Selasa, 10 Juli 2012

PENDIDIKAN UNTUK KEJAYAAN BANGSA





 "Pada saatnya, kita bersama menikmati hidup di negeri gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja"

Pengantar

Kejayaan Nusantara. Untaian kata yang kini tertera dalam kenangan dan angan.  Menengok pada masa silam, menyeruak bayangan kemegahan.  Kapal-kapal penjelajah samudera atau Jung dari Kraton Majapahit, berbaris gagah menjalankan titah Sang Mahaprabu.  Menembus deru samudera, menaklukkan badai yang menderu, dengan jiwa perwira.  Mempersatukan berbagai pelosok negeri menjadi satu kesatuan politik yang megah, sekaligus membangun kerjasama politik dengan imperium besar lainnya.  Maka, jung-jung raksasa Majapahit itu berlayar sampai ke Cina, Keling, Parasi, Egypt, Samudera, Benggala, Makasar, Pahang, Kalantan (Kelantan), Bangka, Buwun, Beten. Tulangbawang, Sela, Pasay (Aceh), Parayaman, Nagara Dekan, Dinah, Andeles (Sumatera), Tego, Maloko (Melacca), Badan, Pego, Malangkabo (West Sumatera), Mekah (Arab), Buretet, Lawe, Saksak, Se(m)bawa, Bali, Jenggi, Sabini, Ngogan, Kanangen, Kumering, Simpang Tiga, Gumantung, Manumbi, Babu, Nyiri, Sapari, Patukangan, Surabaya, Lampung, Jambudipa, Seran, Gedah, Solot, Solodong, Indragiri, Tanjung Pura, Sakampung, Cempa, Baluk.  Djoko Nugroho dalam bukunya Majapahit Peradaban Maritim (2011), menyebutkan bahwa jumlah armada Jong Majapahit ketika itu mencapai 400 kapal.  Bandingkan dengan armada kapal yang dimiliki VOC (Belanda), EIC, Spanyol, dan Portugis pada tahun sesudahnya (1674). Kalau kekuatan itu digabung, mereka yang menguasai India, Nusantara, Indocina, dan China hanya memiliki 124 kapal.[1]

Sebelumnya, Kraton Sriwijaya menjadi simbol kebesaran Nusantara.  Situs Wikipedia menggambarkan dinamika ekonomi kraton ini: “Di dunia perdagangan, Sriwijaya menjadi pengendali jalur perdagangan antara India dan Tiongkok, yakni dengan penguasaan atas Selat Malaka dan Selat Sunda. Orang Arab mencatat bahwa Sriwijaya memiliki aneka komoditas seperti kapur barus, kayu gaharu, cengkeh, pala, kepulaga, gading, emas, dan timah, yang membuat raja Sriwijaya sekaya raja-raja di India.[13] Kekayaan yang melimpah ini telah memungkinkan Sriwijaya membeli kesetiaan dari vassal-vassal-nya di seluruh Asia Tenggara. Dengan berperan sebagai entreport atau pelabuhan utama di Asia Tenggara, dengan mendapatkan restu, persetujuan, dan perlindungan dari Kaisar China untuk dapat berdagang dengan Tiongkok, Sriwijaya senantiasa mengelola jejaring perdagangan bahari dan menguasai urat nadi pelayaran antara Tiongkok dan India.”

Selain penguasaan teknologi perkapalan dan kemajuan perdagangan, Nusantara masa lalu meninggalkan jejak keunggulan arsitektur semisal melalui keberadaan Candi Borobudur, yang dibangun sekitar 824 M oleh Raja Mataram bernama Samaratungga dari wangsa Syailendra.  Candi yang sangat berat ini dapat berdiri kokoh dengan tanpa perlu memakukan ratusan paku bumi untuk mengokohkan pondasinya.  Bagi kita yang hidup saat ini, sulit terbayangkan pula bagaimana batu-batu yang membentuk Borobudur itu dibentuk dan diangkut ke area pembangunan di atas bukit. Borobudur juga mengadopsi Konsep Fraktal.  Fraktal adalah bentuk geometris yang memiliki elemen-elemen yang mirip dengan bentuknya secara keseluruhan.  Kita juga punya warisan keris yang mempergunakan bahan titanium, yang titik leburnya mencapai 60 ribu derajat celcius, jauh dari titik lebur besi, baja atau nikel yang berkisar 10 ribu derajat celcius, dengan keunggulan berupa sifat keras, kuat, ringan, tahan panas, dan juga tahan karat.

Namun, perjalanan waktu membuat semua cerita membanggakan itu kini menjadi sekadar kenangan.  Karena fakta terkininya, Indonesia sebagai kelanjutan Nusantara yang memiliki penduduk  230 juta, 17500 pulau, serta terdiri dari sekitar 300 suku dan 740 bahasa daerah, berada pada tingkatan yang jauh dari kemakmuran.   Sebagai bukti, mari kita simak data kuantitatif berikut.  Berdasar data IMF tahun 2011, PDB per kapita Indonesia sebesar $4,668 menempati peringkat 119 dari 181 negara yang disurvai. Qatar adalah negara dengan PDB perkapita tertinggi sebesar $102,891, disusul oleh Luxemburg ($84,829), Singapura ($59,939), dan Norwegia ($53,376). Sedangkan yang terendah adalah Republik Demokrasi Kongo diperingkat 181 dengan PDB per kapita $347.  Dari sisi tingkat kemiskinan, berdasarkan standar garis kemiskinan nasional (Rp 230.000 per orang per bulan), masih tercatat 13.33% penduduk di bawah garis kemiskinan. Jika yang digunakan adalah standar garis kemiskinan internasional (US$2 per orang per hari), angka kemiskinan membengkak menjadi 30%).  Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka di negeri ini, menurut data BPS per tanggal 6 Agustus 2011, adalah 6.56%.  Dari sisi pendidikan, berdasarkan data UNESCO, Rata-rata lama sekolah tertinggi adalah Amerika Serikat dengan 12 tahun, Indonesia adalah peringkat ke 66 dari 100 negara, yaitu 5 tahun, berarti rata-rata tidak tamat SD. Sedangkan peringkat terendah adalah negara Guinea-Bissau yaitu 0.8 tahun.  Dan dari sisi kesehatan – dengan indikator angka harapan hidup, merujuk pada CIA World Factbook (perkiraan 2011), Indonesia diperingkat 137 dengan angka 70.76 tahun.  Peringkat tertinggi adalah Monako dengan angka 89.73 tahun, sedangkan terendah adalah negara Swaziland di Afrika, peringkat 223 dengan angka harapan hidup yang hanya 31.88 tahun. [2]
Pertanyaan bagi kita saat ini, bisakah kenangan indah itu berubah menjadi kenyataan di masa depan?  Kita, sebagai anak bangsa pewaris Nusantara yang agung, terlebih yang di darahnya mengalir darah para leluhur besar dari masa lalu, mesti menjawab dengan tegas: BISA!  Tulisan ini, hendak membabarkan gagasan tentang bagaimana menciptakan kejayaan tersebut melalui gerakan pendidikan dan kebudayaan.

Pendidikan Penentu Kejayaan Bangsa
Pendidikan adalah faktor penentu runtuh dan jayanya sebuah bangsa. Tatkala pendidikan berjalan di rel yang salah, maka hasilnya adalah warga bangsa yang serba salah.  Sebaliknya, manakala pendidikan yang dinikmati anak bangsa benar-benar bermutu, akan lahir generasi yang siap membawa bangsa itu menuju kejayaannya.
  
Menimbang jarak antara realita dan idealita di negeri ini yang menganga demikian lebar, kita perlu berbenah secara mendasar.  Sembari tak lupa terus mengupayakan solusi pada saat ini, hal yang rasional adalah mempersiapkan generasi masa depan agar bisa lebih baik dari generasi saat ini.  Dan itu, hanya bisa dilakukan melalui sektor pendidikan.  Pendidikanlah yang menentukan kelak generasi penerus akan seperti apa dan bisa berbuat apa bagi bangsa ini.  

