Rabu, 17 Oktober 2012

PERJALANAN MENEMUKAN TIRTA PERWITASARI 11



Perjalanan menuju kesempurnaan kaweruh, sungguhlah panjang, juga berlika-liku.  Di tengah perjalanan tersebut, terhampar aneka aneka rintangan dan ujian.  Benar-benar laksana mendaki gunung.  Tanpa tekad yang kuat, ketekunan, dan hati yang sumeleh sekaligus lapang dalam menerima suka duka perjalanan, tidaklah mungkin kita bisa sampai ke puncak.  Saya pribadi menyadari, bahwa jikalah kesempurnaan kaweruh itu diibaratkan sebagai puncak gunung, maka saya baru berada di kakinya.  Sejujurnya, saya belum apa-apa, baru beberapa langkah perjalanan yang sudah saya tuntaskan.   Tapi, itupun sudah sangat saya syukuri.  Karena saya tahu persis, banyak orang belum berkesempatan, atau bahkan tak punya keberanian, untuk menempuh jalan menuju kesempurnaan kaweruh itu.

Rahasia Belajar Kaweruh Jawa


Tak semua pendaki gunung bisa mencapai puncak; sebagian ada yang tersesat karena salah jalur, sebagian tak pernah sampai karena tak kuat meneruskan perjalanan.  Mirip dengan itu, tak semua orang yang belajar kaweruh Jawa atau Kejawen bisa mencapai tataran nimpuno dan sampurno.  Sebagian orang hanya mencapai tataran linuwih dibandingkan orang kebanyakan, tapi masih jauh dari kelayakan untuk disebut nimpuno dan sampurno.  Sebagian lagi malah seperti tak ada hasilnya: linuwih tidak, perbaikan kehidupanpun tak didapat (dengan bahasa lain, seorang yang telah belajar demikian lama kok tak kunjung sakti dan waskita, malah hidupnya berantakan .....).  Lebih dari itu, kadang orang belajar Kaweruh Jawa tanpa proses yang benar, bisa terjebak pada ilusinya sendiri; merasa diri sakti, tapi itu tak terbuktikan secara obyektif.

Lalu, apa hal penting yang perlu diperhatikan agar seorang pembelajar kaweruh Jawa atau Kejawen bisa berhasil? 

Sejauh pengalaman saya, ada dua hal yang sangat menentukan proses pembelajaran, termasuk dalam pembelajaran kaweruh Jawa atau Kejawen, yaitu sistem pembelajaran dan guru yang mengajarkan.  Sistem pembelajaran yang saya maksud adalah metode, manual, atau pedoman tertulis dan tak tertulis tentang bagaimana seseorang mencapai tataran nimpuno dan sampurno.  Seseorang yang belajar atas dukungan sistem yang telah teruji selama puluhan bahkan ratusan tahun, jelas lebih punya kemungkinan berhasil ketimbang seseorang yang belajar berdasarkan metode baru hasil eksperimen yang belum teruji benar kebenarannya.  Kalau dibuat analogi, jika kita belajar di perguruan tinggi ternama yang telah mapan sistemnya, tentu lebih memungkinkan kita berhasil ketimbang belajar di kampus yang baru didirikan dan masih coba-coba sistem.  Nah....karena itu, sangatlah penting bagi para pembelajar kaweruh Jawa atau Kejawen menemukan sistem atau metode pembelajaran yang telah teruji efektivitasnya.  Akan lebih mendukung keberhasilan jika seseorang bisa belajar di perguruan Kejawen yang telah mapan dengan sistem yang teruji baik proses maupun hasilnya.

Faktor kedua, yang juga sangat penting adalah keberadaan seorang guru yang menterjemahkan sistem dalam kegiatan pembelajaran hari demi hari.  Guru yang saya maksud adalah seseorang yang telah mencapai tataran nimpuno dan sampurna, yang berbagi pengalaman dan membimbing para pembelajar agar juga sampai ke tataran itu.  Maka, karakteristik pertama agar seseorang layak dijadikan sebagai guru tentunya adalah telah mencapai tataran nimpuno dan sampurno.  Jika kita menggunakan ukuran dalam Serat Wedatama: sugih ngelmu, sugih bondo, sugih kuwoso..maka idealnya seorang guru telah memenuhi karakteristik tersebut.  Lebih jelasnya, seorang guru yang menjadi tempat kita belajar kaweruh sepuh seperti Kejawen, semestinya telah menunjukkan dalam hidupnya sendiri berbagai kondisi ideal yang bisa dibayangkan manusia: berbudi pekerti luhur, hidup berkelimpahan dan terbukti dengan hartanya itu telah menolong banyak orang, keluarganya ayem tentrem, terbukti waskita (mengetahui berbagai hal melampaui keterbatasan inderawi), dan seterusnya.

