Kamis, 25 Agustus 2011

Tempat Menjalankan Laku Prihatin (Sowan ke Leluhur) di Jawa dan Luar Jawa - Bagian 3

Petilasan Kyai Jogja
Saya mengetahui keberadaan petilasan ini dari Ki Sabdalangit, dan beliaulah yang menyarankan saya berkunjung ke situ. Kyai Jogja, adalah perintis keberadaan tlatah Jogja, jadi lebih tua usianya ketimbang para pendiri Kesultanan Jogja. Makam beliau menyatu dengan pemakaman umum. Secara tepat, saya tidak ingat apa nama wilayahnya, tapi yang pasti, posisinya tidak jauh dari Kraton Jogja – termasuk tidak jauh dari rumah Ki Sabdalangit di Plengkung Wijilan yang banyak warung gudegnya. Seingat saya, ada jalan di sebelah K24 – satu barisan dengan Jogja Electronic Centre – masuk ke jalan itu, lalu belok kanan, lalu ada gang di sebelah kanan, masuk, dan makam ada di ujung. Yang mau sowan ke Kyai Jogja, dengan demikian, lebih baik mampir saja dulu ke rumah Ki Sabdalangit, biar dapat petunjuk yang lebih rinci.

Makam Raja-raja Mangkunegaran
Komplek pemakaman raja-raja Mangkunegaran berada di kaki Gunung Lawu, tidak terlalu jauh dari Candi Sukuh, di sebelah timur pusat Kecamatan Matesih. Menuju ke sini, kita melewati hutan lebat di kanan kiri. Dan komplek pemakamannya sendiri, sungguh rimbun, hijau, karena penuh dengan pohon besar, memberi aura kedamaian tersendiri.

Salah satu komplek pemakaman itu disebut Astana Mangadeg (ngadeg: berdiri), tepatnya berada di Bukit Mangadeg. Yang sumare di sini adalah penguasa awal ("Mangkunagara") dan kerabat dekat (dhalem) Praja Mangkunegaran. Di kompleks ini dimakamkan Mangkunagara I (MN I), MN II, dan MN III; masing-masing dengan mausoleum tersendiri. Selain itu di dalam kompleks ini juga dimakamkan sejumlah kerabat dekat dan para pembantu perjuangan dalam peperangan melawanKesultanan Mataram dan VOC hingga berakhir dengan disepakatinya Perjanjian Salatiga (1758).

Tempat ini sendiri sebelumnya adalah tempat Mangkunagara I bersemedi pada masa perjuangannya (sebelum menjadi raja ia bernama R.M. Said dan dikenal dengan gelar Pangeran Sambernyawa).

Komplek lain yang berdekatan, disebut Astana Girilayu (giri: gunung/bukit, layu=mati. Di kompleks ini dimakamkan Mangkunagara IV, Mangkunagara V, Mangkunagara VII, dan Mangkunagara VIII (penguasa terakhir yang mangkat); masing-masing dengan mausoleum tersendiri. Melihat makam Gusti Mangkunegara IV yang terbuat dari marmer, sehingga tak hanya indah tapi juga megah, terbayangkan betapa makmurnya Kraton Mangkunegaran saat itu.

Melengkapi informasi tentang Astana Girililayu, saya ingin menampilkan cerita singkat soal Gusti Mangkunegara IV. Beliau, yang nama lengkap ketika bertahta adalah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV (KGPAA Mangkunegara IV) lahir pada tanggal 3 Maret 1811 (Senin Pahing, 8 Sapar 1738 tahun Jawa Jumakir, Windu Sancaya) dengan nama kecil Raden Mas Sudira. Ayahnya bernama KPH Adiwijaya I sementara ibunya adalah putri KGPAA Mangkunagara II bernama Raden Ajeng Sekeli. Oleh karena KPH Adiwijaya I adalah putera Raden Mas Tumenggung Kusumadiningrat yang menjadi menantu Sri Susuhunan Pakubuwono III, sedangkan R.A Sekeli adalah puteri dari KGPAAMangkunagara II, maka secara garis keturunan R.M. Sudira silsilahnya adalah sebagai cucu dari KGPAA Mangkunagara II dan cicit dari Sri Susuhunan Pakubuwono III. Selain itu beliau merupakan cicit dari K.P.A. Adiwijaya Kartasura yang terkenal dengan sebutan Pangeran seda ing lepen abu yang gugur ketika melawan kompeni Belanda. Masa pemerintahannya adalah sejak 1853 hingga wafatnya 1881.
Selama bertahta, MN IV mendirikan pabrik gula di Colomadu (sebelah barat laut kota Surakarta) dan Tasikmadu, memprakarsai berdirinyaStasiun Solo Balapan sebagai bagian pembangunan rel kereta api Solo – Semarang, kanalisasi kota, serta penataan ruang kota. Ia menulis kurang lebih 42 buku, di antaranya Serat Wedhatama. MN IV wafat tahun 1881 dan dikebumikan di Astana Girilayu. Dapat dikatakan bahwa pada masa pemerintahannya, Mangkunagaran berada pada puncak kebesarannya.
Berdekatan dengan Astana Mangadeg dan Astana Girilayu, berdiri Astana Giribangun, tempat dimakamkannya Presiden RI Kedua, Soeharto, beserta Ibu Tien, dan kerabatnya.

Kemudian, ada satu raja Mangkunegaran yang posisi makamnya terpisah, malah berada di dalam Kota Solo, dan komplek makam itu disebut Astana Nayu. Beliau adalah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VI (1896-1916). Nama aslinya adalah RM. Suyitno atau KPA. Dayaningrat adik dari Mangkunegara V dan memerintah di Mangkunegaran sebelum kemudian digantikan oleh keponakannya Mangkunegara VII. Lahir 1 Maret 1857, ayahnya adalah Mangkunegara IV dan ibundanya adalah R.Ay. Dunuk putri dari Mangkunegara III.

Sebagai raja yang dihadapkan pada keterpurukan kerajaan yang terancam bangkrut, Mangkunegara VI telah menorehkan beberapa prestasi bagi keberlangsungan Praja Mangkunegaran yang antara lain sangat tidak berlebihan disebutkan sebagai berikut;
1. Mangkunegara VI berhasil dalam melaksanakan reformasi Praja dari situasi bangkrut karena tenggelam dalam hutang kepada kerajaan Belanda menjadi terlunasinya hutang kerajaan bahkan mencapai nilai surplus (Suryo Danisworo,Hendri Tanjung,2004). Stabilitas perekonomian kerajaan menjadi meningkat sehingga standar hidup masyarakat mulai membaik kembali.Imbasnya pasar pasar baru bermunculan disekitar perkebunan.
2. Membangun kembali kekuatan Legiun Mangkunegaran dengan pendanaan yang lebih dari cukup sehingga kekuatan korps yang sempat berkurang menjadi kuat kembali seperti sedia kala.
3. Menciptakan iklim pluralisme di Praja Mangkunegaran dengan mengijinkan para kerabat memeluk Kristen yang kemudian akan dilanjutkan dalam masa pemerintahan Mangkunegara VII.
4. keberhasilannya memulihkan keuangan dan perekonomian Mangkunegaran tidak lepas dari prinsip prinsip manajemen Jawa yang diajarkan oleh ayahnya Mangkunegara IV yaitu adanya keteraturan dalam hidup, keteraturan berusaha dan keterauran dalam bekerja.Dengan demikian Mangkunegara VI berjasa dalam memperkenalkan kembali prinsip prinsip manajemen Jawa buah karya ayahnya dan diterapkan dalam mengatasi kebangkrutan Praja.
5. Mangkunegara VI adalah penegak keuangan dinasti Mangkunegaran (Tempo, 16 Mei 1987)
6. Menciptakan kesenian wayang pada yaitu kesenian dengan pertunjukan semalam suntuk menjadi empat jam tanpa penyimpangan isi ceritera (Reksa Pustaka 1978: 7).

Candi Agung
Saya berkesempatan dua kali berkunjung ke Candi Agung. Candi Agung adalah sebuah situs candi Hindu berukuran kecil yang terdapat di kawasan Sungai Malang, kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Negara Dipa yang keberadaannya sejaman dengan Kerajaan Majapahit.

Kerajaan Negera Dipa dirintis oleh Empu Jatmika, berasal dari Kalingga, pada abad ke XIV Masehi. Ia dalah ayah dari Lambung Mangkurat , yang kemudian menjadi patih. Dari kerajaan ini akhirnya melahirkan Kerajaan Daha di Negara dan Kerajaan Banjarmasin. Menurut cerita, Kerajaan Hindu Negaradipa berdiri tahun 1438 di persimpangan tiga aliran sungai. Tabalong, Balangan, dan Negara. Cikal bakal Kerajaan Banjar itu diperintah pertama kali oleh Pangeran Suryanata dan Putri Junjung Buih dengan kepala pemerintahan Patih Lambung Mangkurat. Negaradipa kemudian berkembang menjadi Kota Amuntai. Candi Agung diperkirakan telah berusia 740 tahun. Bahan material Candi Agung ini didominasi oleh batu dan kayu. Kondisinya masih sangat kokoh. Di candi ini juga ditemukan beberapa benda peninggalan sejarah yang usianya kira-kira sekitar 200 tahun SM. Batu yang digunakan untuk mendirikan Candi ini pun masih terdapat disana. Batunya sekilas mirip sekali dengan batu bata merah. Namun bila disentuh terdapat perbedaannya, lebih berat dan lebih kuat dari bata merah biasa.

Makam Raja-raja Kutai Kartanegara
Makam raja dan keluarga kerajaan Kutai Kartanegara terletak di belakang Museum Kutai Kartanegara, di lingkungan Istana Kutai Kartanegara, di Kota Tenggarong, di sisi Sungai Mahakam. Sultan-sultan yang dimakamkan disini di antaranya adalah Sultan Muslihuddin, Sultan Salehuddin, Sultan Sulaiman dan Sultan Parikesit. Saya berkesempatan 4 hari berturut-turut sowan ke makam ini – karena kebetulan menginap di hotel yang berada di dekatnya, persis di sisi Sungai Mahakam.
Jirat atau nisan Sultan dan keluarga kerajaan ini kebanyakan terbuat dari kayu besi yang dapat tahan lama dengan tulisan huruf Arab yang diukir.

Melengkapi informasi tentang makam ini, saya ingin ketengahkan informasi sekilas tentang Kesultanan Kutai atau lebih lengkap disebut Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura (Martapura). Ini merupakan kesultanan bercorak Islam yang berdiri pada tahun 1300 oleh Aji Batara Agung Dewa Sakti di Kutai Lama dan berakhir pada 1960. Kemudian pada tahun 2001 kembali eksis di Kalimantan Timur setelah dihidupkan lagi oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara sebagai upaya untuk melestarikan budaya dan adat Kutai Keraton.

Dihidupkannya kembali Kesultanan Kutai ditandai dengan dinobatkannya sang pewaris tahta yakni putera mahkota Aji Pangeran Prabu Anum Surya Adiningratmenjadi Sultan Kutai Kartanegara ing Martadipura dengan gelar H. Adji Mohamad Salehoeddin II pada tanggal 22 September 2001.

Kerajaan Kutai Kartanegara berdiri pada awal abad ke-13 di daerah yang bernama Tepian
Batu atau Kutai Lama (kini menjadi sebuah desa di wilayah Kecamatan Anggana) dengan rajanya yang pertama yakni Aji Batara Agung Dewa Sakti(1300-1325). Kerajaan ini disebut dengan nama Kerajaan Tanjung Kute dalam Kakawin Nagarakretagama (1365), yaitu salah satu daerah taklukan di negara bagian Pulau Tanjungnagara oleh Patih Gajah Mada dari Majapahit[1].

Pada abad ke-16, Kerajaan Kutai Kartanegara dibawah pimpinan raja Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa berhasil menaklukkan Kerajaan Kutai (atau disebut pula: Kerajaan Kutai Martadipura atau Kerajaan Kutai Martapura atau Kerajaan Mulawarman) yang terletak di Muara Kaman. Raja Kutai Kartanegara pun kemudian menamakan kerajaannya menjadi Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura sebagai peleburan antara dua kerajaan tersebut.

Pada abad ke-17, agama Islam yang disebarkan Tuan Tunggang Parangan diterima dengan baik oleh Kerajaan Kutai Kartanegara yang saat itu dipimpin Aji Raja Mahkota Mulia Alam. Setelah beberapa puluh tahun, sebutan Raja diganti dengan sebutan Sultan. Sultan Aji Muhammad Idris (1735-1778) merupakan sultan Kutai Kartanegara pertama yang menggunakan nama Islami. Dan kemudian sebutan kerajaan pun berganti menjadi Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura[1].

Leluhur Kutai yang memiliki hubungan baik dengan Ki Sabdalangit – dan karena itulah beliau menyarankan saya sowan ke makam ini, adalah Sultan Sulaeman – yang turut ngamping-ngampingi (mendampingi) Pak Isran Noor, Bupati Kutai Timur, dan Sultan Parikesit.

Hutan Keramat Dayak Loksado.

Loksado terletak kurang lebih 40 Km di sebelah timur Kandangan, di kawasan Pegunungan Meratus merupakan wilayah yang menjadi tempat tinggal sisa-sisa masyarakat/orang banjar (orang dayak) yang sebagian besar masih menganut Kepercayaan animisme. Di sekitar Loksado terdapat sejumlah Desa yang dihuni oleh orang Dayak. Mereka tinggal di rumah panjang (Balai) yang merupakan rumah tradisional orang Dayak di wilayah ini. Kemajuan peradapan akibat dari arus informasi yang mengglobal menyebabkan orang-orang Dayak Loksado yang dulunya tinggal di Balai saat ini sebagian kecil sudah memiliki rumah sendiri sebagaimana kebanyakan rumah-rumah di pedalaman lainnya. Sehingga Balai digunakan mereka untuk melaksanakan Aruh Ganal.

Loksado merupakan desa pasar yang cukup penting bagi wilayah sekitarnya. Desa ini merupakan satu-satunya tempat yang masih bisa dicapai dengan mobil. Tempat ini merupakan titik awal bagi wisatawan untuk memulai trekking jika ingin mengeksplorasi wilayah ini.

Orang Dayak Loksado adalah bagian dari rumpun besar masyarakat Dayak Meratus yang tinggal di sepanjang lereng pegunungan Meratus, Kabupaten Hulu Sungai selatan, Kalimantan Selatan. Rumah tangga orang Loksado dicirikan oleh sumber penghidupan ekonomi dari peladangan padi (oryza sativa) secara berpindah (shifting cultivation). Berjalannya sistem peladangan tradisional tersebut dilandasi oleh religi lokal yang disebut Aruh. Keseharian orang Loksado diwarnai oleh interaksi yang intensif dengan Orang Banjar di Kandangan. Kedua kelompok etnik tersebut telah ratusan tahun berinteraksi, karena kesalingtergantungan mereka secara sosial dan ekonomi. Relasi yang cenderung harmonis di antara kedua kelompok etnik ini dilandasi oleh ajaran lisan dalam religi Aruh, yaitu berupa mitos Datu Ayuh dan Datu Bambang Siwara yang menggambarkan “persaudaraan fiktif” antara orang Banjar dan orang Loksado. Diceritakan dalam mitos tersebut bahwa di antara orang Loksado yang bermukim di “atas” atau di Hulu Sungai Amandit Perbukitan Meratus dengan orang Banjar Islam yang berada di “bawah” atau di Hilir sungai Amandit di wilayah Kandangan, merupakan saudara kandung atau dangsanak. Meskipun dianggap bersaudara, namun kehidupan keseharian kedua etnis dibedakan oleh praktek dari sistem kepercayaan yang dianut. Orang Loksado masih menganut agama leluhur yang mereka sebut Aruh. Adapun orang Banjar di Kandangan telah menganut Islam.
Selain orang Banjar, ternyata di kampung yang bersebelahan dengan kampung Dayak Loksado, ada juga beberapa keluarga dari Jawa – termasuk yang membuka usaha warung nasi di depan Wisma Loksado, penginapan untuk para turis di Loksado.

Saat saya ke sana, dalam dua kali kesempatan, saya diijinkan untuk meditasi di Hutan Keramat, yang biasa dijadikan tempat upacara warga Dayak Loksado setahu sekali. Dalam keyakinan warga Dayak Loksado, hutan keramat ini adalah tempat tinggal para leluhur mereka yang telah berpindah dimensi. Karena itu tak sembarang orang boleh masuk – dan orang yang masuk tidak diperkenankan bertingkah keliru.

Saya pribadi, berkesempatan dua kali meditasi di sana, karena diantar oleh Amad, pemuda Dayak Loksado, yang sering berada di Balai Pusat Informasi Dayak Loksado.

Muara Banjar
Saya ke Muara Banjar, untuk sowan dan menyambung rasa dengan Datuk Muara Sakti, atas rekomendasi Ki Sabdalangit. Datuk Muara Sakti – titah ghaib yang menjadi danyang di kawasan Banjar - pernah membantu Ki Sabdalangit ketika coba menemukan salah satu jenazah korban pesawat yang jatuh di perairan Laut Cina Selatan.

Untuk ke tempat ini, saya menggunakan perahu klotok, menyusuri Sungai Barito, dari salah satu titik di Kota Banjarmasin. Sungai Barito atau sungai Banjar Besar atau Sungai Banjarmasin adalah wilayah di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Barito. Nama Barito diambil berdasarkan nama daerah Barito yang berada di hulu termasuk wilayah provinsi Kalimantan Tengah, tetapi sering dipakai untuk menamakan seluruh daerah aliran sungai ini hingga ke muaranya pada Laut Jawa di Kalimantan Selatan yang dinamakan Muara Banjar/Kuala Banjar.

Di Muara Banjar, terdapat beberapa pulau, dengan perahu saya mengelilingi pulau-pulau itu. Di pulau-pulau itu, saya lihat banyak bekantan yang beratraksi, mulai dari bekantan dewasa hingga bekantan yang masih imut-imut – seolah menyambut kedatangan tamu dari Jawa (Ge Er…he, he).

Untuk menyambung rasa dengan Datuk Muara Sakti, saya meditasi di atas perahu.


Gunung Kelud
Untuk mendekati puncak Gunung Kelud, kita bisa masuk dari salah satu titik di Kabupaten Kediri – tapi mohon maaf saya lupa namanya. Kendaraan pribadi, bisa naik sampai ke atas, mendekati puncak, karena sudah disiapkan jalan beraspak. Gunung ini sendiri sudah menjadi tempat wisata, karena itu banyak turis yang berkunjung ke situ.
Saya melakukan meditasi di salah satu titik, setelah menyeberangi terowongan sepanjang sekitar 500 meter.

Catatan Akhir:
Perjalanan saya, bisa terlaksana atas bantuan berbagai pihak. Karena itu, ijinkan saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas berbagai pihak berikut:
Ki Sabdalangit dan Nyi Untari, yang telah mengarahkan saya untuk melaksanakan perjalanan ke beberapa tempat untuk nyambung rasa dengan leluhur – dan khususnya di dua tempat di Jogja, yaitu Astana Kota Gedhe dan Astana Imogiri, saya harus katakan, bahwa saya berkesempatan mendapatkan sensasi istimewa ketika marak sowan bersama rombongan beliau.
Mas Hermawan Dewobroto yang telah memandu saya ke Gunung Kelud dan Sanghyang Ci Arca.
Mas Winta Aditya Guspara, yang telah ngerjain saya (he, he) dengan mendorong saya ke Bukit Turgo, dan menjadi teman perjalanan untuk menyusuri kabuyutan di Cigugur.
Mas Okky Satrio Jati, yang pertama kali mengajak saya menikmati pesona meditasi di Sanghyang Ci Arja, Sagarahyang dan Cipari.
Mas Bandhu Hermawan yang telah menunjukkan jalan dan menemani saya ke Puncak Bukit Turgo, di tengah malam, menembus kabut yang tebal.
Mas Wawan yang telah menemani saya sowan ke Parangkusumo dan meditasi di situ.
Mas Hernawan Wibisono dan Mas Bagus Sardulo Aji yang telah berkenan bersama-sama saya ke Gunung Kelud dan ke Trowulan.
Mas Irfan Risantono, yang menemani saya ke Candi Agung, Hutan Keramat Loksado, dan Muara Banjar.
Mas Harry Kusumo dan Mbak Etha Indria yang telah berkenan mengajak saya ke Candi Sukuh, Astana Mangadeg, Astana Girilayu, Astana Giribangun, dan Astana Nayu.
Dan tentu saja, terima kasih kepada istri dan anak2 saya yang rela (kadang tidak rela) membiarkan saja menjelajah untuk menemukan sebuah makna.

Tempat-tempat Menjalankan Laku Prihatin di Tanah Jawa (II)

Gunung Tidar
Gunung Tidar adalah gunung di Kota Magelang Jawa Tengah. Gunung yang dalam legenda dikenal sebagai "Pakunya tanah Jawa" itu terletak di tengah Kota Magelang. Berada pada ketinggian 503 meter dari permukaan laut,
Hanya butuh waktu kurang dari 30 menit untuk sampai di puncak Tidar. Secara umum, Gunung Tidar memang masih cukup alami. Banyak tanaman pinus dan tanaman buah-buahan tahunan seperti salak hasil penghijauan era tahun 1960an menjadikan Gunung Tidar sangat rimbun.
Beberapa saat menapaki jalanan setapak pendakian kita akan bertemu dengan Makam Syaikh Subakir.

Tidak jauh dari Makam Syaikh Subakir, kita akan berjumpa dengan sebuah makam yang panjangnya mencapai 7 meter. Itulah Makam Kyai Sepanjang. Kyai Sepanjang bukanlah sesosok alim ulama, namun adalah nama tombak yang dibawa dan dipergunakan oleh Syaikh Subakir mengalahkan jin penunggu Gunung Tidar kala itu.

Situs makam terakhir yang kita jumpai sewaktu mendaki Gunung Tidar adalah Makam Kyai Semar. Namun menurut beberapa versi ini bukanlah makam kyai Semar yang ada dalam pewayangan. Tetapi Kyai Semar, jin penunggu Gunung Tidar waktu itu. Meski demikian banyak yang percaya ini memang makam Kyai Semar yang ada dalam pewayangan itu. Dan mana yang benar, adalah tinggal kita mau mempercayai yang mana.

Di puncak Gunung Tidar ada lapangan yang cukup luas. Di tengah lapangan tersebut terdapat sebuah Tugu dengan simbol huruf Sa (dibaca seperti pada kata Solok) dalam tulisan Jawa pada tiga sisinya. Menurut penuturan juru kunci, itu bermakna Sapa Salah Seleh (Siapa Salah Ketahuan Salahnya). Tugu inilah yang dipercaya sebagian orang sebagai Pakunya Tanah Jawa, yang membuat tanah Jawa tetap tenang dan aman.

Makam Kota Gede

Situs Makam Raja-raja Dinasti Mataram Islam serta Masjid Besar Mataram terletak hanya beberapa ratus meter di sebelah selatan Pasar Kotagede sekarang. Di kanan jalan, akan kita jumpai pohon beringin besar pada sebuah halaman yang cukup luas untuk ukuran Kotagede. Inilah pintu gerbang utama memasuki kedua situs itu. Di sisi kiri dan kanan halaman ini terdapat sepasang bangsal terbuka yang dipergunakan para peziarah untuk beristirahat. Bangsal sebelah selatan dipayungi oleh pohon beringin besar dan rindang, yang disebut Waringin Sepuh. Konon, pohon yang sangat tua ini ditanam oleh Kanjeng Sunan Kalijaga yang sudah ada sejak tempat ini dibangun hampir 5 abad yang lalu. Sebagian orang percaya, daun-daunnya yang berguguran ke tanah memiliki tuah tertentu. Mereka mencari 2 helai daun yang jatuh dalam kondisi terbuka dan tertutup, lalu membawanya dalam perjalanan sebagai bekal keselamatan.

Di sebelah barat sana, berdiri gapura besar yang disebut Gapura Padureksa. Pada kiri kanan jalan menuju gapura, berjajar sejumlah rumah tradisional yang yang disebut Dondhongan. Ini adalah tempat tinggal keluarga Dondhong, para abdi dalem yang bertugas membersihkan halaman makam dan masjid, sekaligus sebagai juru do’a kepada arwah para leluhur yang disemayamkan di makam para raja, yang lazim disebut Makam Senopaten.

Gapura Padureksa merupakan pintu gerbang masuk halaman masjid yang ada di sebelah timur. Hiasan kala yang terdapat pada bagian atas gapura serta hiasan-hiasan pada tembok di sekitarnya, mengingatkan kita pada ornamen dekoratif yang banyak dijumpai pada bangunan bergaya Hindu. Gapura ini dilengkapi dengan tembok pembatas atau kelir yang juga terbuat dari batu bata. Dibalik kelir inilah terdapat halaman besar dimana Masjid Besar Mataram berada.
Selain Gapura Padureksa di sisi timur, masih terdapat 2 buah gapura sejenis yang terdapat di sisi utara dan selatan.

Gapura yang berada di sisi selatan, menghubungkan halaman Masjid dengan kompleks Makam Senopaten. Pada halaman pertama yang kita jumpai, berdiri sebuah bangunan yang disebut Bangsal Duda. Bangunan ini dibangun pada tahun 1644 oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma, cucu Panembahan Senopati, yang bertahta di Kerajaan Mataram antara tahun 1613 hingga 1645. Bangsal ini adalah salah satu tempat yang digunakan sebagai tempat jaga para abdi dalem Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta yang secara bergilir melakukan tugas jaga di seputar makam.
Di sebelah barat Bangsal Duda terdapat pintu gerbang yang disebut Regol Sri Manganti, lengkap dengan kelir atau tembok pembatasnya. Dibalik Regol Sri Manganti inilah akan dijumpai halaman utama sebelum memasuki Makam Senopaten. Di sini terdapat beberapa bangunan yang dipergunakan sebagai tempat jaga para abdi dalem yang bertugas di Makam Senopaten, sekaligus menjadi tempat bagi para peziarah untuk beristirahat dan mempersiapkan diri sebelum memasuki kompleks makam. 2 bangunan yang berada di sebelah barat disebut Bangsal Pengapit. Bangsal sebelah utara dikhususkan bagi peziarah putri, sedangkan yang selatan dikhususkan bagi peziarah putra. Untuk memasuki kompleks makam, para peziarah diwajibkan mengikuti sejumlah tata tertib, diantara yaitu kewajiban untuk memakai pakaian tradisional tertentu.


Di dalam makam terdapat sejumlah makam yang kesemuanya adalah raja atau kerabat dekatnya. Mereka yang disemayamkan di makam ini diantaranya : Panembahan Senopati, Ki Ageng Pemanahan, Panembahan Sedo ing Krapak, Kanjeng Ratu Kalinyamat, Kanjeng Ratu Retno Dumilah, Nyai Ageng Nis, Nyai Ageng Mataram, Nyai Ageng Juru Mertani, serta sejumlah tokoh lainnya. Pada bangunan Prabayeksa dalam kompleks makam terdapat sebuah makam yang unik, karena separuh bagian berada di sisi dalam dan separuh bagian lainnya di sisi luar. Ini adalah makam Ki Ageng Mangir Wonoboyo. Konon, ini dimaksudkan sebagai lambang statusnya, sebagai menantu sekaligus musuh Panembahan Senopati. Di makam ini juga disemayamkan Sri Sultan Hamengku Buwono II , satu-satunya raja Kasultanan Yogyakarta yang tidak dimakamkan di Imogiri, serta makam saudaranya, Pangeran Adipati Pakualam I.

Peziarah yang mengunjungi makam atau ingin bertirakat juga disyaratkan untuk mandi atau berendam di kolam yang terletak di sebelah selatan makam. Kolam ini disebut Sendhang Selirang. Ada 2 buah sendhang, Sendhang Kakung berada di sebelah utara dan Sendhang Putri di sebelah selatan. Mata air Sendhang Kakung konon berada tepat di bawah makam. Sementara Sendhang Putri memiliki sumber mata air yang berasal dari bawah pohon beringin yang terletak di jalan masuk kompleks makam.

Makam Imogiri
Pajimatan Imogiri merupakan makam raja-raja Mataram (Surakarta dan Yogyakarta) yang terletak 17 kilometer ke arah selatan dari Kota Yogyakarta melalui Jalan Pramuka - Imogiri. Di kawasan itu bagi warga masyarakat disediakan lapangan parkir yang terletak di sebelah barat gerbang masuk sebelum naik tangga. Sedangkan bagi kerabat istana dan tamu VIP disediakan parkir di bagian atas mendekati makam sehingga tidak perlu meniti tangga. Mitos setempat menyatakan bahwa barang siapa bisa menghitung jumlah tangga secara benar (jumlahnya ada 345 anak tangga) maka cita-citanya akan terkabul. Tata cara memasuki makam di tempat itu sama dengan di Astana Kotagede, dimana setiap pengunjung diharuskan memakai pakaian tradisonil Mataram, pria harus mengenakan pakaian peranakan berupa beskap berwarna hitam atau biru tua bergaris-garis, tanpa memakai keris, atau hanya memakai kain/jarit tanpa baju. Sedangkan bagi wanita harus mengenakan kemben.

Perlu diketahui bahwa selama berziarah pengunjung tidak diperkenankan memakai perhiasan. Bagi para peziarah yang tidak mempersiapkan pakaian dimaksud dari rumah bisa menyewa pada abdi dalem sebelum memasuki komplek makam. Bagi kerabat istana khususnya putra-putri raja ada peraturan tersendiri, pria memakai beskap tanpa keris, puteri dewasa mengenakan kebaya dengan ukel tekuk, sedangkan puteri yang masih kecil memakai sabuk wolo ukel konde.
Menurut buku Riwayat Pasarean Imogiri Mataram, Makam Imogiri memang sejak awal telah disiapkan oleh Sultan Agung dengan susah payah. Diceritakan Sultan Agung yang sakti itu setiap Jumat sholat di Mekkah, dan akhirnya ia merasa tertarik untuk dimakamkan di Mekkah. Namun karena berbagai alasan keinginan tersebut ditolak dengan halus oleh Pejabat Agama di Mekkah, sebagai gantinya ia memperoleh segenggam pasir dari Mekkah. Sultan Agung disarankan untuk melempar pasir tersebut ke tanah Jawa, dimana pasir itu jatuh maka di tempat itulah yang akan menjadi makam Sultan Agung. Pasir tersebut jatuh di Giriloyo, tetapi di sana Pamannya, Gusti Pangeran Juminah (Sultan Cirebon) telah menunggu dan meminta untuk dimakamkan di tempat itu. Sultan Agung marah dan meminta Sultan Cirebon untuk segera meninggal, maka wafatlah ia. Selanjutnya pasir tersebut dilemparkan kembali oleh Sultan Agung dan jatuh di Pegunungan Merak yang kini menjadi makam Imogiri.

Raja-raja Mataram yang dimakamkan di tempat itu antara lain : Sultan Agung Hanyakrakusuma, Sri Ratu Batang, Amangkurat Amral, Amangkurat Mas, Paku Buwana I, Amangkurat Jawi, Paku Buwana II s/d Paku Buwana XI. Sedangkan dari Kasultanan Yogyakarta antara lain : Hamengku Buwana I s/d Hamengku Buwana IX, kecuali HB II yang dimakamkan di Astana Kotagede.

Situs Watugilang
Watu Gilangmerupakan batu hitam berbentuk persegi, berukuran 2 m di setiap sisinya, tingginya 30 cm dan terletak di sebuah ruangan yang sengaja dibuat untuk untuk melindungi batu ini. Oleh penduduk, batu ini dipercaya dulunya merupakan dampar atau singgasana Panembahan Senopati. Pada sisi timur batu ini terdapat kikisan seperti bekas bekas pukulan sesuatu. Dulu batu ini terletak di Pendopo, tapi peninggalan Pendopo sudah tidak ada lagi sejak runtuhnya kerajaan Mataram ini.

Ruangan tempat Watu Gilang ini berukuran 3×3 m di tengah pelataran yang dulunya berupa keraton. Dalam ruangan ini juga terdapat tiga batu kuning berbentuk bola yang biasa disebut Watu Gatheng(batu yang mangagumkan) dengan ukuran berbeda-beda.. Ketiga batu ini terletak di sebelah selatan pintu masuk. Di sisi pintu sebelah utara terdapat gentong dari batu hitam setinggi 80 cm dengan beberapa cekungan sebesar jari tangan di sisi depannya.

Petilasan Pangeran Purbaya (Astana Wotgaleh)
Makam itu terletak di Dusun Karangmoncol, Kelurahan Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Sleman (tepatnya diselatan bandara Adisutjipto, bahkan katanya pembuatan bandarapun bergeser ke utara gara-gara makam ini) dikenal sebagai Makam Wotgaleh, dimana di dalam makam tersebut terdapat makam Panembahan Purubaya.
SELAIN terdapat nisan Panembahan Purubaya dan istri, di kompleks tersebut juga terdapat makam Kanjeng Ratu Giring, Kiai Wirasaba, Panembahan Purubaya II, Panembahan Purubaya III, dan lain-lain. Kompleks dipagari tembok setinggi 2 meter dengan ketebalan 40 cm.

Siapa Panembahan Purubaya ?

Nama aslinya adalah Jaka Umbaran. Ia merupakan putra dari Panembahan Senopati yang lahir dari istri putri Ki Ageng Giring.

Candi Sukuh
Candi Sukuh letaknya yang terpencil di lereng Gunung Lawu pada ketinggian lebih dari seribu meter dpl. Dari Terminal Tirtonadi Solo, Anda bisa naik bis umum jurusan Solo-Tawangmangu dan turun di Karang Pandan, dilanjutkan dengan minibus jurusan Kemuning dan disambung dengan ojek hingga ke kawasan candi.

Bentuk candi ini yang berupa trapezium memang tak lazim seperti umumnya candi-candi lain di Indonesia. Sekilas tampak menyerupai bangunan suku Maya di Meksiko atau suku Inca di Peru.

Situs candi Sukuh ditemukan kembali pada masa pemerintahan Britania Raya di tanah Jawa pada tahun 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta. Johnson kala itu ditugasi oleh Thomas Stanford Raffles untuk mengumpulkan data-data guna menulis bukunya The History of Java. Kemudian setelah masa pemerintahan Britania Raya berlalu, pada tahun 1842, Van der Vlis, yang berwarganegara Belanda melakukan penelitian. Lalu pada tahun 1928, pemugaran dimulai.
Candi Sukuh dibangun dalam tiga susunan trap (teras), dimana semakin kebelakang semakin tinggi. Pada teras pertama terdapat gapura utama. Pada gapura ini ada sebuah candrasangkala dalam bahasa Jawa yang berbunyi gapura buta abara wong. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gapura sang raksasa memangsa manusia”. Kata-kata ini memiliki makna 9, 5, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi. Dilantai dasar dari gapura ini terdapat relief yang menggambarkan phallus berhadapan dengan vagina. Sepintas memang nampak porno, tetapi tidak demikian maksud si pembuat. Sebab tidakmungkin di tempat suci yang merupakan tempat peribadahan terdapat lambang-lambang yang porno. Relief ini mengandung makna yang mendalam. Relief ini mirip lingga-yoni dalam agama Hindu yang melambangkan Dewa Syiwa dengan istrinya (Parwati). Lingga-yoni merupakan lambang kesuburan. Relief tersebut sengaja di pahat di lantai pintu masuk dengan maksud agar siapa saja yang melangkahi relief tersebut segala kotoran yang melekat di badan menjadi sirna sebab sudah terkena “suwuk”.

Pada teras kedua juga terdapat gapura namun kondisinya kini telah rusak. Di kanan dan kiri gapura yang biasanya terdapat patung penjaga pintu atau dwarapala, didapati pula, namun dalam keadaan rusak dan sudah tidak jelas bentuknya lagi. Gapura sudah tidak beratap dan pada teras ini tidak dijumpai banyak patung-patung. Namun pada gapura ini terdapat sebuah candrasangkala pula dalam bahasa Jawa yang berbunyi gajah wiku anahut buntut. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gajah pendeta menggigit ekor”. Kata-kata ini memiliki makna 8, 7, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1378 Saka atau tahun 1456 Masehi. Jadi jika bilangan ini benar, maka ada selisih hampir duapuluh tahun dengan gapura di teras pertama !
Pada teras ketiga ini terdapat pelataran besar dengan candi induk dan beberapa relief di sebelah kiri serta patung-patung di sebelah kanan. Jika para pengunjung ingin mendatangi candi induk yang suci ini, maka batuan berundak yang relatif lebih tinggi daripada batu berundak sebelumnya harus dilalui. Selain itu lorongnya juga sempit. Konon arsitektur ini sengaja dibuat demikian. Sebab candi induk yang mirip dengan bentuk vagina ini, menurut beberapa pakar memang dibuat untuk mengetes keperawanan para gadis. Menurut cerita, jika seorang gadis yang masih perawan mendakinya, maka selaput daranya akan robek dan berdarah. Namun apabila ia tidak perawan lagi, maka ketika melangkahi batu undak ini, kain yang dipakainya akan robek dan terlepas.

Tepat di atas candi utama di bagian tengah terdapat sebuah bujur sangkar yang kelihatannya merupakan tempat menaruh sesajian. Di sini terdapat bekas-bekas kemenyan, dupa dan hio yang dibakar, sehingga terlihat masing sering dipergunakan untuk bersembahyang.

Dengan struktur bangunan seperti ini boleh dibilang Candi Sukuh dikatakan menyalahi pola dari buku arsitektur Hindu Wastu Widya. Di dalam buku itu diterangkan bahwa bentuk candhi harus bujur sangkar dengan pusat persis di tengah-tengahnya, dan yang ditengah itulah tempat yang paling suci. Sedangkan ikwal Candi Sukuh ternyata menyimpang dari aturan-aturan itu, hal tersebut bukanlah suatu yang mengherankan, sebab ketika Candi Sukuh dibuat, era kejayaan Hindu sudah memudar, dan mengalami pasang surut, sehingga kebudayaan asli Indonesia terangkat ke permukaan lagi yaitu kebudayaan prahistori jaman Megalithic, sehingga mau tak mau budaya-budaya asli bangsa Indonesia tersebut ikut mewarnai dan memberi ciri pada candhi Sukuh ini. Karena trap ketiga ini trap paling suci, maka maklumlah bila ada banyak petilasan. Seperti halnya trap pertama dan kedua, pelataran trap ketiga ini juga dibagi dua oleh jalan setapa yang terbuat dari batu. Jalan batu di tengah pelataran candi ini langka ditemui di candi-candi pada umumnya. Model jalan seperti itu hanya ada di “bangunan suci” prasejarah jaman Megalithic.

Di sebelah selatan jalan batu, di pada pelataran terdapat fragmen batu yang melukiskan cerita Sudamala. Sudamala adalah salah satu 5 ksatria Pandawa atau yang dikenal dengan Sadewa. Disebut Sudamala, sebab Sadewa telah berhasil “ngruwat” Bathari Durga yang mendapat kutukan dari Batara Guru karena perselingkuhannya. Sadewa berhasil “ngruwat” Bethari Durga yang semula adalah raksasa betina bernama Durga atau sang Hyang Pramoni kembali ke wajahnya yang semula yakni seorang bidadari.di kayangan dengan nama bethari Uma Sudamala maknanya ialah yang telah berhasil membebaskan kutukan atau yang telah berhasil “ngruwat”.Adapun Cerita Sudamala diambil dari buku Kidung Sudamala.

Pada lokasi ini terdapat dua buah patung Garuda yang merupakan bagian dari cerita pencarian Tirta Amerta yang terdapat dalam kitab Adiparwa, kitab pertama Mahabharata. Pada bagian ekor sang Garuda terdapat sebuah prasasti. Kemudian sebagai bagian dari kisah pencarian Tirta Amerta (air kehidupan) di bagian ini terdapat pula tiga patung kura-kura yang melambangkan bumi dan penjelmaan Dewa Wisnu. Bentuk kura-kura ini menyerupai meja dan ada kemungkinan memang didesain sebagai tempat menaruh sesajian. Sebuah piramida yang puncaknya terpotong melambangkan Gunung Mandaragiri yang diambil puncaknya untuk mengaduk-aduk lautan mencari Tirta Amerta.

Istana Ratu Boko
Istana Ratu Boko adalah sebuah bangunan megah yang dibangun pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran, salah satu keturunan Wangsa Syailendra. Istana yang awalnya bernama Abhayagiri Vihara (berarti biara di bukit yang penuh kedamaian) ini didirikan untuk tempat menyepi dan memfokuskan diri pada kehidupan spiritual.
Istana ini terletak di 196 meter di atas permukaan laut. Areal istana seluas 250.000 m2 terbagi menjadi empat, yaitu tengah, barat, tenggara, dan timur. Bagian tengah terdiri dari bangunan gapura utama, lapangan, Candi Pembakaran, kolam, batu berumpak, dan Paseban. Sementara, bagian tenggara meliputi Pendopo, Balai-Balai, 3 candi, kolam, dan kompleks Keputren. Kompleks gua, Stupa Budha, dan kolam terdapat di bagian timur. Sedangkan bagian barat hanya terdiri atas perbukitan.

Bila masuk dari pintu gerbang istana, anda akan langsung menuju ke bagian tengah. Dua buah gapura tinggi akan menyambut anda. Gapura pertama memiliki 3 pintu sementara gapura kedua memiliki 5 pintu. Bila anda cermat, pada gapura pertama akan ditemukan tulisan 'Panabwara'. Kata itu, berdasarkan prasasti Wanua Tengah III, dituliskan oleh Rakai Panabwara, (keturunan Rakai Panangkaran) yang mengambil alih istana. Tujuan penulisan namanya adalah untuk melegitimasi kekuasaan, memberi 'kekuatan' sehingga lebih agung dan memberi tanda bahwa bangunan itu adalah bangunan utama.
Sekitar 45 meter dari gapura kedua, anda akan menemui bangungan candi yang berbahan dasar batu putih sehingga disebut Candi Batu Putih. Tak jauh dari situ, akan ditemukan pula Candi Pembakaran. Candi itu berbentuk bujur sangkar (26 meter x 26 meter) dan memiliki 2 teras. Sesuai namanya, candi itu digunakan untuk pembakaran jenasah. Selain kedua candi itu, sebuah batu berumpak dan kolam akan ditemui kemudian bila anda berjalan kurang lebih 10 meter dari Candi Pembakaran.

Sumur penuh misteri akan ditemui bila berjalan ke arah tenggara dari Candi Pembakaran. Konon, sumur tersebut bernama Amerta Mantana yang berarti air suci yang diberikan mantra. Kini, airnya pun masih sering dipakai. Masyarakat setempat mengatakan, air sumur itu dapat membawa keberuntungan bagi pemakainya. Sementara orang-orang Hindu menggunakannya untuk Upacara Tawur agung sehari sebelum Nyepi. Penggunaan air dalam upacara diyakini dapat mendukung tujuannya, yaitu untuk memurnikan diri kembali serta mengembalikan bumi dan isinya pada harmoni awalnya. Melangkah ke bagian timur istana, anda akan menjumpai dua buah gua, kolam besar berukuran 20 meter x 50 meter dan stupa Budha yang terlihat tenang. Dua buah gua itu terbentuk dari batuan sedimen yang disebut Breksi Pumis. Gua yang berada lebih atas dinamakan Gua Lanang sedangkan yang berada di bawah disebut Gua Wadon. Persis di muka Gua Lanang terdapat sebuah kolam dan tiga stupa. Berdasarkan sebuah penelitian, diketahui bahwa stupa itu merupakan Aksobya, salah satu Pantheon Budha.

Meski didirikan oleh seorang Budha, istana ini memiliki unsur-unsur Hindu. Itu dapat dilihat dengan adanya Lingga dan Yoni, arca Ganesha, serta lempengan emas yang bertuliskan "Om Rudra ya namah swaha" sebagai bentuk pemujaan terhadap Dewa Rudra yang merupakan nama lain Dewa Siwa. Adanya unsur-unsur Hindu itu membuktikan adanya toleransi umat beragama yang tercermin dalam karya arsitektural. Memang, saat itu Rakai Panangkaran yang merupakan pengikut Budha hidup berdampingan dengan para pengikut Hindu.
Di Istana Ratu Boko ini, kita bisa coba menyambung rasa dengan Eyang Bandung Bondowoso. Beliau adalah salah satu leluhur agung tanah Jawa yang sakti mandraguna, putra Prabu Damar Maya dari Kraton Pengging yang pada jamannya terkenal gemah ripah loh jinawi.

Candi Prambanan
Candi Prambanan adalah mahakarya kebudayaan Hindu dari abad ke-10. Bangunannya yang langsing dan menjulang setinggi 47 meter membuat kecantikan arsitekturnya tak tertandingi.

Candi Prambanan adalah bangunan luar biasa cantik yang dibangun di abad ke-10 pada masa pemerintahan dua raja, Rakai Pikatan dan Rakai Balitung. Menjulang setinggi 47 meter (5 meter lebih tinggi dariCandi Borobudur), berdirinya candi ini telah memenuhi keinginan pembuatnya, menunjukkan kejayaan Hindu di tanah Jawa. Candi ini terletak 17 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, di tengah area yang kini dibangun taman indah.

Ada sebuah legenda yang selalu diceritakan masyarakat Jawa tentang candi ini. Alkisah, lelaki bernama Bandung Bondowoso mencintai Roro Jonggrang. Karena tak mencintai, Jonggrang meminta Bondowoso membuat candi dengan 1000 arca dalam semalam. Permintaan itu hampir terpenuhi sebelum Jonggrang meminta warga desa menumbuk padi dan membuat api besar agar terbentuk suasana seperti pagi hari. Bondowoso yang baru dapat membuat 999 arca kemudian mengutuk Jonggrang menjadi arca yang ke-1000 karena merasa dicurangi.

Candi Prambanan memiliki 3 candi utama di halaman utama, yaitu Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa. Ketiga candi tersebut adalah lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu. Ketiga candi itu menghadap ke timur. Setiap candi utama memiliki satu candi pendamping yang menghadap ke barat, yaitu Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu. Selain itu, masih terdapat 2 candi apit, 4 candi kelir, dan 4 candi sudut. Sementara, halaman kedua memiliki 224 candi.
Memasuki candi Siwa yang terletak di tengah dan bangunannya paling tinggi, anda akan menemui 4 buah ruangan. Satu ruangan utama berisi arca Siwa, sementara 3 ruangan yang lain masing-masing berisi arca Durga (istri Siwa), Agastya (guru Siwa), dan Ganesha (putra Siwa). Arca Durga itulah yang disebut-sebut sebagai arca Roro Jonggrang dalam legenda yang diceritakan di atas.

Di Candi Wisnu yang terletak di sebelah utara candi Siwa, anda hanya akan menjumpai satu ruangan yang berisi arca Wisnu. Demikian juga Candi Brahma yang terletak di sebelah selatan Candi Siwa, anda juga hanya akan menemukan satu ruangan berisi arca Brahma.

Candi pendamping yang cukup memikat adalah Candi Garuda yang terletak di dekat Candi Wisnu. Candi ini menyimpan kisah tentang sosok manusia setengah burung yang bernama Garuda. Garuda merupakan burung mistik dalam mitologi Hindu yang bertubuh emas, berwajah putih, bersayap merah, berparuh dan bersayap mirip elang. Diperkirakan, sosok itu adalah adaptasi Hindu atas sosok Bennu (berarti 'terbit' atau 'bersinar', biasa diasosiasikan dengan Dewa Re) dalam mitologi Mesir Kuno atau Phoenix dalam mitologi Yunani Kuno. Garuda bisa menyelamatkan ibunya dari kutukan Aruna (kakak Garuda yang terlahir cacat) dengan mencuri Tirta Amerta (air suci para dewa).

Kemampuan menyelamatkan itu yang dikagumi oleh banyak orang sampai sekarang dan digunakan untuk berbagai kepentingan. Indonesia menggunakannya untuk lambang negara. Konon, pencipta lambang Garuda Pancasila mencari inspirasi di candi ini. Negara lain yang juga menggunakannya untuk lambang negara adalah Thailand, dengan alasan sama tapi adaptasi bentuk dan kenampakan yang berbeda. Di Thailand, Garuda dikenal dengan istilah Krut atau Pha Krut.
Prambanan juga memiliki relief candi yang memuat kisah Ramayana. Menurut para ahli, relief itu mirip dengan cerita Ramayana yang diturunkan lewat tradisi lisan. Relief lain yang menarik adalah pohon Kalpataru yang dalam agama Hindu dianggap sebagai pohon kehidupan, kelestarian dan keserasian lingkungan. Di Prambanan, relief pohon Kalpataru digambarkan tengah mengapit singa. Keberadaan pohon ini membuat para ahli menganggap bahwa masyarakat abad ke-9 memiliki kearifan dalam mengelola lingkungannya.

Masuklah ke dalam salah satu atau semua candi yang ada di komplek Prambanan, meditasi di situ, dan rasakan sensasinya!

Candi Arjuna
Candi Arjuna adalah sebuah kompleks candi Hindu peninggalan dari abad ke-7-8 yang terletak di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia.

Dibangun pada tahun 809, Candi Arjuna merupakan salah satu dari delapan kompleks candi yang ada di Dieng. Ketujuh candi lainnya adalah Semar, Gatotkaca, Puntadewa, Srikandi, Sembadra,Bima dan Dwarawati.
Di kompleks candi ini terdapat 19 candi namun hanya 8 yang masih berdiri. Bangunan-bangunan candi ini saat ini dalam kondisi yang memprihatinkan. Batu-batu candi ada yang telah rontok, sementara di beberapa bagian bangunan ini terlihat retakan yang memanjang selebar 5 cm. Selain itu, bangunan ini sudah mulai miring ke arah barat. Fondasi timurnya telah amblas sekitar 15 hingga 20 cm.

Saya berkesempatan meditasi di 6 titik: Situs Dwarawati – saat pertama kali masuk ke kompleks Candi Arjuna, diteruskan di Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Puntadewa, Candi Srikandi, dan Candi Sumbadra. Sejauh pengalaman, meditasi di setiap titik ini menghasilkan pesan atau kesadaran yang berbeda.

Lebih dari itu, selepas meditas di candi-candi yang ada di sana, sempatkan untuk menikmati suasana alam Dieng yang penuh pesona mistis. Yah, tak salah kalau Dieng, disebut orang sebagai tempatnya para dewa dan dewi. Harum wangi. Mempesona!

Pantai Laut Selatan
Pantai Laut Selatan, seperti Parangkusumo dan Parangtritis, adalah sebagian titik di mana kita bisa menyambungkan rasa kita dan sowan kepada salang satu pamong Nusantara, Kanjeng Ratu Kidul.

Kanjeng Ratu Kidul, harus dibedakan dengan Nyi Roro Kidul. Karena antara "Roro kidul" dengan "Ratu kidul" memang sangatlah berbeda. Pada mitologi jawa, Ratu Kidul merupakan ciptaan dari Dewa Kaping telu yang kemudian mengisi alam kehidupan sebagai Dewi Padi (Dewi Sri), Bambu dll. Sedangkan Roro Kidul merupakan Putri dari Prabu Siliwangi yang terusir oleh ayahandanya sendiri karena ulah dari saudaranya sendiri yang kemudian menjelma menjadi sosok penguasa di laut selatan setelah menceburkan diri di laut selatan. Dan cerita terkait antara "Ratu Kidul" dengan "Roro Kidul" bisa dikatakan beda fase tahapan kehidupan menurut mitologi jawa.

Bagi orang jawa, sosok Ratu Kidul merupakan sosok agung dalam sejarah jawa dan kehidupan bagi orang jawa. Karena orang jawa mengenal sebuah istilah "telu-teluning atunggal" yaitu 3 sosok yang menjadi satu kekuatan. Yaitu, Eyang resi proyopati, panembahan senopati, dan ratu kidul. Panembahan merupakan pendiri kerajaan mataram pertama, yang dipertemukan oleh Ratu Kidul ketika bertiwikrama guna memenuhi wangsit yang diterimanya membangun sebuah keraton yang sebelumnya sebuah hutan dengan nama "alas mentaok" (sekarang Daerah Istimewa Yogyakarta). Pada proses bertapa, diceritakan semua alam menjadi kacau, ombak besar, hujan badai, gempa, gunung meletus, dll.

Bukin Turgo
Bukit Turgo, yang terletak di Desa Turgo, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, terhubung dengan nama Kyai Turgo. Kyai Turgo adalah nama lain dari Pangran Bracakngelo. Beliau adalah salah satu putra dari Prabu Brawijaya V, yang menyelamatkan diri ketika Kraton Majapahit dihancurkan oleh pasukan Demak.

Saat itu. Prabu Brawijaya V dengan disertai putra dan putri serta prajurit yang masih setia meninggalkan Keraton Majapahit mencari perlindungan ke daerah lain yang dianggap aman.

Dari sekian putra dan putri beliau, salah seorang Pangeran yang bernama Bracakngelo menyelamatkan diri menuju ke arah barat yang akhirnya sampai di Karanglo dekat lereng Merapi. Kemudian pindah ke Turgo dekat puncak Merapi, disana beliau menetap dan berusaha menolong penduduk yang sering terkena musibah letusan Gunung Merapi.

Pangeran Bracakngelo terkenal sebagai seorang yang sangat sakti. Dengan kesaktiannya ia berusaha mencegah apabila Gunung Merapi meletus, awan panas tidak mengarah ke selatan. Berkat keberhasilannya oleh penduduk setempat, Pangeran Bracakngelo diberi gelar Kyai Ageng Turgo

Dari sekian putra dan putri beliau, salah seorang Pangeran yang bernama Bracakngelo menyelamatkan diri menuju ke arah barat yang akhirnya sampai di Karanglo dekat lereng Merapi. Kemudian pindah ke Turgo dekat puncak Merapi, disana beliau menetap dan berusaha menolong penduduk yang sering terkena musibah letusan Gunung Merapi.

Pangeran Bracakngelo terkenal sebagai seorang yang sangat sakti. Dengan kesaktiannya ia berusaha mencegah apabila Gunung Merapi meletus, awan panas tidak mengarah ke selatan. Berkat keberhasilannya oleh penduduk setempat, Pangeran Bracakngelo diberi gelar Kyai Ageng Turgo

Taman Purbakala Cipari
Situs Cipari adalah sebuah situs di Kabupaten Kuningan, yang tepatnya terletak di Desa Cipari Kecamatan Cigugur. Situs Cipari sendiri terletak di daerah lembah di atas ketinggian 700 m dpl dan pada koordinat 1080 28' 156" BT, 060 57' 723" LS, sekitar 3 km ke arah barat dari pusat kota Kuningan. Untuk mencapai situs ini pengunjung dapat menggunakan baik kendaraan roda dua maupun roda empat dengan mudah karena jalan menuju situs ini cukup lebar dan beraspal. Luas situs ini sendiri mencapai 700 m2 dan menjadi bagian dari areal Taman Purbakala Cipari yang luasnya mencapai 2500 m. Dan karena berada dalam lingkungan Taman Purbakala maka situs Cipari pun lebih dikenal dengan Taman Purbakala Cipari. Sejak pertama kali ditemukan yaitu pada tahun 1971/1972 oleh penduduk setempat yang kemudian dilakukan penggalian oleh Pemda Kuningan situs ini pun kemudian di buka untuk umum sebagai pilihan sarana wisata Budaya yang lebih menitik beratkan pada sisi pendidikan.

Situs Cipari berdasarkan tipologi dan statigrafi diperkirakan pernah mengalami 2 kali masa pemukiman yaitu pemukiman manusia pada akhir masa neolitik dan awal pengenalan masa perunggu (masa perundagian) yang berkisar antara tahun 1000 SM s.d 500 SM. Bukti-bukti peninggalan manusia pada akhir masa neolitik dan awal pengenalan masa perunggu sendiri dapat ditemukan dalam berbagai artefak yang terdapat di situs ini yang antara lain fragmen tembikar seperti pernik, kendi, piring, pedupaan dan cawan, gelang batu, beliung persegi, kapak perunggu dan manik-manik, tulang hewan yang kesemuanya didapat dari hasil penggalian dua peti kubur. Sayangnya dalam penggalian dua kuburan batu (yang satu lengkap dengan penutup kuburnya yang berukuran 16 x 56 x 59 cm) di dalam peti kubur tersebut tidak ditemukan sisa jasad manusia melainkan hanya bekal kuburnya saja seperti yang Portal Cirebon sebutkan di atas. Karena melihat temuan-temuan di atas tadi maka dari itulah situs Cipari di duga kuat berasal dari masa perundagian (paleometalik atau perunggu besi) yaitu zaman manusia di masa transisi antara zaman megalitik menuju ke zaman perunggu.


Tidak hanya artefak-artefak seperti yang saya sebutkan di atas saja yang terdapat dalam situs Cipari ini melainkan masih banyak juga peninggalan-peninggalan sejarah lain yang tak kalah menakjubkan seperti misalnya pintu gerbang arah kiri ke kanan akan dijumpai menhir dengan tatanan batu, menhir dengan tatanan lempengan batu sekeliling di bagian bawah kuburan, dan juga kapak batu sebagai hasil kebudayaan manusia pada zaman itu. Kondisi objek situs pun masih tetap sama sesuai dengan kondisi pertama kali ditemukan meski ada beberapa bagian yang ditambahkan pada situs ini seperti misalnya lantai jalan setapak di taman purbakala Cipari yang ditambahkan susunan lempeng batu yang diupayakan agar serasi dengan tinggalan megalitik yang dominant terbuat dari batu.

Untuk bermeditasi, coba pilih lokasi di tengah salah satu lingkaran bebatuan yang ada di situs itu, tepat di tengah-tengah antara dua menhir yang saling berseberangan. Di titik itulah salah satu lokus energi Situs Cipari.

Situs Sang Hyang Ci Arca
Jika Anda mencari tempat dengan energi yang kuat, dengan suasana mistik yang menghanyutkan, kunjungilah Situs Sanghyang Ci Arca di Desa Sagarahyang, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan. Situs ini berada di kaki Gunung Ciremai. Di titik ini, telah terbangun kerajaan sejak 2000 tahun sebelum Masehi. Di sini, Keratuan Sunda pernah menegakkan keberadaannya. Salah satu raja Sunda yang dihubungkan dengan situs ini adalah Rahyang Tangkukuh. Dalam sejarah Rahyang Tangkukuh/Sang Seuweukarma melakukan perjanjian Galuh I tahun 737 Masehi, di wilayah Cigugur. Yang mendamaikan Rahyang Banga ( cucu Rahyang Sanjaya Harisdharma) dengan Sang Manarah.
Di situs ini, kita bisa menemukan batu lingga yoni, dan beberapa bebatuan yang terbentuk menyerupai binatang. Bentuk-bentuk batu tersebut menggambarkan tuanya situs ini.

Di sini, bersemayam juga 7 karuhun Tanah Sunda: Sanghyang Sanggawinata, Nyai Sanghyang Sanggawinata, Dangyang Penganten, Nyai Bokor Kencana, Nyai Pucuking Manah, Nyai Rambut Galing, dan Nyai Boros Ngora.

Trowulan
Trowulan adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia. Kecamatan ini terletak di bagian barat Kabupaten Mojokerto, berbatasan dengan wilayahKabupaten Jombang. Trowulan terletak di jalan nasional yang menghubungkanSurabaya-Solo.

Di kecamatan ini terdapat puluhan situs seluas hampir 100 kilometer persegi berupa bangunan, temuan arca, gerabah, dan pemakaman peninggalan Kerajaan Majapahit. Diduga kuat, pusat kerajaan berada di wilayah ini yang ditulis oleh Mpu Prapanca dalam kitabKakawin Nagarakretagama dan dalam sebuah sumber Cina dari abad ke-15. Trowulan dihancurkan pada tahun 1478 saat Girindrawardhana berhasil mengalahkan Kertabumi, sejak saat itu ibukota Majapahit berpindah ke Daha.

Beberapa tempat yang pernah saya jadikan tempat meditasi adalah Sitihinggil, di mana di situ ada petilasan Raden Wijaya, pendiri Kraton Majapahit bersama para garwo, dan Tambak Segaran.

Tambak atau Kolam Segaran adalah kolam besar berbentuk persegi panjang dengan ukuran 800 x 500 meter persegi. Nama Segaran berasal dari bahasa Jawa 'segara' yang berarti 'laut', mungkin masyarakat setempat mengibaratkan kolam besar ini sebagai miniatur laut. Tembok dan tanggul bata merah mengelilingi kolam yang sekaligus memberi bentuk pada kolam tersebut. Saat ditemukan oleh Maclain Pont pada tahun 1926, struktur tanggul dan tembok bata merah tertimbun tanah dan lumpur. Pemugaran dilakukan beberapa tahun kemudian dan kini kolam Segaran difungsikan oleh masyarakat setempat sebagai tempat rekreasi dan kolam pemancingan. Fungsi asli kolam ini belum diketahui, akan tetapi penelitian menunjukkan bahwa kolam ini memiliki beberapa fungsi, antar lain sebagai kolam penampungan untuk memenuhi kebutuhan air bersih penduduk kota Majapahit yang padat, terutama pada saat musim kemarau. Dugaan populer lainnya adalah kolam ini digunakan sebagai tempat mandi dan kolam latihan renang prajurit Majapahit, disamping itu kolam ini diduga menjadi bagian taman hiburan tempat para bangsawan Majapahit menjamu para duta dan tamu kerajaan.

Tempat-Tempat Menjalankan Laku Prihatin di Tanah Jawa

Lelaku, atau melakukan perjalanan spiritual, menapaktilasi jejak para leluhur, adalah satu kegiatan yang lazim dilakukan para spiritualis di Tanah Jawa. Dalam tulisan ini, ijinkan saya untuk berbagi cerita dan infromasi, tentang tempat-tempat yang telah saya datangi dalam rangka lelaku tersebut.

Petilasan Ki Ageng Kebo Kanigoro
Petilasan dalam bentuk makam ini, berada di lembah dua gunung yang berdampingan, yaitu Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Tepatnya, ia berada di Selo, termasuk Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Menuju tempat ini, bisa melalui Boyololali, dari arah Cempaga, atau masuk dari Kabupaten Magelang, tepatnya dari Wekas (Kaponan / Magelang).
Raja-raja Mataram, hingga Raja-raja dari Keraton Jogja, sering menjadikan petilasan ini sebagai tempat bertapa.
Ki Ageng Kebo Kanigoro adalah putra dari Adipati Pengging, yang menikah dengan Retno Pembayun, putri dari Prabu Brawijaya V. Beliau adalah kakak dari Ki Ageng Kebo Kenongo. Karena kegemarannya mencari ilmu kesejatian, beliau meninggalkan Kraton Pengging, dan lebih suka mengembara.

Hal menarik yang terekam di benak saya adalah, betapa indahnya tempat ini. Petilasan ini dikelilingi pohon-pohon besar. Tanahnya hijau berlumut..laksana dilapisi karpet hijau nan indah. Suasananya sungguh membuat hati tergetar, sekaligus damai. Apalagi jika kita berada di sana, saat kabut turun. Wow…sungguh menakjubkan.

Petilasan Pengging
Di Desa Pengging, Kec. Banyudono, kita bisa menemukan beberapa petilasan leluhur dari Kraton Pengging yang saling berdekatan. Yang pernah saya kunjungi adalah satu komplek makam, di sana terdapat makam Eyang Pengging Sepuh, Eyang Retno Pembayun, dan Ki Ageng Kebo Kanigoro. Tentu saja, bukan makam sebenarnya, hanya sebuah tanda/petilasan, tempat kita bisa sowan pada beliau-beliau. Tak jauh dari situ, kita bisa temukan makam Ki Ageng Kebo Kenongo, yang menyatu dengan makam umum.
Di samping makam, di Desa Pengging, kita bisa menemukan beberapa tuk, atau mata air, tempat kita bisa kungkum, berendam, atau sekadar menikmati segarnya air di situ untuk membasuh muka dan badan.

Petilasan Ki Ageng Tarub
Ki Ageng Tarub adalah leluhur yang menurunkan raja-raja Jawa. Letak makam beliau adalah di Desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo Kabupaten Grobogan. Satu komplek dengan makam beliau, terdapat makam Raden Mas Bondan Kejawan atau disebut juga dengan Ki Lembu Peteng yang di berijulukan juga sebagai Ki Ageng Tarub II beliau Putra dari Raja Majapahit Maha Prabu Brawijaya V yang menjadi murid sekaligus putra menantu Ki Ageng Tarub. Eyang Bondan Kejawan ini menikah dengan Dewi Nawang Sih, putri Ki Ageng Tarub dari pernikahannya dengan Dewi Nawang Wulan.

Lebih jelas, sejarah singkat beliau adalah sebagai berikut: Ki Ageng Tarub adalah nama lain dari Jaka Tarub, yang bersahabat dengan Prabu Brawijaya V raja Majapahit. Pada suatu hari Prabu Brawijaya V mengirimkan keris pusaka Kyai Mahesa Nular supaya dirawat oleh Ki Ageng Tarub.

Utusan Prabu Brawijaya V yang menyampaikan keris tersebut bernama Ki Buyut Masahar dan Bondan Kejawan, anak angkatnya. Ki Ageng Tarub mengetahui kalau Bondan Kejawan sebenarnya putra kandung Prabu Brawijaya V. Maka, pemuda itu pun diminta agar tinggal bersama di desa Tarub.

Sejak saat itu Bondan Kejawan menjadi anak angkat Ki Ageng Tarub, dan diganti namanya menjadi Lembu Peteng. Ketika Nawangsih tumbuh dewasa, keduanya pun dinikahkan.

Setelah Jaka Tarub meninggal dunia, Lembu Peteng alias Bondan Kejawan menggantikannya sebagai Ki Ageng Tarub yang baru. Nawangsih sendiri melahirkan seorang putra, yang setelah dewasa bernama Ki Getas Pandawa.
Ki Ageng Getas Pandawa kemudian memiliki putra bergelar Ki Ageng Sela, yang merupakan kakek buyut Panembahan Senapati, pendiri Kesultanan Mataram.

Petilasan Ki Ageng Selo
Makam Ki Ageng Selo, berada di Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo Purwodai, persis berseberangan jalan dengan makam Ki Ageng Tarub. Ki Ageng Selo, adalah cucu dari Ki Ageng Tarub, dari putra beliau Ki Ageng Getas Pendawa. Ki Ageng Sela tercatat pernah mendaftar sebagai perwira di Kesultanan Demak. Ia berhasil membunuh seekor banteng sebagai persyaratan seleksi, namun ngeri melihat darah si banteng. Akibatnya, Sultan menolaknya masuk ketentaraan Demak. Ki Ageng Sela kemudian menyepi di desa Sela sebagai petani sekaligus guru spiritual. Ia pernah menjadi guru Jaka Tingkir, pendiri Kesultanan Pajang. Ia kemudian mempersaudarakan Jaka Tingkir dengan cucu-cucunya, yaitu Ki Juru Martani, Ki Ageng Pemanahan, dan Ki Panjawi.

Ki Ageng Sela juga pernah dikisahkan menangkap petir ketika sedang bertani. Petir itu kemudian berubah menjadi seorang kakek tua yang dipersembahkan sebagai tawanan pada Kesultanan Demak. Namun, kakek tua itu kemudian berhasil kabur dari penjara. Untuk mengenang kesaktian Ki Ageng Sela, pintu masuk Masjid Agung Demak kemudian disebut Lawang Bledheg (pintu petir), dengan dihiasi ukiran berupa ornamen tanaman berkepala binatang bergigi runcing, sebagai simbol petir yang pernah ditangkap Ki Ageng. Bahkan, sebagian masyarakatJawa sampai saat ini apabila dikejutkan bunyi petir akan segera mengatakan bahwa dirinya adalah cucu Ki Ageng Sela, dengan harapan petir tidak akan menyambarnya.

Ki Ageng Sela juga berkaitan dengan asal-usul pusaka Mataram yang bernama Bende Kyai Bicak. Dikisahkan pada suatu hari Ki Ageng Sela menggelar pertunjukan wayang dengan dalang bernama Ki Bicak. Ki Ageng jatuh hati pada istri dalang yang kebetulan ikut membantu suaminya. Maka, Ki Ageng pun membunuh Ki Bicak untuk merebut Nyi Bicak. Akan tetapi, perhatian Ki Ageng kemudian beralih pada bende milik Ki Bicak. Ia tidak jadi menikahi Nyi Bicak dan memilih mengambil bende tersebut. Bende Ki Bicak kemudian menjadi warisan turun temurun keluarga Mataram. Roh Ki Bicak dipercaya menyatu dalam bende tersebut. Apabila hendak maju perang, pasukan Matarambiasanya lebih dulu menabuh bende Ki Bicak. Bila berbunyi nyaring pertanda pihak Mataram akan menang. Tapi bila tidak berbunyi pertanda musuh yang akan menang.

Selain pusaka, Ki Ageng Sela meninggalkan warisan berupa ajaran moral yang dianut keturunannya di Mataram. Ajaran tersebut berisi larangan-larangan yang harus dipatuhi apabila ingin mendapatkan keselamatan, yang kemudian ditulis para pujangga dalam bentuk syair macapat berjudul Pepali Ki Ageng Sela.

Gua Langse
GUA Langse berada di kaki tebing pantai Parangtritis. Warga sekitar juga menyebut Gua Langse sebagai Gua Kanjeng Ratu Kidul. Gua ini sering dikunjungi oleh raja-raja Mataram. Yang paling terkenal terkait dengan gua ini, adalah kisah pertemuan antara Panembahan Senopati, pendiri Kraton Mataram, dengan Kanjeng Ratu Kidul.

Dari pantai Parangtritis untuk menuju Gua Langse masih harus berjalan sekitar 3 km ke arah timur menaiki perbukitan. Sebelum menuju ke gua, di pos jaga, kita akan diminta mengisi buku tamu dan memberi donasi bagi perawatan gua. Dari sini kita masih harus berjalan kaki sekitar 750 m menyusuri jalan setapak di antara rerimbunan ladang. Kita juga bisa diantar oleh salah seorang penjaga, langsung menuju ke gua.

Sesampainya di bibir tebing atas Gua Langse, kita masih harus menuruni tebing tempat Gua Langse berada, dengan jalan turun berupa campuran antara tangga yang sudah lapuk, akar, dan tonjolan bebatuan. Ya, kita harus menaklukkan tebing dengan ketinggian 300-400 m dan nyaris tegak lurus dengan suara deburan ombak yang keras menerjang tebing dan karang-karang.

Sendang Beji
Sendang Beji terletak di Dusun Girijati, Parangrejo, Panggang, Gunung Kidul. Tempat ini dapat dicapai melalui jalan aspal yang menghubungkan Prangtritis-Panggang. Lokasi ini akan mudah dicapai dengan engikuti jalan aspal di sebelah timur parkiran bus pariwisata Pantai Parangtritis. Setelah sampai di pertigaan jalan aspal pengunjung dapat mengikuti arah ke timur (kanan)-arah ke Gua Langse.

Setelah sampai di pertigaan kampung yang mengarah ke Candi Gembirawati dan Gua Langse, pengunjung dapat mengikuti jalan ke arah Candi Gembirawati. Jika pengunjung berkendaraan, maka kendaraan harus dititipkan ke rumah penduduk setempat sebab jalan menuju lokasi Sendang Beji adalah jalan setapak dengan menembus tegalan, sawah, dan kebun. Rumah terdekat dari lokasi Sendang Beji untuk penitipan kendaraan berada di sisi selatan Candi Gembirawati.
Sendang Beji ini sekarang telah dibuatkan talud yang juga berfungsi sebagai penampung utama dari kucuran airnya. Talud yang berfungsi sebagai bak penampung ini memiliki ukuran panjang sekitar 20 meter, lebar bagian hilir 6 meter, lebar bagian hulu 13 meter. Kedalaman rata-rata dari sendang ini sekitar 0,5 meter.

Sendang ini juga dilengkapi dengan tempat peristirahatan sebanyak satu buah. Tempat peristirahatan ini kira-kira berukuran 7,5 meter X 9 meter. Kecuali itu tempat ini juga dilengkapi dengan mushala dengan ukuran kira-kira 7,5 X 12 meter. Sendang juga dilengkapi dengan kamar mandi berukuran sekitar 4 meter X 4 meter. Sedangkan bak penampungan yang berfungsi untuk membagi air berukuran sekitar 3 X 8 meter.

Keberadaan sendang ini juga dikengkapi dengan tempat pemujaan sebanyak 4 buah. Tempat pemujaan I (terletak di tengah sendang) memiliki ukuran sekitar 2 meter X 4 meter. Pemujaan di tengah sendang ini diperkeras dengan lantaikeramik warna merah dan putih. Ukuran keramik 20 cm x 20 cm. Pemujaan yang kedua (di sisi atas sendang) memiliki ukuran sekitar 2,5 meter X 5 meter. Pada tempat pemujaan kedua ini dilengkapi juga dengan arca batu setinggi kira-kira 2 meteran. Demikian pula tempat pemujaan yang ketiga (di sisi atas pemujaan yang kedua) juga dilengkapi arca batu setinggi 2 meteran. Tempat pemujaan yang ketiga ini memiliki ukuran sekitar 4 X 8 meteran. Sedangkan pemujaan yang ke-4 terletak di dinding timur tempat peristirahatan. Tempat pemujaan yang keempat ini berukuran sekitar 80 Cm X 80 Cm.

Sendang Beji di Girijati adalah tempat yang dulunya pernah digunakan mandi oleh serombongan bidadari dari Kahyangan. Karena pada zaman dulu keletakan sendang dengan air jernih yang tidak pernah kering ini berada di punggung bukit dalam lindungan hutan yang lebat, maka keletakannya menjadi disukai para bidadari. Salah satu bidadari yang mandi di sendang ini menurut sumber setempat bernama Dewi Nawangwulan (istri Jaka Tarub).