Sebuah bangsa menjadi jaya, karena tiga hal: berbudaya sesuai jatidiri, berdikari secara ekonomi, dan berdaulat secara politik.  Maka, kita perlu mengembangkan pendidikan yang bisa melahirkan faktor-faktor kejayaan tersebut.  Lebih jelasnya, kita perlu mengembangkan pendidikan sebagai proses untuk mewariskan/mengembangkan budaya bangsa, menciptakan keberdikarian ekonomi, dan menumbuhkan patriotisme/nasionalisme agar bangsa ini berdaulat secara politik.  Dalam bahasa lain, kita perlu mengembangkan pendidikan yang bisa menjadi tempat bagi anak-anak bangsa menemukan jatidirinya, mengembangkan diri hingga menggapai kemandirian sesuai cetak biru pribadinya, dan menumbuhkan kesadaran sebagai warga negara yang baik dan bertanggung jawab. 
Dulu, Ki Hajar Dewantoro menetapkan visi, bahwa pendidikan di negeri ini mesti bisa melahirkan sosok manusia Indonesia dengan karakter berikut:
1)    Berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa
2)    Cinta kepada alam
3)    Cinta kepada Negara
4)    Cinta & hormat kepada Ibu – Bapak
5)    Cinta kepada bangsa dan kebudayaan
6)    Keterpanggilan untuk memajukan Negara sesuai dengan kemampuannya
7)    Memiliki kesadaran sebagai bagian integral dari keluarga dan masyarakat
8)    Patuh pada peraturan dan ketertiban
9)    Mengembangkan kepercayaan diri dan sikap saling menghormati atas dasar keadilan
10)  Rajin bekerja, kompeten dan jujur, baik dalam pikiran maupun tindakan. 

Apa yang digagaskan oleh Ki Hajar Dewantoro masih relevan dengan kebutuhan saat ini.  Saya hanya ingin mempertajamnya, dan menyegarkannya.  Menurut hemat saya, pendidikan yang kita kembangkan saat ini, semestinya bisa melahirkan anak-anak bangsa dengan kriteria/karakter berikut:
1.   Mengenal sejarah bangsanya sebagai bangsa yang memiliki peradaban tua, memiliki  jejak kejayaan, dan memiliki warisan budaya yang agung;
2.   Menghayati dan bangga pada budaya warisan leluhurnya sendiri, baik pada ranah spiritual, adat istiadat, kesenian, arsitektur, dan lainnya;
3.   Menguasai teknologi tinggi yang berwawasan lingkungan dan terintegrasi dengan spiritualitas;
4.   Mampu mempraktekkan budi pekerti luhur (lakutama) kepada semua titah urip;
5.   Memiliki kesadaran kebangsaan dan semangat Bhinneka Tunggal Ika;
6.   Mampu mengenali cetak biru pribadi, dan berkarya sesuai cetak biru itu;
7.   Memiliki kerendahhatian dan keterbukaan untuk menerima segala yang baik dari tradisi lain di seluruh penjuru dunia.

Dalam perspektif lain, pendidikan kita semestinya bisa melahirkan generasi yang mengambil peran sesuai konsep catur warna dengan proporsi berikut:

  •       Begawan yang waskita (1 %);
  •       Satrio Pinandhita (10 %);
  •       Pengusaha yang Patriotik ( 4 %);
  •       Teknokrat dan Pekerja yang Handal (85 %)

