Rabu, 16 Mei 2012

CATATAN PERJALANAN MENJADI SATRIO PINANDHITA


Saya semakin menyadari, bahwa hidup ini adalah kesempatan untuk terus menerus belajar.  Termasuk belajar untuk menyadari kekurangan dan kekeliruan diri.  Apa yang kita anggap benar di masa lalu, ternyata, setelah kita mendapatkan kesadaran baru, kita tahu dengan pasti bahwa itu keliru dan harus diperbaiki.

Terkait dengan pemahaman saya pribadi akan pengertian satrio pinandhita dan proses untuk mencapainya, ternyata itupun terus berkembang.  Belakangan, saya memperoleh beberapa kesadaran baru, yang tentu saja membawa saya pada garis kehidupan yang berbeda.  Tentu saja, menurut kesadaran terkini, itu adalah garis kehidupan yang lebih baik.

Ijinkan saya berbagi tentang kesadaran terbaru ini.

Persepsi  Tentang Satrio Pinandhita

Dalam tradisi Hindu, dikenal 4 kategori peran bagi umat manusia: brahmana, satria, waisya dan sudra.  Brahmana dipandang sebagai kasta tertinggi, karena merekalah yang memiliki hal paling berharga dalam hidup, yaitu Kebijaksanaan dan Ilmu Sejati.  Merekalah para pemuka agama, para tokoh spiritual.  Satria menempati kasta berikutnya: merekalah yang bertahta dalam mata rantai kekuasaan di muka bumi yang pada masa lalu, termanifestasikan dalam struktur kerajaan/kraton.  Pada masa kini itu termanifestasikan dalam struktur birokrasi dan kekuasaan politik.  Waisya adalah nama dari kalangan pebisnis, para wirausahawan.  Sementara Sudra menggambarkan kaum pekerja, baik pekerja kerah putih maupun kerah biru.  Yang tidak memiliki salah satu dari 4 peran itu, disebut Paria, kaum yang dipandang hina dina.

Konsep satria pinandhita terkait erat dengan filosofi di atas, ia mewakili konsepsi pribadi yang mampu menjalankan tugas-tugas kesatria, tapi sekaligus memiliki kebijaksanaan ala para brahmana.  Jaman dulu, ia diwakili oleh para raja/ratu dan para bangsawan tertentu di Nusantara, mulai dari masa Kalingga, Mataram Kuno, Singosari, Majapahit, Pajajaran, hingga Mataram Baru.  Mereka yang duduk di tampuk pemerintahan, biasanya adalah mereka yang juga mendalami spiritualitas, dan bisa duduk di tampuk kekuasaan karena proses lelampahan dan penggemblengan jiwa yang panjang.  Tersebutlah Ratu Shima, Prabu Kertanegara, Prabu Hayam Wuruk, Mahapatih Gajah Mada, Prabu Siliwangi, Prabu Hadiwijaya, Panembahan Senopati, dan para ratu lainnya.  Merekalah sosok-sosok nan agung di Tanah Jawa yang layak diteladani.  Mereka tentu tak luput dari salah, tapi secara umum mereka punya kepribadian yang agung, yang terbentuk melalui kesediaan menekuni penggemblengan diri yang panjang dan intensif, di bawah bimbingan para pamomong/guru spiritual yang waskito dan bijaksana.

Pertanyaannya, pada masa kini, apakah untuk menjadi satrio pinandhito kita harus menjadi seorang pejabat publik atau harus memegang kekuasaan politik formal mulai dari jabatan Bupati/Walikota hingga Presiden?  Semula, sejujurnya, saya sempat tergoda oleh ambisi saya sendiri.  Saya mengharuskan diri saya untuk menggapai satu jabatan publik, sebuah karier politik.  Hanya cara demikian yang saya anggap tepat untuk merealisasikan visi saya untuk menjadi satria pinandhita.  Ternyata, setelah menjalani rangkaian laku prihatin termasuk berjalan kaki mengelilingi Kota Cirebon, saya mendapatkan kesadaran berbeda.

Nafsu atau ambisi saya untuk meraih kekuasaan atau jabatan politik, tiba-tiba menguap.  Yang tumbuh adalah kesadaran untuk senantiasa sumeleh, pasrah, kepada apapun yang diselenggarakan oleh hidup ini.  Seiring dengan itu, saya sadar, bahwa menjadi satria pinandhita tidak terkait dengan jabatan politik tertentu.  Ia adalah sebuah karakter, yang semestinya mewarnai setiap orang yang hidup di muka bumi.  Setiap orang semestinya menjadi satria yang berwatak brahmana atau pandhita.  Faktanya, setiap orang pasti memiliki tanggung jawab, setidaknya untuk memimpin dirinya sendiri, atau lebih kompleks, memimpin sebuah keluarga, atau tim di perusahaan, atau komunitas, atau apapun.  Pekerjaan memimpin, mengelola, adalah pekerjaan satria...dan itu harus dijalankan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan nilai-nilai kebajikan universal.

Lebih jauh, saya menyadari bahwa sebetulnya peran sebagai brahmana, satria, waisya dan sudra bisa terkumpul dalam satu pribadi.   Idealnya, setiap orang memiliki 4 karakter dan fungsi tersebut agar bisa hidup dengan penuh manfaat di muka bumi ini.

Maka, saat ini, yang muncul dalam kesadaran saya, saya memang harus menjalankan titah sebagai satria pinandhita: tapi itu harus bersih dari ambisi dan hasrat-hasrat yang mengotori kesucian dari konsep satria pinandhita itu sendiri.  Lebih kongkritnya, mandat sebagai satria pinandhita, saya aktualisasikan melalui kiprah, karya nyata, yang berguna bagi bangsa ini, dan setiap umat manusia yang hidup di muka bumi ini, bahkan semuah titah urip. Itu harus lepas dari ambisi untuk menjadi ini dan itu.   Bahwa pada suatu saat nanti, saya diberi mandat untuk menjalankan peran sebagai pejabat publik, itu pasti saya laksanakan dengan sebaik-baiknya sesuai teladan para leluhur saya.  Tapi, saya tak perlu repot-repot memburu jabatan publik tersebut.

Maka, sejak saat ini, saya memilih sikap pasif dalam politik.  Agresivitas saya terapkan dalam berkarya, sebagai intelektual, pemikir, budayawan, pendidik, pekerja sosial, apapun yang selama ini memang telah saya jalani dan menjadi keahlian saya.

Sebagai tambahan, perlu saya sampaikan, bahwa saya menyadari lebih dalam lagi makna hidup berfokus pada masa kini, yang terlepas dari jebakan kenangan dan perangkap angan-angan.  Itu adalah hidup dengan lokus pada rasa, bukan pada pikiran.  Saya terkenang pada salah satu sesepuh yang telah mendahului kita melanjutkan perjalanan ke kehidupan berikutnya, pada usia yang relatif muda, Mas Hermawan Dewobroto, di Tulungagung.  Beliau yang pertama kali, secara khusus, mengajari saya bagaimana melepas kebiasaan disibuki oleh kerja pikiran, dan berfokus pada rasa, sehingga bisa mencapai hening.

Salah satu manifestasi hening, ternyata adalah menikmati semua sensasi waktu sekarang dengan kesungguhan, tanpa diganggu pikiran yang lain baik yang berorientasi masa lalu maupun masa depan: angin sepoi-sepoi, matahari yang memberi kehangatan nan lembut, senyum anak-anak, bunga merekah.  Hening dalam keadaan jaga, saya sadari sebagai keadaan di mana perhatian kita terserap penuh pada semua yang kita rasa saat sekarang, pada apa yang sedang terjadi saat ini, lalu kita menerimanya dengan suka cita dan penuh penghargaan. 

Saat itu terjadi, kesadaran hadir, titah pun terdengar.  Masa depan dibukakan oleh Hyang Yaktining Hurip.  Kita tinggal memasukinya dengan jiwa yang murni.


Jalan Menuju Kejayaan Nusantara

Dengan memilih untuk menjadi pasif dalam kiprah politik, bukan berarti saya diam dan tak berkontribusi dalam merestrukturisasi tatanan politik di Nusantara.  Karena bagaimanapun, itu adalah jalan yang harus ditempuh untuk meraih kejayaan Nusantara.  Saya terus bergerak, dan bekerja bersama dengan berbagai barisan/kelompok para sesepuh dan para satria yang tiada henti berupaya menghadirkan keadaan baru: keadaan yang diwakili oleh kalimat gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja.  Setidaknya, saya coba ikut berkiprah dalam poros Jakarta-Cirebon-Jogja-Surakarta.

Sejatinya, ada pakem-pakem baru dalam kebudayaan yang harus dihidupkan.  Juga ada simpul-simpul energi di berbagai tempat di Nuantara ini yang harus dibangkitkan.  Dan ada relasi yang harus dibangun, baik di antara sesama titah urip yang memiliki raga, maupun dengan titah urip di alam yang berbeda. Dan yang paling penting, harus ada upaya-upaya penyelarasan agar semesta ini memberi pengaruh baru pada setiap yang hidup di Nusantara pada khususnya, dan dunia pada umumnya.

Kini, saya jalani hidup dengan lebih santai, nyaman, merdeka, dan wajar.  Upaya menggembleng diri terus saya lakukan, termasuk ngangsu kawruh dari para pinisepuh.  Tapi, itu tidak diorientasikan untuk mencapai karier politik tertentu.  Semua kini saya orientasikan semata-mata untuk membuat diri saya bisa menggapai kebijaksanaan sejati dan bisa menjalani hidup yang makin baik dan murni.  Soal saya harus menjalani peran apa di masa depan, saya serahkan semuanya pada Yang Mengatur Hidup.  Sekarang saya nikmati apa yang ada, dan jalani peran yang memang harus dijalani.

Saya berharap, Anda semua, apapun posisi, kondisi, dan jabatan Anda saat ini, bisa terus memperbaiki kiprah dan terus menggembleng diri.  Karena sejatinya, perubahan besar di Nusantara ini hanya terjadi melalui akumulasi dari kiprah kita semua tanpa kecuali.

Rahayu, rahayu, rahayu sagung dumadi.




5 komentar:

myideas mengatakan...

Salam rahayu, nderek tinepangaken, kulo tiyang jawi saking tlatah pati pesantenan. Mugi Gusti Alloh tansah paring pitedah lan keslametan kagem panjenengan anggenipun nglampahi laku.

Setyo Hajar Dewantoro mengatakan...

Matur sembah nuwun. Karahayuan langgeng kagem panjenengan.

Donny mengatakan...

Salam kenal mas setyo
Salam hangat dari pulau bangka.nama saya donny yursandi.saya memiliki ketertarikan pada spiritual sejak kecil.perjalanan hidup saya sampai umur saya sekarang telah saya sadari merupakan tahapan dari kehidupan menuju pencapaian puncak kesempurnaan diri.saya selalu menemukan secara sengaja atau tidak sengaja sebuah poin kehidupan tempat saya harus belajar dan menjalani lelaku kehidupan.saya pernah tinggal di jawa kurang lebih 10 tahun saat saya kuliah dan bekerja.dalam tahapan itu saya sadari mengalami banyak pelajaran hidup baik itu sisi negatif maupun positif.dari berbagai hal yang saya alami saya merasa bersyukur karna dapat mengalami hal itu semua.karena saya anggap inilah pelajaran hidup dimana ada saat kita harus berperan sebagai manusia yang positif dan negatif.karena begitulah kehidupan ini dibentuk yaitu dari prinsip 2 kutub.selama di tanah jawa saya pun sering mengunjungi tempat2 petilasan dibimbing teman yang menjadi guru spiritual maupun orang tua yang menjadi guru spiritual saya.pengalaman2 yang alami seperti menarik saya untuk melakukannya.hingga akhirnya karna almarhum bapak saya meninggal akhirnya saya pulang ke tanah kelahiran saya pulau bangka.namun karna jiwa ini selalu memiliki keinginan untuk terus menyelami jiwa spiritual saya pun tetap selalu menemukan poin petunjuk kehidupan dari berbagai hal. Awalnya saya menemukan blog mas sabdalangit.bertemu dengan sesepuh2 yang memahami tentang kehidupan nusantara.dan kini saya pun telah bertemu blog mas setyo yang juga memberi pelajaran tentang budaya nusantara kepada saya.
Izinkan saya yang masih menjadi manusia kosong ini untuk menerima kawruh pelajaran dari blog mas setyo ini.
Rahayu
Donny

Setyo Hajar Dewantoro mengatakan...

Inggih Mas Donny, matur sembah nuwun sampun kerso mampir teng blog meniko. Monggo, kita sama2 belajar dan berbagi. Rahayu

Wawan Budianto mengatakan...

salam kenal