Selasa, 20 November 2012

CATATAN SPIRITUAL ODYSSEY TRIP 2



Prolog


Spiritual Odyssey, dirancang sebagai perjalanan sakral, sebuah ritual agung, yang bertujuan mengharmonikan jagad alit lan jagad ageng, serta menumbuhkan nilai-nilai kebajikan pada setiap diri, sebagai landasan terbangunnya bangsa yang berbudi luhur.  Karena itu, sebagai salah satu penanggung jawab kegiatan tersebut, saya terpacu untuk mempersiapkan diri lahir dan bathin.  Dalam kesadaran saya, agar seluruh peserta mendapatkan segenap hal terbaik berupa pencerahan, kedamaian, persaudaraan, semangat transformasi diri, dan semacamnya, maka saya harus sesuci dan menghimpun energi secukupnya.  Saya harus terlebih dahulu menjadi pribadi yang membawa terang, dan kesejukan.

Demikianlah, sebelum Spiritual Odyssey Trip 2 dilaksanakan, saya bersiap-siap dengan menuntaskan laku lampah sesuai dengan dawuh yang saya terima di Gunung Tidar beberapa minggu sebelumnya.  Saya jalankan puasa beberapa hari.  Menggenapi itu, saya adakan slametan wetonan saat Sabtu Pon, hari kelahiran saya.  Dan selanjutnya, kembali marak sowan ke Eyang Semar yang pepundennya ada di puncak Gunung Tidar, dengan membawa sesaji khusus: pisang raja, kelapa ijo, mawar putih, melati putih, rokok klobot.  Selain itu, saya juga menggunakan pakaian khusus: celana komprang putih, jubah putih, dan iket putih.  Tak lupa, saya membawa minyak cendana dan dupa cendana.

Tanggal 13 November 2012, saya meluncur dari rumah saya di kaki Gunung Ciremai menuju Jogjakarta.  Menggunakan travel, saya tiba di Wijilan, ndalemipun Ki Sabdalangit, sekitar pukul 5 pagi.  Istirahat sejenak, sekitar pukul 6, saya mblusuk ke Pasar Beringharjo membeli berbagai sesaji yang dibutuhkan untuk marak sowan ke Gunung Tidar.  Puji syukur ke hadirat Gusti Ingkang Akaryo Jagad, saya dapatkan apa yang saya butuhkan di situ, termasuk pisang raja berukuran super dua sisir, kelapa ijo, kembang, dan tambir untuk wadah sesaji.

Selepas tengah hari, saya mulai meluncur ke Gunung Tidar.  Tiba di Magelang sore hari, hujan turun dengan derasnya.  Puji syukur, saya bertemu dengan Mas Bias Remadyo yang berkenan menjemput saya dengan Corolla DX-nya yang walau berusia tua masih nyaman dikendarai.    Saya sempat sowan ke ayah saya, dan mengajak beliau bersama-sama naik ke Gunung Tidar.  (Ayah saya kemudian juga ikut Spiritual Odyssey Trip 2 dan menjadi peserta paling sepuh – ini sungguh membanggakan dan mengharukan saya).

Waktu telah menunjukkan pukul 17 ketika kami tiba di kaki Gunung Tidar.  Menunggu hari memasuki malam, saya bersama Mas Biyas dan ayah saya, beristirahat sejenak di warung padang yang ada di situ.  Kami memang masih harus menunggu, karena ada yang hendak ikut bergabung dengan kami naik Gunung Tidar.  Pertama, rombongan Bu Endang Setyaningsih yang tinggal di Kuala Lumpur; kedua, Brother Patrick, sosiolog dari Belgia yang sudah fasih berbahasa Jawa, Brother Aaron, spiritualis Inggris penganut ajaran Syiwais, serta Mas Moko pendamping mereka.  Brother Patrick dan Brother Aaron ini, pada hari sebelumnya meditasi di Candi Cetho dan beberapa titik di sekitar Gunung Lawu. 