Tentu saja, bukan berarti kita tak perlu belajar pada seseorang yang belum memenuhi semua kualifikasi di atas.  Dalam kehidupan, kita bisa bahkan harus belajar pada siapapun, kepada mbok-mbok penjual sayur di pasar, bapak-bapak pemulung, para preman di terminal, bahkan kepada hewan dan tumbuhan.  Tetapi, untuk kebutuhan pembelajaran yang khusus, kita perlu guru yang khusus pula.  Jika ingin belajar berenang, maka kita harus belajar pada orang yang memang terbukti merupakan perenang handal.  Jika kita ingin menjadi pendaki gunung yang sukses, tentunya yang logis adalah belajar pada pendaki kawakan yang telah menaklukkan berbagai tipe gunung.  Demikian pula, jika kita ingin menjadi waskita, maka kita harus belajar pada yang benar-benar waskita.

Terlebih dalam belajar kaweruh Jawa, banyak sekali rahasia tersembunyi.  Jika kita tak hati-hati kita malah akan terjebak dan menjadi keliru langkah.  Sebagai contoh, dalam hal tirtayatra atau perjalanan ke tempat-tempat berenergi tinggi untuk menyelaraskan diri dan menyerap energi di sana.  Ternyata, laku ini tak bisa kita lakukan di sembarang waktu dan di sembarang tempat.  Jika dilakukan di waktu dan tempat yang keliru, bukannya kita mendapatkan kebaikan, malah keburukan yang didapat.  Laksana makan, bukannya mendapat asupan makanan bergizi, kita malah kena racun.

Sepanjang September 2012 kemarin, bumi kita tengah memasuki siklus baru setelah bumi, matahari dan bulan berada pada garis sejajar.  Saat kita berada di awal siklus baru tersebut, alam tengah dalam kondisi penuh gejolak...dalam bahasa Jawa kita bisa sebutkan, “Jagate lagi nggegirisi”.  Saat itu terjadi, tirtayatra penyelarasan dan penyerapan energi sangat tidak dianjurkan.  Nah, tanpa seorang guru yang berpengalaman – dalam situasi dan kondisi jagad yang nggegirisi kita bisa jadi malah sibuk menjalankan laku penyelarasan dan penyerapan energi.  Hal demikian sejatinya malah berbahaya untuk keberlangsungan perjalanan kita dalam menggapai kasampurnan.  Demikian cuma sebuah contoh pentingnya belajar dengan bimbingan seorang guru yang nimpuno dan sampurno.

Contoh lain, sejauh pengalaman saya, dalam rangka mentransformasi diri kita menjadi manusia penuh daya, seorang guru benar-benar berperan menjadi pengungkit dan pendorong.  Seseorang tanpa guru yang nimpuno dan sampurno, ibarat berjalan kaki menuju ke titik tujuan, dengan bekal pas-pasan dan ancaman bahaya di sana-sini.  Sang gurulah yang memungkinkan bekal kita lebih banyak, kita tak perlu lagi terus berjalan kaki karena pada rute tertentu telah disediakan kendaraan yang cepat, dan kita selalu mendapatkan petunjuk mana jalan yang aman untuk dilalui.

Tirtayatra di Bulan Oktober

Telaga Madirda
Pertengan bulan Oktober, berdekatan dengan masa tilem, saya berkesempatan kembali mereguk nikmatnya tirtayatra.  Pertama, saya tiryatra ke Telaga Madirda, memenuhi panggilan jiwa yang merindui tempat tersebut.  Seusai menjenguk ayah saya di Magelang, saya meluncur ke Solo.  Di Terminal Solo, telah menunggu Mas Adi Tarbiyanto yang akan menemani saya ke Telaga Madirda.  Kami meluncur menggunakan sepeda motor, menembus dinginnya Kota Solo yang saat itu baru saja diguyur air hujan.

Setelah melintasi jalan raya Solo-Tawangmangu, kami sampai di Karangpandan, Karanganyar.  Dari situ, kami memilih jalur yang searah dengan Candi Sukuh.  Melewati pemukiman di beberapa titik, kami akhirnya mulai memasuki kawasan yang sunyi sepi: hanya ada kegelapan di kanan kiri, dengan silhuet perbukitan yang membayang.  Udara tentu saja makin dingin, karena semakin lama berjalan, kita semakin berada di dataran yang tinggi, kian dekat dengan Gunung Lawu.  Berada di tempat seperti itu, hati saya tergetar dengan sendirinya.  Oh demikian agung Sang Semesta!  Ya, saya merasa dihadapkan pada wajah semesta yang demikian gagah!

Semakin lama kami berkendara, jalanan semakin menanjak.  Pada beberapa tanjakan yang sangat terjal, ternyata motor Mas Biyan tak kuat, sehingga saya harus turun dan mendorong motor itu....He, he, inilah bagian dari seni bertirtayatra..selalu ada pelajaran hidup di sepanjang perjalanan. 

Beberapa puluh menit melintasi jalanan yang dilatari perbukitan yang gagah, akhirnya saya dan Mas Biyan sampai di Telaga Madirda.  Setelah minta ijin kepada Bu Cipto yang bertanggung jawab ditempat itu sepeninggal Pak Cipto yang baru saja meninggal dunia, kami menuju lokasi pepunden.  Kebetulan saat itu sedang banyak mahasiswa berkemah; sebagian mereka tidur di teras pepunden.  Sehingga kami harus membangunkan mereka untuk bisa masuk pepunden.

Saya dan Mas Biyan pertama-tama menyiapkan sesaji berupa kembang telon, air, sari, dupa dan buah.  Sesaji itu ditata di atas nampan bambu bulat.  Setelah siap, kami memulai proses manembah.  Kami duduk bersila, lalu menata sikap dan nafas, perlahan-lahan meninggalkan keramaian menuju hening.  Jiwa kami menghaturkan sungkem sembah bakti kepada Gusti Ingkang Murbeng Dumadi, kepada Bopo Angkasa dan Ibu Pertiwi, kepada para pamomong, betara dan betari, dewa dan dewi, pitara lan pitari, para leluhur, dan padanyangan panguasaning jagad, khususnya yang jumeneng di wewengkon Telaga Madirda.  Selanjutnya kami memohon ampunan untuk diri kami, keluarga kami, orang tua kami, para leluhur, dan semua titah pagesangan.  Khusus bagi para leluhur yang telah meninggalkan madyamada menuju alam kalanggengan, kami berdoa agar beliau-beliau bisa kembali ke sangkan paraning dumadi dan mengecap kebahagiaan sejati.

Selanjutnya, kami memohon doa restu kepada para leluhur dan padanyangan yang jumeneng di Telaga Madirda, agar kami bisa bisa menyempurnakan laku kami dan mencapai tataran nimpuno.  Kami juga berharap terus disengkuyungi agar hidup ini menjadi penuh berkah.  Setelah itu, saya dan Mas Biyan masing-masing bermeditasi sesuai kebutuhan.

Selesai manembah di pepunden, kami menuju ke lokasi untuk siraman dan kungkum.  Sebelumnya, kami manembah lagi di lokasi mata air.  Hal demikian adalah bentuk sopan santun agar tirtayatra yang kita lakukan benar-benar memberi hasil yang baik.

Kami memulai proses mandi di pancuran, dengan tata cara sesuai yang kami pelajari dari guru kami: dimulai dengan menyiram ubun-ubun dan diakhiri dengan posisi tangan menyembah dan menyiram ubun-ubun lagi.  Lalu, setelah selesai, kami berendam: saya pribadi bersila hingga air menyentuh pangkal leher.  Melakukan laku seperti ini sungguh mengasyikkan: diri kita menyatu dengan semesta; semesta memberikan kepada kita rengkuhan energinya yang menggetarkan.  Baik saat kita mandi di pancuran maupun saat berendam, terasa benar dahsyatnya Telaga Madirda.  Apalagi jika kita melakukan itu di tengah malam, disinari sejuta bintang di langit, dan dilatari aura malam Gunung Lawu yang penuh misteri.  Wewengkon ini memang layak untuk menjadi tempat penggemblengan diri: untuk membuat jiwa kembali bening dan berkembang menjadi lebih baik.

Puas menikmati pengalaman penuh sensasi di Telaga Madirda, saya dan Mas Biyan berpisah.  Mas Biyan pulang ke rumah, sementara saya melanjutkan perjalanan ke Jawa Timur.

Curug Sedudo

Saya berada di Terminal Tirtonadi Solo ketika waktu sudah menunjukkan pukul 03.00.  Setelah istirahat sejenak dan menyeruput wedang susu jahe panas, saya melanjutkan perjalanan.  Tadinya saya ingin naik Bus Patas, tapi kemudian berubah pikiran: untuk efisiensi, saya naik bus Ekonomi AC, Sugeng Rahayu.  Dan ternyata, pilihan ini memberi sebuah pelajaran: bus yang saya naiki ini melaju dengan kencang, di beberapa tempat seperti terombang ambing, bahkan nyaris tabrakan.  Dalam situasi demikian, saya hanya bisa berserah diri, sumeleh, nyuwun diparingi slamet.  Lagi pula, saya sudah biasa naik bus seperti ini dulu, ketika setiap minggu pulang dari Jakarta ke Kuningan, dan jika kehabisan tiket kereta, harus naik Bus Luragung yang ngebutnya tidak ketulungan.

Saya memiliki janji bertemu dengan Mas Dipastraya di sekitar Nganjuk pada jam 12 siang, untuk melanjutkan ngangsu kaweruh bersama-sama rekan seperguruan lainnya.  Tapi, saya ingin mendapatkan pengalaman lebih: tadinya saya hendak ke Trowulan dan sudah membuat janji dengan Mas Hendra Winarno di sana.  Tapi, di tengah perjalanan, saat sudah mendekati Nganjuk, saya merasa terpanggil ke tempat lain.  Saya minta petunjuk kepada Mas Dipastraya dan disarankan ke Curug Sedudo, yang dulu menjadi tempat bertapa Danghyang Lohgawe dan Ken Arok, Sang Amurwa Bumi, raja Singosari pertama.  Raja-raja Kediri seperti Dandang Gendis juga dulu bertapa di sekitar Curug Sedudo.  Hal demikian menunjukkan keistimewaan wewengkon Curug Sedudo yang berada di kaki Gunung Wilis.

Saya turun di Terminal Nganjuk, dan bertanya-tanya bagaimana cara mencapai Curug Sedudo. Ada tukang ojeg yang menawarkan tarip 100 ribu sekali jalan.  Bagi saya itu terlalu mahal.  Lalu, saya dapatkan info tentang angkutan umum menuju ke Sawahan, yang berada tidak jauh dari Curug Sedudo.  Tak lama saya berjalan keluar terminal menuju jalan raya, muncul angkutan umum menuju Sawahan, maka saya segera naik.  Sopir angkutan itu bernama Pak Satiman.  Setelah mengobrol, saya dapat gambaran seputar lokasi Curug Sedudo, yang masih cukup jauh dari Sawahan dan harus digapai menggunakan ojeg.  Dari Sawahan biaya ojeg sekali jalan sekitar 25 ribu.  Setelah saya hitung biaya total jika menggunakan ojeg, dan ada tawaran Pak Man mengantar bolak balik dan menunggui saya dengan biaya 100 ribu, saya setujui tawaran itu sehingga tak perlu repot-repot dan kesasar.

Demikianlah, saya menyusuri jalan dari Kota Nganjuk menuju Curug Sedudo, melewati beberapa desa.  Setelah sampai Pasar Sawahan, kami terus melaju, mulai memasuki kawasan kaki Gunung Wilis.  Di desa Sawahan, saya saksikan di kanan kiri penuh dengan pohon mawar yang sedang berbunga.  Rupanya desa ini memang penghasil bunga mawar.  Jika saat hari besar keagamaan, harganya bisa melambung hingga 120 ribu per kg.

Saat itu, hari masih pagi. Jika saat saya menuju Telaga Madirda di malam hari terhampar semesta yang sedang menunjukkan keagungannya, saat ini saya menyaksikan semesta yang sedang tersenyum ramah.  Matahari membuat barisan perbukitan di sekitar Gunung Wilis terlihat hijau berkilauan.  Ditambah dengan udara yang teramat sejuk, masuk ke lokasi Curug Sedudo membuat kita betul-betul bisa menikmati pesona swargaloka Nusantara.

Setelah mobil diparkir, saya menuruni tangga ke lokasi Curug Sedudo.  Curug Sedudo menjatuhkan airnya dari jarak sekitar 100 meter.  Air tersebut tertampung oleh satu kolam.  Sebelum jatuh ke kolam, air tersebut terlebih dahulu membentur dinding batu, merambati dinding tersebut ke bawah.

Saya mengawali prosesi tirtayatra di Curug Sedudo dengan manembah, di satu titik dekat kolam dimana orang biasa manembah dan menyalakan dupa.  Saya heningkan diri, memuja Hyang Widi, menghaturkan sembah bakti kepada para leluhur dan padanyangan khususnya yang jumeneng di Curug Sedudo dan Gunung Wilis.  Saya memohon ijin dan restu untuk manekung, menyelaraskan diri dan menyerap energi di Curug Sedudo.

Usai manembah, saya masuk ke kolam dan mendekati air terjun.  Wussshhhhh...dingin sekali rasanya.  Badan terasa dibekukan ketika direndam air di kolam ini.  Rasanya air di Curug Sedudo ini lebih dingin ketimbang air di Telaga Madirda.  Tapi saya membulatkan tekad.  Saya maju terus hingga mendekati jatuhan air terjun.  Lalu saya menyirami diri dengan air terjun tersebut, sesuai patrap yang telah saya pelajari.  Sensasinya begitu dahsyat!
Setelah itu saya berendam dan mengolah nafas.  Saat berendam ini, rasanya air mengejar-ngejar di sekitar kepala saya.  Tak hanya itu, angin terdengar mendesau-desau.  Saya menikmati semuanya.  Saya pasrahkan diri saya.  Semoga Gusti Ingkang Murbeng Dumadi memberi saya anugerah melalui berbagai unsur semesta yang ada di Curug Sedudo.

Candi Lor

Sekitar jam 12.30, saya bertemu Mas Dipastraya dan teman-teman lain di Ngrajeg, Nganjuk.  Dari situ, kami bersama-sama menuju Candi Lor.  Candi Lor ini didirikan pada masa Empu Sindok di tahun 900 M.  Ia disebut juga sebagai Tugu Kemenangan, untuk memperingati kemenangan Mpu Sindok dalam peperangan melawan musuh dari Jambi. 

Prasasti Anjuk Ladang, menyebutkan bahwa Mpu Sindok, raja Mataram Hindu yang bergelar Sri Maharaja Sri Isyana Wikrama Dharmottunggadewa memerintahkan Rakai Hinu Sahasra, Rakai Baliswara serta Rakai Kanuruhan pada tahun 937 untuk membangun sebuah bangunan suci bernama Srijayamerta sebagai pertanda penetapan kawasan Anjuk Ladang (kemudian nama ini menjadi "Nganjuk") sebagai kawasan swatantra atas jasa warga Anjuk Ladang dalam peperangan.  Pada areal Candi Lor terdapat dua makam abdi dalem kinasih Mpu Sindok yang disebut Eyang Kerto dan Eyang Kerti.

Di atas Candi Lor juga tumbuh pohon kepuh atau pohon jangkang. Diperkirakan pohon ini telah berusia ratusan tahun.  Pohon kepuh atau jangkang, seringkali terlihat di pepunden-pepunden tua.  Para leluhur senang menanam pohon ini.  Harapan yang menyertainya adalah agar siapapun yang manembah di pepunden tersebut kejangkung (terkabul) tujuannya.

Candi Lor terbuat dari batu bata merah.  Ini meruntuhkan asumsi saya selama ini, sekaligus mengkoreksi teori tentang candi selama ini, bahwa candi berbahan baku batu bata merah pastilah berasal dari masa Majapahit, sementara dari masa sebelumnya terbuat dari batu andesit hitam.  Soal batu bata merah ini juga saya temukan sebagai penyusun Selo Pancer di Sragen, yang menjadi tempat meditasi untuk kepentingan-kepentingan keilmuan yang spesifik.  Sementara Selo Pancer telah ada jauh sebelum masa Majapahit.  Kita perlu merenung, ada apa dibalik “teori” yang keliru ini?  Apakah semata-mata karena kesalahan para ahli, atau ada kepentingan tertentu di sana, semisal mengaburkan fakta tentang tua dan variatifnya peradaban Nusantara.

Mas Dipastraya mengajak kami ke Candi Lor terkait dengan peningkatan keilmuan saya dan teman-teman.  Dulu, Mas Dipastraya juga dibimbing gurunya di tempat ini.  Jadi, Candi Lor memang punya posisi yang cukup istimewa dalam proses ngangsu kaweruh kami. 

Mas Dipastraya dan teman-teman menyiapkan upakara atau sesaji.  Termasuk di dalamnya upakara atau sesaji khusus berupa minyak wangi yang berharga cukup mahal.  Soal ini, saya mendapatkan wedaran bahwa di masa lalu, leluhur kita – dalam rangka menguasai ngelmu tertentu – biasanya memberikan sesaji berupa binatang seperti kerbau.  Nah, karena muncul kesadaran untuk tidak mengorbankan binatang, maka dipergunakanlah minyak wangi.  Nilai minyak wangi itu sendiri kadang bisa sama atau lebih mahal dibandingkan harga kerbau, sehingga bisa dianggap sebagai pengorbanan yang setara.

Setelah sesaji dan minyak wangi siap, Mas Dipastraya memimpin proses manembah di situ.  Saya benar-benar menyaksikan fenomena yang cukup ajaib.  Seiring dengan pembacaan berbagai mantra berbahasa Jawa Purwa, angin tiba-tiba menderu, makin lama makin kencang.  Saat bersamaan, terjadi hujan lokal.  Saya bermeditasi di tengah angin yang menderu dan rintik air hujan.  Saya pasrahkan diri ini, menikmati fenomena semesta yang menakjubkan hati.

Para leluhur, yang tidak lagi memiliki raga, acapkali mempergunakan unsur-unsur semesta untuk hadir di hadapan generasi penerusnya yang masih hidup.  Kadang mempergunakan angin, air, atau eter.  Mereka yang telah terbuka papasunya bisa melihat sukma leluhur yang menyerupai badan cahaya.  Tapi, mereka yang belum terbuka papasunya tetap bisa menyaksikan kehadiran leluhur tersebut dengan menyimak fenomena angin yang menderu-deru atau fenomena sejenis.

Demikianlah yang terjadi di Candi Lor.  Para leluhur hadir untuk nyengkuyungi anak keturunan atau generasi penerusnya yang datang marak sowan dan menghaturkan sungkem sembah pangabekti.

Pesarean Ki Nantang Yuda
Agenda berikutnya, saya bersama Mas Dipastraya dan rekan-rekan seperguruan meluncur menuju Pesarean Ki Nantang Yudha di Maospati.  Ini adalah kunjungan saya yang kedua kali ke tempat ini.  Seperti pernah saya ceritakan dalam tulisan terdahulu, Ki Nantang Yuda adalah senopati pada masa pemerintahan Panembahan Senopati.  Beliau terkenal karena kewelasasihannya.  Sehingga walau beliau sebetulnya senopati Mataram yang sedang berperang melawan Madiun, penduduk Madiun sangat menghormatinya.

Pesarean Ki Nantang Yuda sangat nyaman untuk bermeditasi.  Lantainya telah berupa keramik putih, dinaungi pohon beringin yang rimbun.

Di sini, Mas Dipastraya kembali memimpin prosesi manembah.  Dan mirip dengan di Candi Lor, di sini manembah dan meditasi kami disambut dengan hadirnya angin yang menderu-deru.  Demikianlah pertanda rawuhnya leluhur yang ada di wewengkon ini.

Alas Ketonggo: Palenggahan Ageng Sri Gati




Tuntas dari manembah di Pesarean Ki Nantang Yuda, kami menuju Alas Ketonggo.  Alas Ketonggo adalah nama yang sangat terkenal di kalangan pelaku spiritual, khususnya di Tanah Jawa.  Alas Ketonggo berada di Ngawi, sekitar 12 Km dari arah Kota Ngawi tepatnya masuk Dusun Brendil, Desa Babadan Kec. Paron.  Alas Ketangga adalah kode untuk tempat yang menjadi pusat berkumpulnya arwah leluhur.  Selain di Ngawi, sebetulnya masih ada beberapa tempat lain yang juga bisa disebut Alas Ketangga.
Di Alas Ketonggo Ngawi ini, kami berkunjung ke Palenggahan Agung Sri Gati.  Selain pepunden ini, terdapat juga beberapa pepunden lain, seperti Sendang Minto Wiji, Sendang Drajat, Pertapaan Dewi Tunjung Sekar, Umbul Jambe, Sendang Penguripan, Kori Gapit, Kali Tempur Sedalem, dan Pesanggrahan Soekarno.  Tapi bisa dibilang bahwa Palenggahan Agung Sri Gati yang merupakan petilasan Eyang Brawijaya V merupakan pusatnya.

Palenggahan Agung Sri Gati berbentuk bangunan yang di dalamnya terdapat tanah yang terus bertumbuh.  Di tanah itulah dahulu Eyang Prabu Brawijaya V lenggah atau duduk, saat kendran atau berjalan dalam keprihatinan seusai tersingkir dari kursi kekuasaan di Majapahit akibat penghianatan dari Adipati Demak yang didukung Wali Sanga.  Di sini, ada mahkota, tombak, dan payung yang dulu dibawa para pengiring Sang Prabu.

Kami manembah di pepunden ini.  Bermeditasi di situ.  Merasakan aura dan suasana bathin di situ.  Berbeda pada tempat-tempat sebelumnya, di sini, yang bisa dirasakan adalah kesenduan.  Ini tentunya sangat bisa dipahami, karena mencerminkan keadaan Sang Prabu Brawijaya V yang dulu merasakan pahitnya penghianatan dari orang-orang yang telah mendapatkan segenap kebaikan dari beliau.

Untuk memahami betapa pahitnya apa yang dialami oleh Prabu Brawijaya V, bisa saya gambarkan satu hal: di masa beliaulah Majapahit mengalami masa kejayaan yang langsung berganti dengan masa keruntuhan.  Pada masa beliau, Candi Cetho dan Candi Sukuh direnovasi melalui kemahiran tangan arsitek dari Suku Inca yang tergerak mengapresiasi keberadaan Majapahit yang pengaruhnya terasa hingga ke Amerika Latin.  Tapi, pada masa beliau jugalah, sebuah tatanan politik dan kebudayaan luhur porak poranda.  Majapahit yang semula menjadi simbol kejayaan Ibu Pertiwi, runtuh.  Dan Nusantara perlahan-lahan masuk dalam perangkap penjajahan: politik, budaya, ekonomi, hingga saat ini.

Menjadi kewajiban para penerus Trah Majapahit untuk memperjuangkan kembali kemerdekaan dan kejayaan bangsa ini yang dulu telah dirintis oleh para leluhur, dari generasi ke generasi.

Petilasan Eyang Moromulyo

Mengakhiri perjalanan spiritual kali ini, kami bersama-sama menuju Petilasan Eyang Moromulyo.  Petilasan ini berada di kaki Gunung Lawu, dekat dengan Tlaga Sarangan, tak jauh dari Cemara Kandang, salah satu pos pendakian Gunung Lawu di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Eyang Moromulyo sendiri merupakan penasihat Prabu Brawijaya III.  Saat Prabu Brawijaya V lengser keprabon, beliau memilih menyepi di Gunung Lawu. Saat Prabu Brawijaya V kendran dan menuju Gunung Lawu, beliau mencoba menemukan Eyang Moromulyo ini, yang disebut juga Eyang Sarangsari dan Eyang Denggung.

Dari Alas Ketonggo menuju Petilasan Eyang Moromulyo, setelah melewati Telaga Sarangan, kita mesti menembus jalanan yang dikitari hutan lebat, hutan yang masih alami khas Gunung Lawu.  Kesunyian yang melingkupi jalanan tersebut, menghadirkan suasana meditatif.  Terasa sekali betapa agung dan syahdunya Gunung Lawu dan lingkungan di sekitarnya.

Berhenti di satu titik, kita mesti berjalan kaki, melintasi jalan setapak yang berundak-undak hingga menjumpai pepunden berbentuk seperti makam.  Itulah pepunden Eyang Moromulyo.  Di sekelilingnya berdiri tegak pohon-pohon besar dengan daun yang lebat.  Berada di sana tengah malam, terasa benar kesunyian yang membius.

Mas Dipastraya memimpin prosesi manembah.  Kami menghaturkan sungkem sembah pangabekti, lalu bermeditasi.  Berbeda dengan di Candi Lor dan Pesarean Ki Nantang Yuda, di sini yang kami jumpai adalah keheningan yang total.  Angin tak berhembus sama sekali, waktu seperti berhenti.  Tempat ini memang sangat tepat untuk menyelami keheningan.

Demikianlah catatan yang bisa saya sampaikan kali ini.  Semoga bermanfaat.  Sampai jumpa di lain waktu.  Rahayu sagung dumadi.

Tidak ada komentar: