PERJALANAN KE TIMUR: MENITI JALAN MENJADI SATRIO PINANDHITO (1)




Awal bulan Maret 2012, takdir membawa saya pada perjalanan dan kejadian yang menjejakkan kesan mendalam. Saya bisa menapakkan kaki di beberapa tempat yang belum pernah saya kunjungi: Sendang Semangling di kaki Gunung Kendalisada Bawen Kabupaten Semarang, Petilasan Ki Ageng Kebo Kenongo dan Eyang Joko Tingkir di Butuh, Gunung Kemukus dan Sendang Lanji di Miri Sragen. Di samping, saya bersempatan kembali menghirup aura spiritual di Desa Tarub, petilasan dua pepunden Tanah Jawa, Ki Ageng Tarub da Eyang Lembu Peteng atau dikenal juga sebagai Raden Bondan Kejawan.

Saya juga ingin memberi kabar, bahwa dalam perjalanan kali ini saya juga mendapatkan anugerah besar, bertemu dengan dua orang yang telah dan akan menjadi bagian penting dari hidup saya: Mas Heru Dipastraya, priyayi dari Jogja yang masih Trah Pengging, tinggal di Bandung dan sebagaimana saya suka berkelana ke berbagai tempat, dan Mas Paulus Bambang Susetyo, begawan yang ahli soal wayang dan falsafah spiritual Jawa, dan jumeneng di Kota Solo. Tulisan kali ini, hadir, tak lepas dari kebijaksanaan mereka berdua yang bisa saya serap dan sampaikan kembali lewat rangkaian kata.

Titian Pertama: Sendang Semangling

Saat itu matahari sudah berada tepat di atas kepala. Setelah menyelesaikan satu pekerjaan di Semarang, dan berdiskusi dengan salah satu sahabat saya Mas Suprayitno tentang banyak hal, saya meluncur menuju Kota Ungaran untuk bertemu dengan Mas Heru Dipastraya (bisa dipanggil mas Dipa) yang menunggu di situ. Kami berkomunikasi lewat telepon, dan sepakat untuk bertemu di Ungaran agar saya yang berangkat dari Kota Semarang maupun Mas Dipa yang berangkat dari Solo. Kami bertemu di depan sebuah warnet, lalu dari situ, meluncur menggunakan mobil yang dikendarai Mas Dipa. Saya baru kali ini bertemu Mas Dipa – dan yang membuat saya merasa sangat terhormat, Mas Dipa adalah pembaca setia blog saya, sekalipun saya tahu dia jauh lebih waskito ketimbang saya. Dan perkenalan kami dijembatani oleh jejaring sosial Facebook, di situ kami saling menginformasikan nomor telepon. Tapi saat bertemu, saya merasa Mas Dipa bukan orang yang asing. Tampaknya, kami disatukan oleh ikatan spirit masa lalu yang sama.

Mas Dipa menawarkan kepada saya untuk melakukan tirta yatra ke Sendang Semangling di Bawen. Jujur, baru kali ini saya mendengar istilah tirta yatra. Tirta yatra berasal dari Bahasa Sanskerta. Tirta artinya air, sungai, pemandian. Sementara yatra adalah perjalanan suci. Jadi tirta yatra adalah perjalanan suci, untuk menemukan air suci. Konsep tirta yatra bisa kita pahami dengan menelaah perjalanan Bima dalam lakon Dewa Ruci. Bima, salah satu satria Pendawa, menjelajah jagad ageng, hingga akhirnya masuk ke sebuah samudra, untuk menggapai tirta perwitasari (air kehidupan yang suci), dan di situ pula ia bertemu dengan Dewa Ruci, wujud suci yang merupakan manifestasi dari Sang Hyang Widhi, yang sesungguhnya justru bersemayam di dalam diri sendiri.

Demikianlah, kami meluncur menuju Sendang Semangling yang terletak di Desa Karangjoho, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang. Sendang ini disebut juga sebagai Tuk Wesi. Saat Pak Harto, Presiden RI kedua masih jumeneng, ia sering ke sendang ini. Tentu ada alasan khusus mengapa tokoh seperti Pak Harto sering mengunjungi Sendang Semangling. Secara filosofi, Sendang Semangling merupakan tempat untuk menjalankan laku penyanglingan atau pengasahan. Ibarat intan, jiwa manusia perlu diasah agar bisa memancarkan sinar yang mempesona, berupa cahaya kebaikan yang membawa pencerahan dan kedamaian.

Di sendang ini, kita bisa temukan sebuah patung, seperti yang bisa ditemukan di Candi Gedung Songo: Patung Anoman, tokoh dalam pewayangan yang berwujud kera putih namun memiliki kesaktian pilih tanding. Memang, di sendang ini jumeneng sosok metafisis yang bernama Eyang Begawan Mayangkoro. Eyang Begawan Mayangkoro adalah nama lain dari Anoman ketika telah mencapai usia sepuh. Tetapi, wujudnya pada saat ini tidak lagi berupa kera putih melainkan sosok priyayi sepuh dengan penampilan seorang begawan.

Untuk menuju Sendang Semangling, kami harus meniti jalan menurun setelah mobil diparkir di pinggir jalan. Di sekeliling sendang, terhampar sawah yang hijau, dan beberapa pohon kelapa. Sementara sebagai latarnya, adalah perbukitan yang berwarna hijau tua. Sendang ini memang berada di kaki Gunung Kendalisada, yang dalam kisah pewayangan dikenal sebagai tempat “memenjarakan” Rahwana, yang karena memiliki Ajian Pancasona, tak bisa mati. Dan Anomanlah yang bertugas untuk “menjaga” Rahwana, sang raja sakti mandraguna yang terjebak ke dalam angkara dan menjadi musuh Prabu Rama, titisan Betara Wisnu.

Kegiatan pertama di Sendang Semangling ini adalah mandi, dengan niat mengasah jiwa agar mengkilat. Air di sendang ini berwarna kekuningan, rasanya – jika sedikit dijilat- agak manis. Kadar zat besi dalam air sendang ini sangat kuat, karena itu sendang ini disebut juga Tuk Wesi. Saya dan mas Dipa bergantian membasuh badan kami dengan air sendang. Saya sendiri menggerujug sekujur tubuh sembilan kali. Saya memilih angka Sembilan ini karena melambangkan angka tertinggi, simbol pencapaian yang mendekati kesempurnaan. Raga dan jiwa saya terasa segar – dan tampaknya fenomena demikian adalah hal yang wajar, karena air di sendang itu mengandung energi besar yang bisa memberi pengaruh secara ragawi maupun kejiwaan. Saat kami mandi, sebetulnya cuaca tengah terik, matahari di atas langit masih membakar. Namun, di sekitar sendang ada hujan lokal, ada gerimis yang menetes. Dalam pengalaman kami, ini adalah pertanda alam yang baik, artinya para titah alus yang ada di tempat ini menerima dengan baik kedatangan kita.

Setelah selesai mandi, kami berdua menyalakan dupa wangi lalu duduk bersila di tempat meditasi yang tersedia di dekat sendang itu. Saya mengatur nafas agar menjadi benar-benar tersadari, seluruh raga dan jiwa menjadi tenang, lalu perlahan-lahan memasuki keadaan hening. Selanjutnya saya berkomunikasi lewat bathin, menghaturkan salam dan sembah hormat, mohon agar kehadiran di tempat ini diterima oleh Eyang Begawan Mayangkoro dan para sesepuh lain yang ada di tempat ini (yaitu Ki Brewok dan Nyai Brewok, yang menjadi cantrik bagi Eyang Begawan Mayangkoro). Tak lama kemudian, datang angin menderu-deru. Syuuuuuuttt…..syuuutttttt…syuuuutttttt…… deru angin yang dahsyat. Saya tetap coba berkonsentrasi, demikian pula Mas Dipa. Dan sejatinya, angin yang menderu dahsyat ini adalah pertanda baik juga, dan memberikan sensasi tersendiri bagi kami.

Lalu, apa yang saya dapatkan di tempat ini? Pertama, saya mendapatkan pesan untuk menyempurnakan laku. Telah cukup panjang memang lelampahan spiritual atau tirta yatra yang saya jalani. Tapi, itu belum cukup. Saya masih harus menggenapi hal-hal yang kurang, mengunjungi beberapa tempat yang belum saya kunjungi, agar tercapailah segenap persyaratan menjadi seorang saria pinandhito yang pada waktunya, bisa menjadi salah satu pemimpin yang menegakkan keadilan dan mengayomi warga di negeri ini.

Berikutnya, saya telah menyerap energi spiritual yang melimpah di tempat itu. Di samping dengan cara mandi di sendang, yang saya lakukan adalah – tentunya setelah minta ijin kepada Eyang Begawan Mayangkoro dan sesepuh yang ada di situ – saya menempelkan kedua telapak tangan ke lantai, membuka semua cakra, dan memprogram agar energi yang ada di situ terserap ke dalam ranga ini melalui telapak tangan dan semua titik/pintu lain yang mungkin.

Selebihnya, saya makin terdorong untuk memahami dan menghayati filosofi Anoman, yang pada masa lalu, tercatat sebagai Patih di Kerajaan Kiskenda, yang dipimpin Raja Sugriwa.

Dalam Ramayana, diceritakan ibu Anoman adalah Dewi Anjani, sedangkan ayahnya adalah Batara Guru. Pada saat Ramawijaya mengerahkan bala tentara kera menyerbu Kerajaan Alengka untuk membebaskan Dewi Sinta yang diculik Dasamuka, Anoman bertindak sebagai salah satu senapatinya.

Dewi Anjani sendiri adalah puteri sulung Resi Gotama yang terkena kutukan sehingga berwajah kera. Atas perintah ayahnya, ia pun bertapa telanjang di telaga Madirda. Suatu ketika, Batara Guru dan Batara Narada terbang melintasi angkasa. Saat melihat Anjani, Batara Guru terkesima sampai mengeluarkan air mani. Raja para dewa pewayangan itu pun mengusapnya dengan daun asam (Bahasa Jawa: Sinom) lalu dibuangnya ke telaga. Daun sinom itu jatuh di pangkuan Anjani. Ia pun memungut dan memakannya sehingga mengandung. Ketika tiba saatnya melahirkan, Anjani dibantu para bidadari kiriman Batara Guru. Ia melahirkan seekor bayi kera berbulu putih, sedangkan dirinya sendiri kembali berwajah cantik dan dibawa ke kahyangan sebagai bidadari.

Selanjutnya Batara Guru memerintahkan Batara Bayu untukmengasuhnya. Itulah sebabnya Anoman juga diberi nama Bayusuta atau Bayutanaya, Maruti atau Marutasuta.

Ada banyak hal yang menarik dari sosok Anoman. Wujud lahirnya sebagai kera atau wanara berwarna putih, membungkus atau menutupi berbagai keistimewaan: kecerdikan, kebijaksanaan, kesaktian. Musuh Anoman acapkali meremehkan karena penampilan luarnya itu. Dan pada titik itulah mereka terkecoh, karena dengan diremehkan, Anoman menjadi leluasa untuk mendapatkan berbagai informasi yang dibutuhkan, sekaligus memiliki posisi bagus untuk melumpuhkan lawan.

Anoman juga adalah sosok ksatria yang sangat setia mengabdi pada negara dan raja atau pimpinannya. Ia menomorsekiankan kepentingan pribadinya, Dengan segenap kelebihannya, dan posisinya sebagai putra Betara Guru, ia bisa saja menjadi seorang raja. Tapi, ia memilih untuk menjadi abdi setia para raja selama mereka berpegang pada kebenaran. Dan saat ia telah menyelesaikan tugasnya, khususnya membantu Prabu Rama memenangkan pertempuran melawan Kerajaan Alengka, ia tidak berpamrih. Tapi memilih menjadi seorang pendeta.

Dalam khazanah masa kini, Anoman adalah gambaran dari tokoh yang bisa memainkan peran intelejen dengan sangat cemerlang. Tampaknya, bagi diri saya pribadi, saat saya menjalankan tugas sebagai ksatria dan memasuki dunia politik, saya harus memiliki kecemerlangan otak laksana Anoman, dan harus didampingi oleh senopati yang bisa menjalankan peran sebagai Anoman. Saat mengalahkan Kerajaan Alengka yang demikian digdaya, Anoman menjadi kunci kemenangan lewat strategi politik dan militernya yang handal.


Satrio Pinandhito dan Hastabrata


Untuk bisa menjadi satrio pinandhito, lelampahan spiritual atau tirtayatra yang saya penuhi adalah mengunjungi simpul-simpul energi di Tanah Jawa yang menjadi tempat bersemayamnya para pangreh gaib. Sebagian tempat itu sudah saya kunjungi, mulai Gunung Tidar yang menjadi puser atau pusat – terlebih saya memang lahir di Lembah Gunung Tidar, Candi Gedong Songo Ungaran, Gunung Ciremai (saya telah mengitari tempat-tempat sakral di sekitarnya mulai dari Situs Pajajar hingga Sagara Hyang, Gunung Merapi (saya tidak ke puncaknya, tapi saya ke Selo, kaki Merapi sekaligus kaki Merbabu, dan ke Gunung Turgo di sebelah Merapi), Dieng (yang saya kunjungi adalah Komplek Candi Arjuna dan Tuk Bima Lukar), Gunung Srandil (dan juga Gunung Selok di sebelahnya), Gunung Lawu (saya belum ke puncaknya, tapi baru ke Candi Sukuh dan Astana Mangadeg yang ada di lereng Lawu), lalu Kraton Kidul (saya beberapa kali tirta yatra ke Parangkusumo dan Parangtritis). Beberapa tempat lagi yang harus saya kunjungi adalah Kahyangan Dlepih di Gunung Kidul dan Puncak Songolikur. Kesemua tempat itu, membentuk segi delapan yang melambangkan konfigurasi energi sekaligus 8 arah mata angin di Tanah Jawa.

Angka 8 di atas, tampaknya selaras dengan filosofi Hasta Brata, ilmu kepemimpinan Jawa. Para sesepuh Jawa mengajarkan, agar setiap pemimpin, harus bisa memahami, menghayati, dan mempraktekkan ilmu Hasta Brata. Hasta itu Delapan, dan Brata itu Laku. Jadi Hasta Brata adalah 8 laku/tindakan, dan dalam hal ini, 8 tindakan yang harus dijalankan oleh seorang ksatria atau pemimpin adalah tindakan yang ditunjukkan oleh 8 unsur semesta: api, air, angin, bulan, matahari, bintang, angkasa, dan tanah. Dalam pendekatan lain, seorang pempin harus bisa mengikuti sifat-sifat bijaksana dari 8 dewa di 8 penjuru mata angin dan masing-masing menyimbolkan 1 unsur semesta, yaitu:
- Batara Wisnu : simbol bumi / tanah [earth]
- Batara Bayu : simbol angin / maruto [wind/hurricane]
- Batara Baruna : simbol air / laut [water/sea]
- Batari Ratih/Chandra : simbol bulan [moon]
- Batara Surya : simbol matahari [sun]
- Batara Indra : simbol langit / angkasa [sky]
- Batara Brama : simbol api / dahana [fire]
- Batara Kartika/Ismaya : simbol bintang [star]

Lebih jelasnya, berikut ini uraian dari Hasta Brata:

Batara Wisnu adalah Dewa Keabadian dan Kesejahteraan, yang tugasnya adalah memelihara dan membangun peradaban di bumi ini, perlambang dari Kebijaksanaan.
Sifat Bumi sendiri adalah sentosa, suci, pemurah, memberikan segala kebutuhan yang diperlukan makhluk yang hidup di atasnya. Menjadi tumpuan bagi hidup dan pertumbuhan benih dari seluruh makhluk hidup. Sebagaimana Bumi, seorang pemimpin seharusnya bersifat sentosa, suci hati, pemurah serta selalu berusaha memperjuangkan kehidupan rakyat yang tergambar dalam tutur kata, tindakan serta tingkah laku sehari-hari.

Batara Bayu adalah Dewa Angin yang merupakan perlambang kekuatan.
Ia bisa masuk ke mana saja ke seluruh penjuru dunia tanpa kesulitan. Segala perilaku baik atau jelek kasar atau rumit di dunia dapat diketahui olehnya tanpa yang bersangkutan mengetahuinya. Ia melihat keadaan sekaligus memberikan kesejahteraan yang dilaluinya. Perwatakannya gagah berani, kuat, teguh santosa, bersahaja, pendiam dan dahsyat. Sifat Angin adalah, meskipun tidak tampak tetapi dapat dirasakan berhembus tanpa henti, merata ke seluruh penjuru dan tempat. Sebagaimana Angin, seorang pemimpin seharusnya bersifat teguh dan bersahaja, selalu dapat mencermati setiap permasalahan dari bangsa yang terjadi, menyuarakan dengan lantang kepentingan rakyat sebagai bagian dari kekuatan berkebangsaan.

Batara Baruna adalah Dewa Laut atau Samudera, di mana sifat Samudera bisa menampung seluruh air sungai dengan segala sesuatu yang ikut mengalir di dalamnya, namun samudera tidak tumpah, dapat menampung apa saja yang jelek ataupun baik, tetap sabar dan berwawasan sangat luas, seluas samudera. Sifat Laut adalah Luas, tidak pernah menolak apapun yang datang memasukinya, menerima dan menjadi wadah apa saja. Sebagaimana Lautan, seorang pemimpin hendaknya luas hati dan kesabarannya. Tidak mudah tersinggung bila dikritik, tidak terlena oleh sanjungan dan mampu menampung segala aspirasi rakyat dari golongan maupun suku mana-pun serta bersifat pemaaf.

Batari Ratih adalah Dewi Bulan, bertugas menerangi dunia ini bersama-sama dengan Batara Kartika, memberikan sinar kesejukan pada perasaan dan pandangan makhluk di bumi pada malam hari. Sifat Bulan adalah selalu berbuat lembut, ramah dan sabar kepada siapa saja; sebagai planet pengiring matahari, bulan bersinar di kala gelap malam tiba, dan memberikan suasana tenteram dan teduh. Sebagaimana Bulan, seorang pemimpin hendaknya selalu rendah hati, berbudi luhur serta menebarkan suasana tentram kepada rakyat.

Batara Surya adalah Dewa Matahari, mempunyai tugas menerangi dunia, memberi perkembangan hidup dan kesehatan kepada semua makhluk yang terjadi di siang hari; wataknya pelan, tidak tergesa-gesa, sabar, belas kasih dan bijaksana. Sifat dari Matahari adalah terang benderang memancarkan sinarnya tiada pernah berhenti, segalanya diterangi, diberinya sinar cahaya tanpa pandang bulu. Sebagaimana Matahari, seorang pemimpin harus bisa memberikan pencerahan kepada rakyat, berhati-hati dalam bertindak seperti jalannya matahari yang tidak tergesa-gesa namun pasti dalam memberikan sinar cahayanya kepada semua makhluk tanpa pilih kasih.

Batara Indra adalah Dewa Langit, ia menguasaiangkasa, hujan dan petir. Ia menyediakan apa yang diperlukan di dunia, memberikan kesejahteraan dan memberi hujan di bumi. Perwatakannya luhur, pengasih dan cinta kepada seni serta keindahan. Sifat Langit kadang sangat indah, kadang menakutkan, tetapi kalau sudah berubah menjadi hujan merupakan berkah serta sumber penghidupan bagi semua makhluk hidup. Sebagaimana Langit, seorang pemimpin harus berwibawa dan menakutkan bagi siapa saja yang berbuat salah dan melanggar peraturan. Namun di samping itu selalu berusaha juga untuk memberikan kesejahteraan.

Batara Brama adalah Dewa Api, sering diutus untuk memberikan pahala kepada orang yang berjasa dalam kehidupannya. Seorang panglima perang yang ulung yang laksana api dapat membasmi musuh dan segala kejahatan sekaligus bisa menjadi pelita bagi manusia yang sedang dalam kegelapan. Sifat Api adalah panas membara, kalau disulut akan ber kobar membakar, menghangus kan dan memusnahkan apa saja tanpa pandang bulu, tetapi juga sangat diperlukan dalam kehidupan. Sebagaimana Api, seorang pemimpin harus berani menindak siapapun yang bersalah tanpa pilih kasih dengan berpijak kepada kebenaran dan keadilan .

Batara Kartika adalah Dewa Bintang, nama lainnya adalah Sanghyang Ismaya, yang artinya adalah kesucian yang bersinar. Bertugas menerangi dunia ini bersama-sama dengan Batari Ratih, memberikan sinar harapan dan pencerahan kepada makhluk di bumi pada malam hari. Sifat Bintang adalah menyinari, menghiasi langit di malam hari, menjadi kiblat dan sumber ilmu perbintangan. Sebagaimana Bintang, seorang pemimpin harus bisa menjadi kiblat kesusilaan, budaya dan tingkah laku serta mempunyai konsep berpikir yang jelas. Bercita-cita tinggi mencapai kemajuan bangsa, teguh, tidak mudah terombang-ambing, bertanggung jawab dan dapat dipercaya.

Demikian berbagai pengalaman dan kawruh yang bisa saya bagikan pada tulisan yang akan saya buat bersambung atau berseri ini. Karena masih banyak cerita yang perlu saya bagi: tentang pengalaman di Petilasan Butuh, Desa Tarub, Gunung Kemukus, dan Sendang Lanji. Dan salah satu yang ingin saya bagikan kepada Anda semua adalah soal penemuan saya tentang agama Hindu Jawa dan beberapa sejarah leluhur Tanah Jawa yang dibelokkan sehingga banyak orang tak mengetahui yang sebenarnya. Sampai jumpa….rahayu…rahayu…rahayu sagung dumadi.

5 Responses to "PERJALANAN KE TIMUR: MENITI JALAN MENJADI SATRIO PINANDHITO (1)"

  1. sungguh luar biasa kisah perjalanan anda pak setyo,,,,semoga segala 'laku' yang anda jalankan akan segera mencapai kesempurnaan,, dan mewujudkan cita cita anda untuk menjadi pemimpin di negeri ini,,sehingga menjadi negeri yang adil dan makmur,,, amin

    ReplyDelete
  2. Mas alamat emailny gk jelas.di yaho ato di apa?

    ReplyDelete
  3. Mas Sampar Angin, silakan email saya ke setyohd@mail.com

    ReplyDelete
  4. om, kontaknya om edo/dhipast punya saya ilang om waktu kmaren BB saya error, minta nomornya om diphastraya yang tree/3 dunk om.. yang m3 g aktif nie

    ReplyDelete
  5. om, maaf sekali lagi, kalau bisa nomornya kirim ke email saya nggih om, tamada.munetaka@gmail.com makasih banyak om sebelumnya..

    ReplyDelete



Laku spiritual adalah proses bertumbuhnya pengalaman keilahian, wujudnya adalah menjadi penuh dengan daya, penuh kebijaksanaan, penuh kecerdasan, penuh kreatifitas, penuh welas asih.


Setyo Hajar Dewantoro
Founder of Mahadaya Institute


Buku

Buku Medseba Buku Sastrajendra Buku Suwung Buku Sangkan Paraning Dumadi Buku Jumbuh Kawula Gusti Buku Tantra Yoga Buku Kesadaran Matahari Buku Kesadaran Kristus

Kegiatan