Yang pertama kali menyusul kami adalah Brother Patrick , Brother Aaron dan Mas Moko.  Yang membuat salut, mereka bertiga mempergunakan sepeda motor dari Jogja menuju Magelang, dan menembus hujan deras.  Untuk sebuah alasan spiritual.  Oh ya...terkait saudara-saudara bule ini, bisa saya jelaskan – he, he – mereka juga punya nama Jawa disamping nama Barat mereka.  Patrick, nama Jawanya adalah Petruk.  Sementara Aaron, punya nama Jawa: Gareng.  Ini guyonan, tapi bisa juga serius...he, he, he.....

Tak lama kemudian, Bu Endang dan rombongan tiba.  Maka kami bersiap-siap naik.
Setiba di pintu gerbang pendakian Gunung Tidar, kami terlebih dahulu menemui juru kunci, seorang ibu berusia sekitar 50 tahunan.  Beliau saat itu sedang menyambut tamu di ruang kuncen.  Tapi beliau bergegas menyambut kami juga, dan mengajak kami ke rumah beliau yang tak jauh dari ruang kuncen.

Di rumah beliau, kami semua memperkenalkan diri, berbincang tentang Gunung Tidar dan sejarahnya dalam perspektif ibu kuncen tersebut, sekaligus menikmati hidangan spesial: teh manis dan ketupat dengan lauk opor.  Hujan saat itu masih rintik-rintik.  Udara cukup dingin.  Maka, hidangan dari keluarga ibu kuncen tersebut terasa sangat nikmat dan menghangatkan.

Di atas Gunung Tidar sendiri memang masih ada acara menyambut 1 Syuro – dalam istilah Ibu Kuncen – “Eyang Semar lagi meeting”.  Karena itulah, kami menunggu terlebih dahulu sebelum dapat giliran naik.  Tapi kami menunggu tak terlalu lama, sekitar pukul 20.00, kami dipersilakan naik.

Istimewanya, kami naik sekaligus mendapatkan mandat membawa berbagai sesaji yang telah dipersiapkan keluarga Ibu Kuncen namun karena sejak siang hujan, tak kunjung sempat di bawa ke atas: berbentuk nasi tumpeng.  Maka, selain saya membawa sesaji yang telah saya persiapkan sejak awal, saudara-saudara yang ikut rombongan saya, masing-masingpun membawa tambir berisi sesaji tumpeng.  Kamipun selanjutnya berjalan beriringan, meniti tangga menuju puncak Gunung Tidar di mana pepunden Eyang Semar berada.  Anda bisa bayangkan keeksotisannya: di tengah rintik-rintik hujan, dan malam yang menyelimuti, kami – termasuk saudara-saudara berkulit putih, wong bule, dari negeri jauh, Patrick dan Aaron, membawa tambir berisi sesaji.

Di sepanjang perjalanan, kami berpapasan dengan peziarah lain yang coba ngalap berkah malam 1 Suri di Gunung Tidar.  Sebagian besar peziarah di Gunung Tidar berpakaian ala santri.  Ini tentu dipengaruhi keberadaan makam Syeikh Subakir yang dipandang sebagai penyebar Islam pertama sebelum era Walisongo.  Saya pribadi, jika berada di pepunden, punya sikap tegas untuk mempertahankan identitas kejawaan saya.  Dari segi pakaian maupun bahasa, saya menunjukkan bahwa saya adalah penghayat jalan spiritualitas Jawa.  Demikian pula dari segi siapa yang disowani.  Seperti di Gunung Tidar yang menawarkan banyak pilihan tujuan berziarah, saya memilih dengan pasti hanya mengunjungi pepunden yang punya kaitan langsung dengan tradisi spiritual Jawa.  Tapi, tentu saja saya menghargai pilihan orang lain yang berbeda. 

Setiba di pepunden Eyang Semar, kami bersiap-siap sejenak sebelum kemudian bersama-sama manembah.  Saya coba memandu saudara-saudara yang lain: sekadar membuka prosesi.  Di pepunden tersebut, ternyata masih ada peziarah lain yang berdoa dengan patrap Timur Tengah.  Yah, inilah eloknya Indonesia: negeri yang sangat ramah pada hadirnya identitas spiritual dari negeri seberang.  Saya sendiri, memilih melakukan ritual pembukaan dengan bahasa lokal, dilanjutkan dengan semedi yang tak lagi mempergunakan bahasa verbal karena hanya kenal keheningan dan bahasa sukma.  Pilihan seperti ini, sebetulnya yang lebih sesuai dengan sopan santun atau paugeran: kita sedang menjalani laku spiritual di pepunden leluhur Nusantara.  Tentu saja, lebih pas jika kita mempergunakan bahasa dan metode manembah ala Nusantara.   Agak aneh jika kita sowan ke leluhur Nusantara, tetapi kita mempergunakan bahasa asing, apalagi yang kita sebut dan doakan lebih dahulu adalah sosok-sosok dari negeri seberang yang bukan leluhur kita.

Oh ya, saya sendiri, ketika manembah di pepunden, pertama-tama, mempergunakan mantra sebagai berikut:  Hong...Hong...Hong wilaheng sekaring bawono langgeng.  Ini adalah mantra untuk menyelaraskan diri kita dengan intisari semesta, yaktining hurip, yaktining jagad.  Sekaligus untuk membangun kesadaran akan hakikat kehidupan ini: semuanya berawal dari kekosongan – dari kekosongan itu termanifestasi berbagai bentuk dan rupa kehidupan – dan pada akhirnya, setiap bentuk dan rupa kehidupan itu kembali pada kekosongan.  Sementara yang langgeng adalah intisari dari kehidupan itu sendiri, yang bisa kita sebut sebagai ruh semesta, Tuhan, The Universe, atau apapun.....

Selanjutnya, saya mengucapkan mantra umum sebagai berikut: “Kawulo hangaturaken sungkem sembah pangabekti dumateng Gusti Ingkang Moho Suci, dumateng Bopo Angkasa lan Ibu Pertiwi, dumateng sedulur papat kalima pancer, dumateng poro leluhur ugi sedoyo padanyangan lan pamomong Nusantara”.  Atau, bisa juga langsung matur secara spesifik:  Kulonuwun Eyang Semar.  Kawulo hangaturaken sungkem sembah pangabekti dumateng Eyang Semar, ugi dumateng sedoyo leluhur lan padanyangan ingkang jumeneng ing wewengkon Gunung Tidar.  Mugi2 Eyang sedoyo tansah wonten ing karaharjan.  Kawulo lan para sederek marak sowan pratanda sikap bakti dumateng Eyang lan poro leluhur.  Mugi2 Eyang kerso nampi kawulo sedoyo.  Kawulo ugi hangaturaken sesaji, meniko pratanda pisungsum kawulo.  Nyuwun gung pangaksami menawi wonten ingkang klentu lan mboten prayogi, saking tumindak lan sesaji kawulo.  Saklajengipun saestu kawulo nyuwun supados Eyang kerso paring pangestu, lan tansah kerso njampangi, nyengkuyungi, ugi mbiyantu kawulo lan para sederek saged ngawujudaken sedoyo gegayuhan, ugi supados tansah wonten ing kawilujengan, karaharjan.  Selanjutnya adalah semedi, sumeleh pasrah, memasuki keheningan dan menikmati segenap damai yang ada.....

Mantra-mantra yang saya sebutkan di atas, sekadar sebuah pilihan.  Setiap orang tentu punya pilihan masing-masing.  Saya percaya banyak mantra lain yang lebih lengkap dan baik dari segi tata bahasanya.  Silakan pilih mantra apapun, yang terpenting sebetulnya adalah kita menemukan jembatan penyambung rasa dan sukma kita dengan para leluhur yang kita sowani.

Oh ya...dalam prosesi manembah di Gunung Tidar itu, saya menyaksikan bahwa yang paling lama bersemedi adalah Brother Aaron.  Ia juga membawa sesaji sendiri, berupa buah-buahan, bunga dan dupa.  Melengkapi sesaji yang saya bawa dan dititipkan oleh keluarga Ibu Kuncen.  Melihat semangat dari Brother Aaron yang jauh-jauh dari Inggris untuk menikmati pesona spiritual Nusantara, sudah semestinya kita yang warga asli Nusantara tergerak hatinya untuk menjunjung tinggi leluhur Nusantara dan segenap budaya luhur dan tradisi suci yang tumbuh di sini.....

Setelah dari pepunden Eyang Semar, kami sempat sowan sebentar ke petilasan Pangeran Purboyo, putra Panembahan Senopati dan Rara Lembayung (putri Ki Ageng Giring), yang disebut juga Jaka Umbaran.  Sekitar pukul 10 malam, manembah di Gunung Tidar tuntas.  Kami menyusuri jalan turun, ditemani kabut malam yang menguatkan aura mistis, dan rasa damai yang dalam.....

Dari prosesi  di Gunung Tidar ini, saya mendapatkan energi yang demikian berharga, yang memantapkan saya untuk menjalankan tugas dalam agenda Spiritual Odyssey Trip 2....

Dari Kotagede Hingga Candi Cetho


Tanggal 15 November 2012, tepatnya pukul 17.00, kegiatan Spiritual Odyssey Trip 2 dimulai, bermula di Pesarean Agung Kotagede.  Kali ini, peserta jauh lebih banyak dibandingkan pada Trip 1 – mencapai 69 orang.  Peserta yang melimpah, membuat Pesarean Agung Kotagede pada malam itu sangat semarak.  Kali ini, peserta datang dari berbagai tempat di Nusantara: kota-kota di Jawa, Bali, Sumatera, dan Kalimantan.  Juga dari Kuala Lumpur. Sayang sekali peserta dari Brother Patrick dan beberapa sederek lain batal ikut karena ada tugas mendadak atau ada keperluan lain.  Ada beberapa hal yang membedakan Spiritual Odyssey Trip 2 dengan Spiritual Odyssey Trip 1.  Kali ini ada penyambut tambahan: Pak Tazbir, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi DIY.  Kedua, karena bertepatan dengan peringatan Tahun Baru Jawa, para peserta mendapat hidangan spesial berupa Bubur Sura yang dimasak Ibu Untari.

Hadirnya sederek-sederek dari berbagai pelosok Nusantara ini menegaskan salah satu spirit Spiritual Odyssey: nglumpukke balung pisah..menyatukan yang semula terserak...membangun persaudaraan sejati demi kebangkitan Nusantara.  Di Kotagede, tempat sumare dan jumenengnya para pendiri, raja-raja dan tokoh penting Kraton Mataram, kami semua sesuci, menghaturkan sembah bakti kepada para leluhur, lalu dilanjutkan dengan ngangsu kawruh tentang prinsip-prinsip spiritualitas dan meditasi bersama Kang Sabdalangit.  Maka, landasan pertama untuk sebuah transformasi diri, juga harmonisasi antara generasi penerus dan para leluhurnya, terbangun dengan kukuh.

Disadari bahwa yang punya hasrat untuk membenahi Nusantara bukanlah semata-mata generasi yang hidup pada saat ini.  Para leluhur juga punya hasrat yang sama: bahkan mereka memiliki daya tertentu yang tidak dimiliki generasi yang masih hidup dengan raganya.  Kita, sebagai penerus para leluhur, seyogyanya berkarya bersama, bahu membahu dengan leluhur, karena kitalah penerus dharma mereka.  Dan dari mereka, kita memiliki negeri yang merdeka dengan segenap kekayaan budaya dan alamnya.  Dengan menyambungkan rasa kita dengan para leluhur, kita sejatinya tengah merangkai sebuah jembatan yang menghubungkan masa silam, masa kini dan masa depan.  Masa depan yang lebih baik dibangun melalui kekuatan yang hidup masa kini dan menyembul dari masa lalu, melalui pola yang sinergis dan saling melengkapi.

Tahap demi tahap, acara di Kotagede berlangsung dengan syahdu.  Saya sendiri, sungguh terharu menyaksikan sebagian sederek yang demikian gembira karena baru pertama kali berkesempatan sowan kepada leluhurnya di Tlatah Mataram, dan menikmati eksotika menengok kembali ke masa silam.  Saya benar-benar berharap, untuk selanjutnya, para sederek peserta Spiritual Odyssey makin berbakti pada leluhur, dan sebaliknya, para leluhur senantiasa berkenan mendampingi para sederek tersebut, sehingga kehidupan secara pribadi mengalami transformasi menuju kebaikan, serta pada skala bangsa, kita bersama-sama mengalami kemajuan dan kebangkitan.

Tuntas di Kotagede, kami melanjutkan perjalanan ke Parangkusumo.  Di Parangkusumo, kami duduk berbaris di tepian pantai, menghadap ke Samudera Indonesia, memandang ombak yang berdebur-debur demikian agungnya.  Di sini, kami pertama-tama melakukan ritual menghaturkan sembah pangabekti dan nyuwun pangestu kepada Kanjeng Ibu Ratu Kidul, entitas widodari yang jumeneng di Kraton Kidul dan menjadi salah satu pamomong Nusantara.  Selanjutnya, kami bersama-sama bermeditasi, mengecap pengalaman mistis bersentuhan dengan dimensi lain yang salah pintu gerbangnya berada di Parangkusumo.

Di Parangkusumo inilah, ada peristiwa yang aneh tapi nyata.  Saat saya bermeditasi, mendadak dari langit, seperti dijatuhkan seekor merpati putih.  Merpati putih tersebut hinggap di tubuh saya, lalu setelah beberapa saat berdiri di samping saya.  Tak lama kemudian, muncul satu merpati lagi sehingga genap sepasang.  Saya tak melihat bagaimana merpati itu jatuh ke tubuh saya, bahkan semula saya tak tahu kalau itu merpati karena saya tetap memejamkan mata dan hanya menangkap bau harum seiring hadirnya burung tersebut.  Tapi, beberapa tim panitia seperti Mas Sunarto dan Mas Ismail menjadi saksi, karena mereka pas bertugas memotret dan membuat video acara.

Peristiwa seperti ini tentu bukan kebetulan semata, apalagi saat itu saya sedang lelakon memakai pakaian dan iket serba putih.  Ada makna tertentu yang muncul, yang nanti saya babar di bagian penutup tulisan ini.  Yang pasti, sepasang burung itu akhirnya ikut dengan saya, mereka tak mau saya pegang, tapi nyaman menclok di tangan saya.  Mereka menemani perjalanan rombongan – maksudnya, merpati tersebut ikut mobil yang saya kendarai bersama Kang Sabda dan panitia, hingga kemudian terbang ketika kami tiba di Kahyangan Dlepih.

Selanjutnya, saya bisa sebutkan bahwa di Parangkusumo ini, para peserta mengungkapkan pengalaman/penyaksian mereka yang beragam tapi mengarah pada hal yang sama.  Berbagai pengalaman mereka tersebut mengkonfirmasi keberadaan sosok Kanjeng Ratu Kidul yang jumeneng di Kraton Kidul beserta para manggalanya. 

Usai kegiatan di Parangkusumo ini, kami berombongan menuju ke Kahyangan Dlepih.  Kami tiba pagi hari, sekitar jam 7 pagi, terlambat sekitar 2 jam dari jadwal.  Yah, demikianlah...situasi di lapangan memang sering berbeda dari yang direncanakan di atas meja, karena banyak faktor yang di luar kendali.  Apapun yang terjadi, semua harus diterima dengan legowo karena memberi pelajaran lahir dan bathin.

Di Kahyangan Dlepih, kami pertama-tama melakukan ritual manembah di beberapa pepunden yang ada di situ.  Sungguh menggetarkan, kami puluhan orang, sama-sama memancarkan getaran yang relatif sama..getaran harmonisasi diri dengan leluhur dan berbagai unsur semesta.  Setelah itu, para peserta berlatih olah nafas dan olah gerak untuk membangkitkan inner power bersama Kang Sabdalangit.

Kami menuntaskan agenda di Dlepih pada pukul 11 siang.  Maka, kamipun bergegas menuju ke Candi Cetho.  Semula, panitia sudah berkoordinasi dan menetapkan rute ke Cetho melalui Kota Wonogiri, Sukoharjo baru berbelok ke Karanganyar.  Kok ndilalah, semua rencana berantakan.  Mobil saya dan Kang Sabda berangkat belakangan dan ada di posisi buncit dalam rombongan.  Sementara ada sopir yang iseng ngobrol dengan salah satu penjaga warung, terpengaruh oleh saran penjaga warung tersebut untuk menempuh jalur alternatif.

Maka, terjadilah apa yang memang harus terjadi.  Sopir itu membuat kekeliruan ganda..pertama, dengan mengikuti bisikan mengikuti jalur alternatif tersebut; kedua, salah ketika menentukan jalan alternatif tersebut.  Satu persatu mobil rombongan malah bergerak menuju Jatisrono dari Tirtomoyo.....bukan sesuai rute yang sudah ditetapkan panitia ke arah Wonogiri kota, bukan pula sesuai yang dimaksudkan penjaga warung pemberi saran.  Dan, terjebaklah 10 mobil dalam petualangan mendebarkan menaklukkan jalanan yang sungguh berat, karena dipenuhi tanjakan dan turunan yang curam.  Kami sebagai panitia sungguh khawatir akan keselamatan peserta; apalagi kami saksikan, beberapa mobil di depan kami begitu kesulitan untuk bisa menaklukan medan, mobil-mobil itu nyaris mogok.  Sementara di kanan kiri terdapat jurang

Untung saja, kami semua masih selamat.  Setelah 1 ½ jam berjuang melintasi jalur itu, kami bisa melewati jalur berbahaya.  Tapi, ada dampaknya: salah satu mobil rombongan pecah radiatornya.  Dan satunya lagi, pecah bannya.  Tentu saja...kami tertahan beberapa waktu untuk memecahkan persoalan ini.

Setelah memeras otak beberapa waktu, masalah bisa diselesaikan.  Kami sudah mulai lega dan bersiap melanjutkan perjalanan sesuai dengan jalur yang telah disepakati.  Dari  Jatisrono kita meluncur ke arah Kota Wonogiri lalu ke Sukoharjo.  Tapi ya ndilalah....entah apa yang ada di benak para sopir.....di tengah perjalanan, mereka bukannya mengikuti mobil panitia terdepan, mereka mengambil arah berbeda dan memilih jalur alternatif via Jumapolo.  Tak ayal lagi..rombongan langsung bercerai berai, karena yang memimpin dan dipimpin tak lagi sinkron.

Dan ada sedikit tragedi di sini, he, he, ketika salah satu peserta Pak Satyo Hadi, yang menelpon saya dan kami kira salah satu sopir elf...sempat kami marahi.  Kami saat itu memang berpikir harus lebih tegas supaya barisan kembali utuh tidak tercerai berai.  Tapi, walau acara marah-marah dengan korban Pak Satyo Hadi telah dilakukan (untungnya beliau sangat sabar – dan di akhir acara saya sudah minta maaf, he, he), rombongan tetap bercerai berai karena koordinasi untuk mengarahkan semua peserta sudah tak mungkin dilakukan.  Maka, saya dan Kang Sabdalangit akhirnya berserah diri: biarkan seluruh peserta berjuang sendiri ke Cetho dan menemukan takdir masing-masing.

Kami saat itu bergumam...sungguh berat untuk bisa sampai ke Cetho.  Ternyata energi lahir dan bathin kami harus benar-benar terkuras terlebih dahulu.  Tapi, kami tak patah semangat, kami harus sampai ke Cetho.  Demikian pula tekad mayoritas peserta: mereka sudah bulat untuk sampai ke Cetho, walau harus mencari jalan masing-masing.  Hanya ada beberapa peserta yang memilih pulang lebih dahulu karena sudah kadung memesan tiket.

Puji syukur...pada akhirnya, semua rombongan bisa sampai ke Cetho, sekalipun salah satu mobil mogok 1 km menjelang gerbang candi karena tak kuat menanjak, dan para penumpang mobil tersebut harus diunjali menggunakan ojeg sepeda motor.


Demikianlah..pada akhirnya kami bisa menggelar proses di Candi Cetho.  Setelah istirahat sejenak, saya berkesempatan membabar soal Candi Cetho sebagai petunjuk keagungan peradaban Nusantara, dan Kang Sabda membabar soal misteri Gunung Lawu.  Dan setelah itu, kami semua lalu manembah di altar utama Candi Cetho, melaksanakan meditasi penyerapan energi, lalu melaksanakan prosesi maaf memaafkan dan saling berterima kasih.  Di altar utama itu, segenap acara kami lakukan di tengah gelap yang mulai menyelimuti, hawa dingin khas Gunung Lawa, dan hujan rintik-rintik yang membasahi kami.  Tentu saja, terasa benar sakralnya suasana di Cetho malam itu.  Kami semua terharu..hanyut oleh rasa tersatukan, tak hanya rasa tersatukan di antara seluruh panitia dan peserta, tapi juga rasa tersatukan dengan semesta, dengan segenap entitas leluhur yang ada di situ.

Lega.  Bahagia.  Akhirnya acara bisa dituntaskan dengan baik walau tak sesuai rencana.  Dan pesona mistis Candi Cetho akhirnya bisa kami nikmati bersama.  Dan kami memperoleh segenap limpahan energi, berkah, pencerahan, kebijaksanaan, yang tak ternilai harganya.  Selanjutnya, kembali pada setiap diri, apakah siap atau tidak memanfaatkan anugerah yang didapat tersebut untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
 
Epilog


Spritual Odyssey, sebagai perjalanan sakral, dalam setiap proses dan fragmennya memuat pelajaran-pelajaran berharga.  Tentu saja, jika kita peka dan cukup terampil menterjemahkan segenap tanda-tanda semesta.  Pelajaran demikian muncul bukan hanya dari wedaran, tapi juga dari pemaknaan terhadap peristiwa-peristiwa yang di luar kebiasaan, juga dari kesulitan-kesulitan yang menguras emosi.  Tepatlah jika dikatakan, bahwa acara Spiritual Odyssey yang hanya berlangsung sekitar 24 jam tersebut, merupakan miniatur dari perjalanan spiritual sesungguhnya yang tak berbatas waktu.
Dari peristiwa kemunculan tiba-tiba sepasang merpati putih, saya menangkap pesan: kita semua perlu sama-sama kembali pada kesucian, pada kemurnian, yang menjadi watak dasar dari jiwa terdalam kita, sukma sejati kita.  Lebih tegasnya, kita perlu berupaya lebih serius membuat hidup kita, pikiran kita, tindakan dan bicara kita, selaras dengan kehendak sang sukma sejati – yang pada hakikatnya adalah manifestasi dari Sang Maha Suci yang ada di dalam diri kita sendiri.  Menengok pada cerita Dewa Ruci...kita perlu berjuang menemukan tirta perwitasari, melalui laku lampah yang penuh keberanian untuk melampaui zona nyaman, masuk ke wilayah misteri, mengalahkan berbagai godaan nafsu.

Sepasang merpati putif itu juga menjadi penyampai pesan, bahwa kita perlu menjadi duta-duta perdamaian dan cinta kasih murni, agar Nusantara ini bergerak ke arah yang berbeda: menjadi negara ideal laksana Amarta yang dipimpin Puntadewa yang suci dan bijaksana.  Dalam konteks yang lebih praktis, kita perlu menjadi pendukung perubahan politik agar negeri ini dipimpin oleh para satrio pinandhito, memerintah dengan kebijaksanaan ilahi dan keluhuran budi.

Di Candi Cetho, kita bersama-sama telah mengukuhkan komitmen dan cinta kita kepada Ibu Pertiwi, kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Walau sekarang negeri ini tengah terluka dan rusak-rusakan, karena sering dikhianati oleh mereka yang mendapatkan mandat menjadi pemimpin negeri ini, cinta kita pada negeri ini tak boleh pudar sedikitpun.  Negeri ini adalah warisan berharga dari para orang tua kita, para leluhur kita.  Sudah sepatutnya kita bersama-sama membangun negeri ini sesuai kemampuan dan peran kita masing-masing. 

Mari kita hidupkan spirit Sang Saka Merah Putih di dalam jiwa kita masing-masing.  Anda semua, para peserta Spiritual Odyssey, dan pembaca blog ini, adalah putra-putri Ibu Pertiwi yang terpilih menjadi garda depan perubahan.  Kita teladankan sikap hidup yang mengutamakan persaudaraan sejati di tengah kebhinekaan warga bangsa dari segi suku, agama, maupun kelas sosial.  Dan gubahlah karya terbaik sesuai bidang keahlian masing-masing.  Bangun diri Anda, keluarga Anda dan komunitas Anda.  Semakin banyak yang melakukan kebaikan seperti ini, perlahan tapi pasti, negeri ini pasti tersembuhkan dan kembali pada kejayaannya.

Akhir kata, saya haturkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam agenda ini: Ki Sabdalangit dan Bu Untari, keluarga besar CV Lakutama yaitu Mas Bias dan Mas Diaz (yang tidak bisa hadir tapi saya percaya intensif merapal mantra demi kesuksesan acara), para asisten yaitu Mas Mulyono, Mas Gilang, Mas Susilo, Mbak Rika, Mas Harimurti, Mas Tono, kepada Mas Sunarto dan Mas Sigid Wibowo yang sangat kontributif dalam acara ini, kepada Mas Amir Pohan dan tim yang dengan keahlian profesionalnya begitu berdedikasi merekam acara ini, kepada seluruh peserta yang sangat bersemangat dan kooperatif, dan kepada seluruh pihak yang tak bisa saya sebutkan satu persatu.

Jayalah Nusantara!  Rahayu..rahayu..rahayu....

4 komentar:

bambang setiawan mengatakan...

Salam Persaudaraan..Jayalah Nusantara

Anton DC mengatakan...

Mas Setyo, salam kenal
Saya sangat tertarik dengan kejawen saya ingin sekali bisa meditasi kiranya mas setyo bisa memberikan bimbingan, seperti pada SO ini kayaknya teman2 SO cepat paham lewat arahan Ki Sabdo dan anda bagaimana cara meditasi nya? sokur2 kalau ada video tentang arahan meditasi pada acara SO mas bisa di upload, sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terimakasih
Salam Rahayu

jayadi mengatakan...

Salam kenal mas setyo
Saya setuju dengan usulan dari mas anton agar rekan2 yang lain yang belum punya kesempatan utk ikut odissey bisa diajari meditasi walau hanya tingkat dasar.karena menurut pendapat saya untuk membangkitkan kembali semangat kecintaan nusantara harus dimulai dengan mempelajari dan melakoni tradisi2 nusantara yang kini sudah mulai tergerus oleh kepentingan2 golongan yang mengatas namakan konsep merasa kebenaran golongan sendiri saja yang benar. Sehingga atas alasan itu maka ada baiknya rekan2 seperti mas setyo dan mas sabda dapat memberikan pelajaran itu bagi kami dan rekan2 lain yang mulai bangkit kesadaran jiwa nusantaranya.
Atas kesediaan mas setyo dan mas sabda serta rekan2 yang lain yang memiliki pengalaman bersedia sharing ilmu nya kpd kami yang masih harus belajar banyak tentang budaya nusantara.

Rahayu
Donny

Anonim mengatakan...

JAYA NUSWANTARA