Selasa, 28 Mei 2013

PERJALANAN PEMURNIAN DIRI



Meniti lintasan kehidupan,adalah proses menuju kesempurnaan.  Akar kita adalah Kekosongan, dan kita bergerak kembali menuju Kekosongan.  Hong Wilaheng.  Selama proses itu, berbagai dinamika niscaya kita hadapi.  Ada kalanya kita berteman dengan suka, ada kalanya bergelut dengan duka. Suatu waktu berada dalam cahaya terang, lain waktu terjebak kegelapan.  Apapun yang dijalani, sejatinya adalah pembelajaran untuk mengerti arti hidup ini.  Rasa apapun yang dialami, satu hal yang perlu dipegang teguh: AJA SUMELANG.  Jangan khawatir.  Jangan ada rasa takut dangentar.  Hidup perlu dijalani apa adanya.

Saya pribadi, cukup sering mengalami momen-momen yang sulit.  Hidup menjadi demikian rumit.  Pada saat itu,bahkan saya tak mengenali diri sendiri. Sebagai contoh: semua kreativitas bisa saja mendadak menghilang entahkemana, padahal, jiwa kreatif selama ini menjadi karakter diri saya.  Ya, ada momen dimana semua serasa lumpuh: kekuatan pikiran, hasrat.  Maka, diri menjadi benar-benar stagnan, diam di tempat. Tak bisa dan seperti tak tergerak untuk maju.

Demikianlah yang terjadibeberapa waktu lalu, sebelum kemudian terpulihkan ketika saya berjalan mengikuti suara hati: Kuningan – Pekalongan – Semarang – Dieng; dan membiarkan cahaya kebijaksanaan perlahan tapi pasti menerangi diri.

Butir-butirKebijaksanaan dari Pekalongan


Saat meninggalkan rumah di Kuningan, saya tekadkan perjalanan yang hendak saya lakukan kali ini bisa menjadi momen pemurnian diri.  Dalam kesadaran saya, manusia adalah titah urip dengan berbagai kemungkinan.  Kita semua berasal dari percikan cahayakesucian, membentuk sukma atau jiwa nan jernih, yang kemudian diselimuti unsur-unsur jagad: api, air, tanah, angin. Saat kita manunggal dengan esensi dari hidup kita, maka tampillah kita menjadi titah urip yang memancarkan segenap cahaya terang, sekaligus bisa membentuk kehidupan nan damai. Sebaliknya, saat berbagai distorsi muncul, saat pikiran diselaputi  gejolak tak terkendali dan disharmoni berbagai unsur-unsur ragawi, dan saat kita terputus hubungan dengan rahsa sejati kita, kita bisa muncul sebagai titah urip yang “serba keliru” bahkan‘ngawur-ngawuran”.   Saat keadaan “serbakeliru” dan “ngawur-ngawuran” ini terjadi, sepatutnya kita melakukan berbagaiupaya pemulihan dan pemurnian.  Banyak cara yang bisa dipergunakan.  Tapi saya sendiri mengikuti hasrat hati: saya harus berjalan, untuk bertemu dengan orang, peristiwa, dan tempat yang bisa mengantarkan saya pada pemulihan dan pemurnian itu.

Dari Kuningan, saya menggunakan elf menuju Terminal Cirebon, dan dari situ, saya naik Bus Patas Coyo menuju Pekalongan.  Selama di dalam bus, sayacoba untuk relax, meresapi semua kenyataan, sembari menguatkan tekad untuk mengalami pencerahan dan transformasi diri. Rasa saya perlahan mulai nyaman, dan sempat terkantuk-kantuk hinggatertidur. 

Tiba di Pekalongan, saya dijemput oleh Pak Darmawan Sugiyono, sederek yang menghayati ajaran Kaki Semar, dan kemudian diajak ke rumah beliau di sekitar Pelabuhan Pekalongan.  Rumah beliau berdampingan dengan dermaga tempat beberapa kapal penangkap ikan berlabuh, juga bengkel perbaikan kapal. 

Di ruang kerja Pak Darmawan kami berbincang-bincang hangat. Perbincangan seperti ini, adalah sebuah anugerah, karena pada dasarnya setiap pejalan spiritual memang butuh teman berbagi yang selaras sehingga bisa saling melengkapi dan menyempurnakan. Ada banyak tema yang kita bahas. Salah satu tema yang cukup menarik, adalah soal kecenderungan ketika sebuah jalan spiritual mulai dilembagakan/diorganisasikan, biasanya mulai muncul distorsi.  Sejauh pengalaman saya, esensi dari laku spiritual, acapkali menghilang ketika para pejalan spiritual mulai mengikatkan diri secara formal dalam satu institusi.  Acapkali yang mengemuka adalah ritual yangmenguatkan identitas lembaga bersangkutan tanpa dibarengi dengan kesadaran akan arti esensial dari ritual itu; juga kecenderungan untuk penyeragaman jalan spiritual yang malah mengaburkan keotentikan satu pribadi.  Lebih dari itu, kadang tujuan-tujuanspiritual (kesadaran, budi pekerti luhur), mulai berganti dengan tujuan-tujuanduniawi (seperti popularitas, akumulasi harta, dan sebagainya).  Karena itulah, sangat penting bagi para tokoh organisasi/lembaga spiritual untuk menyadari hal-hal seperti ini dan melakukan antisipasi yang tepat.  Jika tidak, akanlebih baik jika menjadi pejalan merdeka yang tidak terikat olehlembaga/organisasi apapun.

Tema lain yang menarik dan mencerahkan pribadi saya adalah pembabaran filosofi permainan golf.  Pak Darmawan adalah penggemar olahraga golf.  Dan tampaknya berbeda dengan umumnya penggemar golf, beliau menyukai olahraga ini atas dasar kesadaran akan filosofi golf yang “luar biasa”.  Untuk menjadi pegolf sejati, seseorang harus menjalankan berbagai prinsip yang ternyata identik dengan prinsip-prinsip laku spiritual.  Setidaknya ada 3 prinsip utama yang bisa dibabarkan. Pertama, seorang pegolf perlu menyadari bahwa olahraga ini tidak mendorong seseorang untuk mengalahkan orang lain, tapi mengalahkan diri sendiri.  Seorang pegolf memang tidak berhadapan langsung dengan pemain lain; ia hanya berurusan dengan dirinya sendiri.  Bagus tidaknya angka yangdicetak, tidak tergantung pada respon pemain lain, tapi betul-betul tergantung pada sejauh mana bisa mengendalikan diri. Kedua, seorang pegolf hanya bisa memukul bola dengan baik jika ia bisamenatap dengan apa adanya pukulan yang dia lakukan: saat stik mengenai bola, seorang pemain harus melihatnya, apapun yang terjadi tanpa terganggu oleh pikiran apapun.  Ketiga, seorang maestro golf adalah dia yang bisa mengelola emosinya. Hanya jika bisa mengelola amarah, rasa takut, kecewa, dan masuk dalam keheningan, seorang pegolf bisa mencetak prestasi tinggi.  Sekali terjebak gejolak emosi, seorang pegolf akan jatuh kualitas permainannya.  Dengan mempelajari  dan mempraktikkan prinsip-prinsip di atas, yang sejatinya juga merupakan prinsip-prinsip untuk meraih kemajuan spiritual, Pak Darmawan berhasil meraih prestasi relatif gemilang - ditunjukkan oleh beberapa trophy yang dipajang di ruang kerja beliau.  Hanya satu hal yang disayangkan oleh PakDarmawan,”Olahraga golf itu mahal, salah satunya karena biaya perawatan lapangan yang tinggi.  Semestinya adaolahraga semacam golf yang bisa diikuti oleh seluruh kalangan masyarakat.”  (He, he, he, ada kok pak, yaitu main kelereng, he, he,he).

Usai berbincang-bincang,sebelum saya melanjutkan perjalanan, saya sempatkan diri untuk meditasi di sanggar meditasi yang ada di rumah Pak Darmawan.  Setelah membersihkan diri, saya menyalakan dupa, lalu bersila di dekat altar di mana terdapat patung Kaki Semar, Dewi KwanIm dan Kanjeng Ratu Kidul.  Pelan tapipasti, setelah mengucapkan penghormatan kepada para pamomong Nusantara yang patungnya ada di altar dan kepada para leluhur saya, saya memasuki hening.  Saya serahkan diri saya untuk direngkuh oleh Kasih Murni; saya biarkan diri saya untuk menikmati rasanya kembali dan dipangku oleh Sang Sumber Kehidupan. Meditasi di tempat inilah yang menjadi awal pemurnian diri saya: sayabetul-betul merasa damai dan segar.

Pencerahandi Semarang


Semarang, sangat mungkin terkait dengan dua kata yang tergolong penting dalam budaya spiritual Jawa: Semar-Hyang (jika dibalik ya jadi Hyang Semar). Persis seperti Ungaran yang terkait dengan kata Hong-Aran (Kalau dibalikjadi Aran [nama] Hong [Tuhan]).   Dengan kejelian dan kepolosan, maka kita bisa mendapatkan mata air spiritualitas di kota ini.

Di Semarang, saya sudah janji ketemu dengan dua orang kadang kinasih, Mas Yohannes Hardy dan Mas Tomy Arjunanto.  Semenjak sebulan silam, kami bertiga seperti diskenariokan semesta untuk bersatu dan saling melengkapi.  Bermula dari pertemuan di Candi Gedong Songo,Ungaran, sudah beberapa kali kami bertemu, jika tidak di Semarang ya di Cirebon.  Saya tiba di Semarang malam hari.  Walau saat itu Mas Yohannes dan Mas Tomy sama-sama baru dari luar kota, pertemuan tetap terjadi.  Ada panggilan jiwa yang mengalahkan rasalelah.

Bertiga kami berbincang-bincang, sembari menghayati malam menjelang Waisak, hingga pagihari.  Ada banyak hal yang kami perbincangkan.  Semua perbincangan itu mengalir: setiap guliran waktu berbuah pencerahan.  Bahasan yang bisa saya bagikan, antara lain tentang konsepsi laku lampah seorang satria pada masa kini.  Sebetulnya, ini tentang pepeling buat sayapribadi: saya harus mengurangi pengelanaan “naik gunung”, dan mulai menata“kehidupan nyata”.  Laku satria sesungguhnyaya dalam kehidupan nyata; “naik gunung” sekadar latihan dan pendadaran.  Jangan sampai keasyikan berlatih dan mendadar diri, tapi tak kunjung mau terjun dalam dunia nyata.  Seorang satria sewajarnya mengerti peran-peran yang perlu dijalankan: sebagai diri sendiri, sebagai ayah, sebagai suami, sebagai bagian dari keluarga besar, sebagai warga bangsa, dan seterusnya.  Tidak sepantasnya ada peran yang dikorbankan atas alasan menjalankan peran yang lain.  Memperjuangkan kepentingan negara, tak perlu diperlawankan dengan membela kepentingan keluarga.  Idealnya, sebagai satria, kita bisa mengayomi orang-orang terdekat kita sehingga bisa merasakan kedamaian dan ketentraman, sembari kita menjalankan missi yang memang telah dimandatkan kepada kita.  Saya pribadi, memang agak tertinggal dalam soal karier.  Itu konsekuensi logis dari pilihan saya untuk  mengikuti suarah hati berkelana.  Betapapun, selalu ada opportunity cost untuk setiap pilihan.  Nah,sekarang, pengelanaan itu sudah cukup, dan sudah waktunya menata karier, membangun kemapanan finansial, karena itu menjadi fondasi untuk menjalankanmissi sebagai seorang satria.

Berikutnya, kami membahas soal kesinambungan antara generasi masa silam dan generasi masa kini.  Generasi masa lalu, para leluhur kita, telah menjalankan laku tertentu yang memungkinkan mereka menjadi pribadi winasis, unggul dalam berbagai bidang kehidupan. Sudah sepatutnya, kita sebagai generasi penerus, membuka diri agar siap menerima warisan masa silam yang berguna bagi kehidupan masa kini.  Dalam bahasa modern, DNA kita yang terwarisidari para leluhur di masa silam, perlu kita aktivasi sehingga kita punya kapasitas yang memungkinkan kita bisa menjadi pilar kebangkitan negeri ini.  Atau menggunakan istilah lain: file program dari masa silam, perlu di-install ke dalam diri kita sehingga kita juga bisa mumpuni.

Bagaimanapun, negeri ini membutuhkan keberadaan para satria pilih tanding untuk mewujdukan cita-cita gemah ripah loh jinawi.  Tentunya, pilih tanding di sini bukan dalam konteks masa silam (yang cukup dalam dimensi ngelmu kadigdayan); tapi sekarang harus mencakup teknologi, ilmu keuangan, dan semacamnya.

Puncak Pemurnian Diri di Dieng


Waktu telah menunjukkan Jam3.30 pagi.  Kami memutuskan untuk menyelesaikan obrolan, karena saya harus melanjutkan perjalanan ke Dieng.  Mas Yohannes dan Mas Tommy mengantar saya ke pool Sumber Alam, travel arah Purwokerto yang melewati Wonosobo.  Tepat pukul 4 pagi, travel yang saya naiki mulai meluncur ke Wonosobo, menembus jalur Ambarawa, Kranggan, Temanggung, Parakan,terus hingga ke Wonosobo.

Saya tiba di Dieng sekitar pukul 10 pagi; di sana salah satu kadang kinasih, Bli Danu atau GoesdeTantrayana tengah menunggu.  Tapi karena beliau sedang naik ke Kawah Candradimuka, saya menunggu dulu di parkiran KomplekCandi Arjuna – bahkan sempat masuk mengamati situasi di komplek candi tersebut.  Saat itu ada beberaparombongan turis yang datang, baik turis domestik maupun manca negara.  Satu hal yang memprihatinkan hati saya, kebanyakan orang yang datang ke komplek candi di Dieng ini, sekadar untukberwisata menikmati pemandangan tanpa tergerak untuk menyelami lebih jauh warisan leluhur dan masuk dalam keheningan yang sangat mungkin diraih di situ.  Tapi ya, setiap orang punya tahapan: dulu saya juga seperti itu kok, sebelum sebuah kesadaran menyergap dan ada pembimbing tak terlihat hingga saat ini.

Beberapa waktu kemudian Bli Danu datang, dan kami ngobrol berbagai hal sembari sama-sama menikmati wedangan dan kentang goreng khas Dieng.

Berikutnya, setelah sempat beristirahat sejenak, saya dan Bli Danu mengelilingi komplek Candi Arjuna.  Dan bagi saya, ini adalah kesempatan untuk mendapatkan kaweruh baru.  Sebagai ahli dalam studi etnografi, Bli Danu mengerti detail makna dari warisan-warisan masasilam.  Terkait dengan candi-candi di Dieng, satu kaweruh baru bagi saya adalah soal nama-nama candi: ternyata nama-nama pewayangan adalah nama yang diberikan oleh para arkeolog yang terlibat dalam rekonstruksi candi-candi tersebut, bukan nama sejak candi tersebut didirikan.

Berdasarkan literatur yang tersebar luas di internet, diketahui candi-candi yang ada di Dieng adalah warisan dari Kerajaan Maratam Kuno.  Berbagai candi yang ada, tuntas dibangun pada abad ke-8. Nah, yang perlu ditelusuri lebih jauh, adalah pandangan Bli Danu merujuk penandaan yang ada di komplek Candi Dieng berupa 4 tonggak sejajar di depan komplek yang sekarang disebut Dharmasala: sangat mungkin candi-candi tersebut mulai dibangun pada abad ke-4.

Secara umum, candi di Dieng memang berfungsisebagai tempat pemujaan, tempat manekung. Ini menjadi kelengkapan dari Kraton Mataram Kuno, sebagaimana juga CandiGedong Songo di Ungaran.  Berbicaratentang Mataram Kuno, tak bisa dilepaskan dari sejarah Kraton Sunda.  Karena Rakai Sanjaya sebagai pendiri MataramKuno, masih terkait dengan Kraton Sunda. Ibu dari Sanjaya adalah SANAHA, cucu Ratu Shimadari Kalingga, di Jepara. Ayah dari Sanjaya adalahBratasenawa / SENA / SANNA, Raja Galuh ketiga, teman dekat Tarusbawa. Sena adalahcucu Wretikandayun dari putera bungsunya, Mandiminyak, raja Galuh kedua(702-709 M). Sena pada tahun 716 M dikudeta dari tahta Galuh oleh PURBASORA.Purbasora dan Sena sebenarnya adalah saudara satu ibu, tapi lain ayah. Sena dankeluarganya menyelamatkan diri ke Sundapura, pusat Kerajaan Sunda, dan memintapertolongan pada Tarusbawa. Ironis sekali memang, Wretikandayun, kakek Sena,sebelumnya menuntut Tarusbawa untuk memisahkan Kerajaan Galuh dari Tarumanegara/ Kerajaan Sunda. Dikemudian hari, Sanjaya yang merupakan penerus KerajaanGaluh yang sah, menyerang Galuh, dengan bantuan Tarusbawa, untuk melengserkanPurbasora. Setelah itu ia menjadi Raja Kerajaan Sunda Galuh.

Sanjaya adalah penguasa Kerajaan Sunda,Kerajaan Galuh dan Kerajaan Kalingga (setelah Ratu Shimamangkat).  Sebagai ahli waris Kerajaan Kalingga, Sanjaya menjadi penguasa Kalingga Utara yang disebutBumi Mataram (Mataram Kuno) pada tahun 732 M. Kekuasaandi Jawa Barat diserahkannya kepada puteranya dari Tejakencana, yaitu TamperanBarmawijaya alias RakeyanPanaraban. Ia adalah kakak seayah Rakai Panangkaran, putera Sanjaya dari Sudiwara puteriDewasinga Raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara. 
(Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Sunda_Galuh).

Maka, sangat mungkin, walaupun Candi Diengterkait erat dengan Kraton Mataram Kuno dan pembangunannya disempurnakan padaera Mataram Kuno, cikal bakalnya sudah ada bahkan sebelum kraton ini berdiri.

Bli Danu memaparkan fungsi dari berbagai bangunan yang ada di Komplek Candi Arjuna. Di tempat yang sekarang disebut Dharmasala, dulunya adalah ruangan bagi para ksatria termasuk raja yang hendak menjalankan ritual di Dieng.  Di seberang bangunan tersebut, adalah ruangan bagi para brahmana.  Di belakang ruangan bagi para ksatria, terdapat 2 sumur yang berfungsi sebagai sumur panglukatan dan pensucian.  Sayang sekali dua sumur ini tak terawat dengan baik.

Lalu, Candi yang dinamai Candi Semar, adalah tempat dilakukannya ritual pendahuluan sebelum melakukan pemujaan terhadapSyiwa, yang menjadi fungsi dari candi yang disebut Candi Arjuna.  Candi kedua, sejatinya adalah candi pemujaanu ntuk Dewa Wisnu.  Dan di depannya juga terdapat candi yang mirip dengan Candi Semar, tapi sekarang sudah roboh.  Candi ketiga adalah tempat pemujaan untukDewa Brahma, baru candi keempat adalah candi yang didedikasikan untuk yang mbahurekso di Tanah Jawa.

Keberadaan Candi Syiwa, Wisnu dan Budha, menunjukkan bahwa di masa Mataram Kuno, terjadi sinergi antar berbagai aliran Hindu: pihak kerajaan memfasilitasi setiap kelompok untuk menjalankan ritual masing-masing.  Inilah yang menjadi manifestasi prinsip Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangruwa yang dipopulerkan Empu Tantular dalam Serat Sutasoma.  Kemudian, ditegaskan juga prinsip penghormatan terhadap tradisi lokal dengan memberi ruang pemujaan khusus bagi sosok yang dihormati di Tanah Jawa.
Bagi kita yang hidup di masa kini, bisa mendaptkan pengalaman terbaik dari manekung di Candi Dieng jika mengerti filosofi dan struktur bangunan yang ada di sana.  Idealnya, kita memulai ritual di Candi Semar, sebagai ritual pembuka.  Setelah itu,kita bisa memilih tempat manekung yang sesuai: karena masing-masing memberikan dampak dan kegunaan yang berbeda.  Sayapribadi, saat sesi meditasi malam hari, memilih meditasi di dalam Candi Brahma (Candi Sumbadra), karena merasa butuh untuk menguatkan kembali unsur api di dalam diri saya.

Lebih jauh, bisa diterangkan bahwa KomplekCandi Arjuna ini disebut juga sebagai Balekambang, karena dulunya memang mengapung di atas telaga (dalam pengertian, komplek tersebut dikelilingi olehtelaga yang luas).  Sayang sekali ,seiring perjalanan waktu, telaga tersebut sebagiannya mengering dan beralihfungsi menjadi lahan pertanian.  Saat ini sedang ada upaya mengembalikan fungsi telaga, tapi masih terkendala dengan keberadaan petani yang telah memanfaatkan sebagian lahan tersebut.

Sore hari, setelah saya dan Bli Danu bertemu dengan anggota rombongan yang lebih besar, kami berkeliling ke semua candi yangada di Dieng, mulai dari Candi Dewi Durga, Candi Dewi Uma, dan Candi DewiLaksmi/Sri.  Jika meminjam istilah saat ini, candi-candi tersebut adalah Candi Gatotkaca, Candi Bima dan Candi Dwarawati.  Candi-candi tersebut menunjukkan keberadaan shakti bagi para dewa yang candinya dibangun di komplek candi utama.

Dalam balutan hujan, saya dan rombongan menikmati setiap sessi meditasi di setiap candi; kecuali di Candi Betari Durga karena proses rekonstruksi belum selesai. Di Candi Dewi Uma, orientasi meditasi saya adalah manunggal dengan kekuatan kewelasasihan dan kebijaksanaan. Sementara di Candi Dewi Sri/Laksmi, orientasi meditasi saya adalah manunggal dengan kekuatan kemakmuran. Acara malam itu, diakhiri dengan meditasi di komplek candi utama.  Setelah meditasi pembuka di Candi Semar, saya lanjutkan dengan meditasi di Candi Sumbadra atau Candi Brahma, sesuai denganpetunjuk dari rahsa saya.

Keesokan harinya, saya bersama rombongan menuju Telaga Warna, dan menyelesaikan proses manekung di seluruh gua yang adadi telaga tersebut.  Mulai dari Gua Semar, yang disebut juga Begawan Sampurna Jati. Proses meditasi diawali dengan doa pembuka oleh kuncen di situ, Mbah Rusmanto.  Setelah itu, kami, seluruh anggota rombongan manekung sendiri-sendiri. Karena gua relatif sempit, kami manekung bergantian.  Sungguh mencerahkan manekung di Gua Semarini: karena ada rasa yang tersambung dengan sang pamomong Nusantara.

Di Gua Sumur, dimana yang Mbahurekso adalahEyang Dewi Kumalasari, kami kembali merasakan manekung yang membawa kedamaian.  Saya pribadi, usai manekung, membasuh tubuh dengan air sumur yang ada di dalam gua, dimulai dari ubun-ubun hingga ke beberapa bagian badan.  Segar sekali....nyesss rasanya.  Semua beban terasa sirna.  Setelah itu, kami meditasi di Gua Jaran, dimana yang mbahurekso adalah Eyang Kendali Seta.  Setelah itu, kami mengakhiri proses meditasidi Gua Batu Tulis, di mana terdapat patung Eyang Gajahmada.  Saya sendiri, usai meditasi, coba memegang patung Eyang Gajahmada itu dan nyambung rasa dengan beliau (istilah saya, saya sedang mencoba mendownload file yang saya butuhkan untuk menopang perjuangan saya saat ini).

Demikianlah, usai sudah prosesi ritual diTelaga Warna, dengan hasil hati nan damai dan jiwa yang penuh daya.  Saya merasa betul-betul dimurnikan, dan siap untuk mengarungi hidup dengan segala tantangannya.  Terima kasih untuk Pak Darmawan, Mas Yohannes Hardy dan Mas Tomy Arjunanto, Bli Danu, Ibu Ida Sus, Mas Ruddy dan Mbak Sukma, Bu Endang Cahyo, Mbak Rika, Mbak Niken, Mas Sigid dan Mbak Desinta, Mas Bayu, Mas Taufik, Mas Amin, Mas Catur, dan semua yang telah memberi arti untuk hidup saya.  Dan tentu saja, terima kasih khusus terhatur untuk istri saya dan anak-anak yang merelakan saya untuk pergi beberapa saat demi sebuah pemurnian diri.

Rahayu sagung dumadi.