Sabtu, 22 Maret 2014

CANTRIK MBELING VS EYANG GEMBLUNG 1




Cantrik Mbeling:  Mbah, saya bingung, ingin bertanya sesuatu, tapi rasanya gak pantas....

Eyang Gemblung: Apa tho? Mbok ya ngomong aja.....

Cantrik Mbeling:  Mbah, kalau jadi penari tayub itu berdosa tidak?

Eyang Gemblung: Apa? Hanya nanya itu?  Ha, ha, ha, ha, ha, ha

Cantrik Mbeling: Kok Mbah malah ketawa....

Eyang Gemblung: Dosa itu apa to le?  Ha, ha, ha

Cantrik Mbeling: Dosa itu...melanggar kehendak Tuhan..jarene ngono Mbah....

Eyang Gemblung: Whua...ha, ha, ha, ha, ha.....Tole, sekarang dipikirkan......ada yang bilang, kalau perempuan kelihatan rambutnya itu dosa....karena Tuhan perintahkan rambut perempuan dewasa harus ditutupi...Tapi ada yang bilang, itu bukan dosa, karena Tuhan gak bilang begitu.  Sama dengan makan daging babi..ada yang bilang dosa, ada yang bilang bukan dosa. 

Jadi, yang bilang ini dan itu dosa itu siapa sebenarnya?  Tuhan, atau manusia yang mengatasnamakan Tuhan? 

Cantrik Mbeling: He, he, he, ya sebenarnya sih..Cuma manusia yang bilang ini dosa dan itu bukan dosa.  Kucing gak pernah bilang begitu mbah, setahu saya lho...ha, ha

Eyang Gemblung: Jadi, dosa itu ya cuma konsep...Itu buah imaji manusia yang diadakan untuk mengendalikan tindakan manusia itu sendiri.  Setiap orang, setiap tradisi, pastinya punya konsep tentang dosa yang berbeda.  Lha sekarang sakkarepmu...kamu mau bilang penari tayub itu berdosa apa tidak.  Lha wong Tuhan gak pernah bilang itu dosa apa tidak...maksudku..aku ora tahu krungu nganggo kupingku dewe, yen Gusti ngendika nek kuwi dosa apa ora...ha, ha, ha.

Cantrik Mbeling:  Ha, ha, lha iyo mbah....Hmmm...menurut saya sih, jadi penari tayub itu bukan dosa mbah.   Itu adalah pekerjaan artistik, si penari itu menampilkan keindahan.  Sementara semesta sendiri ya penuh dengan gambaran keindahan.  Penari tayub itu kan ngikutin salah satu gambaran semesta..sama aja dengan burung merak yang lagi nari.  Kalau ada orang senang ya itu malah bagus tho mbah, menghibur!

Menjadi penari tayub itu sama dengan menjadi apapun, adalah pilihan hidup yang punya resiko...kalau kita siap menghadapinya, ya dijalani saja.  Kalau menurut saya mbah, Gusti itu tidak pernah membenci apapun yang kita lakukan....Gusti tak pernah membenci penari tayub, penari breakdance, penari perut, striptease, apapun.   Semua dikembalikan kepada pilihan merdeka setiap orang.

Yang ada aturan2 semesta..kalau merugikan orang lain, ya pasti ada yang minta pertanggungjawaban. Prinsip saya satu mbah..jangan merugikan orang lain.

Eyang Gemblung: Lha kowe ku piye tho le..nakon dewe, njawab dewe..sakkarepmu lah...ha, ha, ha, ha........

Cantrik Mbeling: Sopo ndisik gurune.....ha, ha, ha, ha, ha...........

1 komentar:

wagerrr mengatakan...

Artikel yang amat menarik. Blognya juga secara keseluruhan sangat bagus.

Mungkin link di bawah ini ada manfaatnya, topik blognya sejenis: http://sabdadewi.wordpress.com/