1987)
6. Menciptakan kesenian wayang pada yaitu kesenian dengan pertunjukan semalam suntuk menjadi empat jam tanpa penyimpangan isi ceritera (Reksa Pustaka 1978: 7).

Candi Agung
Saya berkesempatan dua kali berkunjung ke Candi Agung. Candi Agung adalah sebuah situs candi Hindu berukuran kecil yang terdapat di kawasan Sungai Malang, kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Negara Dipa yang keberadaannya sejaman dengan Kerajaan Majapahit.

Kerajaan Negera Dipa dirintis oleh Empu Jatmika, berasal dari Kalingga, pada abad ke XIV Masehi. Ia dalah ayah dari Lambung Mangkurat , yang kemudian menjadi patih. Dari kerajaan ini akhirnya melahirkan Kerajaan Daha di Negara dan Kerajaan Banjarmasin. Menurut cerita, Kerajaan Hindu Negaradipa berdiri tahun 1438 di persimpangan tiga aliran sungai. Tabalong, Balangan, dan Negara. Cikal bakal Kerajaan Banjar itu diperintah pertama kali oleh Pangeran Suryanata dan Putri Junjung Buih dengan kepala pemerintahan Patih Lambung Mangkurat. Negaradipa kemudian berkembang menjadi Kota Amuntai. Candi Agung diperkirakan telah berusia 740 tahun. Bahan material Candi Agung ini didominasi oleh batu dan kayu. Kondisinya masih sangat kokoh. Di candi ini juga ditemukan beberapa benda peninggalan sejarah yang usianya kira-kira sekitar 200 tahun SM. Batu yang digunakan untuk mendirikan Candi ini pun masih terdapat disana. Batunya sekilas mirip sekali dengan batu bata merah. Namun bila disentuh terdapat perbedaannya, lebih berat dan lebih kuat dari bata merah biasa.

Makam Raja-raja Kutai Kartanegara
Makam raja dan keluarga kerajaan Kutai Kartanegara terletak di belakang Museum Kutai Kartanegara, di lingkungan Istana Kutai Kartanegara, di Kota Tenggarong, di sisi Sungai Mahakam. Sultan-sultan yang dimakamkan disini di antaranya adalah Sultan Muslihuddin, Sultan Salehuddin, Sultan Sulaiman dan Sultan Parikesit. Saya berkesempatan 4 hari berturut-turut sowan ke makam ini – karena kebetulan menginap di hotel yang berada di dekatnya, persis di sisi Sungai Mahakam.
Jirat atau nisan Sultan dan keluarga kerajaan ini kebanyakan terbuat dari kayu besi yang dapat tahan lama dengan tulisan huruf Arab yang diukir.

Melengkapi informasi tentang makam ini, saya ingin ketengahkan informasi sekilas tentang Kesultanan Kutai atau lebih lengkap disebut Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura (Martapura). Ini merupakan kesultanan bercorak Islam yang berdiri pada tahun 1300 oleh Aji Batara Agung Dewa Sakti di Kutai Lama dan berakhir pada 1960. Kemudian pada tahun 2001 kembali eksis di Kalimantan Timur setelah dihidupkan lagi oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara sebagai upaya untuk melestarikan budaya dan adat Kutai Keraton.

Dihidupkannya kembali Kesultanan Kutai ditandai dengan dinobatkannya sang pewaris tahta yakni putera mahkota Aji Pangeran Prabu Anum Surya Adiningratmenjadi Sultan Kutai Kartanegara ing Martadipura dengan gelar H. Adji Mohamad Salehoeddin II pada tanggal 22 September 2001.

Kerajaan Kutai Kartanegara berdiri pada awal abad ke-13 di daerah yang bernama Tepian
Batu atau Kutai Lama (kini menjadi sebuah desa di wilayah Kecamatan Anggana) dengan rajanya yang pertama yakni Aji Batara Agung Dewa Sakti(1300-1325). Kerajaan ini disebut dengan nama Kerajaan Tanjung Kute dalam Kakawin Nagarakretagama (1365), yaitu salah satu daerah taklukan di negara bagian Pulau Tanjungnagara oleh Patih Gajah Mada dari Majapahit[1].

Pada abad ke-16, Kerajaan Kutai Kartanegara dibawah pimpinan raja Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa berhasil menaklukkan Kerajaan Kutai (atau disebut pula: Kerajaan Kutai Martadipura atau Kerajaan Kutai Martapura atau Kerajaan Mulawarman) yang terletak di Muara Kaman. Raja Kutai Kartanegara pun kemudian menamakan kerajaannya menjadi Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura sebagai peleburan antara dua kerajaan tersebut.

