Sabtu, 05 Mei 2012

PERJALANAN KE TIMUR: MENITI JALAN MENJADI SATRIO PINANDHITO (4)



Saat sang murid siap, sang gurupun tiba.”  Demikian kalimat yang saya ingat dengan kuat, dituliskan Robin Sharma, spiritualis keturunan India yang mengembangkan kebijaksanaannya di Amerika Serikat.    Dan kalimat itu terbukti: seiring perkembangan spiritual yang saya alami, hadirlah peristiwa dan orang-orang, yang membantu saya untuk menjangkau hal-hal baru.  Kehidupan, dan keilmuan, lakzana mozaik.  Satu per satu potongan itu saling melengkapi, hingga pada akhirnya, mencipta gambar yang utuh. 

Momen penting yang paling baru dalam kehidupan dan pertumbuhan spiritual saya, selain pertemuan dengan Mas Heru Dipastraya yang memperkenalkan metode peningkatan keruhanian yang didasarkan pada lontar-lontar kuno, adalah pertemuan dengan Mas Paulus Bambang Susetyo.  Sebetulnya, saya telah mengenal beliau cukup lama, sudah beberapa tahun yang lampau, di Unggaran, saat kami sama-sama menghadiri seremoni pemberian penghargaan oleh Kraton Surakarta kepada orang-orang yang berkecimpung dalam pengembangan budaya Jawa.  Dan sudah berkali-kali saya meniatkan berkunjung ke rumah beliau.  Tapi, sekitar 1 bulan yang lalu itu terjadi.  Sepulang dari tirtayatra ke Petilasan Ki Ageng Tarub dan Ki Bondan Kejawan di Purwodadi, saya digerakkan untuk sowan ke rumah beliau: sebuah rumah tua beraurakan kedamaian di Kota Sala (penulisan ini saya lakukan dengan sadar, bukan Solo, karena mengikuti kaidah penulisan menggunakan hurup Jawa – menurut Mas Bambang - yang benar adalah Sala – dan bisa dibaca menjadi “Solo”)

Hingga saat ini, tak terasa, sudah 3 kali saya sowan ke rumah Mas Bambang, dan mendapatkan penggemblengan yang mengakselerasi pencapaian jenjang spiritualitas.  Dalam tulisan kali ini, ijinkan saya berbagi berbagai rangkaian kawicaksanan yang saya dapatkan melalui perbincangan dengan Mas Bambang, sambil menikmati hidangan wedang jahe atau wedang markisa buatan istri beliau.

Kebangkitan Nusantara
Nusantara, adalah negeri berperadaban tua, yang sejatinya mewarisi ilmu spiritualitas dan kebudayaan tingkat tinggi.  Dan karenanya, negeri ini sejatinya memiliki garis takdir, untuk kembali menempati posisi terhormat dalam percaturan dunia, sebagai salah satu kiblat bagi berbagai bangsa di dunia.  Gusti Hyang Murba Wasesa, memiliki skenario tentang Nusantara baru yang gilang gemilang, gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja.  Masa-masa gelap berlalu, berganti dengan kehidupan berkelimpahan, yang sendinya adalah budaya adiluhung dan tatanan sosial yang berkeadilan.

Tentu saja, kondisi demikian hanya bisa terjadi setelah melewati proses yang cukup panjang, diiringi dengan fenomena penyelarasan semesta (yang kadang memilukan karena banyak korban), dan kehadiran manusia-manusia pinunjul, yang laksana mercusuar, menjadi pemandu bagi manusia kebanyakan.  Sebagai jembatan menuju kondisi ideal, telah dan akan terus hadir, para begawan dan satrio yang masing-masingnya telah digembleng sedemikian rupa, dan berkarya sesuai dawuh masing-masing.

Skenario menuju kejayaan Nusantara, sejatinya telah mulai tampak pembuktian awalnya, dengan kebangkitan kota-kota yang memiliki sejarah tua: Yogyakarta dan Surakarta.  Kedua kota tersebut, kini mengalami kemajuan yang sangat signifikan dalam berbagai aspeknya, dan dipimpin oleh sosok yang bisa diteladani dan layak untuk dihormati karena kualitas kepemimpinannya.  Perlahan namun pasti, kota-kota lain yang memiliki aura dan sejarah seperti dua kota tadi, juga mengalami kebangkitan, dan menjadi lokomotif perubahan di Nusantara.

Satu spirit yang demikian kuat muncul saat saya berdialog dengan Mas Bambang, adalah spirit untuk menjadi salah satu lakon dalam kisah kebangkitan Nusantara.   Tentu saja, hal seperti ini terjadi, dengan mengikuti mekanisme kerja dari alam semesta itu sendiri: ada sebuah hukum sebab akibat yang pasti terjadi.  Selaras dengan hukum semesta ini, orang-orang yang terpilih menjadi pilar-pilar perubahan Nusantara pada masa kini, sejatinya, karena telah menanam biji tertentu di masa lalu  - yang nafasnya adalah keprihatinan dan kesabaran tanpa batas.

Ratu Pandita/Satrio Pinandhito
Perbaikan kondisi Nusantara, lebih tepatnya, penyelarasan semesta di Nusantara, terjadi dengan ujung tombak para begawan dan ratu pandhita/satrio pinandhito.  Para begawan menjadi pamomong, laksana Eyang Semar yang memomong para ksatria Pendawa dalam kisah pewayangan, dan Eyang Sabdopalon yang memomong para satria Majapahit.

Sejauh saya selami dalam diskusi dengan Mas Bambang, seorang ratu pandhita/satrio pinandhito, adalah seseorang yang mendapatkan dawuh atau titah dari Hyang Ya Hu (Tuhan Sang Esensi Kehidupan), untuk mengayomi dan ngesuhi (merangkai, menyelaraskan, mengemong) warga.  Karena itulah, seorang ratu pandhita/satrio pinandhita hanya muncul setelah melewati proses penggemblengan yang sangat intensif.  Seseorang bisa menjadi ratu pandhita/satrio pinandhita manakala ia telah menyelami ngelmu kasampurnan/ngelmu sejati, dan mendapatkan wahyu kaprawiran/wahyu cakraningrat.

Saya telah sampaikan metode untuk mencapai tahapan itu dalam tulisan-tulisan sebelumnya.  Kali ini, saya ingin menyatakan, bahwa saya bersyukur karena mendapatkan anugerah yang sangat besar dari Sang Penggerak Hidup: saya mendapatkan bimbingan untuk mengalami percepatan/akselerasi dalam menggapai ngelmu sejati/ngelmu kasampurnan, agar segera siap menjadi seorang ratu pandhita/satrio pinandhita.

Secara ringkas, saya dibimbing untuk terhubung dengan Sang Hyang Wenang yang bertahta di bathin kita, dan menjadi sumber gerak dan kehidupan setiap manusia.  Dalam khazanah ngelmu kasampurnan di Jawa, seseorang bisa dikatakan telah menjadi manusia linuwih manakala telah menyadari kemanunggalan dirinya dengan Sang Hyang Wenang, dan hidup sumeleh pasrah terhadap setiap kerso dari Sang Hyang Wenang tersebut.

Salah satu jalan yang diajarkan untuk mencapai kondisi itu, dan rutin saya jalankan, adalah dengan sesering mungkin mengucapkan manta YA HU (Yaktining Hurip = Intisarinya Hidup).  Ritus ini adalah sebuah upaya membangkitkan kekuatan ilahi di dalam diri kita, sehingga kita menjadi dewa ingkang ngejawantah.  Lebih jelas, mantra ini diucapkan sambil menyelami keluar masuknya nafas kita…Ya kita ucapkan saat nafas masuk, dan Hu diucapkan saat nafas keluar.  Demikianlah..maka dalam setiap detik kehidupan, di manapun kita berada, kita bisa terhubung dengan Hyang Murba Wasesa.

Lebih dari itu, akselerasi perkembangan spiritual, bisa saya peroleh melalui mekanisme yang kadang tidak saya ketahui: karena itu dilakukan oleh pamomong saya melalui mekanisme di luar kesadaran lahiriah.  Lebih jelasnya, pamomong saya selain mendidik secara lahir, juga mendidik secara bathin..langsung masuk ke dunia bathin untuk menyentuh sang esensi diri.

Lakon Penuh Derita, Lakon Kesunyian
Digembleng menjadi seorang pemimpin yang sesungguhnya, bukan hal yang mudah.  Derita demi derita, kehilangan demi kehilangan, hadir silih berganti sebagai mekanisme pengemblengan agar jiwa ini menjadi murni, dan sanggup nrimo ing pandhum.  Lebih dari itu, saya mengalami kenyataan di mana saya mau tak mau harus bergantung pada diri sendiri.  Dalam situasi yang demikian berat…saat saya minta bantuan pada orang-orang terdekat, ternyata tak saya peroleh.  Ternyata demikianlah pepesthen dari Hyang Manon: saya harus hanya bergantung kepada-Nya, dan sumeleh pasrah hanya kepada-Nya dan membiarkan Dia menjalankan skenario-Nya untuk saya.

Bahkan, ketika saya harus masuk ke dunia politik praktis yang dalam konteks sekarang harus bermodalkan uang….saya dicemplungkan dalam keadaan tak memegang uang.  Bahkan penghasilan saya, tanpa sebab yang saya mengerti, berkurang berpuluh-puluh persen…Maka, sempurnalah MISSION IMPOSSIBLE yang saya emban, he, he.
Semula, saya merasakan betapa beratnya hal demikian. Tapi, setelah saya menyadari bahwa memang demikianlah yang harus dijalani seorang pemimpin sejati, dan sesungguhnya di dalam diri ini ada kekuatan (Ilahiyah) yang menunggu dibangkitkan agar saya bisa mencipta keadaan terbaik, saya menjadi sangat optimistik, dan beban beratpun menguap.

Menjalankan Dawuh
Ingsun mundi dawuh saking Hyang Ya Hu.  Demikian kesadaran yang membingkai langkah saya saat ini.  Kiprah dalam dunia politik adalah konsekuensi dari menjalankan darma kesatria.  Adalah benar, dunia politik masa kini penuh dengan kebusukan.  Tapi, seorang kesatria sejati tidak terjebak oleh kebusukan itu, dan tidak sibuk membincangkan kesibukan itu.  Sebaliknya, ia HARUS MENCIPTA KONDISI BARU…sesuai dengan arah atau cetak biru yang diwangsitkan oleh Hyang Ya Hu, dengan menggunakan KEKUATAN DAYA CIPTA yang ada pada dirinya.

Saya ditegur manakala malah repot berpikir tentang beratnya situasi yang dihadapi, dan bukannya berkonsentrasi MENCIPTAKAN kondisi yang diharapkan.  Padahal, seorang ratu pandhita memiliki otoritas untuk mencipta: SABDA MANDI SABDA DADI. 
Yang penting, adalah terus menggembleng diri, agar diri ini semata-mata menjadi wahana bagi Hyang Ya Hu untuk mencipta Nusantara baru yang gilang gemilang.

Saya pribadi, terikat pada sebuah sabda yang meluncur melalui mulut pamomong saya: 
“Mula sakwuse Sun Wisudha, sira kudu tansah ELING nganggo Rahsa Yakti sakdurunge tumindak apa wae”.  "Lan meneh awit wus narima lisah wisudhan, mula pamikiran, pandulu, pangrungu, pangganda, pangrasa, pangucap, pakaryan, lan tumindakmu kudu tetep WASPADA tansah kasalarasake marang karsa – dhawuh – titah Hyang Ya Hu.”

Ingsun hangestoaken dhawuh………..!

4 komentar:

Eko Nunog mengatakan...

senang sekali anda bisa hadir dan menuliskan cerita pengalaman 'laku' anda di blog ini pak, sudah lama saya menantikan-nya,,,,,, semoga anda di beri kesehatan selalu,, salam rahayu,,,

Bagus Menoreh mengatakan...

ndherek nyengkuwung jati mrih tyasing bathin.. salam kangen bathos saking trahpanembahanwongsopati.blogspot.com matur nuwun, mugi bumi Nusantoro saged binangun kanthi jati budaya, agami lan kapribaden tiyang Jawi diri ingkang sajati, manunggal kawula lan gusti hanjangka pangajab Indonesia Sejati saking bumi tanah Jawi nenggih jaya wijaya sumunar cahyaning jagat..

nounna shelow mengatakan...

untuk menjadi seorang satrio pinandhito memang betul ia harus belajar ilmu kesempurnaan hidup dan mendapat wahyu ,tapi seorang satrio pinandhito dia juga seorang titisan yang mana pada saat msh d dlm kandungan ibunya pun sudah dpat wahyu....,di ramalan ranggawarsito satrio pinandhito presiden kita yg akan datang....,

Setyo Hajar Dewantoro mengatakan...

Rahayu kagem Mas Bagus Manoreh lan Mbah Nounnda Shellow...mugi2 kito sedoyo saged nerasaken perjuangan para leluhur.....