Kamis, 03 Januari 2013

PERJALANAN PEMBUKA DI 2013


Pasca pelaksanaan Spiritual Odyssey Trip 2 pada tanggal 15-16 Desember 2012, saya memasuki fase kehidupan yang dalam beberapa hal, sulit saya pahami. Setelah mengalami beberapa peristiwa simbolik yang menunjukkan pencapaian kemajuan spiritual, antara lain hadirnya sepasang burung puter berwarna putih ketika saya manekung di Parangkusumo, beberapa saat kemudian, saya seperti tak kenal diri saya sendiri. Ada satu gejolak jiwa yang tak kuasa saya tolak, dan sempat menghempaskan diri ini ke titik nadir. Ibaratnya, setelah menikmati indahnya menggapai sebuah puncak pendakian spiritual, saya harus merasakan bagaimana pedihnya ketika terjatuh ke lembah kegelapan.

Tampaknya, dinamika semesta berimbas pada jagad alit saya. Semesta yang tengah bergolak di penghujung 2012 - sebagai bagian dari pergantian sebuah siklus sekaligus sebagai mekanisme penyaringan bagi para pejalan spiritual - berdampak pada letupan-letupan emosi yang sulit terkendali. Ya, jangankan dikendalikan, dipahami saja sulit. Padahal, sepanjang bulan Suro yang dikenal juga sebagai Suro Pambuko (Yang jatuh pada pertengahan Bulan November - pertengahan Desember 2012), saya terus melakukan proses kultivasi spiritual atau laku prihatin, dengan mengunjungi dan bermeditasi di tempat-tempat yang sakral, antara lain Astana Nayu Solo tempat sumare KGPAA Mangkunegara VI, pesarean Eyang Ronggowarsito di Klaten, Astana Mangadeg dan Astana Girilayu Karanganyar tempat sumarenya raja-raja Mangkunegara kecuali KGPAA Mangkunegara VI, Petilasan Cibulan Kuningan, juga Gunung Tidar Magelang yang saya anggap sebagai "rumah spiritual" saya, bahkan Pura Parahyangan Agung Jagad Karta di Gunung Salak Bogor.

Beruntunglah, selalu ada momen kebangkitan. Saat saya mencapai titik lelah luar biasa akibat Bharata Yudha di dalam diri, saya digerakkan untuk berkunjung ke seorang teman yang tinggal di Desa Kliwed di Indramayu. Saat itu, setelah saya menempuh perjalanan yang diiringi hujan dengan naik bus berlanjut dengan jalan kaki, tanpa saya mengerti juga, semua beban berat, juga rasa lelah, dan keruwetan pikir, mulai sirna. Setidaknya berkurang kadarnya dengan sangat drastis. Dan dalam waktu dua minggu setelah peristiwa kunjungan ke Kliwed itu, saya menapaki tahap demi tahap proses menanjak untuk kembali pada kondisi kejiwaan yang relatif stabil. Dan memasuki 2013, saya sungguh bersyukur, karena bisa menggapai beberapa momen pencerahan bathin dan pembelajaran tentang penemuan kesejatian hidup yang sangat berharga.

Salah satu yang saya anggap penting, adalah munculnya kesadaran dan kemampuan untuk tidak (terlalu) terpengaruh oleh pengaruh-pengaruh emosi dari luar diri. Kita, sesungguhnya tidak bisa mengendalikan apa yang diperbuat orang lain, tetapi kita bisa mengendalikan bagaimana tindakan kita terhadap orang lain, juga bagaimana respon kita terhadap ekspresi emosi orang lain. Salah satu kunci untuk mencapai ketenteraman dan harmoni adalah bersikap tenang tak peduli bagaimana tindakan orang lain dan ekspresi emosi mereka terhadap kita. Pertengkaran, termasuk dalam rumah tangga, terjadi karena ada dua pihak yang memang siap bertengkar dan masing-masing tak bisamengendalikan emosi. Manakala salah satu pihak menerapkan sikap "tidak melawan", dan berupaya untuk "tenang", tak akan ada pertengkaran. Bara api amarah, letupan kecewa, dan semua ekspresi emosional dari pihak lain, akan teredam dengan sendirinya oleh sikap tenang dan sikap kasih tak berpamrih. Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti, demikian sesepuh Jawa mengajarkan soal hal ini.

Lebih jauh, ada perbincangan-perbincangan dengan sesepuh yang menguakkan kesadaran saya akan kunci-kunci kedamaian yang konstan, antara lain dengan Pak Fx. Kamari yang menghayati Kawruh Jiwo yang diajarkan Ki Ageng Suryamentaram, Mas Paulus Bambang Susetyo yang konsisten membimbing saya untuk terus terhubung dengan Hyang Yaktining Hurip yang termanifestasikan dan bersemayam dalam inti rasa. Perbincangan-perbincangan tersebut membawa saya mengerti tentang ngelmu samudera: tepatnya, ngelmu samudera yang tengah berada dalam keadaan tenang total, tidak terusik oleh apapun.

Momen lain yang saya syukuri, adalah momen ketika saya merasakan kebahagiaan yang meluap di dalam diri, tanpa ada sebab eksternal apapun. Seolah-olah, ada kasih yang membanjir dari kedalaman diri, menebar kehangatan ke seluruh simpul emosi, dan lalu kasih itu mengalir ke luar, dengan sadar saya alirkan kepada semua titah gesang yang ada di sekitar saya. Tampaknya, ini adalah buah yang mulai saya petik dari semedi yang intensif dengan mengacu pada patrap di dalam naskah LOSOBOHONO DJOJOBOJO.

Saya pribadi, menerapkan patrap-patrap tersebut sesuai dengan filosofi yang saya bisa tangkap. Patrap pertama, tangan kiri membuka ke atas di puser dan tangan kanan seperti menyembah dengan menempel di uluhati (di atas tangan kiri), saya orientasikan untuk ngawruhi sejatine ingsun, lan manunggal kaliyan hyang yaktining hurip ing badan ingsun. Patrap kedua yang mirip dengan posisi diyana mudra, tangan kanan dan tangan kiri sama2 membuka ke atas di posisi pusar, saya orientasikan untuk ngawruhi lan manunggal kaliyan sedulur papat. Patrap ketiga, tangan kanan menyentuh dada kiri menyilang di atas tangan kiri, saya orientasikan untuk nyampurnaake kahanan ingsun ing madyapada. Dan patrap keempat, kedua tangan membuka dan diletakkan di atas paha, saya orientasikan untuk ngawruhi sejatining urip, lan manunggalaken jagad alit lan jagad ageng.

Lewat patrap-patrap tersebut saya menikmati keheningan, dan menghayati momen penyatuan dengan sang diri sejati.


Perjalanan ke Puncak Suroloyo



Pada tanggal 1 Janiari 2013, setelah sebelumnya lek-lekan menyambut malam tahun baru yang bertepatan dengan malam Selasa Kliwon di rumah Ki Sabdalangit, saya berkunjung ke Puncak Suroloyo, bersama Pak Purwanto. Puncak Suroloyo berada Pegunungan Menoreh yang berada pada ketinggian 1.091 meter di atas permukaan laut. Dari Wijilan, mempergunakan sepeda motor, saya dan Pak Purwanto yang rumahnya juga di Kulonprogo, mengambil rute Jalan Godean - Sentolo - Kalibawang hingga kemudian sampai ke Puncak Suroloyo yang terletak di Dusun Keceme, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo.

Saat itu, hari telah memasuki sore dan hujan mulai turun. Kami mesti menyusuri jalan berkelak kelok dengan tanjakan yang tajam. Untung saja, sebagian besar jalan baru saja diperbaiki sehingga aspalnya cukup mulus. Hanya beberapa ruas jalan yang berlubang karena belum mendapat sentuhan perbaikan, membuat kita harus berhati-hati agar tidak tergelincir. Kita juga harus sangat berhati-hati karena beberapa ruas jalan, berbatasan langsung dengan jurang atau lembah yang cukup dalam.

Saat saya dan Pak Purwanto melintasi jalan tersebut, pas ada kecelakaan, saat sebuah mobil VW Combi berpenumpang 7 orang yang telah mencapai puncak dan dalam perjalanan pulang, nyungsep ke salah satu lembah. Untung saja, tak ada yang sampai meninggal dunia.

Kami tiba di Puncak Suroloyo sekitar pukul 15.30. Untuk menunggu waktu berganti hari (dalam hitungan Jawa), kami duduk-duduk dulu di warung Pak Marjo, salah satu tokoh desa yang peduli dengan keberadaan Puncak Suroloyo sebagai tempat wisata dan tempat manembah. Saya sendiri menyeruput wedang susu dan menikmati tahu goreng hangat. Melakukan hal sederhana tersebut, di suasana Pegunungan Manoreh yang sedang diguyur hujan, sungguh sedap.

Menjelang pukul 17.00, kami memutuskan untuk menuju Sendang Kawidodaren, untuk sesuci di situ. Sendang ini masih sangat alami, di atas sendang tumbuh sebuah pohon yang besar menjulang. Sekeliling Sendang sudah ditemboki dan ada pintu yang terkunci; kami bisa masuk setelah bertemu dengan pemegang kunci yang memperkenalkan dirinya sebagai Pak Kemad.

Di tengah air hujan yang terus menetes, menembus sela-sela dahan dan dedaunan pohon besar yang menaungi sendang, saya bersimpuh dan mencoba memasuki hening. Kami manembah untuk menghaturkan uluk salam kepada leluhur, padanyangan dan titah alus yang ada di sendang tersebut. Dan setelah itu kami melakukan sesuci. Saya sendiri mengguyur kepala saya 7 kali sebagai simbol permohonan pitulungan.

Tuntas proses sesuci, kami memutuskan untuk naik ke Puncak Kaendran, berupa salah satu bukit di Puncak Suroloyo. Ini adalah pepunden Eyang Semar atau Sang Hyang Betara Ismaya dan Sang Hyang Betara Guru. Di sini, ada satu patung Betara Guru. Kami memulai ritual dengan manembah untuk menghaturkan sembah sungkem kepada Eyang Semar. Saya memulai meditasi dengan membaca sebuah mantra kuno, lalu membahasakan dalam hati sapaan dan permohonan pangestu saya kepada Eyang Semar. Setelah itu, kami berpindah lokasi dan manembah untuk menghaturkan sungkem sembah pangabekti kepada Sanghyang Betara Guru. Tuntas melakukan itu, kami manembah di tanah yang agak lapang, di bagian sudut dari puncak bukit tersebut. Saya sendiri, dalam sessi meditasi yang terakhir ini, bermeditasi sesuai arahan dari Bu Untari, dengan orientasi yang spesifik: memohon bantuan dari para leluhur dan padanyangan khususnya yang mbahurekso di Puncak Suroloyo, agar bisa meneruskan lakon hidup secara lebih baik, secara matarial maupun spiritual. Bu Untari menyebutkan bahwa laku saya untuk nggayuh katentereman urip sudah cukup panjang, saya sudah cukup menunjukkan kesetiaan pada leluhur, sehingga sudah cukup patut jika juga meminta bantuan kepada leluhur dalam hal yang bersifat "duniawi". Saya jalankan arahan itu...sekalipun selama ini saya ndak terbiasa untuk meminta sesuatu yang bersifat "nyata"....selama ini saya terbiasa hanya nyuwun pangestu dan disengkuyungi.

Saya juga dibekali sebuah mantra oleh Ki Sabda, yang saya baca di awal semedi:
Niat ingsun jumeneng wening lair lan batinku.
Nyai among kyai among,
nyai slamet kyai slamet,
nyai biru kyai biru,
nyai jogorogo kyai jogorogo,
kakang kawah adi ari-ari, kadangku kang lahir nnggal sedino lan sewengi.
Sedulurku papat keblat lan pancerku sing ana ing duwur bumi ing ngisor langit,
ewangono ewangono aku seperlu ono gawe (saya menyebut tujuan dan harapan saya).
Wilujeng rahayu kang tinemu, bondo lan bejo kang teko, saking kersane Gusti.


Demikianlah, saya manembah sehening-heningnya. Mencoba manunggal dengan semesta Puncak Suroloyo. Sumeleh di tengah angin yang berhembus kencang. Menikmati damai. Menghayati sebuah proses komunikasi bathin. Dan beberapa puluh menit kemudian, tuntas prosesi ini. Dan saya mendapatkan "bisikan bathin"untuk mencukupkan meditasi di tempat ini - padahal sebelumnya saya berencana untuk meditasi juga di tempat di mana Sultan Agung meraih wahyu keprabon, di bukit yang terletak beberapa puluh meter dari bukit ini.

Usai meditasi, saya menyimak keadaan sekeliling. Saat itu, kabut tebal mulai menyingkir, sehingga keindahan menyeruak. Di balik beberapa gumpalan awal, menyembul beberapa gunung, dan hamparan sawah, juga hutan yang menghijau. Pantaslah tempat ini disebut Puncak Suralaya, yang menyimbolkan keberadaan istana para dewa. Ini adalah salah bagian dari Nusantara yang berada di atas awan, dengan aura mistik yang membius. Dalam hening, terasa sekali betapa tempat ini memang layak disebut tempatnya para dewa dan titah urip yang suci.

Demikianlah akhir dari perjalanan ke Puncak Suroloyo, pada trip 1 ini. Saya berniat untuk melanjutkan dengan trip berikutnya, dan bermeditasi puncak bukit yang berbeda.

Matur sembah nuwun Gusti. Rahayu. Rahayu. Rahayu.

9 komentar:

Donny Yursandi mengatakan...

Sugeng rahayu..
Saat membaca setiap perjalanan mas setyo dalam mencapai kesempurnaan lelaku saya seperti terbawa larut dlm situasi dimana mas setyo berada saat bercerita.sungguh luarbiasa..
Semoga suatu saat saya bisa bertemu mas setyo seperti juga keinginan saya yang ingin bertemu mas sabdalangit dan rekan2 yang lain.semoga keinginan ini dapat menjadi magnet untuk saya agar segera bisa sowan ke para pinisepuh sekalian.semoga alam dan para leluhur merestui.

Rahayu
Donny

Donny Yursandi mengatakan...

Sugeng rahayu..
Saat membaca setiap perjalanan mas setyo dalam mencapai kesempurnaan lelaku saya seperti terbawa larut dlm situasi dimana mas setyo berada saat bercerita.sungguh luarbiasa..
Semoga suatu saat saya bisa bertemu mas setyo seperti juga keinginan saya yang ingin bertemu mas sabdalangit dan rekan2 yang lain.semoga keinginan ini dapat menjadi magnet untuk saya agar segera bisa sowan ke para pinisepuh sekalian.semoga alam dan para leluhur merestui.

Rahayu
Donny

aris musthofa mengatakan...

Nikmat sekali laku spiritual Mas Setyo HD.

Saya hanya bisa mendoakan semoga njenengan bisa menemukan sejatining Urip.
seperti lakon Dewa Ruci
rahayu, rahayu,rahayu ._/\_


garuda pembaharu mengatakan...

wah om setyo --- akhirnya ke puncak suroloyo -- ayo tulis cerita lagi om.artikelnya sungguh renyah dibaca

Anonim mengatakan...

ingin seperti ki setyo

donny mengatakan...

Sugeng rahayu mas setyo
kalo diperbolehkan saya izin melakukan patrap-patrap yang mas setyo lakukan.mohon bimbingannya jika diizinkan
Matur sembah suwun.

Setyo Hajar Dewantoro mengatakan...

Sumangga Mas Donny.....

mochtar mengatakan...

waduw......jadi ngincer buku "Matahari Mataram" di gramed nih

donny mengatakan...

Matur sembah suwun atas izinnya mas setyo