Pada abad ke-17, agama Islam yang disebarkan Tuan Tunggang Parangan diterima dengan baik oleh Kerajaan Kutai Kartanegara yang saat itu dipimpin Aji Raja Mahkota Mulia Alam. Setelah beberapa puluh tahun, sebutan Raja diganti dengan sebutan Sultan. Sultan Aji Muhammad Idris (1735-1778) merupakan sultan Kutai Kartanegara pertama yang menggunakan nama Islami. Dan kemudian sebutan kerajaan pun berganti menjadi Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura[1].

Leluhur Kutai yang memiliki hubungan baik dengan Ki Sabdalangit – dan karena itulah beliau menyarankan saya sowan ke makam ini, adalah Sultan Sulaeman – yang turut ngamping-ngampingi (mendampingi) Pak Isran Noor, Bupati Kutai Timur, dan Sultan Parikesit.

Hutan Keramat Dayak Loksado.

Loksado terletak kurang lebih 40 Km di sebelah timur Kandangan, di kawasan Pegunungan Meratus merupakan wilayah yang menjadi tempat tinggal sisa-sisa masyarakat/orang banjar (orang dayak) yang sebagian besar masih menganut Kepercayaan animisme. Di sekitar Loksado terdapat sejumlah Desa yang dihuni oleh orang Dayak. Mereka tinggal di rumah panjang (Balai) yang merupakan rumah tradisional orang Dayak di wilayah ini. Kemajuan peradapan akibat dari arus informasi yang mengglobal menyebabkan orang-orang Dayak Loksado yang dulunya tinggal di Balai saat ini sebagian kecil sudah memiliki rumah sendiri sebagaimana kebanyakan rumah-rumah di pedalaman lainnya. Sehingga Balai digunakan mereka untuk melaksanakan Aruh Ganal.

Loksado merupakan desa pasar yang cukup penting bagi wilayah sekitarnya. Desa ini merupakan satu-satunya tempat yang masih bisa dicapai dengan mobil. Tempat ini merupakan titik awal bagi wisatawan untuk memulai trekking jika ingin mengeksplorasi wilayah ini.

Orang Dayak Loksado adalah bagian dari rumpun besar masyarakat Dayak Meratus yang tinggal di sepanjang lereng pegunungan Meratus, Kabupaten Hulu Sungai selatan, Kalimantan Selatan. Rumah tangga orang Loksado dicirikan oleh sumber penghidupan ekonomi dari peladangan padi (oryza sativa) secara berpindah (shifting cultivation). Berjalannya sistem peladangan tradisional tersebut dilandasi oleh religi lokal yang disebut Aruh. Keseharian orang Loksado diwarnai oleh interaksi yang intensif dengan Orang Banjar di Kandangan. Kedua kelompok etnik tersebut telah ratusan tahun berinteraksi, karena kesalingtergantungan mereka secara sosial dan ekonomi. Relasi yang cenderung harmonis di antara kedua kelompok etnik ini dilandasi oleh ajaran lisan dalam religi Aruh, yaitu berupa mitos Datu Ayuh dan Datu Bambang Siwara yang menggambarkan “persaudaraan fiktif” antara orang Banjar dan orang Loksado. Diceritakan dalam mitos tersebut bahwa di antara orang Loksado yang bermukim di “atas” atau di Hulu Sungai Amandit Perbukitan Meratus dengan orang Banjar Islam yang berada di “bawah” atau di Hilir sungai Amandit di wilayah Kandangan, merupakan saudara kandung atau dangsanak. Meskipun dianggap bersaudara, namun kehidupan keseharian kedua etnis dibedakan oleh praktek dari sistem kepercayaan yang dianut. Orang Loksado masih menganut agama leluhur yang mereka sebut Aruh. Adapun orang Banjar di Kandangan telah menganut Islam.
Selain orang Banjar, ternyata di kampung yang bersebelahan dengan kampung Dayak Loksado, ada juga beberapa keluarga dari Jawa – termasuk yang membuka usaha warung nasi di depan Wisma Loksado, penginapan untuk para turis di Loksado.

Saat saya ke sana, dalam dua kali kesempatan, saya diijinkan untuk meditasi di Hutan Keramat, yang biasa dijadikan tempat upacara warga Dayak Loksado setahu sekali. Dalam keyakinan warga Dayak Loksado, hutan keramat ini adalah tempat tinggal para leluhur mereka yang telah berpindah dimensi. Karena itu tak sembarang orang boleh masuk – dan orang yang masuk tidak diperkenankan bertingkah keliru.

Saya pribadi, berkesempatan dua kali meditasi di sana, karena diantar oleh Amad, pemuda Dayak Loksado, yang sering berada di Balai Pusat Informasi Dayak Loksado.

Muara Banjar
Saya ke Muara Banjar, untuk sowan dan menyambung rasa dengan Datuk Muara Sakti, atas rekomendasi Ki Sabdalangit. Datuk Muara Sakti – titah ghaib yang menjadi danyang di kawasan Banjar - pernah membantu Ki Sabdalangit ketika coba menemukan salah satu jenazah korban pesawat yang jatuh di perairan Laut Cina Selatan.

Untuk ke tempat ini, saya menggunakan perahu klotok, menyusuri Sungai Barito, dari salah satu titik di Kota Banjarmasin. Sungai Barito atau sungai Banjar Besar atau Sungai Banjarmasin adalah wilayah di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Barito. Nama Barito diambil berdasarkan nama daerah Barito yang berada di hulu termasuk wilayah provinsi Kalimantan Tengah, tetapi sering dipakai untuk menamakan seluruh daerah aliran sungai ini hingga ke muaranya pada Laut Jawa di Kalimantan Selatan yang dinamakan Muara Banjar/Kuala Banjar.

Di Muara Banjar, terdapat beberapa pulau, dengan perahu saya mengelilingi pulau-pulau itu. Di pulau-pulau itu, saya lihat banyak bekantan yang beratraksi, mulai dari bekantan dewasa hingga bekantan yang masih imut-imut – seolah menyambut kedatangan tamu dari Jawa (Ge Er…he, he).

Untuk menyambung rasa dengan Datuk Muara Sakti, saya meditasi di atas perahu.


Gunung Kelud
Untuk mendekati puncak Gunung Kelud, kita bisa masuk dari salah satu titik di Kabupaten Kediri – tapi mohon maaf saya lupa namanya. Kendaraan pribadi, bisa naik sampai ke atas, mendekati puncak, karena sudah disiapkan jalan beraspak. Gunung ini sendiri sudah menjadi tempat wisata, karena itu banyak turis yang berkunjung ke situ.
Saya melakukan meditasi di salah satu titik, setelah menyeberangi terowongan sepanjang sekitar 500 meter.

Catatan Akhir:
Perjalanan saya, bisa terlaksana atas bantuan berbagai pihak. Karena itu, ijinkan saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas berbagai pihak berikut:
Ki Sabdalangit dan Nyi Untari, yang telah mengarahkan saya untuk melaksanakan perjalanan ke beberapa tempat untuk nyambung rasa dengan leluhur – dan khususnya di dua tempat di Jogja, yaitu Astana Kota Gedhe dan Astana Imogiri, saya harus katakan, bahwa saya berkesempatan mendapatkan sensasi istimewa ketika marak sowan bersama rombongan beliau.
Mas Hermawan Dewobroto yang telah memandu saya ke Gunung Kelud dan Sanghyang Ci Arca.
Mas Winta Aditya Guspara, yang telah ngerjain saya (he, he) dengan mendorong saya ke Bukit Turgo, dan menjadi teman perjalanan untuk menyusuri kabuyutan di Cigugur.
Mas Okky Satrio Jati, yang pertama kali mengajak saya menikmati pesona meditasi di Sanghyang Ci Arja, Sagarahyang dan Cipari.
Mas Bandhu Hermawan yang telah menunjukkan jalan dan menemani saya ke Puncak Bukit Turgo, di tengah malam, menembus kabut yang tebal.
Mas Wawan yang telah menemani saya sowan ke Parangkusumo dan meditasi di situ.
Mas Hernawan Wibisono dan Mas Bagus Sardulo Aji yang telah berkenan bersama-sama saya ke Gunung Kelud dan ke Trowulan.
Mas Irfan Risantono, yang menemani saya ke Candi Agung, Hutan Keramat Loksado, dan Muara Banjar.
Mas Harry Kusumo dan Mbak Etha Indria yang telah berkenan mengajak saya ke Candi Sukuh, Astana Mangadeg, Astana Girilayu, Astana Giribangun, dan Astana Nayu.
Dan tentu saja, terima kasih kepada istri dan anak2 saya yang rela (kadang tidak rela) membiarkan saja menjelajah untuk menemukan sebuah makna.

2 komentar:

mochtar mengatakan...

It's cool, though we had gone to Kutai and Loksado but none have info such this blog.

Bpk radi mengatakan...

Buat saudara punya permasalahan ekonomi: hub aki santoro,karna saya sudah membuktikan bantuan aki santoro yang berminat,hub aki santoro di nomor 0823 1294 9955, atau KLIK DI SINI