Rabu, 18 Januari 2012

PERJALANAN MENEMUKAN JATIDIRI (BAGIAN III)

DARI CANDI GEDONG SONGO, MENUJU JUMPRIT LALU GUNUNG TIDAR
Diskusi dengan Kang Sabdalangit di penghujung tahun 2011, membekali saya dengan sebuah tekad dan kesadaran untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik di tahun 2012, pada semua aspeknya. Dilandasi tekad dan kesadaran ini, tepat pada tanggal 1 Januari 2012, saya melanjutkan perjalanan dengan tujuan Candi Gedong Songo. Untuk perjalanan ini, saya sudah membuat janji dengan sahabat Facebook, Mas Bayu Budi yang tinggal di Semarang. Saya dijemput Mas Bayu di Terminal Ambarawa, dan dari sana, dengan menggunakan kendaraan Mas Bayu, saya diantar ke Candi Gedong Songo melalui kawasan Bandungan. Puji Syukur kepada Gusti Ingkang Murbeng Dumadi, keberadaan dan kesediaan Mas Bayu Budi untuk mengantar, sangat memudahkan saya untuk mencapai Candi Gedong Songo. Tampaknya cukup sulit untuk mencapai candi ini menggunakan kendaraan umum, apalagi saat hari mulai sore, dan dalam kondisi hujan.

Saya dan Mas Bayu Budi sampai di Candi Gedong Songo ketika hujan mulai turun. Setelah membayar tiket masuk, kami berjalan meniti jalanan berbatu yang berliku. Saat hujan mulai deras, kami putuskan mampir ke warung dulu, menikmati wedang jahe sambil menunggu hujan reda. Di kompleks Candi Gedong Songo ada tujuh lokasi candi. Kami coba cari yang relatif sepi dan nyaman untuk bermeditasi; saat itu memang banyak pengunjung karena bertepatan dengan hari libur.

Setelah hujan mulai mereda, kami lanjutkan perjalanan, hingga mata ini tertambat pada Candi Keempat, di lokasi agak tinggi. Kami menuju ke situ, dan bermeditasi di situ. Setelah menyelami dunia hening selama beberapa saat, kami keluar dari dalam candi. Saat itu, saya mendapatkan dorongan dari dalam hati untuk menemukan lokasi meditasi lainnya di alam terbuka. Maka, saya ajak Mas Bayu Budi untuk kembali berjalan. Dan kaki saya seolah dituntun, untuk memasuki kawasan dengan pepohonan dan perdu yang lumayan lebat, menyisakan sebuah jalan setapak untuk dilewati.

Rupanya, memang sudah jodohnya saya untuk ketemu sebuah tempat meditasi yang cukup istimewa: PATUNG ANOMAN. Dalam legenda yang terkait dengan Gunung Ungaran, memang dinyatakan bahwa di Gunung Ungaran yang pada kakinya Candi Gedong Songo berada, Anoman “memenjarakan” Rahwana. Maka, saya dan Mas Bayu Budipun kembali meditasi, tepat di sisi patung Anoman tersebut. Dan sejauh saya rasakan, lalu saya konfirmasi kepada Mas Bayu Budi, meditasi di tempat ini lebih “hening”, dengan sensasi energi yang lebih besar.

Selesai bermeditasi di dekat Patung Anoman, hujan turun dengan lebat, sehingga kami memutuskan untuk berlindung sebelum melanjutkan perjalanan. Cukup lama kami menunggu. Karena tak tak kunjung reda, kami putuskan untuk berjalan, pulang, menuju kendaraan di tempat parker. Ya, tentu saja, lumayan basah kuyup. Tapi, memang demikianlah perjuangan yang harus dilakukan. Proses untuk menunjukkan bakti kepada leluhur, kadang memang harus melalui kondisi yang berat. Tapi, hasilnya pasti sepadan dengan pengorbanan yang telah dilakukan.

Hari menjelang senja, sementara agenda saya berikutnya adalah ke Jumprit, Ngadirejo, Kabupaten Temanggung. Untung saja Mas Bayu Budi berkenan mengantarkan saya sampai Ngadirejo, di mana di sana saya dijemput oleh Mas Turahman alias Mas Punjul, sederek di Paguyuban Cahya Buana. Menembus hari yang mulai gelap dan hujan yang teramat deras, akhirnya saya dan Mas Bayu Budi sampai di Ngadirejo. Kami ngaso di Warung Sate di depan pasar, dan tak lama kemudian Mas Turahman muncul.

Mas Bayu Budi memutuskan kembali ke Semarang, karena harus bersiap-siap ke Tuban untuk kembali berdinas. Maka, saya menumpang sepeda motor Mas Turahman ke rumahnya, yang hanya berjarak 3 km dari Jumprit. 15 menit mengendarai sepeda motor, saya sampai di rumah Mas Turrahman. Dan setelah beristirahat beberapa saat sambil menikmati wedang teh manis, saya diantar Mas Turrahman ke Jumprit. Jumprit di malam hari, persis seperti dinyatakan Mas Wowo Tunggadewo yang memberi informasi awal, punya aura magis yang kuat. Dikelilingi pohon-pohon besar dan tinggi menjulang, Jumprit yang berada di kaki Gunung Sindoro memang tempat yang menawan dan pas untuk bermeditasi. Di situ, ada lokasi khusus untuk bermeditasi, dan ada sendang khusus untuk kungkum. Saya dan Mas Turrahman memulai prosesi dengan meditasi beberapa waktu: menyambung rasa dan menyampaikan penghormatan kepada para leluhur khususnya yang mbahu rekso di Jumprit, lalu masuk menyelami diri menikmati hening. Setelah itu, kami kungkum di sendang. Dan, luar biasa, airnya dingin sekali! Saya kungkum hanya kuat beberapa menit, sambil menenggelamkan seluruh badan 3 kali, dengan niat agar energi negatif yang melekati diri bisa luruh, sebaliknya, energi positif bisa memancar makin kuat.

Mendengar cerita dari Mas Turrahman, beberapa sederek dari Paguyuban Cahya Buana seperti Romo KRH. Sarwodadi dan Pak Darmawan Sugiyono, bisa tahan kungkum di Jumprit yang sangat dingin airnya itu berjam-jam. Wah….saya harus mengakui ngelmu pengendalian raga saya masih kalah jauh..he, he.

Sepulang dari Jumprit, saya kembali ke rumah Mas Turrahman, menikmati keramahtamahan yang tulus dari Mas Turrahman sekeluarga. Keesokan paginya saya melanjutkan perjalanan ke Magelang. Dan tempat yang saya tuju adalah Gunung Tidar.

Hari masih pagi dan sejuk ketika kaki saya menginjak Gunung Tidar. Menyusuri tangga berlika-liku saya naik ke atas. Sekarang jalan naik ke puncak Gunung Tidar memang sudah lumayan enak, karena jalannya tak lagi berupa tanah. Di puncak Tidar, saya bermeditasi di 3 tempat: Petilasan Kyai Sepanjang, Petilasan Pangeran Puroboyo, dan Petilasan Eyang Semar. Setelah selesai meditasi di tiga tempat itu, saya ngaso di sebuah gazebo. Tiba-tiba muncul menyapa lelaki setengah baya berperawakan kecil. Rupanya ia sesama peziarah Gunung Tidar, berasal dari Jombang, bernama Abdul Said akrab dipanggil Mbah Dul, dan baru saja selesai tirakat di Alas Purwo.

Beramah tamah beberapa saat, Mbah Dul memberi informasi tentang keberadaan satu petilasan lagi yang belum pernah saya kunjungi. Dia mengajak saya untuk mencarinya, dan kebetulan di tengah jalan bertemu seorang ibu sepuh yang tengah mencari kayu kering. Ibu itu memberi tahu lokasinya, lalu kamu menyusuri jalan sesuai arahannya. Ndilalahnya kok ya ndak ketemu. Saya putuskan untuk terus mencari, Mbah Dul kembali ke Poskonya di dekat Petilasan Syeikh Subakir. Saya terus berjalan, ternyata petilasan dimaksud tak ditemukan. Tapi, saya percaya pasti bisa ketemu. Saya lalu berjalan berbalik arah, dan ketemu lagi dengan ibu sepuh yang tadi memberitahu arah. Ternyata saya tadi keliru jalan. Dan kali ini, tidak salah lagi, saya bertemu dengan sebuah petilasan yang belum saya kunjungi, dan menurut penuturan Ibu sepuh itu, itu adalah Petilasan Mbah Geseng.

Sayapun mulai bermeditasi di situ, lalu tak lama kemudian, merasakan kehadiran aura energi yang dingin menyejukkan di hadapan saya. Saya teruskan untuk hening dan berkomunikasi secara bathin. Setelah puas, saya beranjak pergi. Misi di Gunung Tidar sudah saya tuntaskan.

Setelah sowan ke ayah saya di Magelang, dan berkunjung ke rumah Pak Adi Sri Kuning sederek dari Paguyuban Cahya Buana di Salatiga, saya pulang kembali ke Cirebon.

CATATAN AKHIR
Untuk mengungkap pesan secara utuh dari segenap perjalanan spiritual yang saya lakukan, saya masih membutuhkan bantuan dari sesepuh/guru dan sahabat saya di Cirebon, Pak Sri Sasongko dan Yudi Firmansyah. Saya masih punya keterbatasan dalam bersentuhan dengan entitas supranatural; kekurangan saya tersebut untuk sementara ini ditutupi oleh keberadaan sesepuh/guru dan sahabat saya itu, yang mengambil peran sebagai semacam “penerjemah alam ghaib”. Biasanya saya dan sahabat saya sowan ke rumah sesepuh/guru saya, lalu mengalir bersama waktu, membiarkan semua rahasia mengungkapkan dirinya.

Terkait dengan apa yang saya alami dalam upaya mengungkap pesan-pesan dari dimensi lain bersama guru dan sahabat saya, bisa saya katakan sesuatu yang sebetulnya juga agak mengherankan saya pribadi: pertama, ruang dan waktu seperti terlipat – dalam bahasa lain, masa lalu, masa kini, dan masa depan seperti menjadi satu dan seluruh ruang seperti terhubung; kedua, nama-nama tokoh yang dalam pandangan masyarakat umum sering diasumsikan sebagai sekadar dongeng atau mitos, seperti tokoh wayang, ternyata hadir sebagai sesuatu yang nyata.

Berbicara tentang Jumprit misalnya, yang tertangkap di sana justru adalah keberadaan Begawan Abiyoso, dan beliau memberi sebuah pesan agar jika suatu saat nanti saya berkesempatan menjadi pejabat publik, maka saya harus bisa berlaku sebagai satria pinandhito. Di Candi Gedong Songo, keberadaan Anoman, sosok kera putih sakti mandraguna yang membantu Rama dalam kisah Ramayana, juga nyata. Secara visual bisa digambarkan bahwa Anoman adalah sosok manusia kera yang bertubuh besar dengan bulu putih. Sebagaimana Anoman bisa ditemui, demikian pula Prabu Rama, yang salah satu tempat jumenengnya adalah Gunung Srandil, sementara mahkota beliau disimpan di Gunung Arjuna.

Kesimpulan sementara saya, tokoh-tokoh pewayangan sejatinya adalah para leluhur juga yang dulu pernah hidup di kawasan bernama Nusantara – mirip dengan kesimpulan dari rekan-rekan di Yayasan Turangga Seta, maupun pernyataan sesepuh seperti Sang Purbajati.

Tentu saja, terkait dengan hal ini, kita perlu cerdas menangkap maknanya: saya tidak bermaksud mengajak Anda tenggelam dalam dunia yang susah dipahami tanpa kegunaan praktis. Sebagai pejalan spiritual yang berorientasi memperkuat kemampuan diri agar makin berdaya dalam melaksanakan upaya hamemayu hayuning bawono, keberadaan figur-figur bathin tersebut memang diperlukan. Jika beliau-beliau berkenan untuk mendampingi dan membantu kita, maka secara faktual, kita akan memiliki tambahan kebijaksanaan dan power/energi yang bisa menopang kiprah dan peran kita di dunia wadag.

Mengakhiri tulisan ini, saya ingin menyatakan sebuah konsepsi yang saya pegang dalam menuju kesempurnaan hidup. Saya mencoba mensinergikan kultivasi vertikal dan horizontal: di satu sisi saya coba terus menyelam ke dalam diri hingga bertemu sukma sejati saya; dan sisi lain, saya coba membangun harmoni, kolaborasi, kemitraan, dengan segenap titah urip di alam semesta baik yang bersifat wadag maupun halus. Berdasarkan konsepsi ini, maka perjalanan spiritual saya ke berbagai tempat sakral, merupakan wahana bagi saya untuk “berkenalan”, “menyambung rasa”, atau “silaturrahmi” dengan para leluhur dan para titah urip yang mbahu rekso di tempat-tempat tersebut, di samping sebagai upaya untuk makin mengenali sejatinya diri.
Dalam tataran bathin, mereka yang waskito memang bisa menyaksikan misalnya, di Gunung Ciremai jumeneng Ki Antaboga yang berbadan raksasa dan Naga Putih berukuran besar, yang bertugas mengelola tempat tersebut. Maka, sebagai upaya membangun keterhubungan dan membuka kemungkinan kemitraan dengan beliau-beliau, saya sering meditasi khusus dengan lokus Gunung Ciremai. Muara dari semua ini laku ini, adalah terbangunnya hubungan harmonis antara manusia tidak hanya dengan sesame manusia, tapi juga dengan alam semesta dan segenap titah urip yang ada di dalamnya. Harmoni inilah yang menjadi dasar terciptanya kesetimbangan alam, dan kesetimbangan alam yang menjadi pangkal kesejahteraan dan kemakmuran umat manusia.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Mohon maaf atas segala kekurangan, termasuk jika ada yang keliru pada apa yang saya tulis. Saya selalu berupaya mengembangkan kesadaran, bahwa jika sudah menyangkut fenomena spiritual/supranatural, kebenaran yang diungkapkan siapapun, pada dasarnya bersifat subyektif. Karena itu, ia tak bisa dipaksakan untuk diterima siapapun; kita hanya bisa berbagi dengan harapan pihak lain mendapatkan inspirasi, tanpa tendensi untuk dibenarkan apalagi diikuti secara membabi buta.

Rahayu. Rahayu. Rahayu.

PERJALANAN MENEMUKAN JATIDIRI (BAGIAN II)

NGANGSU KAWRUH DARI KANG SABDALANGIT
Sore hari, usai dari agenda di Kota Gede, saya ke rumah Kang Sabdalangit dan Bu Untari, yang dalam beberapa tahun terakhir ini, menjadi salah satu tempat saya bertanya tentang ilmu kehidupan. Rumah ini telah menjadi seperti rumah sendiri setiap saya ke Jogja..tentu saja karena Kang Sabdalangit dan Bu Untari, sebagaimana Mbah Gatho, memberikan sambutan dan keramahtamahan kelas 1….

Hari itu adalah hari terakhir di tahun 2011, tengah malam nanti tahun akan berganti menjadi 2012. Dan saya bertekad, untuk mendapatkan sesuatu yang menguatkan bathin dan meneguhkan langkah saya ke depan….

Di luar diskusi tentang beberapa perkembangan keseharian, menjelang tengah malam, saya dan Kang Sabdalangit terlibat dalam diskusi serius seputar makna MENGENAL JATIDIRI. Dan ijinkan saya membagi paparan Kang Sabdalangit tentang makna MENGENAL JATIDIRI. Tentu saja, sebatas yang bisa saya tangkap, dan saya sajikan dengan bahasa saya.

Seseorang yang mengenal jatidiri, adalah seseorang yang telah mengetahui tentang apa sejatinya manusia dan apa dimensi-dimensi dari seorang manusia, darimana asalnya dan kemana ia akan menuju, apa hubungan antara diri manusia dengan semesta dan penghuni lain di dalamnya, apa arti hidup yang dijalani sang diri, dan bagaimana bisa menjalani hidup yang sejati. Tentu saja, pengetahuan itu tak berhenti sebatas menjadi pengetahuan, melainkan menjadi satu kesadaran yang hidup di dalam diri dan termanifestasi dalam perilaku yang sesuai dengan kesadaran tersebut.

Menelisik ke dalam diri kita, kita akan menemukan gambaran titah urip dengan konfigurasi dan struktur yang kompleks. Di dalam diri kita, terdapat SANG AKU yang menyadari keberadaannya, dan SANG AKU ini terbungkus oleh badan yang berlapis-lapis, dengan segala instrumennya. Dengan keadaan inilah SANG AKU dikenali sebagai manusia yang hidup di muka bumi.

Pada lapis terluarnya, SANG AKU memiliki badan fisik atau badan ragawi, yang dilengkapi panca indera. Dengan panca indera inilah SANG AKU berhubungan dengan semesta dan segenap penghuni di dalamnya. Masih dalam lingkup dimensi ragawinya, SANG AKU memiliki otak yang menjadi perangkat berpikir, dan hawa nafsu atau rahsaning karep yang menjadi daya dorong untuk tetap hidup dalam dunia fisik.
Di balik dimensi ragawinya, SANG AKU memiliki dimensi ruhani atau spiritual, yang pada lapis terluarnya membentuk sebuah entitas halus bernama sukma. Di balik sukma tersebut terdapat rahsa sejati, dan sukma sejati yang merupakan guru sejati manusia, dan di balik itu, bersembunyilah esensi terdalam manusia yang merupakan manifestasi dari Gusti Ingkang Murbeng Dumadi.

Jembatan penghubung atau tali perekat antara dimensi ragawi dan dimensi ruhani manusia adalah apa yang disebut dengan nyawa. Keberadaan nyawalah yang menjadi penanda manusia masih memiliki dimensi ragawi yang hidup sehingga bisa menjalankan kegiatannya di muka bumi sebagai titah urip yang wadag. Dan keberadaan nyawa ini sangat tergantung pada kondisi raga, ketika raga rusak pada organ-organ vitalnya, nyawapun sirna. Ketika nyawa ini tiada, berpisahlah sukma dengan raganya yang segera akan mengalami proses pembusukan hingga hancur melebur dengan bumi yang menjadi asalnya. Dan sukma memasuki dimensi kehidupan yang lain.

Kualitas seorang manusia, ditentukan pada dimensi mana lokus kesadarannya berada. Manusia yang laksana hewan, lokus kesadarannya terletak pada lapis luar dimensi ragawinya, dengan hawa nafsu sebagai pendorong utama apa yang dipikirkan dan apa yang dilakukan. Manusia yang lebih tinggi derajatnya, memiliki lokus kesadaran pada pikirannya. Dan yang lebih tinggi lagi derajatnya, adalah manusia yang lokus kesadarannya terletak pada dimensi ruhaninya: hidupnya dibimbing oleh rahsa sejatinya, atau lebih tinggi lagi, dibimbing oleh sukma sejati/guru sejatinya yang telah bisa ditemui.

Seseorang yang telah mengenal lapisan demi lapisan keberadaan dirinya, akan memiliki kejelasan arah dalam menuju kesempurnaan. Setiap dimensi diri bisa diolah agar mencapai atau setidaknya mendekati titik kesempurnaan. Untuk mencapai kondisi raga yang optimal, kita bisa mengolah raga kita dengan berbagai cara; kegiatan ini yang disebut dengan OLAH RAGA. Untuk mengembangkan kemampuan berpikir kita, kita belajar tentang filsafat dan sains – secara sederhana ini bisa kita sebut dengan OLAH PIKIR. Jika kita sadar bahwa ternyata otak juga mengandung kekuatan bawah sadar, kita bisa mengolahnya melalui berbagai metode pembangkitan kekuatan bawah sadar. Kita juga bisa melakukan OLAH NAFAS untuk membangkitkan tenaga dalam yang ada di dalam tubuh setiap orang secara potensial. Namun, sampai pada titik ini, yang kita kembangkan barulah dimensi ragawi dari seorang manusia.

Jika kita ingin lebih dalam mengembangkan potensi diri manusia, yang kita lakukan adalah OLAH BATHIN. Sehingga kita memiliki kesadaran yang berlokus pada rahsa sejati atau sukma sejati, sekaligus memiliki KEKUATAN BATHIN yang bisa melampaui segenap kekuatan ragawi.

Jika kita ingin menemukan model faktual sosok manusia yang terbukti mengolah semua dimensi dirinya, salah satu yang bisa saya rekomendasikan adalah Kang Sabdalangit, karena memang Kang Sabdalangit yang saya kenal adalah seorang pendekar silat, seorang pemikir, sekaligus praktisi kebathinan…..…(ngapunten Kang, saya punya bakat ‘nyaloin’, jadi suka promosi….he, he, he).

Seseorang yang secara konsisten menjalankan proses ngangsu kawruh dan laku bathin, akan sampai pada kesadaran tentang DZAT KANG URIP (Hidup) dan NGURIPKE (Menghidupkan) di dalam diri kita. Inilah yang disebut dengan GUSTI (Baguse ning Ati). Karena itulah, seseorang yang menekuni spiritualitas Jawa, biasanya akan sadar bahwa mencari Tuhan itu tidak perlu kemana-mana, karena Dia ada di dalam diri. Itu sejalan dengan apa yang disabdakan oleh filsuf Yunani, Socrates, bahwa barangsiapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya – istilah inilah yang kemudian diadopsi ke dalam khazanah tasawuf menjadi man arofa nafsahu faqod arofa robbahu.

Manifestasi kesadaran bahwa di dalam diri kita ada Dzat yang Urip dan Nguripke diri kita, adalah komitmen kita untuk Nguripi (Menghidupi) sesama, melalui mekanisme hamemayu hayuning pribadi, hamemayu hayuning bebrayan, dan hamemayu hayuning bawono.
Dari gambaran di atas, kita juga bisa menangkap bahwa sejatinya asal muasal kita pada dasarnya adalah DZAT MAHA HIDUP yang menghidupkan diri kita sekaligus menjadi dasar kehidupan semesta. Diri kita dan keseluruhan elemen semesta adalah manifestasi dari DZAT YANG MAHA HIDUP ini. DZAT MAHA HIDUP inilah yang dipanggil dengan nama berbeda-beda oleh berbagai agama dan tradisi spiritual: GUSTI, HYANG WIDI, ALLAH, ELOHIM, CAUSA PRIMA, dan semacamnya. Perbedaan orang per orang atau kelompok demi kelompok, adalah dalam memahami lebih jelas bagaimana sebetulnya keberadaan DZAT YANG MAHA HIDUP DAN MENGHIDUPKAN ini. Sebagian pihak memandangnya sebagai satu sosok, sebagai sebuah pribadi yang dilabeli berbagai sifat, yang dibayangkan berada nun jauh di luar diri kita. Ada yang kemudian menyimbolkannya dalam bentuk-bentuk terinderai, ada pula yang bersikukuh dalam tataran konseptual semata: Tuhan dihadirkan dalam bentuk konstruksi pikiran/imaji. Dalam kajian filsafat ketuhanan, mereka yang seperti ini, disebut kaum transendentalis. Lepas dari benar atau salahnya pemahaman ini, ia mengindikasikan kesadaran manusia akan keberadaan DZAT YANG MENGHIDUPKAN dirinya. Dan yang terpenting adalah bagaimana umat manusia yang menyadari Tuhan secara transenden ini bisa berlaku baik sesuai pemahaman mereka akan “KEHENDAK DZAT YANG MAHA HIDUP DAN MENGHIDUPKAN” tersebut.
Sementara itu, sebagian pihak lainnya memahami keberadaan DZAT MAHA HIDUP DAN MENGHIDUPKAN itu tidak dalam bentuk sosok atau pribadi: IA disadari sebagai sosok tan kena kinira tan kena kinaya ngapa, tanpo pangenan tanpo panggonan, (KEBERADAAN yang tidak bisa dibayangkan dan dikira-kira, yang tidak memiliki batasan ruang dan waktu), sehingga IA tak bisa dipersepsi pikiran bentuk, rupa dan sifatnya. Lebih jauh, kelompok yang dalam kajian filsafat ketuhanan disebut kaum imanen ini memahami Tuhan sebagai Yang Serba Meliputi, Yang jejak keberadaan-Nya ada di dalam diri sekaligus di luar diri, tetapi tidak bisa disebutkan IA ada di mana karena memang keberadaan-Nya tidak bisa dibatasi. Tetapi, walau disadari bahwa DZAT YANG MAHA HIDUP DAN MENGHIDUPKAN ini tidak bisa disebutkan tempat spesifik keberadaan-Nya, kaum imanen mengembangkan kesadaran bahwa jalan untuk berjumpa dengan-Nya adalah dengan menyelam ke dalam diri, karena di dalam diri inilah terdapat manifestasi-Nya yang paling agung.
Sebagian pihak lainnya dengan tegas menyangkal konsepsi ketuhanan dari kaum beragama yang cenderung menempatkan Tuhan sebagai sebuah sosok, karena mereka menyadari bahwa yang demikian itu memang tidak ada. Pada konteks inilah Mbah Gatho sering mengatakan TUHAN ITU TIDAK ADA. Dan mereka yang berada di luar tradisi kaum beragama ini melabeli KEBERADAAN YANG HIDUP DAN MENGHIDUPKAN, dan menjadi sebab primer dari semua keberadaan lainnya, yang bersifat melingkupi segalanya, sebagai ALAM SEMESTA atau THE UNIVERSE. Dan kalau direnungkan dengan dalam, sebetulnya sifat dari The Universe ini mirip dengan sifat Tuhannya kaum imanen: IA TAK TERBATASI RUANG DAN WAKTU. Lebih jelasnya, tak ada batas buat alam semesta dari segi ruang karena setiap batas yang ada hanyalah batas dari pandangan kita, di balik itu masih ada ruang yang bisa disebut bagian dari alam semesta. Demikian pula, dari segi waktu, ALAM SEMESTA itu tidak pernah tidak ada, sejak dulu ia ada dan akan selalu ada. Ini harus dibedakan dengan unsur-unsur alam semesta seperti bumi, matahari, dan semacamnya yang punya batasan ruang dan waktu sehingga bisa didefinisikan dan bisa diinderai (walau kadang harus dengan alat bantu).
Issue berikut yang menarik untuk dibahas adalah, bagaimana sebetulnya sifat kehidupan manusia: apakah kehidupan manusia di muka bumi ini adalah kehidupan satu-satunya bagi SANG AKU; lalu, setelah SANG AKU yang berbungkus badan sukma berpisah dengan sang raga, apa yang akan terjadi dengannya? Menyangkut issue ini, setidaknya ada tiga pandangan: pertama, pandangan bahwa hidup di muka bumi hanya punya sekali siklus sebagaimana pandangan mayoritas agamawan Islam dan Kristen; kedua, pandangan kaum agamawan Budha, Hindu, dan sebagian penghayat tradisi spiritual Jawa/Nusantara bahwa hidup di muka bumi punya siklus tak terbatas melalui sistem reinkarnasi atau tumimbal lahir; dan ketiga, pandangan sesepuh Kejawen bahwa hidup ini terus berkelanjutan, kita hanya berganti baju dan dimensi hidup – sekalipun ada kemungkinan secara terbatas kita kembali ke dunia ini untuk menebus sebuah kesalahan.

Manakah yang benar dari ketiga pandangan tersebut? Semua kembali kepada kesadaran yang berakar pada pengetahuan dan pengalaman kita masing-masing. Dalam tulisan ini, saya hanya ingin menjelaskan ketiga pandangan di atas secara lebih jelas, supaya kita punya perbandingan dan bisa memilih secara lebih akurat mana pandangan yang cocok bagi kita.

Dalam tradisi mayoritas agamawan Islam dan Kristen, hidup di muka bumi ini dinyatakan hanya satu kali – setelah kematian/perpisahan raga dan sukma, seseorang akan punya pilihan nasib: berada di surga atau neraka tanpa ada kemungkinan kembali ke muka bumi. Penentu semua ini, adalah Iman, dan atau kualitas perbuatan seseorang. Dalam Islam, pada umumnya diyakini, bahwa seseorang yang telah meninggal, terlebih dahulu berada di alam kubur/alam barzakh, sambil menunggu Kiamat dan Hari Pengadilan setelahnya, untuk kemudian mendapatkan vonis surga atau neraka. Karena Iman menjadi penentu, maka pada tradisi Islam dan Kristen dikenal istilah orang beriman dan orang kafir: yang pertama adalah calon penghuni surga, yang terakhir adalah calon penghuni neraka.

Sementara dalam tradisi Hindu, Budha dan sebagian penghayat agama lokal di Nusantara, reinkarnasi atau peristiwa tumimbal lahir berjalan melalui prinsip darma dan karma. Sebelum seseorang benar-benar mencapai taraf moksa atau bisa mencapai nirwana karena sudah bisa lepas dari seluruh kemelekatan sehingga tak menanggung karma setitikpun, ia harus kembali ke dunia untuk membayar hutang-hutang (karma) dan menjalankan kebajikan (darma) yang tertunda. Berdasarkan prinsip ini, maka siapapun kita, yang memiliki kehidupan pada saat ini, pasti di masa lalu telah memiliki kehidupan pula. Kita hanya berganti raga, dengan sukma atau jiwa yang sama. Sukma telah ada sebelum pertemuan ibu dan bapak, bahkan ia memilih ibu dan bapak itu sesuai skenario hidup yang harus dijalani. Dan kualitas kehidupan kita pada saat ini, ditentukan oleh apa yang kita lakukan di masa lalu. Maka, orang-orang yang pada masa kini menanggung derita dalam berbagai bentuknya, sejatinya tengah membayar hutang karma yang diperbuat di masa lalu. Lepas dari benar dan salahnya konsep ini, ia memang lebih bisa menjelaskan tentang makna keadilan ketika kita melihat manusia yang sejak lahirnya telah menderita, baik menderita cacat atau mengalami peristiwa yang buruk. Dengan mudah kita mengatakan, bahwa itu adalah buah dari perbuatannya selama kehidupan di masa lalu.

Sementara berdasarkan pandangan yang ketiga, sukma itu sejatinya baru dibentuk melalui pertemuan ibu dan bapak. Ia hadir ke dunia, sesuai dengan warisan genetik yang diterimanya. Sehingga bakat, karakter, dan peristiwa yang dialami dalam hidup, sangat ditentukan oleh apa yang diturunkan oleh orang tua/garis keturunan sebelumnya. Berdasarkan konsep ini, ada pribadi-pribadi tertentu yang harus menanggung akibat dari kesalahan orang tuanya; lepas dari itu layak disebut adil atau tidak, dengan kondisi buruk akibat kesalahan orang tuanya, pribadi seperti itu punya kesempatan hidup mulia dengan menanggung dan membayar kesalahan yang diperbuat orang tuanya melalui sikap hidup nrimo ing pandum. Berdasarkan konsep ini pula, nasib seseorang setelah sukma berpisah dengan raga, sangat tergantung pada bagaimana seseorang menjalani hidup saat ini. Jika seseorang gagal untuk menjalani urip kang sejati, hingga pada taraf berbuat kesalahan yang sangat fatal, maka ia punya kemungkinan untuk kembali ke dunia dan menempati raga binatang. Dan binatang yang dimasuki raganya ini tergantung pada tingkat kesalahan yang dilakukan; semakin besar kesalahan, semakin ‘hina’ raga binatang yang dimasuki. Hanya orang yang memenuhi ‘standar’ perilaku hidup yang benar yang bisa melanjutkan kehidupan di alam berikut yang lebih sejati.

Mereka yang perilakunya pas-pasan, walau terbilang lulus masuk ke kehidupan berikutnya, di sana akan menempati strata rendah, tanpa memiliki banyak otoritas dan kekuatan – termasuk dalam menolong anak keturunannya. Sementara mereka yang berhasil menjalani urip kang sejati, akan masuk ke alam kamulyan, alam kamulyan sejati, dan seterusnya, dan dianugerahi otoritas dan kekuatan tertentu. Berdasarkan konsepsi inilah kita bisa memahami makna leluhur yang bisa menolong anak cucunya melalui mekanisme ngampingi, njangkung dan semacamnya. Para leluhur yang hidup di alam kamulyan, alam kamulyan sejati dan seterusnya, punya energi yang memadai untuk berinteraksi dengan dunia wadag dan memberi pengaruh tertentu. Berdasarkan pandangan yang ketiga ini, juga bisa dijelaskan bahwa orang-orang yang punya kesalahan tertentu tapi tak terlalu fatal, tidak kembali ke dunia dengan memasuki raga binatang, tapi juga belum bisa melanjutkan perjalanan. Mereka tersangkut di dunia halus yang tergolong rendah, dengan menjadi kuntilanak, pocong, dan sebangsa – itu adalah bagian dari proses penebusan kesalahan mereka.

Saya pribadi, sejujurnya, belum bisa menentukan mana konsep yang benar: saya masih membutuhkan banyak pengalaman untuk bisa menentukan kebenaran dalam kasus ini. Yang pasti, kesamaan dari ketiga pandangan itu adalah hidup ini terus berjalan, dan apa yang kita terima di masa mendatang tergantung pada apa yang kita lakukan pada masa kini. Sesepuh bilang, hidup ini pada dasarnya berjalan berdasarkan prinsip ngunduh wohing pekerti (memetik buah prilaku kita sendiri). Lebih dari itu, pada dasarnya kita sedang berjalan dari asal muasal kehidupan menuju muara kehidupan yang sebetulnya SAMA– itulah yang disebut dengan sangkan paraning dumadi.

PERJALANAN MENEMUKAN JATIDIRI (BAGIAN I)

PERJALANANAN MENEMUKAN JATIDIRI
Menjelang tahun 2011 berakhir, kuat sekali dorongan untuk menjejaki beberapa tempat beraura magis di Jawa Tengah dan Jogja, lalu tenggelam dalam pesona spiritual di sana. Ada hasrat menggelegak: saya ingin menyempurnakan laku prihatin sepanjang 2011 agar punya kesiapan dalam menghadapi 2012. Dasarnya adalah kesadaran reflektif: walau telah cukup panjang proses untuk menggembleng diri melalui pembelajaran dari beberapa sesepuh/guru dan perjalanan spiritual ke berbagai tempat sakral di Nusantara – termasuk 2 minggu sebelumnya saya ke Gunung Srandil dan Gunung Selok (Jambe Lima dan Jampe Tujuh) di Cilacap, tetap saya “merasa belum apa-apa”. Pencapaian saya masihlah belum seberapa: bahkan saya belum sepenuhnya mengenal siapa sesungguhnya diri saya dan peran yang harus saya jalani di muka bumi.

Untuk menghadapi 2012 yang dalam pemahaman saya akan menjadi tahun penuh dinamika bahkan kejutan, kesadaran yang kukuh akan DIRI SEJATI merupakan suatu keharusan. Itu yang menjadi fondasi untuk bisa menjalankan peran dan kiprah terbaik di tahun 2012. Itu pula yang bisa menjadi semacam garansi agar hidup tetap dalam kendali; dan kehendak akan gesang ayem tentrem bisa diraih.

DIALEKTIKA DENGAN MBAH GATHO
Setelah menyelesaikan satu urusan pekerjaan di Jogja, saat itu sudah mulai malam, saya bertemu dengan Mbah Gatholoyo yang berbaik hati menjemput saya di sekitar Gedung Wanitatama Jogjakarta. Mbah Gatho adalah sesepuh yang aktif terlibat dalam diskusi di Grup Debat Agama dan Budaya yang saya dirikan bersama beberapa teman. Sudah lama saya ingin bertemu Mbah Gatho, tapi baru kali ini keinginan itu terpenuhi. Saya diajak Mbah Gatho menyusuri beberapa ruas jalan di Jogja yang mulai gelap dan diguyur hujan menuju tempat kediamannya di Dusun Gathak Desa Turi Sleman. Kurang lebih 30 menit perjalanan, sampailah saya di rumah Mbah Gatho: sebuah rumah di pedesaan, dengan pekarangan yang luas, dan dalam gelap, keasrian rumah Mbah Gatho tampak terbayang.

Satu hal yang ingin saya sampaikan: kunjungan ke rumah Mbah Gatho sungguh sangat mengesankan. Saya mendapatkan sambutan dan keramahtamahan kelas 1! Rumah Mbah Gatho yang sejatinya ada di kaki Gunung Merapi yang dingin, terasa member kehangatan dalam jiwa saya. Sajian makan malam yang nikmat, air panas untuk mandi, buah salak dan manggis, pisang goreng, dan teh manis, yang disuguhkan Mbah Putri istri Mbah Gatho adalah sesuatu yang tak terlupakan. Itu adalah semacam pengantar untuk diskusi yang juga tak terlupakan!

Secara ringkas bisa saya katakan, bahwa diskusi dengan Mbah Gatho membawa saya pada sebuah refleksi mendalam tentang pandangan kehidupan saya selama ini. Dialog dengan Mbah Gatho seputar keberadaan Atma manusia, karakternya, cara berkultivasi, dan berbagai hal terkait, sejujurnya cukup mengguncang. Mengapa? Karena dalam beberapa hal, Mbah Gatho berbeda dengan saya, saya berbeda dengan Mbah Gatho..dan saya terkesima oleh ketenangan Mbah Gatho, sehingga mulai berpikir sayalah yang keliru.

Sejauh ini, proses kultivasi atau pertumbuhan spiritual yang saya jalankan, coba mengharmonikan antara perjalanan menemukan esensi jagad cilik dengan upaya membangun relasi yang baik dengan berbagai unsur jagad ageng, termasuk yang ada di dimensi non-fisik, seperti para leluhur. Itu yang menjadi dasar, mengapa saya selain sering bermeditasi sumeleh total untuk merasakan hening dan menghayati keberadaan jiwa terdalam, saya sering berkelana ker berbagai petilasan leluhur. Yang saya saksikan, Mbah Gatho bisa mencapai tingkat ketenangan dan kebijaksanaan yang layak saya kagumi justru dengan pendekatan berbeda: Mbah Gatho lebih fokus pada meditasi sumeleh pasrah total di rumah tanpa pergi kemana-mana. Mbah Gatho menapak naik dalam perjalanan spiritual melalui metode yang menurut Mbah Gatho anti-kemelekatan pada apapun: hidup sewajarnya, tanpa perlu banyak direpotkan bersentuhan dengan dimensi lain.

Dengan pendekatan itu Mbah Gatho bertemu dengan Diri Sejati/Atma, dan hidup senantiasa dalam bimbingan Diri Sejati/Atma itu. Itu yang menjadi pangkal kedamaian dan kemuliaan hidup.

He..he..he….di satu sisi saya tergoda untuk mengikuti Mbah Gatho. Tetapi di sisi lain, saya begitu “mencintai” jalan atau metode yang telah saya pilih. Karena dalam prosesnya pun saya menemukan banyak kenikmatan. Saya harus bagaimana?
Inilah sebuah dialektika internal di dalam bathin yang menjadi “oleh-oleh” saya saat meninggalkan rumah Mbah Gatho pada keesokan harinya. Matur sembah nuwun Mbah Gatho……!

NGADEM DI KOTAGEDE
“Oleh-oleh” dari Mbah Gatho mendorong saya untuk berpikir keras, mengevaluasi semua hal yang saya lakukan, dan pada akhirnya, membuat saya linglung, karena tak kuasa mengelola bimbang yang kuat menyeruak. Dalam situasi seperti ini, saya tergerak untuk ke Kotagede, komplek Makam Raja-raja Mataram: untuk menemukan jawab yang mengatasi semua bimbang. Hari itu hari Sabtu. Sesungguhnya merupakan hari libur untuk kunjungan. Tapi karena saya tergolong “langganan” berkunjung ke tempat itu, saya mendapatkan ijin dari abdi dalem penjaga untuk masuk ke ruang utama komplek makam. Bagi saya, ada suatu kemendesakan untuk bisa mendapatkan jawaban: terlebih saat itu bertepatan dengan weton saya, Sabtu Pon. Dan duduk bersimpuh di makam leluhur, bagi saya merupakan cara mencari jawaban yang tepat.

Tapi, kali ini menjadi momen sowan ke leluhur di Kotagede dengan suasana bathin yang berbeda. Saya seperti tak punya pijakan; raga saya ada di komplek makam, tapi energi hidup saya entah sedang pergi ke mana. Ya…saya selesaikan proses sowan ke leluhur, mulai dari Ki Ageng Pemanahan, Panembahan Senopati hingga Ki Ageng Mangir. Tapi, keluar dari situ, saya tetap dalam sebuah pertanyaan tak berjawab: saya tak tahu mesti bagaimana……

Digerakkan oleh rasa gelisah, saya menuju Sendang di komplek makam di situ, mandi di situ, mengguyur seluruh tubuh 9 kali, dengan harapan memiliki energi baru untuk bisa berdiri kokoh dengan sebuah sikap hidup yang jelas, termasuk dalam hal sikap berspiritual. Setelah itu, saya duduk bermeditasi di salah satu gazebo: tenggelam dalam hening, pasrah……

Proses meditasi dan mandi di sendang ini yang membuat saya relatif terpulihkan. Kegelisahan yang berlebihan, terkikis perlahan-lahan, dan saya kembali dalam situasi tenang untuk melanjutkan perjalanan menemukan jawaban atas pertanyaan yang muncul, termasuk untuk menemukan JATIDIRI. Satu hal: saya mulai muncul kesadaran untuk tetap menekuni jalan yang sudah saya tempuh. Tak ada yang salah dengan itu. Setidaknya untuk saya, itulah jalan terbaik pada saat ini…….