Sabtu, 22 Maret 2014

BENAR VS SALAH



 Benar salah yang relatif universal itu adalah benar salah menurut sains. Tapi kalau sudah bicara benar salah dalam wilayah moral, etika, agama, itu menjadi sangat subyektif. Apa yang engkau anggap salah dalam tataran etika, moral, agama (tidak bermoral, tidak etis, tidak sesuai kehendak Tuhan), itu sebenarnya cuma asumsi pribadi saja. Sungguh merepotkan jika asumsi pribadi dipak...sakan kepada orang lain, apalagi dijadikan aturan negara.

Sebagian orang kemudian sampai pada kesadaran yang melampaui benar dan salah. Bagi mereka, tidak ada tindakan yang salah dan tindakan yang benar. Tapi, mereka tahu dengan pasti resiko atau konsekuensi logis dari sebuah tindakan. Sehingga mereka melakukan atau tidak melakukan, bukan karena penilaian benar dan salah, tapi karena memang mau atau tidak mau menerima konsekuensi logisnya.

Kalau engkau memukulku, tidak akan saya katakan salah, tapi saya sampaikan, resiko logis yang engkau terima adalah pukulan yang 10 kali lebih keras. Jika engkau membuatku bahagia, saya tidak akan mengatakan anda berbuat benar, tapi saya sampaikan bahwa resiko logisnya, saya membahagiakannmu dengan upaya 10 kali lipat lebih keras.

Untuk menjaga tertib sosial, kita cuma butuh hukum positif...yang membuat orang lain merasa dirugikan, ya disanksi saja. Tapi kalau orang berbuat yang menurut persepsi orang banyak amoral, tidak etis, dan seterusnya, biarkan saja....dia sedang punya jalan sendiri menuju sampurnaning urip (Cantrik Mbeling)

Tidak ada komentar: