Jumat, 06 November 2015

KEKUATAN KATA-KATA


Salah satu daya yang nyata di dalam diri kita adalah daya sabda atau kekuatan kata-kata.  Jatuh dan bangunnya manusia, hidup dan matinya, ditentukan oleh kata-kata.  Ajining diri saka obahing lathi(berharganya suatu pribadi adalah oleh perkataan) demikian leluhur Jawa menyatakan.  Jika kata-kata kita asal-asalan, maka hidup kita menjadi asal-asalan, jika kata-kata kita tepat, maka hidup kita juga menjadi tepat.  Dalam pembelajaran Jawa kuna dinyatakan bahwa manusia adalah dewa kang ngejawantah ing marcapada.  Dewa adalah cahaya Hyang Yaktining Hurip.  Percikan cahaya itu ada pada diri manusia.  Dalam jagad wayang, salah satu nama dewa yang paling terkenal adalah Dewa Wisnu.  Dewa ini merupakan Kekuatan Pemelihara, dan diceritakan menitis ke Batara Kresna – simbol dari kekuatan kata-kata. Kekuatan pemelihara sejatinya terletak pada kata-kata. 
Senjata titisan Wisnu adalah cakra dan wijayakusuma.  Cakra adalah kekuatan kata-kata yang mematikan, sementara wijaya-kusuma adalah kekuatan kata-kata yang menghidupkan. 
Menerapkan senjata ini berarti secara cerdas mengelola kata-kata untuk menghancurkan keangkaramurkaan dan membangun kehidupan.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia Jawa merancang tembang untuk berbagai kebutuhan, salah satunya untuk me-melihara kehidupan dan menjauhkan diri dari segala marabahaya.  Salah satu tembang yang terkenal untuk kebutuhan ini adalah Kidung Rumeksa ing Wengi, sebagai berikut:

Kidung Rumeksa Ing Wengi

Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh hayu luputa ing lara
Luputa bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Miwah panggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemahan tirta
Maling adoh tan ana ngarah ing mami
Guna duduk pan sirna

Sakehing lara pan samya bali
Sakeh ngama pan sami miruda
Welas asih pandulune
Sakehing braja luput
Kadi kapuk tibaning wesi
Sakehing wisa tawa

Sato galak tutut
Kayu aeng lemah sangar
Songing landhak guwaning wong
Lemah miring myang pakiponing merak
Pagupakaning warak sakalir
Nadyan arca myang segara asat
Temahan rahayu kabe
Arti:
Ada kidung berkuasa atas malam. Yang menjadikan kuat selamat terbebas  dari semua penyakit. Terbebas dari segala petaka. Jin dan setanpun tidak mau. Segala jenis sihir tidak berani. Apalagi perbuatan jahat.  guna-guna tersingkir. Api menjadi air. Pencuripun menjauh dariku. Segala bahaya akan lenyap.

Semua penyakit pulang ketempat asalnya. Semua hama menyingkir dengan pandangan kasih. Semua senjata tidak mengena. Bagaikan kapuk jatuh dibesi. Segenap racun menjadi tawar. Binatang buas menjadi jinak. Pohon ajaib, tanah angker, lubang landak, gua orang, tanah miring dan sarang merak.
Kandangnya semua badak. Meski batu dan laut mengering. Pada akhirnya semua selamat.

Terbukti lewat pengalaman hidup para orang tua, mereka yang menembangkan teks ini dengan kesungguhan, dipastikan mendapat karahayon atau keselamatan.  Jika membacanya di rumah, rumah terbebas dari maling, serangan energi gelap seperti santet dan teluh, atau bahaya sejenis.  Jika membacanya di sawah, sawah terbebas dari segala hama.

Mereka yang punya kesadaran terhadap kekuatan kata-kata, sangat cermat memilih kata dan cerdas dalam mempergunakannya dalam meraih sebuah tujuan.  Sebagai contoh, jika kita akan mengerjakan sebuah tugas, mereka yang cerdas akan memilih pernyataan “Saya kerjakan tugas saya”, dibanding “Saya akan coba kerjakan tugas saya”.  Dua pernyataan tersebut melahirkan energi berbeda, dan pernyataan pertama yang menunjukkan kepastian dan kesanggupan, lebih menunjang keberhasilan pekerjaan kita dibanding yang kedua.

Melalui kata-kata kita bisa merubah keadaan yang kita nilai belum sepantasnya.  Sebagai contoh, jika menginginkan anak-anak atau pasangan hidup kita menjadi lebih harmonis dengan kita, maka dalam keadaan hening, kesadaran kita berfokus pada pusat hati, sembari memvisualkan anak dan istri kita, kita bisa menyabda, “Ingsun nyeluk si jabang bayine .... (nama istri atau anak), Sliramu manut marang Gustimu, bali marang sejatimu, selaras karo awakku – Aku memanggil si jabang bayi dari .... Engkau patuh kepada Gustimu, kembali kepada sejatimu, dan harmoni dengan diriku”.  Ini adalah kata yang disabdakan dengan berpangkal pada kekuatan Hyang Yaktining Hurip yang bertahta di pusat hati kita.  Pola ini bisa dilakukan kepada siapa saja yang perlu mendapatkan pesan kita tentang perubahan perilaku pada diri mereka yang sangat kita harapkan.


Lebih jauh, ketika kita hendak menggunakan kekuatan  kata-kata untuk menjadikan apa yang tergambar dalam cipta atau imajinasi kita, yang bisa kita lakukan adalah menyatakan kata-kata yang relevan.  Sebagai contoh, “Gegayuhan hulun kalaksanan, saking kersaning Hyang Yaktining Hurip – Cita-cita/tujuan saya terlaksana, dari kehendak Hyang Yaktining Hurip.”  Kita dalam keadaan hening lalusumeleh/berserah diri total, dan kemudian berkata-kata, maka kata-kata kita merepresentasikan kehendak dari Hyang Yaktining Hurip yang bertahta di pusat hati kita.

Penggunaan kata-kata sebagaimana diungkap di atas, pasti jauh lebih efektif ketimbang kata-kata meminta kepada sosok yang kita asumsikan berada di tempat nun jauh di sana.

Tidak ada komentar: