Minggu, 10 Februari 2013

KEAGUNGAN SEMESTA DI KAKI GUNUNG SALAK




Hidup, tampaknya akan akan selamanya menghadirkan misteri.  Selalu ada yang sulit dipahami dan belum diketahui.  Karena itulah, belajar terus menerus, menggali terus menerus, adalah pilihan bijak pagi setiap pejalan spiritual. 

Seusai mengalami pengalaman eksotis di Puncak Suroloyo Kulonprogo, sang kehidupan hadir dengan serangkaian pertanyaan yang menggelisahkan.  Ya...mendadak, saya mejadi seperti seorang pembelajar pemula, yang harus mencari jawab tentang Tuhan, hidup, peran dalam hidup, dan seterusnya.  Rupanya, apa yang sudah kita ketahui di masa silam, belum tentu telah merupakan kesejatian yang bisa menjadi jawaban langgeng.

Hasrat untuk menemukan jawaban, juga didorong oleh kehadiran peristiwa-peristiwa kehidupan yang menguras emosi.  Bahkan membuat saya nyeletuk, Sang Kehidupan ini memang “suka usil”.  Kita, sebagai anak-anak kehidupan, seringkali dipaksa berjibaku untuk mempertahankan hal-hal yang berharga dalam hidup ini, seperti keluarga, pekerjaan, dan semacamnya.

Dan menurut saya bukanlah kebetulan, bahwa seiring dengan bergolaknya diri yang mencari jawab atas banyak hal, saya digiring semesta untuk banyak manekung di kaki Gunung Salak, tepatnya di Pura Parahyangan Agung Jagadkarta.  Sejak awal Januari 2013, hampir setiap minggu saya ke tempat yang teramat eksotis tersebut, kadang bahkan sampai menginap. 

Terakhir, saya berkunjung ke Pura Parahyangan Agung Jagadkarta bersama Bu Ida Susweniati, Mas Yohanes Kartiko, Bu Endang Cahyo, dan Mbak Niken.  Dan kunjungan bertepatan dengan hari Kamis Pahing menjelang Jumat Pon ini, tampaknya menjadi puncak dari sebuah siklus perjalanan dan pencarian di kawasan Gunung Salak, sebagai salah satu gunung yang dianggap sakral di Tatar Parahyangan.

Sekilas tentang Pura Parahyangan Agung Jagadkarta



Pura yang saya kunjungi dan saya jadikan tempat manekung, diberi nama “ PARAHYANGAN AGUNG JAGAT KARTTA”.  Ini diambil dari filosofi penciptaan alam semesta, dimana ketika Ida Sang Hyang Widhi Wasa menciptakan alam semesta serta menurunkan ajaran Sang Hyang Catur Veda, bergelar Sang Hayng Jagat Kartta. (Lontar Widhi Sastra Catur Veda Gria Aan Kelungkung).   Dan pura ini sendiri mulai dirintis pembangunannya pada tahun 1995, dimulai dengan pendirian sebuah candi yang diyakini sebagai petilasan Prabu Siliwangi, dan langkah itu merupakan upaya penghormatan kepada leluhur Tatar Sunda.

Prabu Siliwangi sendiri, adalah nama lain dari Sri Baduga Maharaja, yang terkenal dengan Sesantinya “Tata Tentrem Kertha Raharja”, dan tercatat telah membawa zaman keemasan bagi Pajajaran.  Di kerajaan ini, kehidupan masyarakat dijalankan sebagai penghormatan kepada ajaran leluhur “Sang Hyang Dharma dan Sang Hyang Siksa”.  Masa jaya Pajajaran berlangsung selama Pemerintahan beliau tahun 1482 – 1521.  Dan dilanjutkan oleh putranya yang bernama RAJA SURAWISESA, tahun 1521 – 1535.  Demikian yang tertera pada batu bertulis di Jalan Batu Tulis Bogor, yang dibuat pada tahun Saka 1455 atau 1533 M. 

Secara lengkap, pura nan eksotis di kaki Gunung Salak tersebut bernama “PARAHYANGAN AGUNG JAGATKARTTA TAMANSARI GUNUNG SALAK”.  PARAHYANAG berarti tempat para Hyang/Widhi; AGUNG berarti besar, mulia; JAGAT berarti bumi; KARTTA berarti lahir, muncul, TAMANSARI berarti tempat yang indah, yang kebetulan juga nama Kecamatan, lokasi Pura ini didirikan.

Keseluruhan nama tersebut mangandung makna : “Pura ini adalah tempat yang indah dan mulia sebagai Stana Tuhan Yang Maha Agung, yang berlokasi di Kecamatan Tamansari Gunung Salak, Bogor Jawa Barat.

Satu hal yang sangat menarik dari pura ini, adalah bahwa ia seperti menjadi rumah bagi semua orang.  Pihak pengelola pura membuka diri terhadap kedatangan pengunjung dengan latar belakang agama bahkan etnis apapun.  Siapapun yang memang berniat ke sana untuk mengolah bathin, manekung, maneges, atau untuk bertemu dan menjalankan dawuh leluhur, bisa masuk ke Mandala Utama.  Seperti yang saya saksikan sendiri, pada satu kunjungan, seusai meditasi di Mandala Utama, saya mengobrol dengan Mangku Darsa dan Mangku Linggih yang tengah bertugas.  Lalu, datang seorang laki-laki berusia sekitar 50-an tahun, disertai istrinya, minta ijin untuk hening di situ.  Rupanya, ia mendapatkan pesan lewat mimpi, untuk menjumpai leluhurnya yang akan hadir ke situ.  Padahal, leluhurnya bukan orang Sunda, melainkan dari salah satu suku tua di Sulawesi Utara.

Untuk para pengunjung yang sekadar ingin menikmati keindahan kawasan pura juga diperbolehkan.  Tapi hanya sampai di Mandala Tengah, di mana ada Palinggihan Sri Ganesha dan Palinggihan Ratu Agung Dalem Ped.  Kadang, ada pengunjung yang bertindak lucu.  Suatu waktu, saya bertemu dengan dua orang remaja putri, mereka tiba di pelataran terbawah, lalu dengan santai hendak naik ke atas, sambil bertanya ke petugas yang ada, “Ini tempat apaan ya?  Kalau di atas, ada apa ya?”  He, he, he, he..ya, pertanyaan yang wajar sebetulnya, tapi membuat saya tak urung tertawa kecil....

Di Palinggihan Sri Ganesha


Pada kunjungan terakhir saya, seperti biasa, saya dan rombongan mulai manekung di Palinggihan Sri Ganesha.  Tentunya, terlebih dahulu kami menyiapkan ubo rampe dan membakar dupa.  Itu merupakan merupakan bentuk penghormatan kepada titah urip yang menempati strata lebih tinggi, seperti para Dewa/Betara dan Leluhur, sekaligus sebagai upaya untuk menghadirkan energi positif yang mendukung prosesi manekung. Seperti dipaparkan cukup lengkap di situs Wikipedia, Sri Ganesta sendiri dikenal dalam tradisi spiritual India sebagai Dewa Pengetahuan Dan Kecerdasan, Dewa Pelindung, Dewa Penolak Bala/Bencana dan Dewa Kebijaksanaan.  Dalam tradisi pewayangan, ia disebut Bhatara Gana, dan dianggap merupakan salah satu putera Bhatara Guru (Siwa).

Secara umum, Ganesa digambarkan berkepala gajah dengan perut buncit. Patungnya memiliki empat lengan, yang merupakan penggambaran utama tentang Ganesa. Dia membawa patahan gadingnya dengan tangan kanan bawah dan membawa kudapan manis, yang ia comot dengan belalainya, pada tangan kiri bawah. Motif Ganesa yang belalainya melengkung tajam ke kiri untuk mencicipi manisan pada tangan kiri bawahnya adalah ciri-ciri yang utama dari zaman dulu. Patung yang lebih primitif di Gua Ellora dengan ciri-ciri umum tersebut, ditaksir berasal dari abad ke-7.[13] Dalam perwujudan yang biasa, Ganesa digambarkan memegang sebuah kapak atau angkusa pada tangan sebelah atas dan sebuah jerat pada tangan atas lainnya.

Ganesha juga digambarkan memiliki rambut yang disanggul ke atas menyerupai mahkota. Mahkota-nya berbentuk bulan sabit dan di atas bulan sabit ada tengkoraknya yang disebut Ardhacandrakapala, sebagai pertanda bahwa adalah anak Dewa Siwa. Ciri lainnya adalah trinetra, yang hanya dimiliki oleh Siwa dan Ganesha. Telinganya telinga gajah, dengan belalainya. Belalainya selalu menuju ke kiri menghisap madu yang ada di mangkuk pada tangan sebelah kirinya melambangkan karakter kekanak-kanakan dalam diri Ganesha, yang menyatakan bahwa ia adalah seorang anak. Mangkok tersebut kadangkala digambarkan sebagai batok kepala, batok kepala yang dibelah. Simbol yang menggambarkan Ganesha sedang menyerap otak (kepala).  Ganesha disebut dewa ilmu pengetahuan karena ganesha digambarkan sedang menyerap otak, dimana otak digambarkan sebagai sumber asal akal manusia yang merupakan sumber ilmu pengetahuan.

Ganesha memiliki 4 tangan atau disebut juga catur biuja. Hal inilah yang membedakan manusia dengan dewa. Dari keempat tangan, tangan yang di depan sebelah kanan membawa gading yang patah (ekadanta). Ada juga arca yang digambarkan utuh dan ada juga yang digambarkan patah. Patahan gading itu dapat digunakan ganesha untuk membunuh musuhnya.

Tangan sebelah kanan belakang membawa tasbih, sementara tangan kiri belakang membawa kapak. Sebagaimana penggambaran arca dewa lainnya, arca patung Ganesha memiliki lingkaran suci atau cahaya di belakang kepalanya, dalam bahasa sansekerta disebut Sirascakra (sira berarti kepala, cakra berarti roda atau lingkaran). Namun demikian arca Ganesha ada yang digambarkan dengan sandaran dan tanpa sandaran. Bila ditempatkan di tengah relung candi biasanya tidak memiliki sandaran. Ganesha juga memiliki tali kasta atau Upawita ular, selain itu juga dilengkapi dengan kalung, kelat bahu, gelang tangan dan gelang kaki.

Dalam tradisi Kundalini Yoga, Ganesa menempati cakra pertama, yang disebut muladhara. Mula berarti "asal, utama"; adhara berarti "dasar, pondasi". Cakra muladhara adalah hal penting yang merupakan manifestasi atau pelebaran pokok-pokok kekuatan ilahi yang terpendam. Hubungan Gansea dengan hal ini juga diterangkan dalam Ganapati Atharwashirsa. Courtright menerjemahkan pernyataan sebagai berikut: "[O Ganesa,] Engkau senantiasa menempati urat sakral di pondasi tulang punggung [mūlādhāra cakra]." Maka dari itu, Ganesa memiliki kediaman tetap dalam setiap makhluk yang terletak pada Muladhara. Ganesa memegang, menopang dan memandu cakra-cakra lainnya, sehingga ia mengatur kekuatan yang mendorong cakra kehidupan.

Yang perlu saya jelaskan, adalah bagaimana sebetulnya kesadaran saya ketika manekung di Palinggihan Sri Ganesha.  Pertama, saya menyadari, bahwa manusia bukan satu-satunya titah urip berkesadaran spiritual tinggi di jagad raya ini. Di luar diri kita yang masih menyadang raga dan hidup di muka bumi, ada entitas-entitas lain, termasuk para leluhur yang dulunya adalah manusia seperti kita tetapi kini telah hidup di alam kalanggengan dengan raga yang berbeda.  Juga ada betara-betari, dewa-dewi, yang merupakan manifestasi cahaya Hyang Yaktining Hurip.  Maka, saya menjalankan laku penghormatan kepada semua titah urip tersebut sebagaimana saya menghormati orang tua saya.

Kedua, ketika saya manekung, orientasi saya adalah menumbuhkan kekuatan Sri Ganesha di dalam diri saya.  Saya menyadari, bahwa diri ini adalah miniatur jagad raya, sebuah mikro kosmos.  Apa yang ada di jagad raya, ada juga di dalam diri ini.  Maka, sebagaimana kekuatan Sri Ganesha telah menjadi nyata di jagad raya, itu harus dijadikan nyata juga di dalam diri. 

Dan, tampaknya juga bukan kebetulan, bahwa Sri Ganesha menempati posisi cakra muladara, pada saat saya mendapatkan satu saran dari Mas Teguh Prihartanto – salah satu sparring partner saya dalam mengasah bathin yang tinggal di Semarang, bahwa saya mesti memantapkan cakra muladara atau cakra dasar, karena itu yang menjadi fondasi kesetimbangan antara perjalanan spiritual dan “kehidupan nyata” ( di mana saya harus tetap mencari nafkah, ngayomi keluarga, dan seterusnya).

Semesta Menunjukkan Keagungannya

Tuntas manekung di Palinggihan Sri Ganesha, kami bergegas ke titik berikutnya, Palinggihan Ratu Agung Dalem Ped.  Berhubung hujan, kami akhirnya memilih manekung di salah satu pendopo yang ada di dekat palinggihan tersebut.  Mula-mula, hujan kecil saja.  Tapi, lama-lama, hujan menjadi sangat deras.  Tak hanya itu, petir mulai hadir, bersahut-sahutan, dengan kelebat cahaya yang menggetarkan dan suara menggelegar.  Saya pribadi meneruskan manekung sembari menikmati suasana semesta yang demikian dahsyat itu.  Dan walau sudah manekung di Pendopo, karena hujan sangat deras, tetap saja saya tersiram hujan.  Dan saya biarkan muka dan rambut ini menjadi basah.  Saya menganggap itu sebagai air anugerah, yang membantu pembersihan jiwa raga saya.

Dalam suasana seperti itu, ketika kita menganggap diri sebagai satu sosok dalam konstalasi semesta yang demikian komplek, tumbuh kesadaran bahwa kita hanyalah satu noktak teramat kecil, yang demikian tak berdaya di hadapan semesta yang agung.  Tapi, ketika kita mengubah pandangan, menjadi sadar bahwa ada kesatuan antara diri kita dengan semesta itu, terasa betapa energi semesta yang dahsyat mulai mengalir dari kedalaman diri.

Tuntas manekung di pendopo tersebut, kami menunggu hujan agak mereda sehingga kami bisa berjalan ke Mandala Utama.  Kami menunggu, sambil menikmati suasana..dan membiarkan berbagai kesadaran mengalir ke dalam diri yang tengah “tenang”.

Begitu hujan mulai mereda, kami bergegas naik ke atas.  Dan kembali kami memilih manekung di salah satu pendopo di Mandala Utama.  Usai menyiapkan uborampe dan membakar dupa, kami mulai manekung.  Dan ternyata, hujan deras diiringi petir kembali muncul.  Suasana dahsyat kembali hadir.  Sungguh indah, manekung di tengah dinamika semesta seperti itu. 

Dalam hening, saya mendapatkan kesadaran-kesadaran baru.  Khususnya tentang apa yang mesti saya lakukan sebagai dharma bakti kepada Ibu Pertiwi, juga tentang sikap yang harus saya pegang teguh.  Salah satunya adalah penguatan kesadaran, bahwa laku satria pinandhita dijalankan tidak mesti terkait dengan sebuah jabatan politik/formal.  Kita tetap bisa dan memang harus menjalankannya walau kita tetap “bukan siapa-siapa”.  Sebagai “orang biasa” kita tetap bisa berkarya, memberikan pengayoman, sesuai kemampuan terbaik kita.  Kepemimpinan bukanlah soal posisi, tapi soal pengaruh, soal sumbangsih bagi perubahan.  Kita adalah pemimpin, ketika bisa menggulirkan perubahan dan memberi pengaruh lewat berbagai cara kepada satu komunitas, kepada satu bangsa, walau kita tak menduduki jabatan politik apapun.  Bahwa suatu saat kita mendapatkan mandat sebagai pemimpin formal di lingkup komunitas, daerah, bangsa, biarlah itu terjadi secara alami, tanpa mesti dikejar dan dihasrati secara emosional.

Ketika manekung selesai, cuacapun ikut berubah.  Langit menjadi terang, dan hujan berhenti turun.  Upacara, ataupun sebuah perayaan, yang melibatkan berbagai unsur semesta, telah usai.  Kami perlahan-lahan keluar dari Mandala Utama, menuruni anak tangga yang menghubungkan dengan Mandala Madya.  Saya sendiri, melangkah dengan rasa yang campur aduk...tapi, semua itu kemudian dinetralisir oleh satu sikap pamungkas: sumeleh, pasrah.

BUTIR-BUTIR PENCERAHAN



Belakangan, saya mulai masuk pada kesadaran, bahwa kita, sebagai manifestasi dari Gusti, yang harus dilakukan adalah merealisasikan kehadiran Gusti itu sendiri.  Kita harus bergerak dari ketidaksadaran menuju kesadaran.  Dalam hal ini, saya kemudian menyadari, bahwa ada yang kurang pas dalam pandangan banyak orang terhadap ritual, termasuk doa dan sembahyang.

Dalam pengamatan saya, dasar orang berdoa atau bersembahyang adalah kesadaran akan keterpisahan, antara Aku (Diri) dengan Tuhan (Hyang Yaktining Hurip).  Maka, kita kemudian berupaya untuk menyatu, antara lain melalui aneka ritual.  Dalam ritual, kita seperti membangun jembatan: jembatannya adalah sukma sejati itu, karena dianggap sebagai bagian dari diri yang bisa sowan atau menghadap kepada Gusti.

Jika kita menukik lebih dalam, mereguk dan mengalami realitas, termasuk yang kita sebut sebagai Tuhan itu, kita akan tahu bahwa Tuhan sejatinya tak pernah terpisah.  Kita saja yang malah menyadarinya terpisah.  Seperti disampaikan oleh Mas Paulus Bambang Susetyo, “Manusia bernafas ... menarik udara ke dalam paru-paru ... Apakah udara yang di luar tadi terpisah dengan udara yang di dalam paru-paru ... ataukah realitasnya tetap terhubung?”  Tentu saja, sebetulnya terhubung.  Kita saja yang sering memiliki kesadaran yang tak sesuai realitas.  Lebih jauh, beliau menyampaikan, “Orang berdoa ... sembahyang ... tujuan utama adalah semestinya untuk PENYADARAN DIRI bahwa dirinya itu berada dalam GUSTI dan dirinya dipenuhi GUSTI ... dengan realitas ini ... bagaimana GUSTI itu akan diSOSOKkan ... bukankah GUSTI itu sebenarnya REALITAs dari EKSISTENSI tak terbatas ... lalu bagaimana jika mesti dipaksa dibatasi dengan sosok ..?”

Ya, menurut saya, jika kita terjebak dalam ritual yang didasari asumsi bahwa kita sedang menyembah Tuhan yang ada di luar sana, kita bukannya malah sampai pada kesejatian, tapi terus ada dalam kesadaran yang keliru karena fondasinya belum pas.

Tapi, mohon jangan disalahpahami bahwa saya menganggap ritual itu buruk.  Tidak, setiap orang punya tataran masing-masing dan hidup sesuai tataran tersebut.  Hanya, bagi mereka yang ingin mencapai kesejatian, saran saya, ritual mesti dipahami sebagai latihan mencapai hening, masuk ke dalam diri, menyadari kemanunggalan diri dengan Hyang Jagadnata, dengan semesta ini dan segala unsurnya. 

Lebih jauh, ritual semestinya kita sadari sebagai upaya untuk mengakses pusat kesadaran tertinggi, yang membuat kita menjadi lebih berdaya, lebih tahu, lebih bijaksana.  Ringkasnya, ritual tak lebih dan tak kurang, adalah upaya untuk mengenali diri dengan segenap lapisannya.  Dan agar itu sendiri, ritual yang kita lakukan, mesti mencakup proses untuk mengubah lokus kesadaran dari pikiran ke rahsa sejati.  Gerbangnya adalah menyadari segenap aliran nafas, lalu menyadari raga kita, bagian demi bagian, lapisan demi lapisan, hingga kita bisa bertemu dengan yang ada di balik raga itu.  Saat kita menyadari kemanunggalan dengan Diri Sejati, dan lalu kita mengalir sesuai arahannya, kita bisa memperbaharui hidup sehingga hidup kita lebih sesuai dengan cetak biru kita sendiri.

Selanjutnya, kita juga tak perlu terlalu terikat pada ritual, apalagi menganggap hanya satu tata cara ritual yang benar dan menyalahkan lainnya.  Pada kenyataannya, pencerahan bisa hadir kapan saja dan di mana saja, karena hening bisa kita peroleh tak hanya ketika ritual.  Ketika kita duduk di angkutan kota pun kita bisa hening dan mengundang pencerahan.  Jika mau melakukan ritual, lakukanlah itu seiring dengan getaran dari kedalaman jiwa.  Dan jangan jadikan ia sebagai momen terpisah dari waktu kehidupan lainnya.  Sebetulnya, semua detik kehidupan kita adalah waktu untuk beritual.  Yang berbeda cuma bentuknya saja, esensinya adalah sama jika kita menyadari bahwa setiap detik adalah kesempatan untuk terhubung dengan pusat kesadaran tertinggi.
Demikian yang bisa saya sampaikan, tak lupa saya sampaikan terima kasih kepada seluruh sesepuh yang telah turut memberi penyadaran – termasuk Pak Bagyo, sesepuh Sapta Dharma di Jakarta, yang wejangan-wejangannya sungguh menyentuh hati, juga kepada seluruh teman seperjalanan yang tak bisa saya sebutkan satu persatu.  Panjenengan semua sangat berarti bagi hidup saya.

Matur sembah nuwun.  Rahayu sagung dumadi.