Argumen saya, sebuah negeri mesti memiliki para begawan yang memang hidupnya didedikasikan penuh pada dunia ilmu, tidak terkontaminasi oleh dinamika dan pasang surut politik dan ekonomi.  Angka 1 % adalah simbol untuk kriteria ketat bagi siapapun yang akan menjalankan peran ini.  Peran sebagai begawan hanya layak bagi orang-orang yang telah tergembleng panjang lewat disiplin spiritual yang serius, sehingga memenuhi kriteria sugih ngelmu, sugih bondo, lan sugih kuwoso.  Ini untuk menghindari munculnya model penjahat yang bertopeng tokoh spiritual/tokoh agama dan berkhianat pada kebenaran karena takluk pada kekuatan modal.  Maka, lewat pendidikan dasar dan menengah, semestinya sudah bisa diketahui, siapa saja yang memiliki kelayakan untuk menjalankan peran ini.  Dan itu tinggal dimatangkan lewat pendidikan tinggi.
Selanjutnya, kita butuh secara serius mencetak para pemimpin bangsa, para kesatria yang memiliki watak pandhita.  Kita sadari bahwa saat ini kita memang mengalami krisis pemimpin dan kepemimpinan; yang merebak adalah fenomena Petruk Dadi Ratu.  Sembari terus menerus mengkonsolidasi sistem demokrasi kita agar lebih sejalan dengan kebijaksanaan lokal, kita perlu merancang pendidikan yang memang berorientasi melahirkan para pemimpin yang berjiwa luhur, patriotik, dan dapat diandalkan.  

Lalu, kita juga perlu melahirkan para wirausahawan yang berjiwa patriotik dan bisa mentransformasi sumber daya alam negeri ini menjadi sumber kemakmuran bagi sebanyak mungkin warga bangsa.  Secara teoritis, minimal kita harus punya 2 % warga negara yang menjalankan peran sebagai wirausahawan.  Maka, angka 4 % akan membawa bangsa ini menjadi bangsa dengan kekuatan ekonomi yang layak diperhitungkan secara global.  

Dan selebihnya, warga bangsa ini harus bisa mengambil peran sebagai pekerja profesional di level implementasi di semua sektor perekonomian.  Tentu saja, nilai-budaya luhur dan etika profesional mesti tertanam kuat pada kalangan pekerja profesional ini agar kita bisa berkompetisi dengan negara-negara lain yang memiliki etos kerja sangat baik. 

Nah, pendidikanlah yang mestinya berperan membantu setiap orang hidup sesuai cetak biru pribadinya – yaitu mengenali apa potensi diri dan orientasi peran dalam kehidupan dan mengembangkan diri berdasarkan itu.  Sehingga, angka trial and error menjadi berkurang drastis dan tidak banyak anggaran terbuang untuk kesalahan mendidik yang hanya menghasilkan manusia salah peran dan tidak produktif.

Basis Nilai untuk Pendidikan Kita
Pendidikan, bukanlah sekadar proses memindah data dari pikiran/memori seorang guru kepada anak didiknya.  Tetapi ia adalah proses untuk membangun manusia seutuhnya.  Ya, pendidikan seharusnya ditujukan untuk menumbuhkan setiap potensi kemanusiaan, termasuk menghidupkan nilai-nilai luhur dalam diri dan kehidupan anak didik.

Berbicara tentang nilai-nilai luhur yang harus dihidupkan melalui proses pendidikan, kita memiliki khazanah yang demikian kaya.  Dari tradisi Jawa, kita misalnya memiliki nilai-nilai luhur sebagai berikut:
  •  Hamemayu Hayuning Bawono
  •  Welas Asih
  • Tepo Seliro
  •  Gotong Royong
  • Nrimo Ing Pandum
  • Sepi Ing Pamrih
  • Rame Ing Gawe
  •  Bhakti Marang Leluhur
Lebih jauh merujuk ke jaman Majapahit, kita menemukan nilai-nilai luhur sebagai berikut:
  • 'Mitreka Satata'' (Terus-menerus membina persahabatan yang positif, baik ke dalam kerajaan maupun dengan pihak luar)
  • 'Kadigwijayan ira narendara ring praja'' (Kejayaan raja itu terletak di hati rakyatnya - Raja akan jaya di hati masyarakat apabila sang raja berhasil mengisi hati rakyat menciptakan rasa aman dan sejahtera bagi bagi masyarakat)
  • Jnyana Wisesa Sudha” (pemimpin terutama raja harus menguasai ilmu pengetahuan suci)
  • Kaprahitaning Praja” (pemimpin harus memiliki rasa belas kasihan yang mendalam pada rakyat),
  • Kawiryan” (berani dengan tegas melakukan apa yang sudah diyakini benar, baik dan tepat)
  • Wibawa(kualitas pribadi yang membuat orang lain menjadi segan dan bukan takut)
  • "Bhineka Tunggal Ika tan Hana Dharma Mangruwa (Berbeda-beda tetapi sejatinya satu, dan tak ada jalan kebenaran yang mendua) [3]


Nilai-nilai di atas hanya sekadar contoh nilai luhur yang semestinya ditumbuhkembangkan melalui pendidikan.  Tentunya, masih banyak nilai –nilai lain, termasuk dari tradisi di daerah lain di Indonesia.  Tugas para perancang kebijakan pendidikan, para pemikir pendidikan, dan para pendidik, adalah merumuskan nilai-nilai utama yang bisa ditempatkan sebagai jiwa dari pendidikan kita.

Setelah itu, baru kita bicara tentang metode pendidikan yang paling tepat untuk menghidupkan atau menumbuhkembangkan nilai dalam diri pribadi dan kehidupan anak didik.  Ki Hajar Dewantoro, memperkenalkan sistem among yang dipraktekkan di Perguruan Taman Siswa.  Sistem ini menempatkan sang guru sebagai sang pamomong, yang bertugus ngemong/momong/mengasuh anak didik karena memiliki pengalaman dan kepandaian lebih.  Ikatan dasar antara yang momong dan yang dimomong adalah kasih sayang.  Sistem among memberikan ciri jiwa merdeka. Jadi, mengajar dengan sistem among yang pertama harus ditumbuhkan adalah mengenalkan, menanamkan, dan mewujudkan jiwa merdeka. Dengan jiwa merdeka, kreativitas dn imajinasi siswa akan muncul dan kelak menjadi bekal membangun Indonesia. Oleh karena itu, sistem among mengharamkan hukuman disiplin dengan paksaan/kekerasan karena itu akan menghilangkan jiwa merdeka anak. Sistem Among dilaksanakan secara “tut wuri handayani”, bila perlu perilaku anak boleh dikoreksi (handayani) namun tetap dilaksanakan dengan kasih sayang.

Ki Hadjar Dewantara menyebutkan bahwa “Sang anak harus tumbuh menurut kodrat (natuurlijke groei) itulah perlu sekali untuk segala kemajuan (evolutie) dan harus dimerdekakan seluas-luasnya. Pendidikan yang beralaskan paksaan-hukuman-ketertiban (regering-tucht en orde) kita anggap memperkosa hidup kebatinan sang anak. Yang kita pakai sebagai alat pendidikan yaitu pemeliharaan dengan sebesar perhatian untuk mendapat tumbuhnya hidup anak, lahir dan batin menurut kodratnya sendiri. Itulah yang kita namakan Among Methode.”

Merujuk pada metodologi jaman kiwari, apa yang digagaskan dan dipraktekkan Ki Hajar Dewantoro, setara dengan pendidikan pembebasan yang disampaikan oleh Paolo Freire dan student centered learning ataupun experiential learning yang digagaskan para pemikir pendidikan jaman sekarang.  Freire menempatkan proses pendidikan sebagai sebuah proses dialogis. Ada komunikasi dua arah di sana – bahkan multi arah. Peran subyek dimainkan baik oleh guru maupun murid. Guru dan murid sama-sama berperan sebagai pencipta pengetahuan dan pemberi informasi, sekaligus juga sebagai penerima pengetahuan dan tujuan informasi. Sasaran proses komunikasi antara guru dan murid dalam sebuah proses pendidikan membebaskan, bukanlah untuk memindahkan apa yang diketahui dan diyakini sang guru kepada para murid. Sebaliknya, yang dilakukan adalah secara bersama menyusun kepingan pengetahuan, keyakinan dan pengalaman yang dimiliki baik guru maupun setiap murid, agar bisa diperoleh sebuah gambaran besar yang lebih utuh. Gambaran besar yang lebih utuh itu adalah hasil sumbangan semua orang yang terlibat dalam proses pendidikan, dan disajikan juga kepada semua orang yang terlibat tersebut.

Peran seorang guru, dengan demikian, lebih sebagai seorang fasilitator atau pengarah, yang bertanggung jawab mengarahkan dan memfasilitasi agar proses belajar bisa menghampiri tujuan-tujuan yang juga disusun dan disepakati bersama. Alih-alih memanipulasi murid agar menerima apa yang diketahui dan diyakininya, seorang guru yang membebaskan mesti menempatkan diri sebagai pemicu dan pembuka jalan agar para murid bisa berpikir kritis, menilai sebuah kenyataan berdasarkan pengalaman, nilai dan pengetahuan yang telah mereka ketahui, dan kemudian menyampaikan pandangan atau pendapat secara bertanggung jawab.

Sementara itu, experiential learning methode, menegaskan bahwa agar anak didik bisa menghidupkan sebuah nilai, dan pada akhirnya, memiliki karakter yang baik, maka mereka tidak hanya perlu diberi tahu tentang nilai itu, tetapi harus diajak mengalami dan berefleksi tentang nilai itu.  Lebih jelasnya, metode ini adalah metode proses belajar mengajar yang mengaktifkan pembelajar untuk membangun pengetahuan dan keterampilan serta nilai-nilai juga sikap melalui pengalamannya secara langsung.

Berdasar metode ini, pembelajaran akan bermakna tatkala anak didik berperan serta dalam melakukan kegiatan.  Setelah itu, mereka memandang kritis kegiatan tersebut.  Kemudian, mereka mendapatkan pemahaman serta menuangkannya dalam bentuk lisan atau tulisan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Dalam hal ini, Experiential Learning menggunakan pengalaman sebagai katalisator untuk menolong pembelajar mengembangkan kapasitas dan kemampuannya dalam proses pembelajaran.

Pada experiential learning, langkah menantang bagi instruktur atau guru adalah memikirkan atau merancang aktifitas pengalaman belajar seperti apa yang harus terjadi pada diri peserta baik individu maupun kelompok.  Aktifitas pembelajaran harus (fardu ‘ain) berfokus pada peserta belajar (student-centered learning). Dengan demikian, apa yang harus kita lakukan, apa yang harus mereka lakukan, apa yang harus kita katakan atau sampaikan harus secara detail kita rancang dengan baik. Begitu pula dengan media dan alat bantu pembelajaran lain yang yang dibutuhkan juga harus benar-benar telah tersedia dan siap untuk digunakan.  Lewat berbagai kegiatan dan pengalaman itulah, diproyeksikan anak didik bisa memahami dan menghidupkan nilai-nilai luhur.

Secara lebih teknis, bisa dibabarkan, bahwa untuk menghidupkan nilai di kalangan anak didik, mereka harus dilibatkan dalam berbagai kegiatan yang variatif: kegiatan diskusi, penelitian di lapangan, kegiatan seni budaya, kegiatan oleh raga, kegiatan meditasi/semedi, dan berbagai aktivitas lainnya, yang semuanya pasti memiliki dimensi penanaman dann penghidupan nilai.

Demikian gagasan awal yang bisa saya sampaikan, semoga bermanfaat.




[1] Kajian Tim Turangga Seta yang tersaji di blog: http://ekaandrisusanto.wordpress.com/2012/04/03/majapahit-kingdom-empires-the-rise-of-nusantara-in-asia/
[3] Sumber: http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1863&Itemid=81

0 komentar: